Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label wisata lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata lampung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2017

BUTUH 'VITAMIN SEA' LENGKAP?, DATANGLAH KE LAMPUNG!




Pesisir Teluk Lampung
Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki pesona bahari yang tak kalah dengan negara lain. Setiap provinsi di Indonesia mengetengahkan pesona bahari yang berbeda-beda.  Begitupun dengan Lampung.   Sebagai provinsi paling selatan dari pulau Sumatera, Lampung menyimpan beragam jenis pesona wisata bahari yang juga tak kalah indah dan mengagumkan dari kawasan lain di Indonesia.

Senin, 05 Desember 2016

BERTANDANG KE TAMAN HUTAN KERA BANDAR LAMPUNG



 
Bagi warga Bandar Lampung yang menyukai interaksi dengan hewan berjenis kera ekor panjang atau Macaca Fascicularis, tak perlu menghabiskan biaya keluar kota.  Karena kamu bisa menyambangi Taman Hutan Kera yang letaknya  justru di tengah kota Bandar Lampung.

 
kera ekor panjang di ribunnya pepohonan dalam kawasan Taman Hutan Kera

Luas hutan ‘Taman Hutan Kera’  yang terletak di perkampungan Tirtosari – Teluk  Betung Utara – Bandar Lampung ini,  tak lebih dari tiga hektar. Bentuk lahannya pun berupa tanah lereng curam milik Pemerintah Kota Bandar Lampung.  Aneka pohon seperti akasia, mentru, sengon dan pepohonan perdu dapat dijumpai dalam kawasan hutan.
 
Karena kawasan hutan ‘Taman Hutan Kera’ berbentuk lereng, maka akses menuju  kawasan Taman Hutan Kera dapat dilakukan dengan dua cara. Yang keduanya hanya  butuh waktu 5 menit dengan akses kendaraan roda empat maupun roda dua dari Tanjung Karang –  pusat kota Bandar Lampung.  

 
salah satu wujud kera di kawasan Taman Hutan Kera


peta letak Taman Hutan Kera
 
Cara pertama, Jika kamu menaiki angkutan umum dari Tanjung Karang ke arah Teluk Betung, kamu berhenti di perempatan Sarijo di jalan Diponegoro – tak jauh dari turunan hotel Marcopolo.  Setelah itu kamu harus menuju kebagian dalam  ke arah SMA Negeri  4 Bandar Lampung (jalan Ciptomangunkusumo). Sayang tak ada angkutan umum menuju bagian dalam, tapi bisa dengan ojek  yang tersedia dibagian pertigaan Sarijo  atau  jika kamu gemar berjalan kaki, akses menuju bagian dalam  sejauh  + 1 kilometer dapat  kamu  tempuh dengan berjalan kaki. Anggap saja olah raga yaa…
Setelah itu, pengunjung akan melihat Gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Taman Hutan Kera’ dibagian kiri jalan. Masuki gapura tersebut lalu lanjutkan berjalan kaki dengan melewati barisan rumah warga dan area kolam pemancingan umum. Sebelum akhirnya pengunjung akan menemukan hamparan hutan di ujung jalan.
Cara ini kerap disebut kunjungan ke bagian bawah  dari kawasan Taman Hutan Kera.

gapura masuk ke dalam kawasan Taman Hutan Kera

kawasan kolam pemancingan umum yang akan ditemui pengunjung setelah masuk gapura Taman Hutan Kera
 
kera di bagian bawah lereng dalam kawasan Taman Hutan Kera

Cara kedua, untuk bertemu kera kera di Taman Hutan Kera adalah dengan cara naik angkot Pahoman kearah jalan Dr. Susilo  dan turun di jalan kesehatan. Berdiri gapura yang letaknya persis disamping kantor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Kemudian kamu harus berjalan kaki lebih kurang 500 meter kebagian dalam tepat menuju arah Hotel Hartono. Nah, ketika menemukan letak gerbang hotel Hartono, pengunjung berbelok ke kana.  Akan terlihat kawasan yang di papingblock tepat didepan beranda beberapa rumah yang menjadi tempat berkumpulnya para Kera.  Sebenarnya, cara kedua ini bukanlah sesuatu yang resmi tetapi mengingat kondisi tanah kawasan hutan kera yang curam, jadi kumpulan kera kera justru menjadikan tanah datar di depan rumah warga ini sebagai tempat mereka berkumpul karena dekat dengan bagian puncak dari pepohonan yang tumbuh di kondisi tanah curam.

 
melalui jalan Kesehatan ini menuju kebagian dalam letak kawasan atas dari Taman Hutan Kera
 
sekumpulan kera di pelataran depan rumah warga di bagian atas lereng
 

GOA JEPANG DAN MATA AIR YANG TAK PERNAH KERING

Mengunjungi kawasan Taman Hutan Kera bukanlah hal baru bagi saya.  Dibeberapa kesempatan khusunya diakhir pekan,  terkadang saya mengajak anak istri untuk mendatangi Taman Hutan Kera. Baik mengunjungi kawasan hutan dari bagian bawah lereng melalui Sarijo ataupun  menemui kera kera dari bagian atas lereng (melalui jalan Kesehatan). Waktu kunjungan yang paling baik adalah di kala sore (setelah pukul 15.00WIB), karena jumlah kera yang muncul dihadapan pengunjung akan lebih banyak. Bahkan sejumlah kera kerap menghampiri kendaraan pengunjung.  Bila ingin melakukan interaksi dengan kera kera ekor panjang di kawasan ini, jangan lupa untuk membawa makanan yang disukai kera, seperti aneka jenis pisang, kacang-kacangan hingga beras dan umbi-umbian. Beberapa pengunjung kerap menjadikan jenis makanan yang mereka bawa sebagai pancingan interaksi dengan para kera. Tapi tetap jaga jarak aman dengan para kera ya, karena tak sedikit pengalaman pengunjung yang terkena cakaran para kera. – boleh sih akrab sama Kera, tapi jangan akrab akrab amat lah, hehehehe….

bujang pertama saya yang senang berinteraksi dengan Kera

bujang kedua yang mengimingi pisang ke Kera dari balik kaca mobil (takut ketemu langsung)

 Jika berkunjung ke kawasan Taman Hutan Kera pada bagian lahan bawah atau melalui jalan Sarijo, maka pengunjung dapat melihat sumber mata air yang tak pernah kering dimusim kemarau sekalipun. Beberapa warga sekitar masih memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk mandi, mencuci pakaian hingga mencuci kendaraan bermotor.
Tak hanya itu, berdekatan dengan sumber mata air juga terdapat sebuah Goa peninggalan jaman Jepang yang terhubung dengan Bunker yang terdapat didepan Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung. Bentuk mulut Goa yang terkunci dan terlarang untuk dimasuki secara umum itu  seolah menambah suasana ‘angker’ kawasan hutan.

pintu Goa jaman Jepang yang berdinding beton dan di gembok yang ada dalam kawasan Taman Hutan Kera

Bungker depan Dinas Pendidikan Bandar Lampung yang merupakan ujung dari mulut Goa yang terletak di Taman Hutan Kera

sumber mata air yang tak pernah kering yang terletak di dalam kawasan Taman Hutan Kera

 
kawasan pemandian umum yang masih di manfaatkan beberapa warga sekitar
 

ASAL MULA PARA KERA

Kawasan Hutan Kera  di perkampungan Tirtosari dalam kecamatan Teluk Betung Utara tersebut sebelumnya tidak terlalu dikenal. Nama hutan kera sendiri baru popular pada akhir tahun 1990-an  dan hingga kini sekitar 300-an  kera jenis ekor panjang mendiami kawasan Hutan. Populasi kera di kawasan hutan bermula ketika salah seorang warga sekitar bernama pak Bagio tak sengaja melepaskan kera peliharaannya ketengah hutan. Tak lama berselang, kera yang di lepaskan justru berkembang biak dikawasan hutan tepat di area warga kerap mengambil air dari mata air alami.

 
kera kera yang kerap menyambangi kendaraan pengunjung

kera kera yang nyaman bersantai diatap kendaraan pengunjung

salah satu akses jalan dari Taman Hutan Kera bagian bawah ke bagian atas



Kembangbiak  kera ekor panjang di kawasan hutan pun kemudian mendatangkan permasalahan tersendiri. Luas hutan yang terbatas, tidak menyediakan cukup makanan bagi kera. Sehingga membuat sebagian dari kera kera tersebut keluar kawasan hutan dan mencari sumber makanan pada lahan penduduk yang ada di sekitar hutan atau bahkan muncul di halaman hotel Hartono. Hingga tak jarang kera kera yang liar mendapat perlakukan kasar dari para warga. Mengingat hal tersebut, pemerintah kota Bandar Lampung sebagai pemilik tanah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung memberikan bantuan  berupa bahan makanan dan beberapa perlengkapan penunjang lainnya melalui pengurus kelompok Sadar Wisata kawasan Taman Hutan Kera yang telah dibentuk.

sekumpulan kera yang saya abadikan melalui kamera ponsel

kera yang berani menaiki bagian depan mobil pengunjung

interaksi pengunjung dengan kera kera di Taman Hutan Kera - Bandar Lampung
 
Jadi, bila memiliki waktu luang dan tak sungkan berinteraksi memberi makan secara langsung kera kera, tak ada salahnya kamu datangi kawasan Taman Hutan Kera yang tak hanya  sekedar jadi hiburan semata  tetapi dapat jadi sarana kamu untuk ‘menepi sesaat’ dari hiruk pikuknya perkotaan dan penatnya beban pekerjaan. Tapi jangan lupa, jika bertandang ke kawasan Taman Hutan Kera, mohon jangan buang sampah sembarangan yaa…  tetap jaga kebersihan lingkungan demi kelestarian alam dan kenyamanan hidup dimasa mendatang.

Kamis, 01 Desember 2016

MENIKMATI 2 JAM BERWISATA DI KALIANDA




punya waktu free 2 jam ngapain aja di Kalianda?
Begitu tulis seorang teman  dalam  pesan singkat ketika ia mengetahui saya sedang di Kalianda – pusat kota Lampung Selatan.

Saya tetap bersemangat mengemudikan kendaraan seorang diri dari Bandar Lampung menuju Kalianda. Normalnya, jarak tempuh Bandar Lampung – Kalinda itu 2 jam. Tetapi karena saya menikmati  perjalanan dan sempat singgah di beberapa titik keramaian dan spot menarik dalam perjalanan menuju Kalianda, jadilah waktu tempuh saya menjadi 3 jam.   Pada malam sebelumnya,  saya sempat buat status melalui akun Facebook – mengajak secara terbuka, siapa tahu ada yang mau ikutserta ke Kalianda bersama saya. Walau kemudian  tak ada yang berkenan. Bisa jadi hari Rabu kala itu. Hari dimana teman teman pejalan sedang bertugas jadi orang kantoran.

suasana jalan di Kalianda
masjid Agung Kalianda
 
Garis pantai  telah nampak sejak mobil yang saya kemudikan memasuki bagian utara di dalam kota Kalianda. Niat menghabiskan waktu senja di keramaian kota Kalianda adalah sesuatu yang telah saya rencanakan saat memulai perjalanan dari Bandar Lampung.  Sebenarnya, kedatangan saya di Kalianda karena ada pekerjaan memandu acara pembukaan Lampung Selatan Fair 2016.  Tapi, mumpung sudah di Kalianda, rugi rasanya jika tidak melakukan sedikit eksplorasi. Hehehehe, dasar tukang jalan!!.  Meski memang soal eksplorasi tak kan cukup jika hanya 2  jam saja. Tapi setidaknya menambah kesegaran mata dan meluaskan pemahaman soal lingkungan dimana saya berada. Kemon Genks!!!Eh – hanya diri sendiri, tak ada Genks!.

kapal kapal nelayan di dermaga Boom Kalianda
 
MENIKMATI SENJA DI DERMAGA BOOM KALINDA

Pukul 3 sore kala itu. Cuaca di Kalianda sangat bersahabat. Saya sempat singgah menikmati suasana tenang depan Masjid Agung Kalianda sembari melihat aktivitas warga sebelum akhirnya memutuskan melajukan kendaraan ke Dermaga Boom Kalianda.
Kunjungan pertama adalah kawasan Dermaga Boom Kalianda. Pengunjung dapat mengakses Dermaga Boom Kalianda dengan roda dua atau roda empat  dengan jarak tempuh 15 menit dari pusat kota Kalianda.  Bagi saya, dermaga Boom Kalianda seolah memutar kenangan saya saat dulu pernah memulai perjalanan menujuGunung Anak Krakatau dalam rangka Festival Krakatau di tahun 2014. Pelayaran yang berkesan kala itu.  

Mulanya, dermaga Boom Kalianda adalah  pusat para nelayan berlabuh setelah usai melaut. Selain itu, menjadi tempat transaksi jual beli hasil tangkapan nelayan.  
Memasuki kawasan Dermaga Boom Kalianda, pengunjung akan langsung melihat hamparan laut lepas dengan berbagai model perahu kayu khas nelayan dibibir dermaga. Sementara lantai dermaga yang kokoh menjadi tumpuan utama kapal singgah di dermaga Boom Kalianda.
Kini, dermaga Boom Kalianda telah mengalami peningkatan fungsi. Tak hanya sebagai dermaga nelayan berlabuh dan bertransaksi hasil tangkapan laut semata, tetapi telah menjelma menjadi pusat rekreasi dan wisata kuliner.

pasar ikan Higienis di Dermaga Boom Kalianda
Di Dalam area Dermaga Boom Kalianda, kini telah tersedia panggung utama bak  aphitheater yang dalam kurun waktu tertentu menyuguhkan sajian seni budaya masyarakat Lampung Pesisir atau kerap juga digunakan sebagai panggung hiburan pada perhelatan event tahunan di Kalianda. Tak hanya itu, di beberapa bagian dari area panggung terbuka ditengah kawasan dermaga itu juga dipasang payung payung raksasa, mirip suasana di halaman Masjid Nabawi – Madinah. Penataan dermaga yang bersih dan nyaman untuk dijadikan tempat bersantai membuang waktu sore hingga menikmati matahari tenggelam.  Hamparan pilihan kuliner pun tersaji lengkap didalam kawasan dermaga ini. Bagi yang lapar dan haus, tak perlu khawatir, kawasan dermaga Boom Kalianda yang memang telah dijadikan sentra wisata kuliner di Kalianda ini menyajikan beragam pilihan kuliner. Mulai dari beragam camilan hingga makan berat berupa nasi dan ikan bakar lengkap dengan laukpauknya.

Selain sebagai kawasan wisata kuliner, di dalam kawasan dermaga Boom Kalianda juga terdapat pasar ikan higienis yang bisa dimanfaatkan pengunjung membeli ikan segar yang baru saja di peroleh nelayan. Soal harga relatif murah ketimbang pasar  di pusat kota. Saya pribadi sebenarnya tertarik untuk membeli ikan laut segar dengan harga yang cukup murah itu. Sayang, saya masih harus tugas sampai larut malam dan tidak memungkinkan ikan bertahan didalam mobil sampai malam. Alamat mobil ngana bau amis berhari-hari.!!

hamparan bagian dalam dermaga Boom Kalianda

Sudahlah, melihat-lihat sajian ikan segar di kios pasar ikan sudah merupakan jadi hiburan yang menyenangkan sore itu, meski beberapa penjual tidak terlampau bersahabat ketika saya meminta izin untuk mem-photo dagangannya. Bisa jadi penjual ikan hanya berjualan ikan saja. Bisa jadi juga penjual penjual ikan di dermaga Boom Kalianda belum mendapat sentuhan sosialisasi sadar wisata dan sapta pesona.  Karena jika sudah diajari soal sadar wisata dan sapta pesona, sudah tentu wajah mereka  akan  lebih sumringah menyambut kehadiran siapapun yang datang. Atau beberapa pedagang yang tak ramah itu sedang ada masalah pribadi kali ya?, yaah kali lah ya. Sudahlah lupakan! Hehehe.

JAJANAN DI PASAR TRADISIONAL
Ingin rasanya saya berlama-lama di dermaga Boom Kalianda. Duduk santai melepas pandangan ke hamparan laut lepas ditemani suasana temaram jelang senja tentu jadi keindahan tersendiri. Tapi waktu tak memungkinkan saya untuk berlama lama. Saya pun tahu diri bahwa harus bersiap di belakang panggung setidaknya 2 jam sebelum tugas memandu acara dimulai. –biasa, acara yang melibatkan struktur pemerintahan dan tata ke-protokoler-an  itu harus lebih super sabar dalam persiapan.

jajanan pasar yang wajib di beli jika ke pasar Kalianda
 

Perjalanan pulang menuju pusat kota Kalianda dari dermaga Boom saya manfaatkan untuk singgah sejenak di pasar tradisional pusat kota Kalianda. Aktivitas khas pasartradisional tak seramai biasanya. Mungkin kedatangan saya sudah sore. Saya masih punya waktu lebih kurang 40 menit lagi untuk menikmati atmosfir dalam kawasan pasar tradisional. Ada penjaja otak otak di beberapa pinggiran ruko persis di sudut jalan dimana saya menghentikan kendaraan. Saya pun tak sungkan mencoba. Enak.

Kalianda memang terkenal dengan camilan hingga sajian  makanan berat yang berasal dari olahan ikan. Tentu saja hasil laut Lampung Selatan melimpah ruah.  Nyaris jenis jajanan pasar di sepanjang jalan pasar tradisional menghadirkan nuansa olahan hasil laut. Mulai dari bakwa udang, bakso goreng ikan, hingga mpek-mpek dan otak otak. Saya pun tak sungkan mencicipi semua jenis jajanan olahan ikan yang saya temui.

Masih dalam suasana sore di pasar tradisional kota Kalianda, saya kemudian mendekat kearah penjaja kue kue tradisional yang cukup ramai dikunjungi  pembeli. Benar saja, keramaian pengunjung pada penjaja kue itu karena cita rasa kue yang lezat. Meski jajanan tradisional tetapi kue kue yang di jajakan  memiliki cita rasa lezat dan yang paling penting harganya bersahabat. Tidak terlalu mahal. Donat gula, kue lapis, bubur biji salak, cenil, aneka gorengan dengan somay sebagai pelengkap merupakan keunggulan dari dagangan si mba yang juga ramah dan selalu senyum meladeni pembeli.
Aaahh… emang saya suka khilaf kalo soal jajanan pasar.
Dibagian seberang penjaja kue tadi ada depot bakso bertuliskan ‘Bakso Jember’ sebagai nama kios. – Sebenarnya, saya sedang di Jember apa di Kalianda ya, hehehehe. Saya pun terpanggil memasuki bagian dalam penjaja Bakso karena melihat ramainya jajaran motor pengunjung terparkir di depan kios Bakso. Saat mencecap, cita rasa baksonya khas sekali. Cukup menyenangkan menemukan sajian daerah yang khas. Yang tentu sulit untuk dijumpai dipusat perkotaan.

saya di Jember apa Kalianda yaa??

bakso Jember Kalianda



Pemberitahuan pesan masuk di ponsel saya terus berbunyi ketika sedang asik menikmati semangkuk Bakso.  Rupanya EO Global Futurindo mengingatkan saya untuk bersiap di belakang panggung.
Baiklah, eksplorasi 2 jam memang terbatas. Tapi setidaknya saya mendapat banyak hal baru. Penyegaran suasana diri dan tambahan pengetahuan saya soal lokasi menarik di Kalianda.
Pukul 17.00WIB saya bergegas menuju lapangan Cipta Karya di bagian selatan kota Kalianda untuk bersiap dibelakang panggung jelang tugas memandu acara pembukaan Lampung Selatan Fair 2016.
Jangan khawatir, 2 Desember mendatang saya akan kembali lagi ke Kalianda dengan tugas memandu penutupan Lampung Selatan Fair 2016. Tentu ada celah buat saya untuk tandang ke beberapa hal menarik lainnya. Yeeyy…

Selasa, 08 November 2016

MENYIMAK SEJARAH DAN BINCANG BUDAYA HINGGA BERTEMU BUAYA DI PAGARDEWA




 …Lapah jak pagardewa,
   Tiuh toho sai wawai
   Helau sejarah, adat sai agung…


Penggalan lirik dari salah satu lagu klasik Lampung berjudul ‘Tiyuh Pagardewa’ tersebut mengiang di kepala saya. Petikan gitar pengiring lagu pun seolah berpendar dikepala saya dalam perjalanan mengendalikan kemudi menuju tiyuh (desa) Pagardewa.  Oom Rochman menemani  perjalanan saya dari Menggala menuju Pagardewa siang itu.  Dalam perjalanan, ingatan saya seolah memutar kembali rangkaian kenangan yang dulu pernah terjadi. Ketika orang tua saya kerap mengajak serta saya mengunjungi tiyuh Pagardewa saat libur sekolah. Hanya saja, untuk menuju tiyuh Pagardewa, saya dan keluarga kerap menggunakan dermaga kapal di pusat kota Menggala. Itu dulu. Kini, kejayaan dermaga Tulang Bawang yang menjadi akses banyak pedagang hingga saudagar dijamannya itu tinggallah untaian kisah. 

hamparan sungai tenang
 
Tersebutlah – dalam catatan Cina Kuno ; To-Lang P’o-Hwang (Tulang Bawang) sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya yang disinggahi oleh pejiarah agama Budha bernama F-Hien pada abad ke 4 masehi. Kejayaan kerajaan Tulang Bawang konon sejajar dengan kejayaan kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai dan Tarumanegara. Meski belum banyak catatan sejarah yang mengemukakan soal kerajaan Tulang Bawang, namun ahli sejarah bernama Dr. J.W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan Tulang Bawang terletak di hulu sungai (Way) Tulang Bawang – antara Menggala dan Pagardewa, berkisar radius 20 km dari pusat kota Menggala.  
Meski uraian kejayaan   Tulang Bawang  dalam bentuk kerajaan dimasa lalu itu mudah di tuturkan oleh para tetua adat di Tulang Bawang namun cukup sulit untuk ditelusuri dalam bentuk bukti fisik hingga kini.
Selama perjalanan menuju Pagardewa, Oom Rochman bertutur seputar desa kelahirannya tersebut.  Akses jalan raya yang kini lebih mudah di jangkau. Pengembangan jalan yang tersentuh pembangunan nampak terlihat  dari  kondisi jalan yang mulus  selama berkendara. Meski masih ada bagian yang belum diaspal secara keseluruhan. Mobil yang saya kemudikan sampai pada Panemangan sebuah kawasan yang menghubungkan akses menuju Pagardewa. Jalan selanjutnya belumlah diaspal seperti jalan yang telah saya lalui sebelumnya.  Rawa berukuran luas menjadi pemandangan dalam perjalanan desa Pagardewa.

suasana tiyuh Pagardewa

TIYUH TOHO PAGARDEWA
Bangunan Sekolah Dasar sederhana menyambut kedatangan saya dan Oom Rochman ketika memasuki bagian depan desa Pagardewa. Tak nampak oleh saya  aktivitas belajar mengajar. Kedatangan saya dan Oom Rochman pun sudah lewat dari jam makan siang. Rumah – rumah panggung berdiri   pada  kiri dan kanan jalan utama dari desa Pagardewa. “Desa Pagardewa itu cuma satu jalan lurus ini aja.” ucap Oom Rochman menjelaskan. “Selebihnya masih ada yang tinggal di kebun”.jelas Oom Rochman. Saya menikmati sajian aktivitas beberapa warga yang terlihat dari dalam mobil yang saya kendarai.  Wajah – wajah sederhana dengan senyum ramah pedesaan menyambut kami. Oom Rochman mengarahkan saya untuk parkir pada halaman rumah panggung nan luas tak jauh dari sebuah bangunan masjid berukuran kecil. Pandangan saya langsung takjub dengan beberapa bangunan rumah pangung yang kondisi kayunya terlihat lapuk meski masih tegak menopang lantai bangunan. “itu rumah paling tua di desa ini.” ujar Oom Rochman yang menyadari pandangan mata saya. “umur rumah itu sudah lebih dari 200 tahun” sahut seorang pria tua menghampiri saya dan membuat saya sontak kaget melihat wujud pria tua itu sudah ada di samping saya.
“ini Buya Tuah” ucap Oom Rochman mengenalkan saya pada sosok pria tua yang tak saya ketahui darimana datangnya. Saya pun mencium tangan Buya Tuah.  Kulitnya kasar dan legam. Tentulah ia seorang pria pekerja keras.
“Ayoo naik…” ajak Buya Tuah mengarahkan saya dan oom Rochman pada sebuah rumah yang letaknya hanya berselang dua rumah dari rumah panggung yang usianya sudah lebih dari 200 tahun itu.
Mata saya tak henti-hentinya mengagumi setiap bagian dari rumah panggung di desa Pagardewa siang itu. Sungguh sajian  rumah panggung yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Rumah rumah sederhana dari kayu berkualitas prima dengan penataan yang sangat bersahaja.  Dari ruang tamu rumah panggung, mata saya kembali takjub ketika melihat bentangan sungai yang luas memanjang di bagian ujung kawasan desa. Pandangan saya kemudian lekat pada beberapa pria dewasa yang nampak sedang mengemudikan kapal kecil di hamparan sungai.
“wah, sungainya luas…” ucap saya antusias.
“itulah sungai Pagardewa” ucap Buya Tuah.
Saya segera duduk mendekat Buya Tuah. Yakin beliau akan bertutur banyak hal setelah seorang wanita paruh baya dengan senyum menawan menyuguhkan air putih dan toples kue kering di meja tamu. “Pagardewa, satu-satunya tiyuh (desa) yang tidak pernah berhasil di kuasai Belanda saat masa penjajahan…” Buya Tuah mengawali penuturannya. Saya pun menyimak sembari sesekali melihat sekumpulan pria pria dewasa yang nampak selesai berladang.
“Tiyuh Pagardewa inilah yang disebut Tiyuh Toho di Menggala, karena memang desa pertama yang menjadi kedatangan para penyebar agama hindu dan islam dari Banten dulu…” kisah demi kisah terlontar dari Buya Tuah. Sesekali  ia menghisap rokok lintingnya dalam-dalam. Ada helaan nafas panjang setiap jeda kisah yang ia ucapkan. Dalam penuturannya,  terkadang Buya Tuah  mencoba mengingat-ingat beberapa nama tokoh, tempat dan waktu dari setiap peristiwa yang ia uraikan.

rumah yang usianya sudah lebih dari 200 tahun di salah satu sudut dalam tiyuh Pagardewa

suasana beranda rumah tua di tiyuh Pagardewa

bibir sungai yang lengang



 

Saya kemudian senang sekali, ketika Buya Tuah mengizinkan  saya untuk menaiki perahu kayu yang tertambat di bibir sungai.  Hamparan sungai yang panjang dan lengang. Tak ada aktivitas penduduk mewarnai badan sungai.   “antarkan ke seberang saja. Jangan terlalu ke ujung” ujar Buya Tuah pada pria yang mengendalikan perahu kayu bermesin tersebut, ditambah percakapan bahasa Lampung dialek O yang beberapa diantaranya tidak saya pahami. “sekarang sudah modern pakai mesin, dulu pakai dayung,hehehhe” sela Oom Rochman yang berkenan naik kapal bersama saya. “ingat ya, jangan terlalu ke ujung ya!!” teriak Buya Tuah sesaat setelah kapal kayu berjalan.  “si Buya khawatir banget ya, Oom..” ucap saya pada Oom Rochman yang disambut dengan senyum. 



Selama menyusuri sungai, Oom Rochman menuturkan bahwa sungai yang kami susuri adalah Way (sungai) Pagardewa yang merupakan muara pertemuan dari Way Kanan dan Way Kiri yang selanjutnya bermuara di Way Tulang Bawang sampai pada Kuala Teladas. Sungai sungai yang mengitari tanah Tulang Bawang memang telah jadi mata rantai transportasi sejak dahulu. Sebagaimana para saudagar melakukan pencarian hasil bumi dengan kualitas terbaik di Tulang Bawang hingga angkutan umum masyarakat masa lampau yang sebagian besar menggunakan trasportasi sungai. Kini, sungai sungai di kawasan Tulang Bawang praktis hanya berfungsi sebagai lahan mencari ikan bagi sebagian masyarakat saja. 

bentangan sungai yang lengang

“Ayoo cepat, cepat…” ujar pengayuh perahu kayu pada saya dan Oom Rochman sesaat setelah perahu kayu merapat kembali kedaratan. “Cepat ….Cepat..!!!” teriak Buya Tuha dari bibir sungai. Saya pun bergegas meninggalkan kapal kayu dan segera menginjakkan kaki pada bibir dermaga kayu yang menghubungkan tambatan kapal pada daratan. “kenapa sih disuruh cepat cepat?” tanya saya penasaran pada Buya Tuha yang menampakkan ketegangan pada raut mukanya. “ada buaya!” sahut Buya Tuha. “apa!!???. Buaya??!” saya terhentak. “ kamu tidak lihat, tadi  ada buaya mendekati kita” bisik Oom Rochman pada saya yang semakin membuat saya tercekat. “Oom lihat?” tanya saya pada Oom Rochman yang dijawab anggukan.

Buya Tuha (bertopi)
Buya Tuha mengajak saya dan Oom Rochman duduk di beranda rumah kayu dekat bibir sungai. Beberapa rekan Buya Tuha juga tampak disana. “Ada sarang buaya di ujung sungai” ucap salah satu dari pria tua yang duduk dekat Buya Tuha.  Saya pun menyimak penuturan teman teman Buya Tuha tentang buaya di sungai Pagardewa. Konon, buaya buaya tersebut telah jadi penunggu sungai jauh sebelum penduduk ramai menempati kawasan tiyuh Pagardewa. Persembunyian buaya pun terletak persis di bagian ujung sungai Way Pagardewa. Itulah mengapa para penjajah Belanda dahulu tak pernah berhasil menduduki kawasan tiyuh Pagardewa. Buaya di way Pagardewa selalu menggagalkan usaha penjajah merambah bagian tiyuh Pagardewa yang letaknya diapit oleh Way Kiri dan Way Kanan. Saya pun jadi mengerti mengapa suasana sepanjang sungai begitu lengang tak banyak aktivitas sungai seperti di pusat kota Menggala.

suasana lengang tiyuh Pagardewa

Cukup lama saya menyimak uraian kisah dari para sosok tua yang telah lama mendiami tiyuh Pagardewa. Buya Tuha dan rekan rekannya menyuguhkan ragam kisah yang sangat berharga untuk saya ketahui termasuk silsilah para pejuang yang dahulu mendiami Pagardewa hingga memperluas ajaran ajaran islam di Tulang Bawang yang sebelumnya banyak di diami oleh tokoh tokoh agama Budha.  Tak hanya sekedar menyimak untaian kisah, saya pun diajak oleh Oom Rochman mendatangi makam makam para pejuang dan juga tokoh yang dahulu mendiami tiyuh Pagardewa. Seperti makam pahlawan islam – Haji Pejurit – gelar Minak Kemala Bumi yang  melakukan perjuangan diabad 14 dan wafat di awal abad ke 16 hingga makam keramat Rio Mangku Bumi yang merupakan pejuang Tulang Bawang termahsyur sejak abad ke 4 dan meninggal di penghujung abad ke 5. 



 
Usai menyambangi makam makam keramat termasuk menyimak ragam kisah sejarah saya dan Oom Rochman pun bertolak kembali ke Menggala. Sungguh pengalaman berharga telah saya dapatkan dari kunjungan sepanjang siang di tuyuh Pagardewa. Tak hanya sekedar mendatangi langsung tanah leluhur orang tua tetapi juga  mendapat sajian kisah mengandung sejarah tiyuh Pagardewa hingga budaya masyarakat Pagardewa yang masih berpegang teguh pada adat istiadat dan norma norma kehidupan Lampung nan agung. Jikapun mengalami kejadian nyaris disapa buaya di sungai Way Pagardewa, saya justru menganggap hal tersebut sebagai bagian  dari perjalanan seru dari sebuah kunjungan ke kampung (tiyuh) tua (toho) Pagardewa. Suatu hari saya ingin kembali bertandang ke Pagardewa dengan merasakan bermalam di rumah  Buya Tuha hingga terlibat langsung dalam aktivitas keseharian warga tiyuh Pagardewa. Semoga.
Scroll To Top