Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 06 Oktober 2017

BERTEMU MACACA DAN BABI JANGGUT DI TAMAN NASIONAL BAKO - SARAWAK




Kapal yang saya dan rekan-rekan blogger tumpangi melaju kencang setelah beberapa menit melakukan persiapan di dermaga yang akan menghubungkan kami dengan Taman Nasional Bako – Sarawak.  Sejak pagi, saya pribadi merasa antusias menjalani aktivitas sepanjang hari di Kuching bersama Sarawak Tourism Board dibawah arahan langsung dari bang Kevin Hamish yang juga blogger  Dayak Wanderer   yang hits se-negeri Jiran.  




Hamparan sungai luas yang kami lalui merupakan bagian dari aliran sungai Muara Tebas dan terhubung dengan kawasan Laut Cina Selatan itu ternyata di diami dataran hutan seluas 2.727 hektar dengan beragam pesona yang terkandung didalamnya.  Sejak ditetapkan pertama kali pada tahun 1957, Taman Nasional Bako menjadi taman nasional pertama dan menjadi taman nasional tertua di Sarawak – Malaysia.  Bako dihuni oleh sekitar 275 kera bekantan (proboscis), lalu adapula habitat burung lebih dari 150 spesies dalam kawasan Bako.



PESONA BATU LAPIS DAN SAPAAN MACACA

Setelah 30 menit berlayar dengan perahu mesin, kami tiba di bibir pantai nan landai dengan bebatuan lapis yang telah memukau pandangan kami sejak kapal masih melaju. Tak heran bila kami serempak menghampiri batu lapis dan langsung menikmati pesonanya lebih dekat. Kak Anna – tour guide kami menjelaskan beragam keindahan dari batu lapis di dalam kawasan Taman Nasional Bako. Termasuk kepiting kepiting kecil dan lubang lubang rumah mereka di hamparan pasir. Beberapa dari kami pun mengabadikan diri diantara bebatuan lapis dengan warna warna yang menggoda. Saya sempat teringat kue lapis khas Kuching saat melihat alur warna pada batu lapis tersebut. Bisa jadi juga ya.. hehehe.


 Setelah puas mengabadikan diri dengan batu lapis – termasuk photo ala ala BackStreet Boys dan Spice Girls,  saya dan rekan-rekan  blogger memasuki kawasan Taman Nasional Bako. Beberapa jenis kera ekor panjang (macaca fascicularis) menyambut kehadiran kami sejak gapura depan hingga ke halaman sebuah bangunan utama dari Taman Nasional Bako. Beberapa pengunjung ramai di gedung utama tersebut. Sebagian besar adalah wisatawan asing dataran Eropa dan Amerika. 



DI SAPA BABI JANGGUT

Setelah mendapat penjelasan secara general soal Taman Nasional Bako oleh kak Anna, kami diajak melakukan trekking ke bagian dalam yang memiliki kawasan huni atau cottage yang dapat dijadikan sarana bagi pengunjung yang ingin bermalam. Pijakan kaki ditata sedemikian rupa untuk kenyamanan menikmati kawasan dalam dari Taman Nasional Bako. Beberapa wisatawan terlihat menikmati perjalanan dalam beberapa group.  Tak begitu jauh dari bagian depan, beberapa wisatawan asing berkumpul di semak semak, yang kami ketahui sedang memotret ular yang bertengger di ranting pohon. Si ular sedang pose kali yaa,.. beberapa teman mendekat. Tidak dengan saya. Maaf saya takut dengan seluruh jenis Ular. 



Yang membuat kami antusias selanjutnya adalah dapat melihat habitat monyet, kera hingga bekantan di kawasan bagian dalam dari Taman Nasional Bako siang itu. Beberapa bekantan nampak beraksi di hadapan para wisatawan. Tampaknya, hewan hewan dalam Taman Nasional Bako sudah terbiasa dengan kunjungan wisatawan. Makanya tak heran bila para hewan-hewan itu beraksi menampakkan pesona dirinya dihadapan pengunjung yang memang berharap menemui mereka.

Disela perhatian kami ke bagian atas pepohonan ternyata seekor babi janggut (Bornean Bearded Pig) tampak muncul dari bawah rumah panggung yang letaknya persis dekat kerumunan kami. Saya pribadi merasa tertarik mengabadikan keberadaan babi janggut liar bertubuh lebih besar dari babi potong tersebut ketimbang harus meganga menatapi kera-kera berantraksi diatas pepohonan. Terlebih kamera yang saya punya tidak bisa menangkap dengan baik posisi kera kera dan bekantan tersebut karena keterbatasan lensa yang saya bawa. Si Babi jenggot pun tampaknya sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Buktinya, meski ia sedang jadi sorotan banyak kamera, tetap saja si babi santai berjalan sembari mengendus dedaunan di dekatnya.  Dasar Babi!!!. Sok Asik deh Loe!!.






MELIHAT LANGSUNG TONGKAT ALI

Usai menikmati sisi dalam dekat bangunan utama. Bang Kevin Hammish dan kak Anna mengajak serta kami kebagian lain dari kawasan Taman Nasional Bako, tepatnya Telok Paku. Sebelum tiba di Telok Paku, saya dan rekan-rekan menyusuri kawasan bako dengan jalur trekking yang rapih dan terarah.  Pijakan kaki yang nyaman bagi pengujung di ciptakan dalam kawasan Taman Nasional Bako. Selain itu daya tarik pantai dari kejauhan dan kawasan Bako nan hijau jadi suatu paket wisata yang lengkap. Terlebih bagi yang menyukai flora dan fauna khas kawasan tropis.

Sepanjang perjalanan trekking, kak Anna menjelaskan beberapa jenis tumbuhan langka termasuk jenis jenis jamur dan tumbuhan lumut di beberapa bagian jalan yang kami lalui. Bahkan kak Anna sempat mengajak serta kami melihat langsung pohon yang kerap disebut sebagai tongkat Ali – yang konon dapat menambah stamina seksual para pria – eh wanita juga boleh ya..tapi saya sih gak nemen banged mau ambil tongkat ali. Lha udah pake macem macem KB aja anak gw udah 3!. Apalagi kalo pake tongkat Ali. Alamat anak bisa selusin!!!. Hobaahh!!.

 
Kak Anna - tour guide kami menjelaskan tumbuhan dalam kawasan Taman Nasional Bako


 
TREKKING BALIK ARAH

Berdasarkan papan penunjuk arah, Telok Paku berjarak 8 km. tetapi kak Anna menjelaskan hanya 800 meter saja…hhmm… bila memang jaraknya 800 meter mengapa si plang penunjuk arah itu tidak diganti. Saya tidak bermasalah dengan trekking dalam hutan. Saya pernah menjelajahi Taman Bukit Barisan Selatan yang jauh lebih liar dari kawasan Taman Nasional Bako, tapi memang niatnya kunjungan hanya satu kawasan. Terbayang , jika tujuan hanya tandang ke Taman Nasional Bako saja, alhasil sampai sore, kan… dan tentu tidak kebagian kunjungan ke tempat lain yang telah terjadwal dalam satu hari. Itulah sebabnya saya tidak berkenan meneruskan trekking dan memilih berbalik kearah semula. 


 Selama menyusuri kawasan dalam dari Taman Nasional Bako, saya pribadi tak berkenan bicara banyak. Mengingat kawasan sejenis Taman Nasional tentu memiliki ‘warga’ yang akan terganggu ketenangannya ketika pengunjung mengusik dengan bertingkah dan berbicara terlalu berisik. Itulah sebabnya sepanjang perjalanan saya banyak diam. Lagi pula sebagai seorang dewasa, kita wajib pandai bersikap kan?, kapan kudu ‘rame’, kapan wajib ‘diem’,hehehe.  


Always happy when going to National Park. Because Every National Park has unique side . . Thank @sarawaktravel that was guide Me and friends to BAKO - Cant Wait to Write oN My BLOG . . It's One of spot on BAKO National Park in KUCHING - A National Park since 1957, Bako offers the perfect introduction to Sarawak’s forests and wildlife. The park covers the northern tip of the Muara Tebas peninsula, an area of 27 sq km. – Bako it is possible to see almost every type of vegetation found in Borneo. visitors to Bako are almost guaranteed to see wildlife. Long-tailed macaque monkeys and silver leaf monkeys are ever present, wild boar are often found rummaging around the park HQ, squirrels and monitor lizards are also common. There is every chance of seeing the rare and unusual proboscis monkeys on trails such as Telok Paku and Telok Delima, particularly if you go late afternoon. . . . #AirAsiaFamTrip2017 #BloggerGoesToSarawak #AirAsia #VacayWithAirAsia #SarawakTravel #Kuching
A post shared by Indra Pradya (@duniaindra) on


Menikmati hutan dan beragam tumbuhan serta keunikan dari Taman Nasional Bako memberi saya pemahaman soal kawasan hijau nan asri lengka dengan daya tarik fauna yang belum tentu saya temui di kawasan sejenis di Indonesia. Karena memang kawasan hutan atau Taman Nasional itu selalu memiliki keunikan tersendiri. Itulah sebabnya saya selalu senang bila punya kesempatan tandang ke Taman Nasional.

 
Makan siang di gedung utama bagian dapan saat kedatangan kami semula adalah aktivitas siang kami selanjutnya sembari menunggu kapal yang akan kembali membawa kami ke dermaga dimana kami memulai kunjungan dipagi tadi.  Semoga ada kesempatan untuk kembali tandang ke Taman Nasional Bako. Karena saya tertarik bermalam di penginapan yang ada dalam kawasan Taman Nasional Bako agar lebih dekat dengan fauna yang ada didalamnya.

4 komentar :

  1. Karena air lautnya sedang surut, kita jadi bisa melihat pemandangan seperti padang pasir di pantainya. Indah banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yesss....semoga ada waktu kesana lagi...

      Hapus
  2. aku terpukau sama foto babi janggutnya bang. 30 menit naik kapal cepat, seru tuh bang.. asal gak mabok laut hehe

    BalasHapus
  3. Asik bener yah bisa maen kesana. Palingg ngga harus trekking 7 jam an biar seru :p

    BalasHapus

Scroll To Top