Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya Lampung. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

NEGERI KATON - KAWASAN PENGERAJIN TAPIS LAMPUNG BERKUALITAS


photo by Kevin Addict


Siapa yang tak mengenal Tapis ?. Bila ada yang tak mengenal Tapis, saya yakin yang di tonton hanya sinetron dan serial turki masa kini saja. Oopss. Tidak bermaksud nyinyir yaaa, hehehe… Tapis yang merupakan seni sulam benang emas pada kain berserat tersebut,  saat ini bukan sesuatu yang asing layaknya limapuluh tahun silam. Kini, kain Tapis tak lagi sekedar selembar kain yang digunakan pada acara acara adat atau pertemuan sakral dalam kehidupan masyarakat Lampung saja. Lebih dari itu, kain Tapis kini bermetamorphosa dalam karya busana yang menawan, dipakai dalam setiap kesempatan, dikenakan oleh beragam kalangan, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, peragawati hingga jawara kontes kecantikan dan ketampanan dalam skala nasional dan internasional. Bahkan tapis telah terimplementasi dalam t-shirt santai yang dapat dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.

Selasa, 30 Agustus 2016

JELAJAH SEMARAK BUDAYA - SAJIAN WISATA DALAM TAMPILAN SENI DAN BUDAYA LAMPUNG NAN AGUNG.

Salah satu sajian karnaval budaya Lampung dalam Jelajah Semarak Budaya -  Lampung Krakatau Festival 2016

 Rombongan  petinggi provinsi Lampung yang terdiri dari Gubernur dan jajaran pemerintah provinsi Lampung hingga kepala daerah kabupaten/kota se-provinsi Lampung bersama tamu dari kementerian Pariwisata Republik Indonesia membuka sajian  arak arakan Jelajah Semarak Budaya yang dihelat sebagai rangkaian puncak dari Lampung Krakatau Festival 2016 pada Minggu, 28 September 2016.  Pemandangan menarik dan tergolong unik ketika Gubernur dan para petinggi  disertai jajaran Muli Mekhanai Lampung berjalan kaki dari pertigaan Gramedia di jalan Raden Intan hingga Bundaran Tugu Adipura – atau yang akrab disebut Bundaran Gajah – jantung kota Bandar Lampung. Meski suasana cukup terik, Gubernur Lampung – M.Ridho Ficardo tampak  menikmati  perjalanannya sembari sesekali berbincang dengan tamu dari kementerian Pariwisata.  Disela bincang santainya, Gubernur juga nampak menyempatkan menyapa langsung warga yang berada di sisi kiri dan kanan jalan Raden Intan – Bandar Lampung. Pukul 14.30 WIB kala itu. Kerumuman masyarakat semakin padat dan masuk ke bagian badan jalan ketika empat ekor gajah berjalan beriringan setelah rombongan Gubernur. Antusias warga semakin riuh seolah ingin mengabadikan diri bersama gajah dari jarak dekat. Beberapa juru gambar tumpah ruah menyatu dengan kerumunan warga yang sulit ditertibkan.


Gubernur menyapa para warga yang berada di sepanjang jalan yang ia lalui.

Rombongan Gubernur - jajaran petinggi provinsi Lampung dan tamu dari kementerian Pariwisata Republik Indonesia




Kehadiran gajah gajah asal Way Kambas dalam karnaval Semarak Budaya

Puluhan warga memadati jalan ketika gajah gajah melintas.


Salah satu tampilan arak-arakan Semarak Budaya
Pengantin pengantin pun ber-Tuping.

TUPING LAMPUNG
 Sesuai dengan tema acara,  Jelajah Semarak Budaya benar benar tampak semarak. Bagaimana tidak, suasana semarak telah nampak sejak awal rombongan Gubernur dengan iringan music dari jajaran marching band yang berjalan menuju bundaran tugu adipura memainkan irama irama yang menghentak suasana.  Dan kemudian berturut turut tampilan budaya Lampung persembahan 15 Kabupaten/Kota di provinsi Lampung. Tampilan setiap Kabupaten/Kota pun beragam. Tampilan budaya Lampung dengan kemasan yang menarik tanpa meninggalkan budaya luhur adat istiadat Lampung nan agung.  Adalah Tuping – dalam bahasa Lampung berarti Topeng, merupakan benang merah dari seluruh tampilan yang tersaji.  Mulai dari jajaran Muli Mekhanai hingga rombongan parade budaya seluruhnya mengenakan Tuping dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam.

tampilan jenis Tuping/Topeng khas Lampung


Penari bertopeng kreasi
  
Tuping atau Topeng bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan masyarakat Lampung mengingat Tuping telah jadi bagian dari adat istiadat dan aktivitas berkesenian masyarakat Lampung sejak dahulu. Dalam beberapa jenis tarian,  tuping menjadi bagian pertunjukan hingga penamaan Sekura yang mengetengahkan jenis Tuping khas Lampung.

Tuping khas Lampung

Tuping Sekura

Sekura kamak

Sajian Tuping tak hanya pada parade bertema kontemporer tetapi juga pada nilai nilai tradisi, seperti  Tuping dalam Sekura Kamak, Sekura Cakak Buah hingga Muli (gadis Lampung) dan Bebay  (ibu-ibu) Nyuncun Pahar (mengusung pahar –sejenis hantar hantaran yang diusung diatas kepala). Secara personal, saya berdecak kagum pada beberapa nilai tradisi yang diimplementasikan dalam sajian sajian yang mudah dipahami. Sungguh kreatif jiwa jiwa dibalik sajian karnaval budaya  Kabupaten/Kota dalam rangka Lampung Krakatau Festival 2016.
Penampilan setiap utusan Kabupaten/Kota pun menjadi tontonan yang sayang dilewatkan. Terlebih setiap tampilan yang tersaji mengandung makna dan filosofi yang diangkat dari kisah kisah serta legenda dalam kehidupan masyarakat Lampung.
Siang itu mata saya dimanjakan oleh sajian sajian kedaerahan yang beragam. Meski sayang tidak setiap group tampil maksimal.

Sajian kekayaan budaya Lampung

kreasi Tuping dalam sajian Kota Metro

PROGRAM PARIWISATA UNGGULAN
 Sajian demi sajian benar benar menghibur. Semarak yang jadi tema pun cukup terwujud. Terlebih arak arakan mobil hias dan pelepasan balon sebanyak 1883 sebagai tanda meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883.  Ini kali pertama saya menyaksikan gelaran karnaval budaya dalam event Lampung Krakatau Festival hingga usai.  – tahun tahun sebelumnya cukup membosankan.  Secara pribadi saya menaruh kagum pada ramuan musik yang tersaji dalam pementasan yang merupakan kolaborasi apik para musisi handal Lampung dengan penabuh perkusi kaliber nasional meski para musisi tampil beratap mentari, mereka tetap menebar senyum dengan wajah meringis berseri-seri.  

Penampilan setiap Kabupaten/Kota pun lebih mengedepankan kearifan lokal dan warisan budaya luhur ketimbang kostum kostum fantasi. Meski masih ada beberapa  Kabupaten/Kota yang menyajikan kostum fantasi. Bagaimanapun butir butir yang tersaji menjadi suguhan seni budaya yang menarik untuk disimak. Meski sebenarnya EO dan Panitia harus terus berfikir keras agar sajian yang dipersembahkan tidak membuat suasana semeraut. Pengaturan bukan hanya soal tampilan,  tetapi juga soal kenyamanan dan keamanan penonton. Pemilihan lokasi gelaran pada bundaran Tugu Adipura pun merupakan gebrakan baru pada tahun ini, meski jarak antara panggung utama dan bangku pejabat tidak terlalu luas. Sehingga menyulitkan penampil bergerak maksimal saat melakukan atraksi seni.

Gubernur Lampung - M.Ridho Ficardo ketika menyampaikan sambutannya di dampingi Muli Mekhanai Lampung.

 Selain pertunjukan seni dan budaya khas Lampung, pada gelaran Jelajah Semarak Budaya – Lampung Krakatau Festival 2016 juga dilakukan penyematan medali budaya dari Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia  (LKNI) kepada Gubernur Lampung sebagai pembina utama budaya dan pariwisata daerah. Pemberian medali oleh ketua LKNI  tersebut dimaksudkan agar Gubernur Lampung lebih semangat lagi dalam mengembangkan budaya dan pariwisata daerah Lampung. Hal ini pun sejalan dengan harapan Gubernur Lampung bahwa gelaran Lampung Krakatau Festival dengan beragam kegiatan pendukungnya dapat menjadi program pariwisata unggulan tak hanya di provinsi Lampung tetapi juga ditingkat nasional. Hingga bukan tidak mungki,  pesona dan potensi Lampung dapat berdayasaing dikancah internasional.

Sajian kabupaten Lampung Barat yang berakar pada tradisi masyarkat Lampung di Lampung Barat.

Sore itu – Semarak Budaya benar benar menjadi semarak ketika  pembagian 2.000 topeng pada seluruh undangan dan warga yang hadir  tumpah ruah  dan kemudian menjadi penghargaan yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Perayaan puncak Lampung Krakatau Festival  2016 sungguh meriah. Semoga ini menjadi cambuk bagi semua komponen masyarakat untuk lebih semangat menggali kearifan lokal sebagai pesona seni dan budaya serta potensi  wisata daerah Lampung, selain kesediaan dari setiap lapisan masyarakat akan pentingnya pemahaman sadar wisata dan konsep sapta pesona. Karena memajukan daerah bukan semata-mata tugas pemerintah saja tetapi juga segenap lapisan masyarakat. 

Senin, 28 Maret 2016

DAFTAR WARISAN BUDAYA TAKBENDA ASAL LAMPUNG



  



Daftar Warisan Budaya Takbenda asal Lampung yang telah terdaftar dan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
1.       Tapis (2013)
2.      Muayak (2014)
3.      Gamolan (2014)
4.      Sigeh Penguten (2014)
5.      Tari Melinting (2014)
6.      Lamban Pesagi (2014)
7.      Sekura Cakak Buah (2015)
8.      Sulam Usus (2015)
9.      Cakak Pepadun (2015)
10.  Gulai Taboh (2015)
11.  Seruit (2015)


Tahun 2016, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kembali akan mengusulkan beberapa Warisan Budaya Takbenda diantaranya ;
1.       Warahan  : Sastra tutur/lisan yang terdapat dibeberapa daerah di Lampung yang sentral berada diseorang Pewarah. Warahan berisi tentang sejarah dan tohok kepahlawanan yang sarat dengan pesan pesan. Warahan berkembang menjadi bentuk lakon hingga sekarang.
2.      Tuping : Tuping sejarahnya adalah hulubalang atau tentara dari Radin Inten II pada jaman penjajahan yang menyerang dengan media topeng agar dapat mengelabui musuh. Pada saat ini tuping berkembang menjadi penampilan tarian kolosal.
3.      Kakiciran  adalah festival tari rakyat yang diadakan oleh masyarakat Pesisir di lampung Barat. Pelaksanaan pada malam hari, 6 hari setelah perayaan Idul Fitri.
4.      Nyambai, adalah salah satu bagian perayaan pada upacara perkawinan masyarakat di Pesisir Lampung kabupaten Lampung Barat. H-1 pada muda mudi menampilkan kemahiran menari mereka.
5.      Maduaro , adalah kain sulam benang hias yang berasal dari masyarakat Tulang Bawang yang sangat lekat dengan peristiwa adat bagi wanita Lampung.

Rabu, 23 Maret 2016

MENGULAS BUDAYA DAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA LAMPUNG.





Lidah Lidah - sebutan untuk hiasan (dekorasi) yang kerap digunakan masyarakat Lampung baik dalam keseharian maupun dalam acara acara adat, pernikahan, dsb.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka, definisi kebudayaan adalah antara lain hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan adat istiadat. Kata dasar kebudayaan adalah budaya, yang merupakan bentuk majemuk dari kata budidaya yang berarti cipta, karsa dan rasa.

Sebenarnya kata budaya hanya diakui sebagai suatu singkatan dari kebudayaan.  Budaya sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, belajar dan menjadi sikap perilaku manusia berikutnya atau lazim disebut nilai budaya.

Nilai budaya dapat kita lihat dan kita rasakan dalam sistem kemasyarakatan/kekerabatan yaitu diriwayatkan dalam bentuk adat istiadat, kesenian dan kepercayaan.  Budaya berfungsi membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selanjutnya, budaya dalam masyarakat dikelompokkan dalam tiga hal, yaitu ;
  1. Perilaku , yang merupakan  cara bertindak atau berperilaku tertentu dalam situasi tertentu didalam suatu masyarakat dengan pola perilaku yang diatur dalam norma.
  2. Bahasa, yang merupakan sebuah sistem symbol yang dibunyikan dengan suara dan ditangkap oleh telinga.
  3. Materi, budaya materi merupakan hasil dari kreatifitas, perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat berupa antara lain pakaian, perumahan, alat alat rumah tangga , senjata dan lain sbgdnya.

BUDAYA LAMPUNG.

Budaya cenderung bertahan karena unsur mata pencarian, unsur teknologi dan pengetahuan. Sedangkan dasar pembentuk dari budaya Lampung, pada umumnya berawal dari unsur ; Agama Islam yang mayoritas dianut oleh masyarakat Lampung, kekerabatan partial, politik kepemimpinan berdasarkan keturunan, ekonomi bercocok tanam atau pertanian dan kesenian yang telah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat yang terdiri dari seni tari, pencak, seni musik, sastra dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya, kelompok masyarakat Lampung menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung yang kemudian menyebabkan terjadinya pembentukan budaya Lampung itu sendiri.  Secara umum, sebaran budaya Lampung dapat dibedakan kedalam dua kelompok dasar adat yakni ;
  1. Masyarakat Pepadun,  yang berkediaman didaerah pedalaman atau perbukitan Lampung terdiri dari masyarakat adat Abung (Abung Siwo Mego), Pubian (Pubian Telu Suku), Menggala Tulang Bawang (Megopak Tulang Bawang) dan Buay Lima.
  2. Masyarakat Saibatin, sekelompok masyarakat yang berkediaman di sepanjang pesisir termasuk masyarakat adat Krui, Ranau, Komering sampai Kayu Agung.

WARISAN BUDAYA TAK BENDA (WBTB) LAMPUNG.


Warisan budaya adalah benda atau atribut tak berbenda yang merupakan jati diri suatu masyarakat atau kaum yang diwariskan dari generasi – generasi sebelumnya, yang dilestarikan untuk generasi – generasi yang akan datang.
Warisan Budaya terbagi menjadi dua, yaitu Warisan Bendawi dan Warisan Tak Benda. Warisan Budaya Bendawi adalah hal hal yang dapat disentuh dan dipakai. Sedangkan Warisan Budaya Tak benda adalah segala praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan – serta alat alat, benda (alamiah), artefak dan ruang ruang budaya terkait dengannya – yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok dan dalam hal tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya meraka.
Warisan Budaya Tak Benda meliputi juga tradisi dan ekspresi lain, termasuk bahasa, seni pertunjukan, adat istiadat masyarakat, ritual dan  perayaan perayaan.

Selanjutnya marilah kita simak capaian propinsi Lampung melalui pencatatan Warisan Budaya Tak Benda  yang dilakukan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Di tahun 2015, Lampung berhasil mencatatkan 5 budaya khas Lampung dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.  Lima produk budaya Lampung yang mendapatkan ketetapan Budaya Tak benda tersebut yaitu ; Sulam Usus, Gulai Taboh, Seruit, Cakak Pepadun dan Sekura Cakak Buah.
Ditahun 2014, Lampung juga telah berhasil memperoleh pengakuan untuk ;  Kain Tapis, Gamolan, Tari Melinting, Tari Sigeh Pengunten, Muayak dan Rumah Adat Lampung Barat  berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.

Sebuah pencapaian yang tak mudah tentunya. Karena untuk berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda, para pemohon – dalam hal ini Dinas Pariwisata Lampung harus melakukan usulan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mekanisme dan tahapan yang tidak mudah. Selain itu diperlukan kajian ilmiah termasuk sederet pendukung yang menguatkan sesuatu tersebut layak masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda.
Sebagai penyuka seni budaya daerah, saya berharap ada banyak ragam produk seni Lampung yang dimasukkan dalam Warisan Budaya Tak Benda, mengingat provinsi Lampung memiliki banyak jenis seni dan budaya khas yang telah ada dan berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka. Beberapa jenis seni dan budaya Lampung tersebut memang tidak seluruhnya terlaksana atau masih dapat dilihat hingga kini. Meski begitu beberapa hal menarik dan layak untuk diusulkan dalam daftar Warisan Budaya  Tak Benda diantaranya ; Meduaro dari Tulang Bawang, Sulam Ulat dari Mesuji, Ringget, Bebandung dan masih banyak lagi jenis jenis  seni dan budaya khas Lampung. Sudah selayaknya seluruh masyarakat menjaga seni dan budaya asli daerah agar tidak punah atau malah diakui oleh negara tetangga. Karena bagi saya, seni dan budaya daerah adalah salah satu identitas bangsa yang wajib dijaga.
Scroll To Top