Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label Warisan Budaya Tak Benda Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warisan Budaya Tak Benda Lampung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2016

MENGULAS BUDAYA DAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA LAMPUNG.





Lidah Lidah - sebutan untuk hiasan (dekorasi) yang kerap digunakan masyarakat Lampung baik dalam keseharian maupun dalam acara acara adat, pernikahan, dsb.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka, definisi kebudayaan adalah antara lain hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan adat istiadat. Kata dasar kebudayaan adalah budaya, yang merupakan bentuk majemuk dari kata budidaya yang berarti cipta, karsa dan rasa.

Sebenarnya kata budaya hanya diakui sebagai suatu singkatan dari kebudayaan.  Budaya sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, belajar dan menjadi sikap perilaku manusia berikutnya atau lazim disebut nilai budaya.

Nilai budaya dapat kita lihat dan kita rasakan dalam sistem kemasyarakatan/kekerabatan yaitu diriwayatkan dalam bentuk adat istiadat, kesenian dan kepercayaan.  Budaya berfungsi membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selanjutnya, budaya dalam masyarakat dikelompokkan dalam tiga hal, yaitu ;
  1. Perilaku , yang merupakan  cara bertindak atau berperilaku tertentu dalam situasi tertentu didalam suatu masyarakat dengan pola perilaku yang diatur dalam norma.
  2. Bahasa, yang merupakan sebuah sistem symbol yang dibunyikan dengan suara dan ditangkap oleh telinga.
  3. Materi, budaya materi merupakan hasil dari kreatifitas, perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat berupa antara lain pakaian, perumahan, alat alat rumah tangga , senjata dan lain sbgdnya.

BUDAYA LAMPUNG.

Budaya cenderung bertahan karena unsur mata pencarian, unsur teknologi dan pengetahuan. Sedangkan dasar pembentuk dari budaya Lampung, pada umumnya berawal dari unsur ; Agama Islam yang mayoritas dianut oleh masyarakat Lampung, kekerabatan partial, politik kepemimpinan berdasarkan keturunan, ekonomi bercocok tanam atau pertanian dan kesenian yang telah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat yang terdiri dari seni tari, pencak, seni musik, sastra dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya, kelompok masyarakat Lampung menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung yang kemudian menyebabkan terjadinya pembentukan budaya Lampung itu sendiri.  Secara umum, sebaran budaya Lampung dapat dibedakan kedalam dua kelompok dasar adat yakni ;
  1. Masyarakat Pepadun,  yang berkediaman didaerah pedalaman atau perbukitan Lampung terdiri dari masyarakat adat Abung (Abung Siwo Mego), Pubian (Pubian Telu Suku), Menggala Tulang Bawang (Megopak Tulang Bawang) dan Buay Lima.
  2. Masyarakat Saibatin, sekelompok masyarakat yang berkediaman di sepanjang pesisir termasuk masyarakat adat Krui, Ranau, Komering sampai Kayu Agung.

WARISAN BUDAYA TAK BENDA (WBTB) LAMPUNG.


Warisan budaya adalah benda atau atribut tak berbenda yang merupakan jati diri suatu masyarakat atau kaum yang diwariskan dari generasi – generasi sebelumnya, yang dilestarikan untuk generasi – generasi yang akan datang.
Warisan Budaya terbagi menjadi dua, yaitu Warisan Bendawi dan Warisan Tak Benda. Warisan Budaya Bendawi adalah hal hal yang dapat disentuh dan dipakai. Sedangkan Warisan Budaya Tak benda adalah segala praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan – serta alat alat, benda (alamiah), artefak dan ruang ruang budaya terkait dengannya – yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok dan dalam hal tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya meraka.
Warisan Budaya Tak Benda meliputi juga tradisi dan ekspresi lain, termasuk bahasa, seni pertunjukan, adat istiadat masyarakat, ritual dan  perayaan perayaan.

Selanjutnya marilah kita simak capaian propinsi Lampung melalui pencatatan Warisan Budaya Tak Benda  yang dilakukan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Di tahun 2015, Lampung berhasil mencatatkan 5 budaya khas Lampung dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.  Lima produk budaya Lampung yang mendapatkan ketetapan Budaya Tak benda tersebut yaitu ; Sulam Usus, Gulai Taboh, Seruit, Cakak Pepadun dan Sekura Cakak Buah.
Ditahun 2014, Lampung juga telah berhasil memperoleh pengakuan untuk ;  Kain Tapis, Gamolan, Tari Melinting, Tari Sigeh Pengunten, Muayak dan Rumah Adat Lampung Barat  berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.

Sebuah pencapaian yang tak mudah tentunya. Karena untuk berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda, para pemohon – dalam hal ini Dinas Pariwisata Lampung harus melakukan usulan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mekanisme dan tahapan yang tidak mudah. Selain itu diperlukan kajian ilmiah termasuk sederet pendukung yang menguatkan sesuatu tersebut layak masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.
Sebagai penyuka seni budaya daerah, saya berharap ada banyak ragam produk seni Lampung yang dimasukkan dalam Warisan Budaya Tak Benda, mengingat provinsi Lampung memiliki banyak jenis seni dan budaya khas yang telah ada dan berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka. Beberapa jenis seni dan budaya Lampung tersebut memang tidak seluruhnya terlaksana atau masih dapat dilihat hingga kini. Meski begitu beberapa hal menarik dan layak untuk diusulkan dalam daftar Warisan Budaya  Tak Benda diantaranya ; Meduaro dari Tulang Bawang, Sulam Ulat dari Mesuji, Ringget, Bebandung dan masih banyak lagi jenis jenis  seni dan budaya khas Lampung. Sudah selayaknya seluruh masyarakat menjaga seni dan budaya asli daerah agar tidak punah atau malah diakui oleh negara tetangga. Karena bagi saya, seni dan budaya daerah adalah salah satu identitas bangsa yang wajib dijaga.

Senin, 14 Desember 2015

MENENGOK RUMAH PANGGUNG KHAS LAMPUNG DI BANDAR LAMPUNG

Kedatoen Keagoengan - Kedaton.


Setiap daerah di nusantara memiliki ciri khas bangunan. Tak terkecuali bentuk rumah panggung yang merupakan bangunan khas di masyarakat Lampung. Sejak masa lampau, masyarakat Lampung membangun rumah mereka dengan bentuk panggung.
Rumah panggung sebagian besar berbahan kayu dan berbentuk panggung seperti umumnya rumah di kawasan hutan tropis. Sedangkan teknologi pembuatan rumah panggung – nuwo gacak – lamban langgar, dengan atap miring merupakan karakter khas arsitektur asia. Bagi masyarakat Lampung, rumah berbentuk panggung berfungsi sebagai perlindungan dari serangan hewan seperti ular dan serangga berbahaya lainnya dikala musim hujan. Di musim panen, bagian bawah rumah panggung pun dapat dijadikan sebagai penyimpan hasil panen atau beberapa alat pertanian. Jadi selain sebagai ciri khas bangunan rumah masyarakat Lampung - rumah panggung juga memiliki fungsi sebagai penunjang aktivitas kehidupan masyarakat Lampung.

Bentuk Rumah Panggung yang lebih modern di kawasan Kota Baru - Lampung

Arsitektur rumah panggung khas Lampung merefleksikan semangat keterbukaan, kekuatan, kenyamanan dan keindahan.  Di Lampung rumah tinggal di bangun berangkat dari prinsip buway struktur sosial yang menyatu dengan teritorial. Rumah orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah tiyuh atau kampung. Sedangkan setiap tiyuh terbagi lagi dalam beberapa bagian yang disebut bilik yaitu tempat berdiam buway. Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan territorial yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klan yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalui dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

Gerbang masuk kebagaian rumah jajar Intan - kedamaian


RUMAH PANGGUNG DI BANDAR LAMPUNG.

Meski sebagai ibukota provinsi Lampung, Bandar Lampung masih memiliki beberapa rumah khas Lampung baik fungsi sebagai rumah tinggal maupun sebagai rumah adat atau balai pertemuan yang kerap digunakan pada gelaran begawi adapt Lampung.
Tak terlampau sulit mencari rumah panggung di kota Bandar Lampung.

·         NEGERI OLOK GADING – Nama sebuah kawasan yang terletak dekat dengan Sukarame II bagian dari Teluk Betung Barat ini merupakan kawasan yang masih memiliki penduduk suku Lampung. Lengkap dengan jajaran rumah panggung khas Lampung yang terbuat dari kayu masa lampau atau yang telah di modifikasi dengan bangunan lebih modern, dapat dengan mudah dilihat di kawasan Kuripan. Selain itu juga ada rumah adat yang di sebut Lamban Dalom yakni Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir.



Lamban Dalom di Negeri Olok Gading - Teluk Betung - Marga Balak Lampung Pesisir
·         JAJAR INTAN – KEDAMAIAN  adalah nama sebuah bangunan rumah panggung yang kerap dijadikan sebagai lokasi acara adat/begawi adat Lampung. Terletak di jalan Hayam Wuruk – Kedamaian kecamatan  Tanjung Karang Timur ini adalam milik dari bapak Drs. A. Cholid I. Balaw. Selain bangunan Jajar Intan, di kawasan Kedamaian yang memang banyak didiami masyarakat Lampung suku Pepadun ini juga terdapat bangunan khas Lampung bernama Lamban Sai Ragah milik alm. Firman Gani. Tak hanya itu, di kedamaian juga terdapat Lamban Gedung, bahkan – di Kedamaian kini tengah dibangun masjid dengan corak khas Lampung pepadun.

Jajar Intan - Kedamaian

Lamban Sai Ragah - Kedamaian yang telah mendapatkan sentuhan lebih mdoern

·         JAGABAYA I -  sebuah kawasan di Bandar Lampung yang didiami oleh suku Lampung Pepadun dengan masih memiliki acara adat atau begawi adat khas Lampung secara rutin dengan bangunan Sesat Agung Perwatin Anek Jagabayo di jalan Pajajaran Jagabaya I kecamatan Way Halim. Selain itu beberapa rumah panggung khas suku Lampung pun masih dengan mudah ditemui di kawasan Jagabaya I ini.

Sesaat Agung perwatin Anek Jagabayo di Jakagaya I

Salah satu rumah Panggung khas Lampung di kawasan jagabaya I

·         ABUNG MARGA BALAU – RAJA BASA. Dengan populasi Lampung Pepadun beralamat di jalan Indra Bangsawan – Rajabasa, merupakan kawasan yang dapat dijadikan kunjungan untuk mengetahui suku lampung pepadun dengan rumah panggung yang masih asri. Beberapa diantaranya masih ada yang bertahan sejak puluhan tahun silam. Meski ada pula bangunan rumah panggung yang telah dipugar dan diganti dengan bangunan rumah tinggal yang jauh lebih modern.

Salah satu rumah Panggung - rumah warga di jalan Indera bangsawan- Rajabasa


·         MUSEUM LAMPUNG. Di gedung yang menyimpan banyak benda benda bersejarah ini juga mengetengahkan 2 bangunan khas Lampung yang bersejarah dan merupakan peninggalan masyarakat Lampung sejak dulu.  Arsitektur rumah panggung pertama  adalah Lamban Pesagi yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk  yang telah berusia 300 tahunan berasal dari desa kenali kecamatan Belalau – Lampung Barat.  Yang kedua ialah Walai atau Lumbung Padi yang berasal dari Wonosobo – Tanggamus yang didirikan pada tahun 1880 masehi dan dipindahkan ke Museum Lampung pada tahun 2001.

lamban pesagi di depan halaman Museum Lampung

Walai / Lumbung Pagi

·         KEDATOEN KEAGOENGAN merupakan kawasan huni dari seorang pemilik bernama Mawardi Harirama. Selain itu bangunan megah yang kerap dijadikan sebagai upacara adat atau begawi adat lampung ini juga terbuka untuk umum bahkan kunjungan wisatawan. Mengingat kelengkapan perabotan dan perpaduan arsitektur yang modern dan tradisional nan apik tersaji di rumah panggung. Selain itu terdapat Rujuk Balagh ‘Rujungan Sako’ – yang kerap dijadikan bagian dari begawi adat lampung.

kedatoen keagoengan

Rujukh Balakh

·         TIUH KEDATON.  Siapa yang sangka, gang kecil di jalan Teuku Umar – Kedaton yang jaraknya tak jauh dari Mall Boemi Kedaton ini adalah kawasan dengan penduduk suku Lampung Pepadun cukup banyak yang telah mendiami kawasan ini sejak dahulu. Dengan bangunan khas masyarakat Lampung dapat dengan mudah dijumpai di gang yang berseberangan dengan Puskesmas Rawat Inap Kedaton ini.  Kini di Tiuh Kedaton juga merupakan Sekretariat Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kecamatan Kedaton.


kawasan di Tiuh Kedaton

·         SESSAT AGUNG LABUHAN RATU. Kawasan ini juga telah menjadi wilayah huni masyarakat Lampung suku Pepadun sejak dahulu. Hingga mendiami bagian Gunung Terang. Beberapa bangunan rumah panggung dapat dengan mudah ditemui di kawasan ini selain Sessat Agung Labuhan Ratu yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya upacara adat atau begawi adat lampung.

Sesaat Agung Labuhan Ratu - yang lebih mdoern


RAGAM & BAGIAN  ARSITEKTUR LAMPUNG.

Arsitektur tradisional Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut lamban, lambahana atau nuwou, bangunan ibadah disebut mesjid, surau, rang ngaji atau pok Ngajei, bangunan musyawarah disebut sesot atau bantaian. Dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka disebut lamban pemanuhan.

Tangga utama naik ke rumah panggung (geladak)

Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal dari kepala adat (penyimbang adat) yang dalam bahasa Lampung disebut Balai Keratun.  Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan  Ijan Geladak (tangga naik ke rumah), anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), serambi tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul). Kebik temen atau Kebik Kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kabik Rangek (kamar Tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua, kebik Tengah (kamar tidur bagi anak pentimbang batin atau anak ketiga).

Anjung - anjung atau serambi menerima tamu dengan ornamen ukuran  khas Lampung

Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya ialah balai pertemuan tempat para perwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah).  Karena balai itu juga disebut sesat atau balai agung.  Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap).  Atapnya disebut rurung agung.  Kemudian anjungan Serasi yang digunakan untuk pertemuan kecil pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi) ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat tradisional) dan ruang kerja bareng.

jajaran rumah panggung di kawasan Lampung Timur

Beberapa kawasan di provinsi Lampung seperti ; Liwa – Lampung Barat, Krui – Pesisir Barat, Lampung Utara, Lampung Timur, atau bahkan Kampung Wanna - Melinting, Blambangan Pager, Kenali, Menggala dan Talang Padang hingga kampung kampung tua lainnya masih mempertahankan rumah panggung.

Salah satu bentuk rumah panggung khas Lampung di Pulau Pisang - Pesisir Barat.

Tanpa perlu menjelajahi seluruh penjuru provinsi Lampung, wisatawan dapat mendatangi langsung rumah panggung khas lampung bahkan rumah adat khas lampung yang ada di kota Bandar Lampung. Berharap bentuk arsitektur rumah adat di kota Bandar Lampung dapat tetap dipertahankan. Karena dapat menjadi acuan sejarah sekaligus bagian dari budaya Lampung yang telah ada sejak dahulu.


Scroll To Top