![]() |
| JANGAN PERNAH MENGUCAPKAN KATA ; 'KAMPANG' |
…”Kampanglah…”
…”dasar, anak kampang!”…
Kata kata
diatas menghias berbincangan sekumpulan anak muda disudut sebuah kafe. Jarak meraka
persis disebelah kanan saya. Agak risih mendengar uraian percakapan mereka. Makin risih dengan
penambahan kata ‘Kampang!’ di beberapa kalimat yang mereka tuturkan.
“mudah banget mereka mengucap kata itu..”
bisik saya pada diri sendiri.
Bagi masyarakat Lampung, – baik suku Lampung atau suku pendatang yang telah puluhan
tahun menetap di Lampung, kata ‘Kampang’ tentulah bukan sesuatu yang asing. Meski
begitu, kata ‘Kampang’ bukanlah kata yang baik untuk diucapkan, terlebih
dilekatkan pada seseorang untuk memberikan sebuah julukan. Kata ‘Kampang’
seolah sebuah kata kiasan atau umpatan kekesalan seseorang. Layaknya penyebutan
‘Kampret’ atau ‘Dancok’ – dalam bahasa Jawa
- tapi kata ‘Kampang’ memiliki makna yang jauh lebih kasar daripada semua kata tersebut.
“Kampang
– sebuah penggambaran dari kekesalan tingkat tinggi.” ujar seorang Paman yang
saya tanyai perihal kata Kampang. “Karena tidak ada lagi kata yang pantas
disematkan, sehingga kata ‘Kampang’ menjadi perwakilan dari sebentuk emosi yang
dirasakan oleh yang mengucapkan.” jelas sang Paman yang merupakan kerabat dekat
saya tersebut. “Meski begitu, janganlah mudah mengucap kata ‘Kampang’ karena
arti dari kata itu tidaklah baik. Se-kesal apapun terhadap sesuatu atau
seseorang, tetap pilih kata kata yang baik.”urai sang Paman pada saya.
Beruntung
saya punya Paman yang menjelaskan kata ‘Kampang’, sehingga saya
pribadi tidak terjebak dengan melakukan pengucapan terhadap kata yang tidak
baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Meski pada kenyataannya saya kerap mendengar rekan
atau orang orang sekitar saya yang dengan mudahnya mengucap kata ‘Kampang’.
Saking mudahnya terkadang kata ‘Kampang’ di ucap berkali-kali, bagai telah jadi
bagian utama dari percakapan yang tersaji.
Dulu,
ketika masa SMP, saya pernah mengucap kata Kampang saat bermain disebelah rumah – karena belum
memahami makna kata tersebut. Alhasil, bilah rotan mendarat beberapa kali pada
bokong saya dan tapolan sambal dibagian mulut. Hadiah dari Cuncun (sebutan
Kakek dalam Lampung Menggala). Saya juga
ingat beberapa teman yang dulu berkisah mengucap kata ‘Kampang’ dengan leluasa
di kota kota yang mereka kunjungi diluar provinsi Lampung. Misal, ketika kesal
dengan sesuatu di ranah publik ibukota Jakarta, sang teman dapat mengumpat kata
‘Kampang’ puluhan kali, tanpa ada yang tersinggung karena tak ada satupun
personal yang tahu artinya, ataupun jika ditanya artinya, si teman akan berucap
bahwa kata ‘Kampang’ mengandung arti bagus atau keren. Padahal kata ‘Kampang’
jauh dari makna bagus. Malah jika kata tersebut diucapkan dalam lingkungan
pergaulan masyarakat Lampung akan menyulut emosi dan bukan tak mungkin akan memancing perselisihan. Ada pula menyebutan "anak Kampang" yang artinya setara dengan 'Anak Haram' yang hingga kini masih sering saya dengar dalam lingkungan pergaulan. Apapun alasannya, disampaikan dalam suasana bercanda sekalipun, kata Kampang bukan sesuatu yang layak diucapkan.
Sebagai
kata yang sungguh tak elok dan tabu untuk diumbar, terutama dalam tata etika pergaulan,
hendaklah kata ‘Kampang’ tidak terlontar terlebih oleh mereka yang telah dewasa
dan berpendidikan. Karena orang dewasa dan mereka yang telah mengenyam
pendidikan tinggi tentu memiliki kosakata yang jauh lebih banyak ketimbang
mereka yang tidak bersekolah. Sosok dewasa dan berpendidikan pun tentu pandai mengelola emosi personal sehingga
dapat mengganti kata luapan emosional dan kekesalannya menjadi kata yang lebih terarah.





