Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Kamis, 16 Juli 2015

KISAH RAKA, MAKNA RAMADHAN DAN KEHIDUPAN.



Meski keringat mengucur membasahi tubuh, ia masih semangat melanjutkan langkah. Sesekali langkah lelaki kecil itu terhenti. Nafasnya tersengal akibat kelelahan setelah menempuh tiga kilo meter perjalanan dari rumah ke sekolah.

Begitulah aktivitas pagi seorang lelaki kecil yang tinggal di pedesaan. Untuk berangkat ke sekolah ia harus berjuang melawan kemalasan dirinya, mengesampingkan egoisme dan mengenyahkan gengsi diantara anak anak sebaya yang menuju sekolah dengan dihantar orang tua berkendara. 

Pria kecil itu bernama Raka. Sosok pemberani. Teman saya ketika Sekolah Dasar. Ia adalah anak dari petani sayur mayur di Desa Kecil Bernama Sukamaju kabupaten Lampung Utara. Dulu, saya sempat 1 tahun bersekolah  di SDN Baradatu, (Kini Baradatu menjadi bagian dari kabupaten Way Kanan - Lampung). Secara ekonomi, Raka - teman kecil saya itu tergolong anak yang mampu. Sebagai anak dari orang tua yang memperoleh rezeki dari berjualan sayur mayur dan pemilik ladang aneka sayuran, tentu ada sejumlah uang yang masuk dalam daftar penghasilan keluarga. Seingat saya, masih banyak anak anak kecil seusia saya ketika SD dulu yang jauh dari kata mapan. Bahkan secara tampilan dan kisah perjuangan hidup lebih 'nelangsa' dibanding Raka - teman sebangku saya kala SD itu. Saya sendiri juga bukan sosok anak dari keluarga berada. Jika saya anak dari orang tua yang kaya raya sejak kecil tentulah saya tak akan satu sekolah dengan Raka. Meski tampilan Raka sangat sederhana ia adalah sosok periang. Tak ada kesedihan hidup yang ia umbar. Tak pernah ada keluhan yang ia sampaikan pada saya meski sebenarnya banyak cerita miris yang bisa ia bagi pada saya. Raka selalu tersenyum ceria ketika tiba di sekolah meski sebelumnya ia harus berjuang melalui jalan perkebunan dan lengkap dengan seragam yang kuyub oleh keringat. 
Tak ada lelah dan tak ada keluh dari seorang Raka. Itu yang selalu saya ingat akan sosoknya sebagai sahabat masa kecil. 
Puluhan tahun berlalu. Saya tak pernah lagi berjumpa Raka. Selain karena saya kerap berpindah sekolah ketika SD, saya juga jarang berkunjung ke Baradatu tempat dimana dulu setahun merasakan masa kecil disana. Meski begitu, ingatan saya akan perjuangan Raka terus ada. Bagaimana saya harus kuat menjalani hidup dengan beragam warna kisah yang singgah dan selalu berganti tema. Sedih, senang, duka, bahagia bahkan derita sekalipun pernah saya alami dan pasti akan terus berlangsung selama hidup di muka bumi ini. Tetapi Raka kecil mengajarkan saya untuk kuat. Tersenyum meski ragam derita melanda. Tetap tegar walau badai kehidupan menerpa. Tak peduli seberat apapun cobaan. Jangan pernah orang melihat derita yang kita rasa. Raka tidak pernah mengeluh akan sakitnya berjalan kaki tiga kilo meter dari letak rumah di pedalaman kecamatan  menuju sekolah di pusat kabupaten. Raka juga tidak pernah termehek-mehek menuturkan betapa pilu kisah hidupnya sebagai anak dari keluarga petani. Bahkan Raka tidak pernah meng-iba untuk mengharap di belikan baju baru dan perlengkapan sekolah baru meski ia butuh itu.

Raka -  teman sebangku SD saya itu, mengajarkan saya untuk kuat berpijak dan melangkah dengan kaki sendiri. Tidak dengan mengumbar kisah sedih agar di kasihani. Tidak ber-melodrama super menderita agar segala manusia merasa iba dan memberi derma. Tidak.! Pantang bagi Raka meminta-minta. Raka menikmati segala yang ia punya dengan penuh rasa syukur. Setiap Ramadhan saya selalu ingat kisah Raka. Sampai kini, setahun bersama Raka  sebagai teman kecil kala Sekolah Dasar bagai segaris kisah inspirasi yang terus melewati jalan hidup di tengah banyaknya sosok sosok yang sebenarnya kaya tapi berpura-pura menderita. Kaya tetapi Menginjak para kaum papa.  Atau ada pula yang mengaku Kaya tapi Kaya yang ia rasa didapat dari hasil Korupsi. Kaya dan Miskin adalah status yang di berikan dalam kehidupan sosial. Kaya yang sebenarnya bukan pada letak jumlah materi semata. Kaya yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk mengenali diri dan memahami lingkungan sekitar. Beruntung setiap tahun ada Ramadhan - bulan dimana umat muslim bagai masuk ladang pembelajaran yang luas. Seluas keinginan hati untuk meng-Kaya-kan diri melalui berbagi. Tak pernah ber-gaya susah meski memang hidup susah. Karena kesulitan bukan untuk di umbar tetapi untuk di atasi dan di cari solusi, selebihnya  hidangkan senyuman sebagai penghilang rasa miris di hati. Demikian Raka mengajarkan saya. Pelajaran berharga yang selalu saya ingat. Saya mendo'a agar dapat berjumpa pada Ramadhan mendatang dan semoga dapat dipertemukan dengan Raka sahabat kecil kala SD di Baradatu dulu. Dan semoga berakhirnya Ramadhan meninggalkan warisan kebaikan pada diri untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dari tahun tahun sebelumnya. Amin. Semoga. 


 "Taqabalallahu minna waminkum, shiamana wa shiamakum". 





0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top