Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 22 Februari 2019

MENIKMATI SENJA DAN BUDAYA JEPANG DALAM SUASANA EROPA DI KOTA OTARU



Bagi mereka yang pertama kali tandang ke Jepang, bisa jadi Otaru bukanlah destinasi incaran kala ke Jepang. Begitu pun saya. Tak pernah terlintas akan ke Otaru bila ke Jepang. Kak Kent lah yang menyarankan untuk tandang ke Otaru. Saya sih oke oke ajaa.  Tidak juga saya bertanya terlampau banyak pada kak Kent mengapa kami harus ke Otaru. “Nanti kita datengin Kanal yang keren.” ujar kak Kent. “Kalo beruntung, kita bisa lihat sunset. Otaru itu kota yang romantis lho..” jelas kak Kent seolah meyakinkan saya. Sebagai pejalan pun, saya tidak pernah berharap terlalu banyak pada sebuah tempat kunjungan. Cenderung menikmati segala yang saya lihat dan rasakan. Kemudian menjadikan segalanya bagian dari pengalaman dan pembelajaran untuk kehidupan mendatang.

Stasiun JR Minami kota Otaru


Perjalanan  menuju Otaru  di mulai dengan menumpang JR Hokaido dari  stasiun kereta Sapporo.  Selama berada dalam kereta, mata saya di manjakan dengan bentangan teluk Ishikari yang menjadikan Otaru sebagai kota pelabuhan terkenal di Jepang sekaligus tersibuk sejak pertengahan abad ke 20. Hanya butuh waktu 30 menit berada dalam kereta  sebelum akhirnya tiba di Stasiun JR Minami kota Otaru.  Saat keluar dari stasiun kereta api  terlihat suasana jalan yang tidak terlalu ramai. “Inilah kenapa gue suka Otaru. Kota nya lebih tenang” ucap kak Kent pada saya. Saya pun mengangguk setuju, mengikuti langkah kaki kak Kent sembari menahan dinginnya salju dan suhu minus 8 derajat kala itu. Bbrrrr  

Stasiun Kereta kota Otaru

suasana kota Otaru yang lebih lengang
 
JEJAK SEJARAH DI KOTA OTARU

Usai melalui penyeberangan di depan stasiun kereta kami menapaki jalan Sakaimachidori yang menghubungkan seluruh pengunjung ke Kanal Otaru.  Yang menarik, sepanjang jalan yang kami lalui bangunan bertingkat bergaya Eropa mendominasi. Bukti bahwa Otaru mendapat pengaruh kala kapal-kapal kaum Belanda merapat di dermaga kota Otaru sejak abad 19 lalu.

Saya sempat menyimak penjelasan singkat soal sejarah kanal dan kota Otaru pada papan informasi yang terpajang di salah satu sisi jalan Sakaimachidori. Sebagai kota pelabuhan, Otaru adalah tempat strategis bagi kapal-kapal barang yang hendak masuk ke kawasan Hokaido, Jepang sejak abad 19 hingga abad 20. Di bangunnya kanal-kanal pada masa itu bertujuan untuk mendistribusikan barang-barang dari kapal besar di dermaga ke kapal kecil yang kemudian melalui kanal-kanal sebelum akhirnya diterima oleh masyarakat kota Otaru.
 
bangunan yang dahulu Gudang telah berubah fungsi menjadi cafe,  toko dan resto

suasana jalan lengang di kota Otaru

bangunan bangunan bergaya eropa


Saat ini, suasana kanal telah jauh lebih menarik untuk di kunjungi. Aktivitas penyaluran barang yang dahulu jadi pemandangan biasa sebuah dermaga berubah menjadi lebih lengang. Kanal-kanal tersebut kini lebih tertata sebagai tempat wisata. Pedestrian pun di bangun pemerintah kota Otaru  khusus untuk wisatawan yang ingin menghabiskan waktu berjalan kaki menikmati suasana di sepanjang kanal. Bangunan – bangunan gagah khas kolonial Belanda dekat dermaga yang dahulu berfungsi sebagai gudang barang itu kini telah berubah wujud menjadi perkantoran dan perbankan, hotel, café dan resto serta toko yang menjajakan beragam barang menarik mulai dari fashion hingga souvenir.   Bahkan beberapa bangunan telah beralih fungsi sebagai cagar budaya. Mengingat beragam kisah sejarah yang berkaitan erat dengan bangunan tersebut.
 
salah satu suasana jalan dalam kota Otaru

kantor dan gudang gudang dalam area pelabuhan


Sore itu,  mata saya di manjakan dengan suasana lengang kawasan kanal.  Beberapa wisatawan terlihat menikmati suasana bentangan kanal dengan naik Jinrikishs – kereta yang di tarik oleh pria-pria bertubuh atletis dan berparas bak aktor drama seri.  Selain itu, wisatawan dapat menggunakan fasilitas Canal Cruise untuk menikmati panjang  kanal  yang mencapai 1.140 meter tersebut. Selama dalam Canal Cruise, wisatawan akan mendapatkan penjelasan berkenaan dengan sejarah kanal Otaru dari sang pemandu. Untuk mengakses Canal Cruise, wisatawan dapat mendekati loket tiket keberangkatan Canal Cruise yang berada tepat di samping jembatan Chuo.  Wisatawan cukup membayar tiket senilai 1.500 Yen untuk Canal Cruise pada siang hari dan 1.800 Yen untuk Canal Cruise pada malam hari. Mengapa pada malam hari lebih mahal?, bisa jadi karena kerlip lampu yang tertata di sepanjang kanal dan suasana yang tersaji lebih romantis kala malam hari. Karena antrian yang cukup panjang, maka saya putuskan menikmati sausana Kanal melalui pandangan mata saja.  
 
bagian kanal dan bangunan yang dulunya gudang beralih fungsi sebagai pertokoan
 
jajal Canal Cruise di Kanal Otaru


Lalu kak Kent mengajak saya mendekati pelabuhan. Tumpukan salju menghias dermaga dan beberapa kapal besar yang sedang bersandar.  Meski tak terlihat aktivitas pelabuhan, jajaran kapal besar dan kecil di sepanjang dermaga menjelaskan kejayaan kawasan tersebut. Bahkan akses menuju dataran Rusia terbilang dekat dari letak pelabuhan dimana kami berada. “Andai ke Rusia tak butuh visa, boleh juga kita menumpang kapal laut menuju Rusia.” gumam saya yang di tanggapi datar oleh kak Kent.   Hayalan Indra!!.

Usai menikmati suasana pelabuhan, kami  kembali melangkah melalui Sakaimachidori Shopping Street dengan barisan toko-toko yang menjual beragam souvenir dan karya seni khas Otaru yang menyegarkan pandangan mata. Kerajinan gelas atau kaca khas Otaru sungguh terkenal. Hal ini bermula dari aktivitas nelayan di kota Otaru yang menggunakan lampu minyak dan ukidama yakni alat memancing yang terbuat dari kaca. Sejak itulah jenis lampu minyak dengan ukidama banyak di produksi di Otaru. Kitaichi Glass Otaru merupakan toko yang menyajikan aneka kerajinan kaca dengan beragam kreasi terbaik di Otaru. Harga karya seni kaca khas Otaru mulai dari 800 Yen hingga puluhan ribu Yen.  Bagi yang senang mengolah karya seni kaca dapat pula mengikuti workshop yang kerap di gelar di beberapa toko di sepanjang Sakaimachidori Shopping Street. Saya pribadi tak begitu tertarik untuk membeli kerajinan kaca di Otaru, selain mahal buat saya (hahaha), membawa buah tangan berupa gelas atau kaca cukup riskan dalam perjalanan. Cukuplah memuaskan pandangan mata saja.
 
salah satu kapal yangs edang bersandar di pelabuhan kota Otaru

suasana lengang sekitar pelabuhan


Senja semakin beranjak. Sebelum gelap, kami sempat melihat salah satu bagian dari situs rel kuno jalur Temiya yang merupakan rel pertama di Hokkaido dan telah di tutup pada 1985. Uniknya, di sekitar situs rel kuno tersebut terdapat seni pahat salju yang menarik untuk di abadikan. Tak heran bila saya dan kak Kent sontak bernyanyi-nyanyi kecil hingga niat merekam duet  ala kadar kami seraya menahan dinginnya salju.

 
salah satu situs Rel Kuni jalur Temiya

Meski sesaat, tandang ke Otaru membuat kesan tersendiri bagi saya. Suasana kota yang lebih tenang bila di banding kota-kota lain di Jepang  menjadikan kota Otaru semakin memesona mata hati saya.  Selalu terbukti, bahwa nilai bahagia yang saya dapat dalam perjalanan justru ketika saya tidak membuat pengharapan terlampau tinggi pada perjalanan dan tempat tujuan. Patut bersyukur karena Kak Kent memperkenalkan saya pada kota Otaru. Terucap pada diri untuk kembali mengunjungi Otaru suatu saat nanti. 
 
salah satu patung salju dalam area situs rel kuno Temiya
 
Noted for Traveler;  Semakin lengkap tandang ke Otaru ketika berlangsung gelaran Otaru Snow Light Path Festival yang berlangsung di sepanjang kanal Otaru. Festival ini dilaksanakan saat musim dingin bulan Februari di Otaru. Biasanya Festival ini bersamaan dengan gelaran Snow Festival di Sapporo. Hal ini di lakukan sebagai strategi agar wisatawan dapat mengunjungi kedua festival tersebut di waktu yang berdekatan. Saya dan kak Kent sempat tandang ke Sapporo Snow Festival. Kisahnya akan saya tuturkan pada postingan selanjutnya.

1 komentar :

Scroll To Top