Sebelum
buat tulisan ini, saya sempat berniat ke Nusa Penida melalui tawaran trip yang
tersedia banyak di lapak Instagram. 350 ribu per orang, begitu promonya. Tapi sayang, setelah sempat saya hubungi,
ternyata penyedia trip ke Nusa Penida hanya untuk group. Bukan perorang. Jadi harga
Rp.350.000 ribu itu biaya perorang bila jumlah group trip 6 orang. Karena bila perorangan,
jatuh harganya lumayan mahal. Bisa mencapai 800 ribu rupiah!!.
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Maret 2018
Kamis, 15 Februari 2018
MENYESAP UDARA SEGAR DI BUKIT MANTAR - SUMBAWA
Saat
ini, bersantai di puncak bukit dengan landskap pemandangan indah adalah pesona
wisata tersendiri. Meski letak perbukitan terbilang jauh dari pusat kota, tetap
saja ada keinginan untuk mendatanginya. Bahkan tak sedikit dari puncak
perbukitan yang menawarkan pemandangan indah tersebut memerlukan pengorbanan
untuk mencapainya. Salah satunya Bukit Mantar – Sumbawa – Nusat Tenggara Barat.
***
Minggu, 17 Desember 2017
MEMAKNAI KUALITAS WAKTU DI PENGHUJUNG TAHUN
Dalam
beberapa hari mendatang, kita akan segera meninggalkan tahun 2017. Ritual awam, kita tentu kerap menyiapkan
rentetan resolusi di tahun depan. Tak jarang setiap orang meniatkannya sebagai
bagian dari perjalanan kehidupan mendatang. Siapa tahu akan bernasib mujur
dengan terwujudnya beberapa rencana yang telah disusun.
Minggu, 27 Agustus 2017
KISAH TOUR KRAKATAU 2017 YANG NYARIS BATAL
![]() |
| Photo by Zack |
…”jam
7 kumpul di Aula depan yaa, kita ada
sedikit acara dan makan malam bareng...”
ujar seorang pria berambut gondrong perwakilan Event Organizer (EO) menyampaikan pengumuman tersebut pada
kami. Waktu maghrib baru saja berlalu.
Beberapa teman yang satu hunian dengan saya telah selesai mandi dan shalat
seusai aktivitas sepanjang sore yang lengang.
Jumat, 18 Agustus 2017
BERKUNJUNGLAH KE LAMPUNG BARAT - THE ORIGIN OF LAMPUNG
Ajakan
untuk hadir dalam gelaran Festival Sekala Brak 2017 itu disampaikan oleh bang
Eka setelah saya mengomentari postingan instagramnya soal Festival Sekala Brak
2017. Jujur saja, sejak pelaksanaan Festival Sekala Brak pertama di tahun 2014
silam, saya sudah mulai tertarik ikutserta, tapi sayang selalu benturan dengan
waktu. Nah, ajakan bang Eka kali ini
tidak akan saya lewatkan karena waktu pelaksanaannya tidak bersamaan dengan
jadwal manggung! Hehehe, Sok Ngartis!!.
Selasa, 27 Januari 2015
JALAN JALAN KE KOTA BARU LAMPUNG.
Pernah mendatangi Kota Baru di Provinsi Kalimantan Selatan, kurang lengkap rasanya jika saya belum mengunjungi langsung Kota Baru Lampung.
Sesuai dengan namanya, Kota Baru Lampung - merupakan kawasan baru di Provinsi Lampung yang pembangunannya di harapkan dapat menjadi pemukiman baru tak hanya untuk warga tetapi juga bagi pusat pemerintahan.
Sebagai kawasan baru, tentu saja infrastruktur maupun bangunan penunjang sedang dalam tahap pembangunan. Termasuk akses menuju lokasi Kota Baru. Belum ada angkutan umum meski jalan raya menuju Kota Baru Lampung telah tersedia cukup baik dan terus dalam tahap pembenahan maksimal.
| Areal sawah dan perkebunan Sepanjang Jalan Menuju Kota Baru Lampung |
| ITERA tampak depan |
Siang itu, saya dan rekan rekan melajukan kendaraan menuju Kota Baru Lampung. Akses nya cukup mudah, melalui jalan arah jalur dua Korpri - way hui dimana terletak kantor TVRI Lampung lalu jalur lurus mengantarkan pengunjung pada rute baru ke Kota Baru Lampung. Sebagai rencana pusat pemerintahan Provinsi Lampung, kawasan Kota Baru Lampung masih berupa lahan luas. Sepanjang perjalanan hanya terlihat beberapa pemukiman warga. Selebihnya berupa bentang perkebunan dan lahan hijau. Lebih dari 1.000 hektare rencana pembangunan dengan landscape tata kota yang tentu mengacu pada kebutuhan perkotaan. Sebelum tiba di kawasan Kota Baru, kita akan di sambut gagahnya bangunan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang meski kampus baru tapi telah berlangsung aktivitas belajar mengajar dengan tetap berangsur pada pembangunan dan penyediaan fasilitas terbaiknya.
| Rencana Masjid Raya KOta Baru Lampung |
| rencana gedung Pemerintahan Gubernur Provinsi Lampung. |
| komplek Balai Adat |
Setelah 40menit berkendara dari lokasi ITERA, kami melihat gapura berornamen khas Lampung bertengger gagah lengkap dengan sentuhan siger dan pilar pilar pada bagian kiri juga jajaran huruf kapital bertuliskan 'KOTA BARU LAMPUNG' seolah menyapa siapapun yang datang dan siap memasuki kawasan baru dalam Provinsi Lampung. Tak jauh dari bangunan gapura telah berdiri pula rencana gedung Rumah Sakit Daerah. Beberapa kios pedagang berbaris tak jauh dari gapura. Menyusuri bagian selanjutnya nampak bangunan super gagah sebagai rencana gedung Anggota Dewan Provinsi Lampung kelak berkantor. Tak hanya itu, rencana prestisius lainnya terlihat dari bangunan masjid super megah dan komplek kantor Gubernur dan bangunan penunjang lainnya seperti kantor kedinasan hingga balai adat lampung. Selain rangka Gedung yang megah, bagian dari Kota Baru Lampung yang tak kalah membuat saya terperangah kala menyaksikan konsep tata kota dan tata kelola kawasan yang cukup mewah sebagai rencana sebuah kota baru. Hal itu terlihat dari rencana bundaran kota yang secara bentuk dan ukuran menyerupai bundaran H.I Jakarta.
Terlepas dari penundaan bangunan sesuai kebijakan, saya melihat ada upaya baik mengurai kepadatan penduduk perkotaan di Bandar Lampung yang makin padat, sekaligus menjadikan pusat pemerintahan Provinsi Lampung menjadi kawasan tersendiri atau terpisah dari teritori kota Bandar Lampung seperti saat ini. Sehingga sangat di sayangkan jika pembangunan yang telah ada kini tidak di teruskan atau malah di tunda sama sekali Karena tentu telah menelan banyak biaya yang bersumbet pada APBD meski sebenarnya rencana pembangunan Kota Baru Lampung ini pun terkesan terlampau mewah dengan tidak di iringi perencanaan pembangunan pemukiman masyarakat sekitar. Laksana sebuah rencana kemegahan dalam dongeng tanpa penduduk. Persis Kota Mati.
Jumat, 23 Januari 2015
MENEMUKAN KISAH PANJANG DI GANG BUNTU
Matanya tampak redup meski senyum ramahnya mengembang
menyambut saya kala berpapasan pagi itu. Sosok Kakek yang bersahabat pada pengunjung
seperti saya.
Setelah beberapa saat berbasa basi, saya lalu mengenalnya. Ta
Lin Jo – begitu ia menyampaikan nama. Lahir dan besar di gang sempit yang kini makin terhimpit di tengah hiruk
pikuk perkotaan.
“dulu tempat ini luas, sebelum di sekat dan terjadi perombakan pada gedung gedung
bagian depan jalan utama di tahun 70 an.” Ujar pak Ta Lin Jo memulai kisahnya.
![]() |
| Pak Ta Lin Jo di depan rumah bedengannya. |
![]() |
| gang sempit dari depan kantor Telkom Bambu Kuning menuju bagian dalam |
![]() |
| kondisi 6 rumah bedeng di dalam gang Buntu |
Pak Ta Lin Jo yang merupakan peranakan tionghua itu berkisah
bahwa dahulu tempat yang ia huni adalah sebuah pusat keramaian di Bandar Lampung.
Bagaimana tidak, beberapa bekas gedung kokoh di sekitar rumah yang kini ia tempati
itu dulunya adalah hotel hotel yang ramai di kunjungi banyak orang. Bahkan
hotel hotel itu konon telah ada sejak jaman belanda.
“ketika saya kecil, orang tua saya sering cerita betapa
ramainya kawasan ini.” Ucap pak tua mengurai kembali kisahnya.
![]() |
| kondisi aktivitas warga penghuni Gang Buntu |
![]() |
| Bangunan Kayu yang dahulu Hotel dari bagian dalam gang ke arah Luar. |
Gang sempit yang terletak persis di depan kantor Telkom dekat
gang masuk pasar Bambu Kuning itu seolah
menjadi saksi bisu kejayaan tempo dulu. Tumpukan seng dan bangunan lapuk memang
nampak dari luar gang. Sekilas tak ada yang istimewa. Di bagian dalam dari jalan utama hanya ada 6
rumah kecil berbentuk bedengan. Masa kejayaan lampau itu terlihat jelas dari
beberapa bangunan yang berada di sebelahnya. Pada bagian depan rumah pak Ta Lin
Jo misalnya, masih berdiri kokoh bangunan yang berupa kayu kayu tersusun rapih meski
terlihat rapuh yang dulunya adalah hotel bernama Hotel Dibinhin, lalu pada
bagian depan yang kini jadi toko toko pakaian dan kelontongan dulu adalah
penginapan penginapan yang banyak di datangi pengunjung terlebih pada bagian
sisi timur rumah pak Ta Lin Jo adalah sekat belakang gedung Lampung Plaza yang
terkenal di jamannya.
Melihat bangunan bangunan tua di sekitar rumah pak Ta Lin Jo
yang juga tua itu saya membayangkan betapa meriahnya suasana kala itu. Bagaimana
tidak di tahun 60 dan 70 an bangunan bangunan itu telah kokoh berdiri dengan
aktivitas perkembangan zaman masa itu.
“bangunan di sekitar rumah ini sudah ada dan berdiri jauh
sebelum saya lahir, mas …” sambung pak Ta Lin Jo yang kini berusia 84 tahun
itu.
“dulu ada bangunan SR (Sekolah
Rakyat) di depan jalan itu”. Ucapnya menunjuk kearah jalan masuk ke bagian depan pasar Bambu Kuning.
“dulu juga ada banyak kantor kantor belanda. Sekarang jadi
pertokoan di pasar tengah.” Ucapnya sesekali menengadahkan kepala seolah
mengingat-ingat hal hal yang ia alami kala itu.
![]() |
| bangunan tinggi beratap kayu yang dulunya Hotel Megah |
![]() |
| masih kokoh meski nampak rapuh |
Berbincang dengan pak Ta Lin Jo seolah mendengar penuturan
langsung dari pelaku masa kehidupan tempo dulu. Bagai mendengar rangkain
dongeng tetapi nyata terjadi. Selama berbincang, mata saya tak pernah luput
dari kekaguman akan bangunan menjulang
yang menghimpit rumah dengan kisah kisah
perjuangan kehidupan sejak dulu hingga kini yang pak Ta Lin Jo lakoni bersama
istrinya. Ketiga anak beliau kini telah
merantau bekerja di luar kota. Mereka tinggal bersama 5 keluarga lainnya di
rumah yang bersebelahan. Beberapa kepala keluarga di sekitar rumah pak Ta Lin
Jo berdagang di areal pasar tengah dan toko toko kelontongan di Bambu Kuning. Saya juga melihat aktvitas ibu menjemur pakaian dan beberapa wanita paruh
baya berjemur di tengah panasnya matahari pagi kala itu. Menurut pak Ta Lin Jo,
semua yang tinggal di bedengan bersebelahan dengannya itu telah menetap sejak
tahun 70an, ketika sekitaran Bambu Kuning dan Simpur berbenah dengan
pembangunan gedung gedung megah. “dulu
Plaza Lampung itu adalah Gedung tertinggi di sini.” Kenangnya sembari menunjukkan
punggung gedung yang tak jauh dari rumah yang membuat jalan gang rumah bedengan
itu di sebut gang buntu.
Sentuhan sejarah di pagi jumat yang justru saya peroleh dari
perbincangan singkat dengan sosok tua yang tinggal di gang buntu yang terhimpit
keramaian perkotaan. Saya pribadi nyaris tak tahu jika di dalam gang sempit itu
hidup sosok sosok lawas pelaku kehidupan tempo dulu. Saya pun tak tahu ada
banyak bangunan tua menarik di sekitar bahkan di dalam gang buntu jika saja Mas Puji –
seorang rekan menyampaikan pada saya beberapa hari sebelumnya.
Bagi saya, menjalin perbincangan dengan mereka yang mengalami
langsung kehidupan tempo dulu bagai mengurai sejarah sebuah kawasan. Tak sia
sia rasanya saya berjalan pagi itu di pasar tengah menyusur jalan setapak dan
gang gang sempit guna melihat langsung bagian dalam dari rapatnya gedung gedung
tinggi pertokoan yang ternyata menyimpan banyak hunian warga dengan kisah
kejayaan di zamannya.
Jumat, 26 Desember 2014
LEBIH DEKAT DENGAN MONYET DI PULAU KEMBANG.
Pulau Kembang.
Jangan terburu menafsirkan kata Pulau Kembang dengan sebuah hamparan bunga aneka warna dan aroma di sebuah pulau. Pulau Kembang ; Pulau dengan aneka Kembang ?, Anda salah. Justru Pulau Kembang mayoritas isinya adalah monyet dan bekantan.
![]() |
| Plang Pulau Kembang di depan Pintu Masuk |
Pulau Kembang
atau juga kerap di sebut warga setempat sebagai Pulau Kaget – karena suara
monyet yang kerap membuat kaget warga, merupakan sebuah gugusan
delta yang terletak di tengah Sungai Barito yang termasuk dalam wilayah administratif
kecamatan Alalak, kabupaten Barito Kuala provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang yang terletak di sebelah Barat
kota Banjarmasin ini telah di tetapkan sebagai hutan wisata oleh Menteri
Pertanian sejak tahun 1976 yang merupakan habitat bagi kera ekor panjang
(monyet) dan beberapa jenis burung. Selain itu juga ada jenus Bekantan yang
jika beruntung bisa di jumpai di Pulau Kembang.
![]() |
| Kondisi bagain dalam Pulau Kembang dengan bertebaran Monyet |
![]() |
| Monyet di bagian depan menyambut kehadiran pengunjung |
Siang itu, Saya
– untuk bertama kali bersama mba Evi, mba Donna dan Halim mengunjungi Pulau
Kembang. Setelah menaiki Klotok bermesin dari Dermaga Kuin dan mengarungi
sungai Barito selama 25 menit, kami tiba di Pulau Kembang yang sudah sejak lama
buat saya penasaran.
Menjajakkan
kaki di Pulau Kembang akan bertemu loket masuk pada bagian dermaga depan.
Rp.5.000 per orang jika Weekday dan Rp. 10.000 per orang jika Weekend. Setelah
melalui pintu masuk utama dan plang Pulau Kembang, pengunjung akan melihat
sebuah Altar. Altar tersebut di
peruntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi ‘penjaga’ Pulau Kembang yang
dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (hanoman).
Karena kami datang siang, Bekantan yang buat saya penasaran tidak muncul. “munculnya pas sore mas..” ucap ibu di loket
tiket. Tapi yang menarik sejak masuk kebagian dalam dari Pulau Kembang yang di
tumbuhi banyak jenis pohon rambai itu, pengunjung langsung di datangi oleh
sekawanan monyet. Mulai dari yang berukuran kecil hingga ukuran besar. Monyet
monyet kemudian bergerak lincah mendekati kami ketika kami sodori kacang kulit
yang telah kami beli dari seberang pulau. Sayang selama penelusuran kebagian
dalam Pulau Kembang dengan jalan setapak
yang di tata rapih tak satupun jenis Bekantan dapat kami lihat. Padahal yang
buat saya penasaran untuk datang ke Pulau Kembang adalah wujud Bekantan yang
kerap saya lihat sebagai mascot ketika datang ke Ancol – Dufan Jakarta. Saking
terkenalnya Pulau Kembang dengan Bekantan, pemerintah Kota Banjarmasin
menjadikannya Bekantan sebagai icon pada taman maskot di pusat kota Banjarmasin.
![]() |
| pengunjung bisa lebih dekat dengan monyet di Pulau Kembang |
Meski tidak
bertemu dengan jenis Bekantan, setidaknya di kelilingi puluhan monyet yang
menghampiri dari ratusan habitat monyet di Pulau Kembang jadi hiburan
tersendiri dan mengobati rasa penarasan saya yang telah sejak dua bulan
sebelumnya mendengar kabar akan keindahan Pulau Kembang. Sayang serunya
kunjungan saya dan teman teman siang itu cukup terganggu oleh sekumpulan ibu
ibu dan bapak bapak yang secara berkelompok mengikuti kami yang kami fikir
adalah pengunjung atau karyawan setempat ternyata meminta upah menemani kami. Padahal
kami tidak meminta mereka secara keseluruhan untuk ikut serta menemani kami
masuk ke areal dalam Pulau Kembang. Sangat mengganggu. Jika saja mereka lebih
kreatif seperti menjual pernak pernik souvenir atau jajanan pasar di area depan
pintu kedatangan Pulau Kembang tentulah akan jadi daya tarik pengunjung dan pemasukan
buat mereka, tidak dengan mengintil pengunjung dan berakhir dengan meminta
upah. Sesuatu yang mengangetkan pengunjung di akhir kunjungan sekaligus buat
efek jera.
Meski telah di
tetapkan sebagai Hutam Wisata oleh Kementerian Pertanian. Pemda kabupaten Barito
Kuala dan Pemda Kalimantan Selatan tetap perlu memelihara Pulau Kembang sebagai
objek wisata menarik untuk di kunjungi wisatawan, mengingat populasi monyet dan
keunikan pulau Kembang, Pemda perlu meningkatkan kebersihan Pulau Kembang dari
sampah sampah yang berserakan di sekitar Pulau Kembang. Bahkan sejak masuk ke
dalam Pulau Kembang sampah sampah telah terlihat menumpuk di plang pintu masuk.
Selain itu pemberdayaan masyarakat sekitar termasuk warga seberang dari Pulau
Kembang harus juga di tingkatkan. Keterlibatan masyarakat dalam upaya usaha
penunjang dari sektor pariwisata dengan berdagang lebih bermanfaat dan
meninggalkan kesan yang baik bagi pengunjung daripada hanya sekedar meminta
tips.
![]() |
| Bagian depan dengan hiasan sampah |
Beberapa hal
yang Pengunjung harus ketahui jika ingin
ke Pulau Kembang :
- Harga Klotok (perahu) dari dermaga Kuin ke Pulau Kembang 150.000 – 175.000 sesuai weekday or weekend. Lakukan penawaran jika pemilik Klotok menaikkan harga. Terkadang para pemilik Klotok mematok harga sampai 250.000 hingga 300.000.
- Bawa Kacang kulit untuk diberikan pada monyet monyet sejak dari dermaga Kuin. Di Pulau Kembang ada penjaja Kacang kulit tapi dengan harga 3 kali lipat dari harga sebenarnya.
- Harga tiket masuk di Pulau Kembang, Weekday : Rp.5.000/orang (WNI) dan Rp.100.000/orang (WNA) dan Weekend : Rp. 10.000/orang (WNI) dan Rp. 150.000/orang (WNA). Perbedaan harga yang fantastis antara WNI dan WNA.
- Jika butuh pemandu selama menyusuri bagian dalam Pulau Kembang. Pastikan dengan tegas Pemandu yang kamu butuhkan hanya satu atau dua. Karena biasanya seluruh ibu ibu dan bapak bapak yang memang berprofesi sebagai pemandu (tak resmi dan tak informatif) akan ikut serta dan berakhir dengan meminta tips atau uang bayaran. Berapa yang harus di bayar pengunjung jika harus memberi uang bayaran pada pengintil lebih dari 15 orang ?. Tekor!.
- Jangan memakai perhiasan selama berkunjung ke Pulau Kembang. Termasuk jaga dengan baik barang bawaan seperti Ransel, Topi, Kacamata, tas jinjing, dsb… karena monyet monyet di Pulau Kembang sangat agresif terutama yang berukuran besar.
- Jangan panik jika monyet monyet menghampiri kamu. Cobalah tetap tenang. Karena pada dasarnya monyet monyet Pulau Kembang bertingkah atraktif pada pengunjung.
- Tetap jaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sudah terlalu banyak sampah plastik menumpuk di sekitar dan bagian dalam Pulau Kembang. Cintai lingkungan dan cintai diri kita sebagai manusia yang menjaga lingkungan.
Rabu, 24 Desember 2014
EKSPLORASI KOTABARU - KALIMANTAN SELATAN
![]() |
| Landmark Water Front City Kotabaru - Kalimantan Selatan |
…Kotabaru
Gunungnya Bamega, …
Bamega umbak menampur di sala karang
Umbak manampur di sala karang
Batamu lawanlah adinda
Adinda iman di dada rasa melayang
Iman di dada rasa melayang ….
Sepenggal bait
lagu karya H. Anang Ardiansyah tersebut tentu familir di kalangan masyrakata
luas. Terutama saya. Ya, itu adalah penggalan lagu ‘Paris Berantai’, lagu daerah Kotabaru – Kalimantan Selatan.
Saya, Mba
Donna, Mba Evi dan Halim sebagai Team telah menguatkan semangat jauh sebelum
menempuh 12 jam perjalanan dari Loksado ke Kotabaru. Dari ujung barat ke ujung timur
laut provinsi Kalimantan Selatan. Bagai ada daya tarik magis yang membawa kami
berniat berlelah menelusuri jalan selama 12 jam untuk mendatangi sebuah
kabupaten bernama Kotabaru.
Kotabaru yang
merupakan salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan
salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan dahulu. Pada masa Hindia
Belanda merupakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan Ibukota Kota Baru.
Kotabaru dengan luas 9.442.46 Km2 dan berpenduduk sebanyak 290.142 jiwa (data
sensus penduduk 2010) dengan 15.961 jiwa penduduk berprofesi sebagai nelayan. –
sumber . Wikipedia.com
Akses ke Kotabaru selain jalur darat dan melakukan penyeberangan via Pelabuhan Samudera – Batulicin – kabupaten Tanah Bumbu menuju Pelabuhan Tanjung Serdang di Kotabaru dengan lama penyeberangan 30 menit, akses juga tersedia via udara dengan menaiki kapal KalStar Aviation dari Bandara Syamsoedin Noor di Banjarmasin ke Bandara Gusti Syamsir Alam di Kotabaru.
Kabupaten Kotabaru yang memiliki Motto : Sa-ijaan (dalam bahasa banjar) berarti Semufakat, satu hati dan se-iya sekata ini memiliki 110 pulau kecil, 31 diantaranya belum bernama beberapa pulau masuk dalam wilayah kecamatan yang ada dalam kabupaten Kotabaru.
Akses ke Kotabaru selain jalur darat dan melakukan penyeberangan via Pelabuhan Samudera – Batulicin – kabupaten Tanah Bumbu menuju Pelabuhan Tanjung Serdang di Kotabaru dengan lama penyeberangan 30 menit, akses juga tersedia via udara dengan menaiki kapal KalStar Aviation dari Bandara Syamsoedin Noor di Banjarmasin ke Bandara Gusti Syamsir Alam di Kotabaru.
Kabupaten Kotabaru yang memiliki Motto : Sa-ijaan (dalam bahasa banjar) berarti Semufakat, satu hati dan se-iya sekata ini memiliki 110 pulau kecil, 31 diantaranya belum bernama beberapa pulau masuk dalam wilayah kecamatan yang ada dalam kabupaten Kotabaru.
Pagi itu,
setelah merasa cukup istirahat di rumah Pak Iwan yang tak jauh dari pusat keramaian
Kotabaru, kami langsung menuju lokasi acara tempat di laksanakannya hari puncak
peringatan Hari Nusantara 2014. Di beberapa sudut ruas jalan utama tampak
pengawalan ketat. Pengamanan ketat tentu saja di berlakukan jelang kehadiran
Pemimpin nomor satu negeri ini. Sejak semalam ketika kami hadir persiapan itu
telah terlihat. Nampak pula pembangunan infrastruktur penunjang dirampungkan
kebut guna kehadiran Presiden dan petinggi petinggi negeri.
![]() |
| Pengawalan ketat di setiap sudut jalan |
Tiba di base
camp Sekretariat tak jauh dari lokasi acara puncak Hari Nusantara pagi itu
telah ramai. Tujuan kami adalah meminta kesediaan panitia memberi tanpa
pengenal untuk peliputan selama acara berlangsung. Ada banyak pengunjung dari
provinsi lain yang juga membutuhkan bantuan para panitia di gedung sekretariat tersebut.
Sebenarnya, saya sejak dua minggu sebelumnya telah menjalin hubungan komunikasi
via telepon dengan Sekretaris dari Kepala Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan
dan Pariwisata Kotabaru – pak Husein. Meski tidak begitu mendapat sambutan baik
seperti perangkat pemda di Hulu Sungai Selatan dengan alasan sedang sibuk
mengurusi Hari Nusantara. Tak apalah, kami berupaya sendiri. Meski ketika kami
ke Sekretariat kala itu, kejelasan apakah kami bisa bertemu dengan Pak Husein
lagi lagi tak ada titik terang, meski telah di teelpon. Bisa jadi pekerjaan
beliau yang super padat menyangkut nama baik Kotabaru di hadapan Presiden dan
tetamu super penting lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan
eksplorasi sendiri. Lupakan ID Card yang semula dirasa penting untuk dapat
meliput acara akbar Hari Nusantara 2014. Terlebih ketika mba Evi mengungkapkan
bahwa tak ada kepentingan mendesak dan sangat urgent antara kami ber-empat
dengan event Hari Nusantara atau pak Presiden. Karena tujuan kami semula adalah
niat eksplorasi keindahan object wisata di Kotabaru. Disambut baik oleh pihak Pemda
setempat atau tidak itu bukan masalah bagi kami. Dengan sedikit kecewa atas
tidak adanya tanggapan dari sosok sekretaris Dinas Pariwisata yang semestinya
sebagai sekretaris bisa lebih informatif kami berlalu dari gedung sekretariat kepanitiaan
Hari Nusantara dan bersiap menyusuri ragam keindahan Kotabaru.
![]() |
| Water Front City yang berfungsi sebagai Public Space |
![]() |
| dua pohon yang mengganggu keutuhan kata 'SIRING LAUT KOTABARU' andai saja dua pohon itu ditebang. |
EKSPLORASI SINGKAT PENUH MAKNA
Kunjungan
pertama kami tentu saja ke hamparan pameran yang di kemas dalam tajuk Hari
Nusantara Expo. Sebagaimana layaknya sebuah pameran tentu saja ragam barang
pamer yang ada di lokasi expo segalanya berbau teknologi dan keunggulan maritime
tak hanya dari Kotabaru dan kabupaten di Kalimantan Selatan saja tapi juga
seluruh bagian di Nusantara yang memiliki perairan. Tak jauh dari lokasi
pameran ada iring-iringan tank baja yang kelak akan menjadi bagian dari
pertunjukan dalam peringatan hari Nusantara 2014. Saya dan teman teman tentu
tak mau melewatkan foto bersama dengan alat berat super canggih itu. Selain
itu, kamipun sempat mengabadikan diri dengan landmark Kotabaru yang sangat
menarik. Berupa landsape kata kata ‘SIRING LAUT KOTABARU’ di pinggir perairan, seperti
tulisan LOSARI di Makasar. Sayang niat pembangunan Landmark terhalang oleh 2
pohon yang masih dibiarkan berada di depan tulisan sehingga mengganggu keutuhan
tulisan yang menarik untuk diabadikan. Jika saja dua pohon itu di hilangkan
keberadaannya tentu tulisan ‘SIRING LAUT KOTABARU’ yang tegak kokoh akan lebih menarik
sebagai landmark water front city Kotabaru. Atau dua pohon itu adalah pohon
keramat sehingga tidak bisa di hilangkan?, entahlah.
![]() |
| Vihara AN HWA TIAN |
Kunjungan kami
selnajutnya adalah pada sebuah Vihara AN HWA TIAN yang tampilan gedungnya
sangat menarik tak jauh dari lokasi Siring Laut yang merupakan Water Front City
Kotabaru. Beruntung pula kami di perkenankan masuk untuk mengabadikan moment dan keindahan vihara
oleh penjaga. Dari puncak Vihara pun terlihat jelas sebagain view Kotabaru dan
keanggunan Gunung Bamega yang menjadi bagian dari lirik lagu daerah Kotabaru.
Hari mulai
beranjak siang, kami langsung bergegas ingin mengetahui daya tarik wisata
pantai yang ada di Kotabaru. Untuk urusan pantai, Kotabaru memiliki ragam
keindahan. Sayang kami tak punya waktu banyak untuk mengunjunginya karena
jadwal kunjungan yang padat. Tapi setidaknya keinginan kami untuk melihat
pantai pantai terdekat yang dapat di akses dari Kotabaru siang itu. Pilihan
wisata pantai kami adalah Sarang Tiung dimana menjadi tempat kunjungan para
menteri dengan program peluncuran desa nelayan inovatif. Sebelum ke Pantai
Sarang Tiung kami pun sempat berhenti sejenak di Pantai Gambatan dengan ombak
tenang dan pasir nan landai plus barisan nyiur menambah sejuk suasana. Rasa lapar melanda, dan kami terpikat pada
beberapa ibu ibu di ruas jalan yang sedang memanggang ikar hasil tangkapan
nelayan setempat. Bermula dari menghampiri akhirnya kami memesan makan siang di
warung tak jauh dari posisi para ibu ibu membakar ikan. Sebelum santapan siang
terhidang kami pun sempat melihat langsung hamparan kebun semangka dengan buah
yang cukup banyak dan view perbukitan hijau yang menyejukkan mata.
Meski rintik
turun perlahan siang itu tak mengurungkan niat kami mengunjungi pantai Sarang
Tiung yang memang di rekomendasikan warga untuk di kunjungi. Tak banyak yang
bisa kami lakukan di pantai Sarang Tiuang karena hujan makin turun cukup deras
siang itu. Dan kami memutuskan utnuk kembali ke home stay – rumah pak Iwan
untuk mengemasi barang dan berencana kembali ke Banjarmasin dengan misi
eksplorasi Banjarmasin keesokan hari.
Saat menuju
pulang ke Home Stay, secara tak sengaja kami menyinggahi tempat penangkaran
ubur ubur di salah satu sudut rumah penduduk tak jauh dari lokasi home stay –
pak Iwan. Sayang aktivitas kala itu sedang libur. Cukuplah kami mengabadikan
lokasi yang sangat photogenic tersebut. Setelah berpamitan dan mengucapkan
terima kasih pada pak Iwan dan keluarganya kami bergegas memacu kendarran
menuju dermaga kapal penyeberangan ke Batulicin.
Udara sore yang
tenang dengan sedikit mendung di Batulicin menghiasi perjalanan kami kembali ke
Banjarmasin dengan lancar. Sore menjelang, kami tiba di pantai Pagatan tempat
dimana kala malam kedatangan kami tersadar akan hamparan air laut karena cahaya
kilat. Kami pun berhenti sejenak di warung sepanjang jalan pantai Pagatan yang
menjajakan Jagung dan Pisang Bakar dan ragam panganan lainnya.
Sorgawi rasanya
memandang laut tak bertepi dengan debur ombak di temani kopi panas dan jagung
serta pisang bakar berbumbu dan cita rasa khas Banjarmasin. Cukuplah bagi saya
mengendurkan ketegangan akibat nyetir sepanjang hari di pinggir pantai bersama
ramainya pengunjung lain. Lupakan Handphone Low Battery. Meski Eksplorasi di Kotabaru tidak begitu berjalan
baik tapi setidaknya telah mengobati rasa penasaran akan sebuah kabupaten
bernama Kotabaru di Kalimantan Selatan. Secara potensi sungguh menarik untuk di
datangi terlebih infrastruktur jalan telah jauh lebih baik dengan ragam tujuan
wisata yang menarik. Jika kelak ada waktu, tentu Kotabaru – Kalimantan Selatan
akan masuk dalam jadwal kunjungan saya.































