Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 05 Juni 2015

MERETAS KENANGAN DI KOTA PALEMBANG



 
Jembatan Ampera di kala Malam.

 ….Palembang di waktu malam,
Di kala terang bulan,
Bersinar di atas sungai musi,
Beriring nyanyi sang dewi….


Demikian petikan lirik dari lagu berjudul ‘Mutiara Palembang’ sebuah lagu karya kelompok musik Golden Wing yang sangat hits di tahun 70-an hingga 80-an. Tak heran karena lagu itu pula lah menjadikan sungai musi semakin ternama.

Senja itu, saya semakin dejavu. Kala rembulan perlahan muncul menampakkan diri diantara gagahnya tiang tiang penyangga jembatan Ampera dan air sungai musi yang tenang. Sejurus saya teringat petikan lagu ‘Mutiara Palembang’ yang dahulu di tahun 2006 pernah saya bawakan di panggung pertunjukan perlombaan yang digelar di Palembang tepat di depan benteng Kuto Besak dengan jembatan Ampera sebagai latarnya. Dahulu, saya bersama team dari Baturaja – Ogan Komering Ulu  menampilkan pertunjukan seni budaya dalam sebuah ajang perlombaan seni budaya antar kabupaten se-Sumatera Selatan, - saya lupa nama ajang perlombaanya. Tapi karena terlibat dalam gelaran tersebut, saya jadi punya kisah tersendiri bersama team yang solid asal Baturaja dan beberapa relasi di Palembang. Meski kini tak begitu berkomunikasi intensif karena kehilangan nomor telpon personal tetapi kenangan itu selalu ada di benak. Terlebih sore itu, seusai melaksanakan tugas mendampingi sepasang Muli Mekhanai Bandar Lampung 2015 menghadiri malam Grand Final Bujang Gadis Palembang 2015. Dalam rentang waktu yang lama dan  sepanjang tahun pelaksanaan pemilihan, baru kali ini Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung sempat hadir dalam gelaran malam puncak pemilihan Bujang Gadis Palembang. Seperti kembali ke kenangan masa lalu ketika saya kerap bermain ke Palembang dengan ragam kisah dan keperluan. Pernah terlibat dalam rangkaian audisi ajang pencarian bakat TV Nasional di Palembang membawa saya sedikit banyak mengetahui keunikan kota yang terkenal dengan produksi Empek-Empek bercitarasa lezat ini.

Sehari sebelumnya, saya tiba di Kota Palembang dengan suasana hangat meski telat lebih dari 4 jam karena kereta yang saya dan tim tumpangi tidak berjalan dengan lancar seperti jadwal yang diperkirakan. Ketersediaan rel kereta yang terbatas dengan fungsi rel yang hanya satu tidak sepadan dengan jumlah kereta yang hilir mudik. Alhasil, jika kereta berpapasan maka salah satu dari kereta harus mengalah berhenti di jalur tunggu dan hal itulah yang menyebabkan keterlambatan kereta penumpang tiba di stasiun kereta. Ya, sudahlah… memang masih banyak yang perlu di benahi di negeri ini dalam sektor transportasi publik.  Tapi yang membuat saya semangat mengunjungi Palembang adalah meretas kenangan yang pernah ada dalam kisah hidup saya puluhan tahun lalu. Benar saja, beberapa lokasi yang dulu memiliki kisah masih tegak berdiri. Meski kini ada banyak pembenahan dan kemajuan di Kota Palembang, semakin  padat dengan pertumbuhan kendaraan dan pembangunan. Palembang selalu membuat antusias saya terlepas dari perjalanan Kereta api yang lambat dan melelahkan. Bagai meretas kenangan lama puluhan tahun lalu, kembali menjajakkan kaki di kota yang terkenal dengan Empek-Empek dan aneka kuliner khas dan lezat adalah sebuah kesenangan tersendiri. Terlebih keramahan rekan rekan Bujang Gadis Palembang selaku pihak yang mengundang kami menjadikan kenyamanan tersendiri. Bukan saja tetangga dekat tetapi Palembang begitu lekat di diri ini menjadi bagian dari banyak kisah yang pernah terjadi dalam hidup ini.

0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top