Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 20 Januari 2015

SERUIT LAMPUNG ; TRADISI DAHULU DAN KONDISI MASA KINI.



Seruit Lampung


 Seruit adalah jenis makanan olahan khas Lampung yang kerap di hadirkan dalam kegiatan makan bersama. Nyeruit adalah sebutan dari makan Seruit bersama sama.  Nyeruit merupakan  tradisi makan Seruit  di masyarakat lampung bersama sama, baik dalam keluarga besar maupun dalam kegiatan makan bersama tetamu yang datang. Bahkan di acara acara sakral masyarakat Lampung seperti pernikahan dan  ragam jenis hajatan lainnya, Nyeruit selalu dilakukan.

Bahan Bahan yang akan di olah menjadi Seruit
Seruit, merupakan jenis olahan yang terdiri dari Sambal – sebagai bagian utama,  yang di campur dengan Ikan Bakar berjenis ikan sungai, di tambah dengan bagian dalam timun, terong bakar/goring di tambah dengan tempoyak  (durian yang telah di fermentasi). Seluruh bahan  tersebut di aduk dengan rata dan kalis dengan sedikit guyuran kuah pindang ikan Baung/Patin. Dan setelah kental, olahan seruit siap di hidangkan. Jangan lupa hidangan pendamping seperti Pepes Ikan, tahu/tempe goreng, gulai taboh khas Lampung dan aneka jenis lalapan mentah maupun yang telah di rebus harus bersanding dengan  olahan Seruit.

Tampilan Seruit setelah bahan olahan di campur.



Kala kecil dulu, kegiatan Nyeruit selalu saya rasakan kala makan bersama orang tua maupun dengan keluarga besar kakek yang bersuku Lampung Menggala. Dulu, Kakek adalah orang yang di tunjuk untuk meramu seruit dengan campuran khas beliau. Tradisi tersebut mengandung makna penghormatan pada sosok tertua dalam keluarga. Kakek mengolah hidangan Seruit dengan campuran tahu tempe atau telur ayam goreng, lengkap dengan memakai jari jemari tangan sebagai cara lampau mengaduk olahan seruit.

Itu dulu ketika saya kecil.


 
Pindang Ikan baung


Aneka Lalapan pendamping makan Seruit














Kini, sekali waktu – terutama kala rindu suasana hidangan masa kecil,  saya kerap melakukan nyeruit sendiri atau bersama keluarga.  Ada makna kebersamaan nan agung di balik aktivitas nyeruit.  Meski lambat laun saya merasa jenis olahan khas Lampung  bernama Seruit atau aktivitas Nyeruit kini semakin di tinggalkan. Mengingat aktivitas personal anggota keluarga yang makin padat membuat jarang bertemu.  Jika pun berkumpul hanya ketika hajatan dan hari hari besar, itupun sudah terkalahkan oleh hidangan hidangan nusantara dan modern lainnya yang di nilai lebih praktis. Belum termasuk serangan aneka makanan cepat saji yang sangat mudah di dapat dengan harga cenderung lebih terjangkau di banding biaya pengadaan bahan bahan Seruit. Wajar jika warung makan yang menjajakan hidangan khas Lampung seperti Pindang khas Lampung atau Pindang Meranjat khas Sumatera Selatan di Lampung lebih mahal ketimbang jenis hidangan makanan lainnya.  

Suasana kebersamaan kala Nyeruit berlangsung. Sumber Foto :


Beruntung ada upaya pemerintah daerah, baik kabupaten, kota maupun provinsi Lampung mengangkat aktivitas Nyeruit dalam acara acara ceremonial pemerintahan. Dan semoga tidak hanya berhenti di aktivitas ceremonial saja, tetapi terus menerus di lakukan dalam kegiatan kegiatan kebudayaan tahunan misalnya. Event – event daerah di Lampung dapat mengemas Nyeruit dalam rangkaian kegiatan atau mengemasnya menjadi sebuah aktivitas bersama warga dan tetamu yang hadir dengan tidak menghilangkan khas kedaerahan dari proses atau tata laksana Nyeruit itu sendiri.


Moment Nyeruit Bersama Pemda Kota Bandar Lampung - Memecahkan Rekor MURI 
Sumber Foto :http://lampung.tribunnews.com/2011/06/14/seruit-massal-cetak-rekor-muri



5 komentar :

  1. Ngiler banget lihatnya Mas Indra. Ntar kalo ke Lampung wajib hukumnya cari seruit

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap mba..... tentu tak ajakin .....

      Hapus
  2. Dulu kuliah 4 tahun di lampung malah nggak pernah makan ini... jadi pengen blik ke lampung

    BalasHapus
  3. ayo ke Lmapung makan Seruit ....

    BalasHapus
  4. emank enak nyeruit mah saya aja suka namba sampe 3 kali

    BalasHapus

Scroll To Top