Sebagai penyuka wisata bernilai sejarah, tentu jadi kebahagiaan
tersendiri ketika punya waktu dan kesempatan tandang langsung ke destinasi
wisata bernuansa sejarah. Meski saya bukan ahli sejarah, tapi izinkan saya menceritakan
pengalaman tandang langsung ke Situs Batu Bedil yang berada di kabupaten
Tanggamus, provinsi Lampung.
Rasa senang dan semangat tandang ke situs Batu Bedil telah muncul
sejak memulai perjalanan bersama rekan-rekan dari Bandar Lampung bersama Lucky, Athar, Rasyid, Reza dan Jerry. Perjalanan semakin lengkap
karena letak situs Batu Bedil berada dekat dengan rumah orang tua Jerry sehingga
memungkinkan kami untuk numpang bermalam.
Maka kami pun menyempatkan singgah sesaat di rumah orang tua
Jerry begitu tiba di desa Gunung Meraksa, kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus – kampung halaman Jerry. Seperti rencana yang
telah kami susun. Kami tak hanya singgah, tapi akan bermalam di rumah Jerry. Maka
saat singgah sebentar di rumah orang tua Jerry sebelum kami mendatangi situs
Batu Bedil, saya dan rekan-rekan sempat panen buah rambutan. Meski sebenarnya,
pohon rambutan tersebut berada dalam pekarangan rumah tetangga Jerry. Maklum,
rasa ingin memiliki saya begitu kuat ketika melihat rambutan berjuntai ranum.
Sayang rasanya tak di nikmati langsung, hehehe.
Setelah jumpa dan bertegursapa sejenak dengan orang tua
Jerry, saya dan rekan-rekan bergegas menuju letak situs Batu Bedil. Rute menuju
letak situs Batu Bedil tidaklah sulit dengan kondisi jalan yang tergolong
baik. Setelah melalui pemukiman dan
perkebunan warga kami tiba di lokasi Situs Batu Bedil yang berada di jalan Air
Bakoman, Dusun Batu Bedil, Desa Gunung Meraksa, Kecamatan Pulau Panggung,
Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.
Terlihat dari sudut jalan dimana kami memarkirkan kendaraan, sejumlah
menhir, batu prasasti, dolmen pada tatanan
menyerupai taman yang dekat dengan pemukiman warga tertata rapih dan mudah di
akses. Sore itu tak ada pengunjung lain selain kami. Sehingga kami dapat
leluasa melihat lebih dekat pada setiap guratan yang secara samar terpatri pada
permukaan bebatuan.
Beberapa anak kecil bermain di pinggir jalan dekat kawasan
Situs. Secara letak, situs pertama yang kami datangi bernama Situs Batu Bedil –
menjadi bagian pertama dari 3 bagian Situs yang letaknya terpisah tetapi berada
di satu kawasan berdekatan. Selain itu, terdapat pula Batu Gajah dan Batu Kerbau
pada bagian lain yang letaknya sekitar 300 meter. Warga setempat menyebut 3
bagian dari kawasan Situs Batu Bedil, yakni ; Kompleks Prasasti, Kompleks Menhir, dan
Kompleks Situs Batu Gajah.
MENGAPA DI NAMAI
BATU BEDIL?
Berdasarkan keterangan yang di keluarkan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, penamaan Batu Bedil berdasar pada sebuah cerita yang
beredar pada masyarakat setempat yang kerap mendengar adanya bunyi letusan dari
menhir di lokasi tersebut.
Sore itu saya juga sempat bertegur sapa dengan beberapa warga
sembari menanyakan perihal mengapa
kawasan tersebut di namai Batu Bedil. Seorang pria paruh baya yang
mengenalkan dirinya bernama pak Rahmat berkata bahwa sejak ia kecil di
lingkungan tersebut, orang tuanya menjelaskan bahwa dahulu kerap terdengar
suara dentuman yang secara wujud tidak terlihat oleh pandangan mata tetapi
suara dentumannya terdengar jelas dari kumpulan bebatuan yang ada dalam kawasan
Situs Batu Bedil. Orang tua dari pak Rahmat mengisahkan bahwa kawasan yang
dahulu di dominasi belukar dan hutan tersebut seolah memiliki aktivitas
kehidupan yang tak Nampak oleh mata manusia. “maka kami di kawasan kampung ini
menganggap bebatuan dalam area situs itu semacam alat peperangan dan bukti
kehidupan masa lampau yang sekarang jadi warisan buat kami jaga.” simpul pak
Rahmat setelah uraian kisah panjang yang ia dapat dari Kakek Nenek dan Orang
tuanya terdahulu. Bahkan pak Rahmat setuju bahwa masyrakat saat ini wajib
menjaga peninggalan-peninggalan kehidupan pra-sejarah sebagai wujud kepedulian
akan perjuangan hidup leluhur.
BENTUK BATU BEDIL
Batu Bedil merupakan prasasti yang berbentuk seperti bedil
atau senapan yang tulisannya berisikan kutukan atau mantera Budha. Konon,
ketika masa peperangan melawan kolonialisme Belanda.Dari jarak jauh sering
terdengar suara letusan yang di anggap berasal dari Batu Bedil yang di yakini
keramat itu.
Batu Bedil memiliki ukuran lebar 109 centimeter dan tinggi
220 centimeter. Prasasti ini tidak berangka tahun, tetapi diperkirakan berasal
dari prasejarah. Tepatnya pada masa megalitik serta beberapa peninggalan yang
terdapat pada masa Hindu-Budha di Indonesia. Zaman megalitik juga biasanya di
sebut zaman Batu Besar, di karenakan pada zaman tersebut manusia telah dapat
membuat serta meningkatkan kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar.
Kondisi tinggalan arkeologis di situs Batu Bedil tidak
semuanya berukuran besar. Terdapat beberapa peninggalan tradisi megatilik
berukuran kecil. Konsep penempatan batu di situs ini memungkinkan pada masa
lalu memiliki makna khusus untuk masyarakat pendukung budaya tersebut.
Prasasti Batu Bedil dituliskan pada sebuah batu yang terdiri
datas 10 baris dengan tinggi huruf sekitar 5 centimeter. Tulisan tersebut
berada pada satu bingkai. Bagian bawah bingkai memiliki goresan yang membentuk
padma atau bunga teratai. Kondisi huruf sudah aus namun beberapa bagian masih
dapat di baca.
Selain Batu Bedil pada situs ini juga banyak ditemukan berbagai
batu-batu tegak, altar batu atau dolmen, lumping batu dan batu bergores.
ISI PRASASTI BATU
BEDIL
Pada baris pertama terdapat tulisan dengan Nama Bhagawate dan
pada beris kesepuluh terbaca Shawa. Namo
Bhagawate sebagai permulaan dan Shawa sebagai penutup memberi dugaan bahwa
Prasasti Batu Bedil berkaitan dengan mantra. Sedangkan bahasa yang digunakan
adalah Sansekerta.
Situs Prasasti Batu Bedil sudah ditetapkan sebagai salah satu
cagar budaya Nasional sesuai dengan Surat Keputusan. No SK:
KM.12/PW.007/MKP/2004 Tanggal SK: 2004-03-03.
Selain itu, pada lokasi ini juga terdapat beberapa
peninggalan prasasti lainnya, diantaranya sebagai berikut ;
1.
Prasasti Palas Pasemah yang di dugua berasal dari akhir abad
ke-7 Masehi.
2.
Prasasti Bungkuk (Jabung) yang berasal dari akhir abad ke-7
Masehi
3.
Prasasti Hujung Langit (Bawang) dari akhir abad ke-10 Masehi
4.
Prasasti Tanjung Raya I dari sekitar abad ke-10 Masehi
5.
Prasasti Tanjung Raya II (Batu Pahat) dari sekitar abad ke-14
Masehi
6.
Prasasti Ulu Belu dari abad ke-14 Masehi
7.
Prasasti Angka Tahun 1247 Saka dari Pugung Raharjo
8.
Prasasti Sumberhadi dari sekitar abad ke-16 Masehi
9.
Prasasti Batu Bedil dari sekitar abad ke-10 Masehi
Yang menarik dari kunjungan saya danr ekan-rekan ke situs
Megalitik Batu Bedil ini adalah melihat langsung 3 bagian sejarah yang terdapat
di 3 bagian utama dalam satu kawasan.
Bagian pertama merupakan peninggalan masa Pra-sejarah yang terdiri dari
batu-batu tegah menhir yang khas. Dolmen berupa meja batu untuk beragam jenis ritual
tempo dulu serta Lumpang Batu yang menadi alat dari kegiatan ritual yang
berlangsung. Bagian Kedua diwarnai oleh
peninggalan sejarah Hindu-Budha dengan corak ragam prasasti Batu Bedil dengan
tulisan Sanskerta atau Jawa Kuno berisi mantra yang di duga berasal dari akhir
abd 9 atau awal abad 10 Masehi. Terdapat pula Batu Gajah dan Batu Kerbau –
penamaan Batu Gajah dan Batu Kerbau karena Batu tersebut menyerupai wujud
kepala Gajah dan kepala Kerbau, menandakan pengaruh Hindu pada kedua batu
kepala hewan tersebut. Sementara pada bagian ketiga merupakan ragam Artefak
yang terdiri dari beberapa batu dengan ukiran atau guratan berwujud simbol-simbol
dan struktur batu kolo yang mejadi warisan geologi dalam situs Batu Bedil. Saya dan rekan-rekan menghabiskan waktu
hingga matahari terbenam. Sembari menikmati buah rambutan yang kami petik dari
pekarangan tetangga Jerry. Sore yang sangat berkesan. Mengamati bebatuan
peninggalan prasejarah megalitik dengan unsur-unsur dari masa sejarah Hindu.
Sungguh patahan jejak sejarah yang merupakan
warisan budaya luhur dan perlu kalian datangi langsung.
.jpg)
.jpg)





0 comments :
Posting Komentar