Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 29 Desember 2017

KIKET LAMPUNG ; IDENTITAS BUDAYA YANG NYARIS DI LUPA




Setahun sudah saya menjadikan Kiket Lampung sebagai bagian dari identitas diri.  sejak Desember 2016 silam.  Dalam perjalanannya, memakai Kiket Lampung tidak semudah mengenakan topi atau jenis tutup kepala lainnya. Selain masih terbilang asing, Kiket Lampung tidak begitu familiar bahkan dalam keseharian masyarakat Lampung saat ini. Tak jarang beberapa orang memandang  aneh  kearah saya  saat saya mengenakan Kiket Lampung dalam beberapa acara. Bahkan beberapa rekan kerap berkelakar soal Kiket yang saya kenakan, “Indra pake Turban ya?...” hehehe.
 
Kiket Lampung di puncak Pulau Padar - NTT

 
Sejak berjuang mengumpulkan Vote demi menjadi bagian dari kerala Blog Express #KBE musim ke 4 di penghunjung tahun 2016 lalu, sejak itu pula saya bertekad mengenakan ikat kepala sebagai bagian dari identitas diri yang nantinya secara konsisten akan saya pakai saat menjadi bagian dari gelaran acara Kerala Blog Express di India.  

Tanjak Jambi, Ikat Sunda dan Kiket Lampung
MENGENAL  JENIS KIKET LAMPUNG

Ada banyak jenis ikat kepala yang berkembang dalam adat istiadat di Indonesia. Tengok saja ikat kepala bernama Udeng yang menjadi penanda pria Bali. Atau Ikat kepala khas Sunda maupun suku baduy yang mudah dikenali. Belum lagi jenis Tanjak – ikat kepala pria pria Melayu, yang kini berkembang di Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Kiket Lampung atau kerap juga di ucap ‘Kikat Lappung’ merupakan ikat kepala yang dikenakan oleh pria-pria dalam masyarakat adat Lampung yang penggunaannya dilakukan dengan cara mengikatkan seutas kain pada kepala.   Sejak dahulu, para pria Lampung telah gemar memakai Kiket. Baik pria Lampung Pepadun maupun Saibatin. Meski terdapat beberapa jenis Kiket pria Lampung dalam masyarakat adat Lampung Pepadun, maupun Lampung Saibatin.

“Secara umum, para pria Lampung dulu senang menggunakan penutup kepala”, ucap Syafril Yamin atau yang akrab saya sapa ‘Bang Lil’ – sosok seniman dan budayawan Lampung yang kerap saya jadikan rekan berbincang soal budaya Lampung.   “Mengenakan penutup kepala itu bagian dari budaya”. terang bang Lil pada saya.

Menggunakan peci adalah hal yang lazim dalam aktivitas keseharian pria Lampung.  Meski dalam beberapa kesempatan, menggunakan peci yang juga simbol agama islam tersebut dianggap tidak etis. Terutama untuk aktivitas seperti berladang atau kegiatan keseharian yang rentan terhadap hal-hal yang kurang bersih.   Itulah mengapa kemudian para pria Lampung menggunakan penutup kepala yang mengakar pada budaya masyarakat Lampung, yakni Kiket.

 “Dalam masyarakat Lampung terdapat beberapa nama dari Kikat atau Kiket.” ungkap Bang Lil. “Ada yang menyebut Kikat, ada yang menyebut Ketupung atau Tupung” jelas bang Lil kemudian.   Dalam adat Lampung ada beberapa jenis tutup kepala atau kerap juga disebut sebagai mahkota pria dalam acara adat Lampung. Ada pula Kiket yang khusus digunakan oleh para Penyimbang, Sultan atau Raja dalam silsilah adat Masyarakat Lampung. Seperti sebutan Tukus yang dipakai oleh Raja dan Sultan di Sekala Brak – Lampung Barat. Ada pula Picung yang dipakai oleh Raja di Marga Teluk Betung. Sebutan Hanuang Bani untuk ikat kepala yang dipakai oleh Raja di Marga Kalianda.  Punai Mekhem atau Manuk Mekhem  merupakan bentuk penutup kepala yang kerap dipakai oleh Penyimbang adat Pepadun.  Termasuk  penutup kepala yang disebut Peci Bidak yang kerap dipakai oleh masyarakat Lampung hingga saat ini.

beberapa penutup kepala khas Lampung Saibatin

Saya dan Sai Batin Buay Bejalan Di Way Selayar Akbar Puspanegara, gelar Suttan Pangeran Raja Jaya Kesuma IV. dan Adiknya (hayal) Ngarep.com
 
FILOSOFI KIKET DAN PENUTUP KEPALA PRIA LAMPUNG

Karena memiliki keragaman baik bentuk maupun warna, maka jangan heran bila kita akan melihat keragaman bentuk dan warna baik dari penutup kepala maupun jenis Kiket para pria Lampung. meski begitu, cukup mudah mengenali perbedaan antara penutup kepala masyarakat Lampung Pepadun maupun masyarakat Lampung Saibatin.

Pada umumnya, pria Lampung Pepadun akan mengenakan ikat kepala yang menutupi keseluruhan kepalanya dengan simpul ikat diletakkan pada bagian belakang dan bentuk sudut kain terletak jatuh dibagian dahi. Sedangkan pria Lampung Saibatin cenderung menggunakan ikat kepala yang bentuk sudut kain terletak dibagian dapan dan menghadap ke atas. Hal ini berkaitan dengan filosofi budaya masyarakat Lampung pepadun dan Saibatin.

Dalam masyarakat Lampung Pepadun, Kiket atau penutup kepala berbentuk Manuk Mekhem atau Punai Mekhem yang mengandung arti burung tidur. Itulah mengapa terdapat ‘benjolan’ pada bagian depan. Persis seperti bagian belakang blangkon pada pria di pulau Jawa. Sedangkan pria Lampung Pesisir akan mengenakan bentuk Kiket atau penutup kepala yang menampilkan sudut runcing  menghadap ke atas pada bagian depan. Hal ini kerap disebut Peci Kapal Jukung. Karena  menggambarkan bentuk ujung perahu dan  terinspirasit dari aktivitas nelayan  yang merupakan budaya sebagain besar Lampung Pesisir atau Saibatin. 

 
mengenakan Kiket Lampung di Kebun Raya Liwa - photo by bang Endang
 
Ingin mengenakan  Kiket Lampung,  Simak Tutorialnya dalam Youtube Channel saya berikut,  jangan lupa di Subscribe yaaa…hehehe

 
KIKET LAMPUNG = IDENTITAS BUDAYA LAMPUNG

Seiring waktu, saya semakin sering mengenakan Kiket dalam beragam kesempatan. Meski ada pula beberapa kesempatan yang tidak memungkinkan untuk saya mengenakan ikat kepala khas pria Lampung tersebut. Seperti ketika sedang memandu resepsi pernikahan atau menjadi pengisi acara disuatu acara yang sifatnya resmi dan ceremonial. 

mengenakan Kiket saat jadi pembicara di kampus UNILA

mengenakan Kiket saat makan malam di sebuah resto di Sabah - Malaysia

menjajal Ikat Kepala khas Baduy
 
Bagi saya, mengenakan Kiket Lampung itu adalah kebanggaan sebagai pria Lampung. Sekaligus identitas saya sebagai orang Lampung. Seperti pengalaman saya ketika menjadi bagian dari event Kerala Blog Express di India awal tahun 2017 silam. Dengan menggunakan Kiket Lampung membuat saya mudah dikenali dan  memiliki ciri khas personal diantara sosok bongsor para bule bule. Selain itu, menggunakan Kiket  Lampung dalam event Kerala Blog Express dapat menjadi bahan obrolan pembuka saya pada lawan bicara mengenai  Lampung  dan budaya Indonesia secara keseluruhan.

karena tampilan Beda, pak Menteri Pariwisata India mengajak saya ber-swa photo

tetap menggunakan Kiket Lampung dan Baju kain khas Lampung saat farewell party
 
tentu tak sulit menemukan saya diantara badan badan bongsor itu ?!

Ternyata kegemaran saya mengenakan Kiket Lampung tak hanya saat event Kerala Blog Express saja. Dalam beberapa kesempatan selanjutnya, saya terus menggunakan Kiket Lampung sebagai sebuah kebanggaan dan upaya saya dalam mengenalkan dan melestarikan budaya asli Lampung.  karena dalam beberapa event, tak sedikit orang yang mengenal bentuk ikat kepala yang saya kenakan.  Itulah sebabnya, dalam beragam event yang memadai,  saya mengupayakan untuk mengenakan Kiket secara konsisten.  Karena jika bukan kita siapa lagi yang akan mencintai budaya asli daerah.  Terlebih bila sedang keluar negeri. Tak perlu jadi sosok kebarat-barat-an. Cukup kenakan sesuatu yang merupakan bagian dari kebudayaan asli Indonesia sebagai Identitas masyarakat Indonesia. Ingat, Your Culture is Your identity!.
Mari bangga pada Budaya dalam negeri sendiri.

8 komentar :

  1. Sekilas aku bacanya kitkat *lalu lapar. :D


    Makin keren ajalah Om Indra ini. Promosi budaya sendiri kalau ga dimulai dari kita, dari siapa lagi. Aku baru tau sejarah kiket Lampung ini dari tulisanmu lho Om.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kitkat!? hahahahhahah ...dasar!! yes, aku selalu berfikir untukterus promosi budaya secara langsung dengan terlibat langsung.

      Hapus
  2. Setuju banget, harus bangga dong punya identitas diri apalagi berakar dari budaya yang filosofonya luar biasa. Proud of you, Ndra!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba kece lirikan mematikan kesayangan akuuuuu.... thanks for big supports so far...

      Hapus
  3. Klo penitup kepala untuk laki-laki di adat karo namanya bulang-bulang.


    Betul om. Jangan dilepas om, kayak bukan om indra klo gk pake kiket. Hehehe
    Biar itu jadi ciri om indra. Inget kiket inget om indra 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaahhhhh ini komen yang buat aku berbunga-bunga .... seneng deh di bilang ciri Indra,,,... Inget Kiket inget Indra..hahahahah makasih brohter ..

      Hapus
  4. Jalan-jalan dengan menggunakan identitas daerah sendiri selain tampil lebih unik juga membantu mengenalkan budaya kita ke daerah lain. Idenya Babang Indra menggunakan kiket ke mana-mana perlu ditiru nih

    BalasHapus
  5. Masih belum familiar memang yai. Semoga kedepan dengan makin banyak yang cinta dengan Lampung, membuat budaya2 Lampung yang belum familiar menjadi lebih dikenal. Semoga Lampung menjadi lebih baik lagi. :)

    BalasHapus

Scroll To Top