Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 08 Agustus 2017

INTIP HIDANGAN LEZAT DALAM HIPPUN ADAT SEKALA BRAK




Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika melakukan perjalanan ke sebuah kawasan sekaligus mendapat kesempatan menikmati sajian kuliner di kawasan tersebut. Bagai keberuntungan ganda kan?, terlebih, tak hanya sekedar mencicipi tetapi juga melihat langsung mulai dari proses pembuatan, persiapan hingga tertata apik sebelum disantap.  Nah, saat menghadiri Hippun Adat Saibatin Sekala Brak di Paksi Buay Bejalan Di Way dalam rangka Festival Sekala Brak IV tahun 2017, saya memiliki kesempatan untuk intip hidangan lezat yang menjadi bagian dalam Hippun Adat Sekala Brak tersebut.

Suasana Pahakh dalam Ruang Keagungan Paksi  Bejalan Di Way

Sungguh tepat ketika bang Eka menyarankan saya dan rekan rekan blogger untuk datang lebih awal di gelaran Hippun Adat Saibatin Sekala Brak awal Agustus lalu.  Karena selain saya dan rekan rekan memiliki banyak waktu untuk persiapan juga dapat mengabadikan moment yang belum tentu didapat bila liputan dilakukan sehari-hari.

Berawal dari rasa penasaran ketika memasuki bagian dalam dari Ruang Keagungan – rumah panggung, sebagai tempat pelaksanaan dari Hippun Adat akhirnya saya dan rekan rekan Blogger diberi kesempatan untuk melihat persiapan di bagian dapur.

Sajian dalam satu Pahakh
 
Sebenarnya, saya pribadi telah dibuat takjub ketika melihat beragam menu menu lezat telah tertata apik di atas Pakakh di bagian dalam dari ruang Keagungan. Pahakh adalah semacam talam berkaki (penyangga) yang berukuran cukup besar yang menampung beberapa menu untuk  nantinya di santap bersama dengan tetamu agung lainnya.  Kadang kala Pahakh juga dijadikan sebagai hantaran dalam beberapa geralan adat. Pahakh terbuat dari bahan tembaga atau kuningan itu biasanya dihias dengan lidah lidah – sejenis hiasan penutup khas Saibatin untuk menambah keindahan dari tampilan Pahakh ketika disajikan dihadapan tetamu agung.

aktivitas Ibu Ibu di Dapur

nasi, gulai dan lauk


penataan gulai dan lauk dalam sajian Pahakh
 
Saat mendatangi bagian dapur, terlihat ibu ibu begitu tekun mempersiapkan beragam macam sajian. Mulai dari aneka kue hingga sayur mayur dan lauk pauk yang menjadi pelengkap sajian makan siang bersama nantinya. Saat berada di tengah kerumunan ibu ibu yang bekerja riang gembira itu rasanya sangat menyenangkan. Terlebih para Ibu ibu memberikan sambutan baik pada saya dan beberapa rekan yang menemui mereka. Tak sungkan pula mereka menjawab beragam pertanyaan yang kami ajukan.
Untuk sebuah sajian makan siang, setiap sosok tamu agung yang ada dalam ruang Keagungan akan mendapatkan sebuah Pahakh yang terdiri dari lauk pauk dan sayur mayur yang khas nan lezat. 

suasana makan siang, menikmati sajian Pahakh
 
Bebalung - yang di potong - empuk hingga tulang belulangnya
 
·         Bebalung – adalah  sebutan untuk Ayam gulai yang di tanak hingga kuahnya kalis (tanpa kuah) dengan berbumbu pekat hingga melekat ke lapisan daging paling dalam.  Biasanya ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Uniknya, Bebalung yang merupakan ayam satu ekor berukuran sedang tersebut disajikan utuh  untuk satu orang tamu. Satu orang dapat satu ayam!!. Mantap kan?!. Namanya juga hidangan para Raja dan petinggi Adat  broh!!!. Emang gue cuma makan ayam sepotong!!,hehehe.
 
Umbut (bagian dalam yang lembut) pohon Aren

Gulai Umbut - gurih & lezat!!

·         Gulai Umbut.  Mendampingi lauk makan, tersaji Gulai Umbut atau kerap di sebut gulai Kabing atau dalam bahasa lampungnya disebut pula 'Babenyas Kuah Langok Kabing'. Gulai yang terbuat dari umbi pohon aren (umbut ; bagian dalam pohon aren yang lembut). Hhhmm, jangan kaget dulu. Setelah melalui proses pengolahan yang piawai, umbut pohon aren yang di potong bulat bulat tersebut berubah wujud menjadi sajian yang benar benar nikmat. Saya sendiri sempat mencoba langsung. Rasanya seperti umbi umbian yang lunak dengan bumbu santan yang kental sebagai sentuhan kuah dari sajian Gulai Umbut. Ssstt… asal tau aja yaa… Gulai Umbut ini bisa jadi Gulai dengan modal besar lho!, karena untuk mewujudkan gulai tersebut harus memotong satu pohon aren Lho!!.

Kuwol gulai - Keong hitam kecil yang laik konsumsi

Khalipu (keong hitam besar) yang di  tumis
 
·         Khalipu & Kuwol. Khalipu adalah sebutan masyarakat Lampung Barat untuk jenis keong (kerang) hitam ukuran besar sedangkan Kuwol adalah jenis keong (kerang) hitam yang ukurannya lebih kecil dari Khalipu dan laik di konsumsi. Biasanya jenis keong hitam tersebut mudah didapat di sungai sungai kecil di tepi persawahan atau perkebunan masyarakat Lampung Barat. Sebagai kawasan yang memiliki banyak sungai tentu saja tidaklah sulit bagi masyarakat Lampung Barat dalam mendapatkan Khalipu.  Sajian Khalipu pun dibuat menjadi  Khalipu Tumis – kerang tanpa cangkang yang tersaji dengan bahan olahan pendamping lainnya berupa buah cempokak dan sayuran hijau. Sementara Kuwol dijadikan Gulai – tersaji masih dengan cangkang, dengan kuah santan tak terlalu kental dan gurih. Ketika menyantap Kuwol akan ada sensasi mencecap keong keong tersebut agak daging dalamnya bisa keluar dari cangkak.

 
Gulai Jantung Pisang

Gulai Jantung Pisang plus Gula Merah dan Santan kaldu Ayam


·         Gulai Jantung Pisang. Bila melihat pohon pisang atau melihat pisang utuh setandan, tentu pernah melihat wujud jantung pisang yang letaknya di ujung dari pisang setandan tersebut. Nah, jantung pisang tersebutlah yang kemudian di olah menjadi gulai nan lezat. Tekstur jantung pisang yang kesat berserat bersanding dengan kuah santan berkaldu dan sentuhan kacang merah menjadikan sajian gulai jantung pisang semakin gurih.

Kue Bolu Kering dan Kue Cucur

Kue Bolu Kering dan Kue Cucur

 Selain beberapa jenis panganan yang khas tersebut diatas, sajian dalam Pahakh juga diisi dengan ikan goreng yang biasanya berupa Ikan Mujair Kumbang yang didapat dari Danau Ranau. Ada pula sambal terasi matah dan kuncup bunga kecombrang sebagai lalapan.  Tak lupa pula buah sebagai hidangan pencuci mulut lengkap dengan hadirnya kue bolu kering khas Saibatin yang dicetak berbentuk ikan dan kue cucur bertekstur lembut.

18 komentar :

  1. Mas, kalau dilihat dari hidangannya ada kesamaan tidak dengan makanan khas sumsel ya seperti suku Ogan atau semendo? Klw aq lihat sih banyak kesamaan, seperti sayur paku, khalipu/liling, embut enau, klw di lampung sayur santan kental disebut gulai tabogh kalau di kita disebut gulai gemuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bang, namanya juga dahulu kita serumpun, bersama dalam satu nama - Sumatera bagian Selatan, terlebih SumSel dan Lampung Barat itu tetangga dekat, sampingan rumah - tentu saja nyaris nyaris sama, hanya penyebutannya aja yang berbeda.... :)

      Hapus
  2. Waktu liat hidangan2 itu, aku langsung berpikir, "OMG, ini makanan nostalgia semua!" Soalnya waktu kecil, di rumah sering banget makan yang namanya gulai liling (khalipu), gulai umbut, ikan gulai,juga gulai jantung pisang. Terutama gulai umbut. Kalo ada acara nikahan, wajib ada. Bener2 hidangan istimewa, yang rasanya sulit dilupa.

    Nice post. Seneng banget bisa ikut menyaksikan acara keren dan nostalgia dengan makan-makanan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaaa mba Izzah...aku juga sejak kecil sudah familiar dengan tumis jantung pisang ...sampe sekarang sering minta dibuatkan istri.... apalagi gulai keong itu wah enak banged... heheheh... makanya setiap trip kalo ketemu makanan lokal akuk tuh bahagia banged kayak anak kecil di kasih permen dan balon hahahahah

      Hapus
  3. Tertarik melihat hidangan mewah ini. Terutama Gulai Umbut. Belum tau kalau Aren bisa dimakan umbutnya. Terus khalipu kalau di Bdg mah namany
    namanya tutut. Btw total berapa lama mereka memasak ya?

    BalasHapus
  4. Khalipu itu kalo di tanah Jawa namanya "tutut". Emang endeuuss

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren yaaa Indonesia...makanan jenis sama aja beda penyebutan..kekayaan kuliner nusantara ..

      Hapus
  5. lah kok mirip2 yg di Banyumas ya mas, ada kecombrang sama jantung pisangnya.. Serba santan ya untuk bumbu2nya, liat foto2nya rasanyaaaa, duh duh.. Tapi itu kl 1 org dapet 1 ayam utuh, ga kuat ngabisinnya dong :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhee ...ia satu orang satu ayam..ukurannya sedang kok...kalo aku sih emang gak bakal abis juga makan ayam saekor sendirian hehehehe....nah itu, ternyata kecombrang, Jantung Pisang... setiap daerah punya yaaa..itulah hebatnya kuliner nusnatara.... sama bahan baku beda penyebutan. kayanya indonesia.

      Hapus
  6. Di rumah sering masak umbut, tapi bentuknya beda bang, juga rasanya gak enak menurutku hahaha. Tapi pas lihat yang di sini, kok kayaknya enak ya.

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. umbut pohon aren nya enak...lembut banged...bumbunya meresap jadi berbalut bumbu gitu....

      Hapus
  7. ngileeeer semuanya. Makanan yg gak bisa ditolak. beruntung sekali om Indraaa ketemu makanan begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya aku selalu antusias kalo di undang ke gelaran beginian, adat istiadat itu pasti ada makanan khas nya.... dan gw selalu kepo soal makanan khas ampe belain dateng ke dapur hahahahhah

      Hapus
  8. Ada keongnya :-D
    Menu berkuah semua :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi gak ada Keong Racun yaaa...heheheh

      Hapus
  9. Aku dari Bengkulu juga familiar Bang dengan hidangan di atas, keren ya punya kesempatan mencicipi makanan nostalgia

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe....ia mbaa... aku juga tak begitu asing dengan makanan itu krna dari kecil pernah beberapa kali kalo acara hajatan di Baturaja :) - itulah kenapa aku selalu semangat kalo datang ke acara adat istiadat..karena pasti akan menemmukan jenis makanan makanan khas yang jarang ditemui saat ini dalam keseharian.

      Hapus
  10. Unik bangeet ya masakannya bang, penasaraaan...ada tutut jugaa..

    BalasHapus

Scroll To Top