Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label sungai tulang bawang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sungai tulang bawang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2016

9 KEISTIMEWAAN YANG AKAN KAMU DAPATKAN JIKA DATANG KE TULANG BAWANG.




Jika  kamu mengenal keindahan bahari provinsi Lampung, sempatkan juga untuk menengok pesona bentangan alam sekaligus warisan budaya luhur yang Lampung miliki di kabupaten Tulang Bawang. Pagi penyuka wisata Sejarah, khasanah adat istiadat dan kearifan lokal yang kental, Tulang Bawang wajib kamu jadikan tujuan kunjungan.  Awalnya, kabupaten Tulang Bawang menempati 22% dari total luas wilayah provinsi Lampung sebelum akhirnya dilakukan pemekaran wilayah menjadi kabupaten Mesuji, kabupaten Tulang Bawang Bawat dan Tulang Bawang itu sendiri.

Akses menuju Tulang Bawang terbilang mudah. Pengunjung dari Jakarta dapat mengaksesnya dengan perjalanan darat, melalui pelabuhan Bakauheni, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan  5 jam dengan akses lintas timur atau lintas tengah menuju  kabupaten Tulang Bawang. Bagi yang melakukan penerbangan, setelah tiba di Bandara Radin Inten II – Lampung Selatan – Lampung,  pengunjung  dapat melanjutkan perjalanan via darat dengan waktu tempuh  2,5 jam.  Jarak 120 km dari pusat kota Bandar Lampung menuju kabupaten  Tulang Bawang  dapat dilalui pengunjung dengan kondisi jalan yang baik dan lalu lintas yang terbilang lancar.

Apa saja yang dapat kamu temui di kabupaten Tulang Bawang ?, yang kemudian menjadi keistimewaan tersendiri dari Tulang Bawang yang patut kamu ketahui secara langsung?.
Simak ulasan saya berikut ;
Tiyuh Paradewa

1.  TIYUH TOHO (DESA TUA) MENGGALA HINGGA PAGAR DEWA
     Bagi kamu penyuka nilai nilai sejarah dan kandungan budaya daerah, kunjungan ke Tiyuh (desa) Toho (tua) Menggala adalah pilihan tepat. Dalam sejarah, yang disebut Tiyuh Toho adalah kawasan Pagardewa, mengingat Pagardewa adalah kawasan pertama yang ada di Tulang Bawang sebelum kemudian bermunculan nama nama desa lainnya.  Hal ini ditandai dengan adanya makam makam keramat yang bisa kamu jumpai di dalam desa Pagardewa yang dalam catatan prasasti, para mendiang yang wafat tersebut telah mendiami Pagardewa sejak abad ke 5 dan ke 6 sesudah masehi.  Jadi jika kamu berkunjung ke Tulang Bawang jangan lupa untuk mendatangi kawasan Pagardewa yang masih sangat terjaga keasriannya. Meski secara administratif, Pagardewa kini masuk dalam bagian wilayah Tulang Bawang Barat, namun Pagardewa tidak bisa dilepaskan dari cikal bakal terbentuknya kawasan Tulang Bawang. Dalam Tiyuh Pagardewa, kamu dapat melihat secara langsung aktivitas masyarakat setempat, menikmati aliran sungai  yang terletak di sisi kiri dan kanan Tiyuh Pagardwa, juga bisa melihat rumah rumah panggung yang usianya mencapai 200 tahun serta dapat menjumpai tetua adat yang dengan senang hati  bila diajak berbincang banyak hal seputar sejarah, silsilah kekerabatan, kisah kerajaan hingga tata adat istiadat secara lengkap.

khasalah Pasar Lama Menggala

puing kejayaan Dermaga Menggala
puing puing kejayaan Dermaga

Kondisi Dermaga saat ini


2.       PASAR LAMA DAN DERMAGA SUNGAI TULANG BAWANG
     Melihat tata laksana kehidupan masyarakat daerah, tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi pasar tradisionalnya. Nah, di Menggala – pusat kota dari kabupaten Tulang Bawang, terdapat sebuah pasar tradisional yang disebut Pasar Lama. Penyebutan Pasar Lama bukan tanpa alasan. Pasar ini sudah ada sejak aktivitas perdagangan di Tulang Bawang sejak dahulu. Bahkan ditengarai sejak masa Belanda menjajah nusantara. Letak Pasar Lama tak jauh dari kawasan kampung Bugis dan Dermaga sungai Tulang Bawang.

     Ketika Islam memasuki kawasan nusantara bahkan masuk ke Tulang  Bawang pada abad ke 15 setelah masehi, Menggala dan alur sungai Tulang Bawang mulai di telusuri bangsa bangsa Eropa yang tertarik dengan hasil kebun berupa Lada Hitam yang mahsyur dengan kualitas unggul dan kamoditas pertanian masyarakat Tulang Bawang lainnya.  Dermaga lama yang dekat dengan pasar lama Menggala tersebut, dahulu merupakan sasaran bersandarnya  kapal kapal dagang se-nusantara  yang menghidupkan denyut perdagangan di Tulang Bawang. Dermaga sungai Menggala  juga menghubungkan akses ke pulau Jawa bahkan  hingga Singapura.

    Kini, kisah perdagangan tersebut tinggallah   kenangan bersama runtuhan dermaga yang puing puing kejayaannya masih dapat kita lihat.
bentangan rawa rawa di Tulang Bawang
 
3.              WISATA SUNGAI TULANG BAWANG 
    Secara keseluruhan, kabupaten Tulang Bawang merupakan kawasan yang memiliki bagian rawa atau sungai lebih banyak dibanding kabupaten lain di provinsi Lampung.  Tak heran jika bentangan rawa atau sungai di kabupaten Tulang Bawang menyimpan banyak potensi, tak hanya potensi keindahan wujud sungai atau rawa tetapi juga potensi hasil sungai yang melimpah. Sebut saja kawasan Rawajitu yang kini telah menjelma menjadi kawasan industri pengolahan hasil sungai lengkap dengan tambak/keramba. Selain Rawajitu juga ada Kuala Teladas yang menyajikan bentangan sungai yang memikat dan hasil sungai yang melimpah.
    Saya yakin,   penyuka aktivitas memancing, tentu menyukai kegiatan memancing di tataran sungai yang tenang dengan pesona flora nan asri, sungai sungai di kawasan Tulang Bawang. 

rawa rawa dengan potensi fauna yang memukau


4.              KERBAU RAWA DAN  MIGRASI BURUNG LANGKA
    Pada bagian kecamatan Menggala dan kecamatan Menggala Timur – Tulang Bawang, kamu bisa melihat sekumpulan kerbau rawa yang telah mendiami rawa rawa di kawasan tersebut sejak dulu. Kerbau kerbau rawa tersebut berkembangbiak setiap tahunnya.  Konon kini, jumlahnya mencapai lebih dari  3.000 ekor kerbau. Sekumpulan Kerbau ini mendiamui kawasan Padang Pemukou dengan akses ke lokasi dapat di capai melalui sepeda motor sekitar 2 kilometer  dan di lanjutkan dengan berjalan kaki melalui bentangan rawa.

Kerbau rawa
    Selain itu, di Menggala juga terdapat Rawa Pitu yang merupakan kawasan konservasi bagi beragam fauna yang di lindungi termasuk kawasan Rawa Pacing yang merupakan bentangan rawa yang luas dengan aktivitas migrasi burung langka dari Australia yang  datang hanya pada saat musim hujan setiap tahunnya. Bagi kamu penyuka aktivitas Photography alam dan satwa, mengabadikan kerumuman kerbau rawa dan keindahan satwa satwa liar yang dilindungi termasuk burung langka dari Australia tersebut, kawasan Padang Pemukou, Rawa Pitu dan Rawa Pacing adalah tempat yang tepat. 

kuliner lezat Tulang Bawang

Jangan lupa berkunjung ke RM AROMA menyajikan Seruit Lampung
 
5.              KULINER LEZAT
    Tak lengkap rasanya mengunjungi sebuah kawasan tanpa memanjakan selera bersantap. Ada beragam pilihan kuliner lezat khas Tulang Bawang. Salah satu yang khas dari provinsi Lampung tentu adalah Seruit, tetapi Seruit di Tulang Bawang memiliki cita rasa yang khas. Bagaimana tidak, aktivitas Nyeruit atau makan bersama dengan jenis hidangan atau makanan olahan yakni Seruit yang menjadi menu utama telah menjadi tradisi masyarakat Tulang Bawang sejak dulu.   Beragam pillihan tempat makan dengan   sajian sajian Seruit lezat di kota Menggala – Tulang Bawang. Salah satunya adalah Rumah Makan Seruit Aroma yang sempat saya datangi dengan sajian istimewa. Pindang Baung, ikan Tomang bakar berpadu lezat dengan sambal terasi khas menggala dan beragam lalapan lengkap. Sungguh cita rasa yang istimewa. Bagi yang tiba di Menggala singgahlah ke Rumah Makan Seruit Aroma yang letaknya dipinggir jalan persis di sebelah kampus MegouPak dan di depan Rumah Sakit Umum Daerah Tulang Bawang.

Ikan Kering dan Delan Menggala yang bisa jadi Oleh Oleh

penjaja Ikan Kering dan Terasi Menggala di kawasan Cakat


6.              DELAN, BAUNG, TOMANG  DAN  IKAN KERING
    Delan (terasi), Baung (jenis ikan air tawar) dan Tomang (sebutan jenis ikan berwujud seperti ikan Gabus).
   Terasi Menggala memiliki keunggulan dari campuran bahan baku yang merupakan olahan rumahan dengan kualitas baik. Sebenarnya, olahan Terasi Menggala bertempat di Kuala Teladas dan Lampung Timur. Tetapi jika berkunjung ke Tulang bawang sempatkanlah singgah di kawasan Cakat yang letaknya berdekatan dengan jembatan Menggala yang menjual beragam jenis Ikan Kering dari jenis ikan air tawar, kerupuk ikan, hingga jenis terasi basah dan kering yang bisa kamu jadikan oleh oleh untuk keluarga di rumah. Sedangkan ikan Baung dan Tomang banyak di jajakan di pasar pasar hingga kios atau warung warung beberapa rumah warga di Menggala.

Bangunan Nusantara di Kawasan Wisata Cakat Raya

Miniatur Candi Prambanan - sebagai simbol keragaman etnis di Tulang Bawang


7.              KAWASAN WISATA NUSANTARA CAKAT RAYA
    Kabupaten Tulang Bawang tak hanya didiami oleh suku Lampung Pepadun saja tetapi juga merupakan tempat tinggal dan kawasan transmigrasi bagi banyak suku. Sebut saja suku Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak, Bali hingga etnis Tionghua hidup berdampingan di Tulang Bawang. Itulah sebabnya sebagai pewujudan penghargaan terhadap keberagaman yang ada di Tulang Bawang dibangunlah kawasan wisata Cakat Raya yang mengetengahkan bangunan adat dari suku suku  yang ada di Tuang Bawang  hingga miniature candi prambanan. Kawasan ini ditujukan juga sebagai lokasi wisata dan tempat penyelenggaraan perayaan adat. Sayang, kawasan ini tidak begitu terpelihara dengan maksimal. Saat kunjungan saya pada 26 Oktober 2016 silam, sebagian besar dari rumah panggung yang ada dalam kawasan wisata Cakat Raya nampak rusak.

pasar Satwa di pinggir jalan Lintas

burung gagak di Pasar Satwa

Sepasang Ayam di Pasar Satwa seharga 300 ribu rupiah (sepasang)

 8.              PASAR SATWA
     Pada jalan lintas di dekat kawasan cakat Menggala – Tulang bawang juga terdapat pasar hewan hewan hasil berburu yang dijual legal. Diantaranya Aym hutan yang sepasangnya dijual mulai harga 300 ribu, atau monyet monyet hutan yang di jual mulai harga 200 ribu per ekor hingga 700 ribu rupiah. Selain itu ada pula aneka jenis burung mulai dari murai, jalak, hingga Gagak seharga 1 juta rupiah per ekor.  Buat yang tekun memelihara hewan hewan jinak  dirumah, tak ada salahnya bertandang ke pasar satwa legal di Menggala ini.  

bentuk kerajinan sulam Maduaro
  
9.              SULAM MADUARO
     Penggunaan kain kain khas dalam aktivitas adat istiadat masyarakat Lampung adalah sesuatu yang lazim sejak zaman nenek moyang dahulu. Mulai dari kain tapis hingga ragam jenis kain khas masyarakat Lampung lainnya. Di Tulang Bawang, ada sebuah kerajinan sulam khas yang disebut Maduaro.
    Sesungguhnya,  Maduaro merupakan kerajinan sulaman tangan dari beragam bahan manik manik pilihan yang sejak  dahulu kerap dikenakan oleh pengantin wanita sebagai penutup kepala pada saat prosesi akad nikah berlangsung. Adalah benang Silingkap yang merupakan jenis benang yang digunakan dalam proses menyulam beragam bentuk motif.
     Kini, sulam Maduaro teraplikasi dalam beragam bentuk kerajinan tangan, mulai dari selendang, kerudung, peci/kopiah, dompet, tas hingga wujud busana yang elegant. Soal harga, sulam Maduaro yang memakan proses pembuatan cukup lama ini dibandrol dengan harga 100 ribu hingga 2 juta rupiah, sesuai bentuk dan tingkat kesulitannya.
    Tertarik mengetahui Sulam Maduaro yang telah menjadi kerajinan khas dari Tulang Bawang atau ingin membeli beragam produk nya silakan hubungi Ibu Nirwana Indah – 085379088262, atau dapat kunjungi kantor Dekranasda Kabupaten Tulang Bawang yang letaknya persis di depan Masjid Islamic Center Menggala – Tulang Bawang.

Kamis, 27 Oktober 2016

MELIHAT TIYUH TOHO, BUDAYA MENGGALA DAN BANGUNAN TAK TERPELIHARA KALA BERTANDANG KE TULANG BAWANG.




... "main ke Tulang Bawang dong!.  Ke Kabupaten lain bisa, masak mampir ke tanah leluhur Orang tua mu belum!”  ucap Paman pada acara kumpul keluarga. “jika punya waktu, sempatkan ke Tulang Bawang” timpal Bik Cik (adik bungsu Mama).
“Ia, InsyaAllah dalam waktu dekat main ke Tulang Bawang” sahut saya meredam rentetan pertanyaan Paman dan Bik Cik. 
Ternyata Paman dan Bik Cik menyimak hobi perjalanan dalam blog saya, hehehe.
Dan mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi sebuah kawasan, bagi saya bukan pekara mudah. Harus dapat celah diantara jam kantor pada hari kerja dan pekerjaan panggung di akhir pekan. Belum lagi acara keluarga yang sering datang tanpa kompromi.  yaah.., semoga saja dalam waktu dekat bisa ke Tulang Bawang” bisik saya pada diri sendiri yang kemudian terhimpun dalam do’a sebelum tidur.
 
kondisi jalanan menuju Tulang Bawang yang bagus dan mulus




Tuhan pun mengabulkan permintaan saya.  Hari Rabu mendapat perkenan libur dari kantor. Setelah melakukan sedikit persiapan digenapi dengan restu istri, jadilah tekat bulat untuk mengunjungi Tulang Bawang terwujud.
Lepas Subuh di Rabu pagi saya menyemangati diri menuju Tulang Bawang. Hanya sendiri. Karena anak istri tak bisa di ajak serta, termasuk  menghubungi beberapa rekan yang biasanya saya ajak dalam perjalanan ternyata sedang tak berkenan. Tak apalah. Nyetir ke Jakarta dan Bandung sendirian saja saya berani, masak ke Tulang Bawang yang jaraknya cuma 3 jam tak berani. Hehehehe. #belajarTegar!!




 
suasana pagi di pasar lama Menggala
 
Keuntungan melakukan perjalanan di pagi buta adalah lalu lintas yang masih lengang.  Tak ada kemacetan apapun meski di kawasan yang kerap terjadi macet sekalipun. Jarak 120 kilometer dari Bandar Lampung ke Tulang Bawang pun terasa lega.  Dengan kecepatan berkendara standard, pukul 5 pagi dari Bandar Lampung,  07.30 WIB telah tiba di Menggala – pusat kota dari kabupaten Tulang Bawang dengan selamat. Kondisi jalanan yang mulus menuju Tulang Bawang sangat memudahkan perjalanan saya. Suasana pagi ketika memasuki kawasan Menggala saya sempatkan mampir ke beberapa spot menarik untuk mengabadikan bangunan bangunan khas daerah.  Itulah enaknya trip sendiri, bisa berhenti di beberapa tempat menarik sesukahati,hehehe. 


bentangan sungai dan rawa rawa di Menggala

Rencananya, ketika tiba di Menggala, saya akan mengunjungi rumah Bik Cik – adik bungsu mendiang Mama yang telah lama menetap di Menggala. Tapi melihat suasana pagi di Menggala yang lengang, saya langsung mengalihkan kemudi menuju pasar  Menggala. Seperti biasa, mengunjungi pasar tradisional adalah salah satu kegemaran saya kala bertandang sebuah kawasan. Benar saja, kala tiba di pasar Menggala saya langsung terpukau dengan jajaran rumah panggung yang berada di kiri kanan jalan utama pada bagian depan pasar. Pola rancang bangun yang masih terjaga lengkap dengan teralis besi bergaya tahun 70an.    Beberapa rumah panggung menjadikan bagian bawah bagunan sebagai kios berjualan. Pagi itu belum nampak ada kegiatan jual beli. Bahkan beberapa kios dan amben pasar yang sempat saya tengok pun tampak lengang. Saya kemudian duduk di balkon sebuah rumah panggung setelah meminta izin pada pemiliknya yang sedang bersiap membuka kios dagangan. Dari teras rumah panggung itulah  saya menikmati suasana pagi yang lengang di pasar Menggala yang masih asri.  Budaya kehidupan bermasyarakat yang rukun berdampingan nampak jelas dalam pandangan mata saya.  Suku Lampung asli yang mendiami kawasan pasar Menggala, berdampingan dengan suku Bugis yang huniannya bersebelahan dengan kawasan pasar.  Ada banyak suku suku pendatang yang kemudian beranak-pinak di Tulang Bawang, mulai dari suku Minangkabau, Banten, Bali hingga etnis Tionghua.


pagi di pasar lama menggala yang lengang



Cukup puas menikmati suasana pasar Menggala, saya pun menuju rumah Bik Cik yang letaknya tak jauh dari komplek pemda kabupaten Tulang Bawang.
Ketika berbincang soal Pasar Menggala, Bik Cik pun menjelaskan bahwa pasar yang saya datangi sebelumnya itu, disebut Pasar Lama karena aktivitas jual beli yang tidak berlangsung ramai seperti dulu. “sekarang ada Pasar Baru yang lebih dekat, di pinggir jalan besar” ujar Bik Cik menjelaskan. Karena Bik Cik tahu saya menyukai pasar tradisional, ia pun mengajak saya mengunjungi pasar baru Menggala yang ia maksudkan, sembari menemaninya berbelanja keperluan rumah tangga.  Benar saja, pasar baru Menggala yang Bik Cik kisahkan tersebut begitu ramai. Mulai dari penjaja kebutuhan dapur hingga jual beli baju dan perabot rumah tangga. Pasarnya pun lebih luas daripada pasar lama yang saya datangi beberapa jam sebelumnya itu.  Meski secara artistik dan kedaerahan saya menyukai suasana yang ada di pasar lama, pasarnya lebih photogenic dan instagramable, hehehe.

suasana ramai di pasar baru


Usai kunjungan ke pasar tradisonal, Bik Cik  sempat menunjukkan beberapa hal yang mengandung sejarah di Menggala dalam perjalanan menuju kerumah. Mulai dari  Dermaga lama, Kampung Bugis, Tangga Rajo hingga sebutan Tiuh Toho Menggalo yang melegenda tersebut.  Tak hanya Bik Cik, ketika tiba di rumah, Oom Rochman pun berkisah banyak seputar Tulang Bawang. Sebagai putera daerah yang lahir dan besar di Pagar Dewa, Oom Rochman yang masih kerabat Papa saya itu menuturkan beragam hal seputar Tulang Bawang disela menunggu hidangan makan pagi persembahan Bik Cik.  Meski saya adalah keponakan dari Bik Cik, soal kedatangan tamu, budaya menghidang makanan istimewa telah menjadi tradisi  dalam adat istiadat masyarakat Lampung. “yok, makan dulu, nanti siang, abis jalan jalan kita makan lagi.” ucap Bik Cik  mempersilakan saya menyantap apa yang ia sebut sarapan pagi – yang menurut saya serupa dengan sajian makan siang!!. 

tiuh toho - pagar dewa - kampung kelahiran Papa saya.

bahagianya saya menyusuri sungai pagar dewa


Penjelasan Bik Cik semakin lengkap ketika Oom Rochman – salah satu kerabat dari Papa yang menemui saya dan berkenan meluangkan waktu  menjadi pemandu saya sepanjang hari  eksplorasi  Tulang Bawang.

Dalam kisah hidup saya, Menggala bukanlah sesuatu yang asing. Sejak kanak-kanak saya kerap berkunjung ke kawasan yang dulunya masuk dalam teritori kabupaten Lampung Utara ini   sebelum akhirnya berdiri sendiri sebagai kabupaten Tulang Bawang pada tahun 1997.  Papa saya lahir dan besar di Tiyuh (desa) Pagar Dewa – salah satu desa tertua (tiuh toho) di Tulang Bawang yang kini masuk dalam kawasan Tulang Bawang Barat.
… Saya akan kisahkan keagungan Tiyuh Pagar Dewa yang menjadi separuh darah daging saya tersebut pada tajuk hikayat tersendiri.


 
kawasan Sesat Agung dan Rumah (Nuwo) Adat yang Lengang


BANGUNAN GAGAH TAK TERPELIHARA.

Oom Rochman pun memahami minat saya. Ia mengarahkan saya pada banyak tempat tempat menarik yang memang telah saya buat daftar kunjungan jauh sebelum saya tiba di Menggala. Kunjungan ke kawasan Cakat menjadi warna tersendiri bagi perjalanan saya siang itu, termasuk pengalaman melihat pembuatan ikan kering dan terasi /delan Menggala.  Selain  itu kunjungan ke tempat tempat yang masih tradisional dan mengandung sejarah adalah kegemaran saya selanjutnya.  Sungguh kesenangan tersendiri ketika Oom Rochman mengajak saya naik perahu kayu di tanah kelahiran Papa saya – Pagar Dewa plus kesempatan bincang singkat dengan tetua adat  lengkap dengan  ziarah ke makam pejuang dan pendiri Pagar Dewa.   
Senengnya pake Banged!!!.

bangunan Museum Tulang Bawang tampak depan.

tampak bagian dalam Museum lengkap dengan lantai keramik tak terawat
 
Meski  bahagia karena dapat melihat dari dekat kehidupan masyarakat Menggala lengkap dengan keluhuran budaya Lampung nan agung,  saya sempat terhenyak  ketika melihat langsung kondisi Museum yang isinya hanya lemari lemari kosong berantakan, termasuk kondisi  bangunan dan ubin yang  tak terawat. Beberapa bagian nampak lusuh tak tersentuh perkembangan zaman. Museum bak  rumah hantu. Mencekam. Tak ketinggalan juga rumah adat yang lengang. Hanya beberapa pekerja bangunan  yang sedang merenovasi sebagian gedung. Bisa jadi kawasan ini ramai ketika ada acara. Kala ceremonial tak berlangsung, semua kembali kesedia-kala. Lengang. Mencekam. Lebih mencekam ketika melihat gedung gedung yang dulu berdiri megah kini telah usang. Penuh rerumputan. Tak ada sentuhan perawatan.  Bagai gedung tua yang ditinggal penghuninya. Begitu pula dengan gedung kesenian yang senyap tanpa ada aktivitas berkesenian, meski konon Tim Kesenian Tulang Bawang senantiasa juara pertama bahkan juara umum lomba tari daerah tingkat provinsi Lampung hingga nasional. Mungkin kunjungan saya kala itu hari Rabu, jadi tak ada kehidupan berkesenian di gedung kesenian. Mungkin. 

salah satu bangunan dari beberapa bangunan di akwasan wisata Cakat yang tak terpelihara - sayang biaya pembangunannya.


pelataran depan kampus yang banyak rumput


Kunjungan mencekam lainnya adalah ketika mendatangi kawasan Universitas MegowPak. Kampus perkuliahan yang dirintis pada masa Bupati Abdurachman Sarbini tersebut tersohor karena rancang bangunannya sangat modern.  Saya pun kagum melihat bangunan kaca bak hotel di ibukota Jakarta tersebut. Meski kehidupan perkuliahan saat ini tidaklah berlangsung maksimal. Rerumputan liar menjadi penghias kampus sejak bagian depan hingga gedung belakang. Areal taman hingga mushalla yang ada di bagian belakang kampus tampak tak berwujud karena timbunan rumput liar. Ragam bentuk ruangan dalam bangunan megah metropolitan itu tampak lengang.  Ketika malam datang, tentu ada hantu. Sungguh sayang anggaran yang telah terpakai.  Saya mengagumi keunikan gedung kampus, sama uniknya dengan pemikiran mendirikan kampus megah di sebuah Kabupaten.

bangunan kampus bagian dalam dari MegowPak yang juga tak terawat

kondisi taman di bagian dalam kampus Megowpak

 
kondisi bangunan Mushalla dan kantin saat ini. Seram!!!

 Jika saja, kawasan kampung tua (tiuh toho) dan bangunan lawas lainnya senantiasa di jaga keasriannya tentulah menjadi destinasi wisata unggulan Tulang Bawang. Melihat jajaran gedung dengan gaya arsitektur yang tak lagi dijumpai pada tahun 2000-an saja, saya sudah terkagum-kagum. Memang butuh komitmen untuk menjaga keluhuran budaya dan peninggalan yang ada di  Tulang Bawang. Tak perlu bangunan bangunan megah serba modern. Cukup jaga keasrian Tiuh Toho, Budaya Tulang Bawang nan agung, sudah menjadi daya tarik kunjungan bagi wisatawan yang menaruh minat pada sejarah – anthropology, dan keluruhan budaya lokal (local wisdom).  Selain pesona  sungai dan isinya yang melimpah dapat juga jadi daya tarik bagi mereka yang gemar meng-eksplorasi sungai. 
 
potensi  bentangan sungai dan kekayaan hasil sungai yang perlu diperhatikan.
 
Saya, keluarga Bik Cik dan Oom Rochman


Sehabis Maghrib saya melajukan kendaraan kembali ke Bandar Lampung.  Meski hujan deras, senyum bahagia saya menghias sepanjang berjalanan.  Kunjungan saya ketempat tempat menarik di Tulang Bawang bersama Oom Rochman malah berbonus hingga ke Tulang Bawang Barat ; ke Desa Gunung Katun, Panaragan, hingga melihat dari dekat  letak  kereta kencana  dan Islamic Center Tulang Bawang Barat yang modern tersebut. Lengkap dengan tragedi ban mobil meledak!!. 

bonus kunjungan ke Tulang Bawang barat - Islamic Center Tulang Bawang barat yang unik dan megah

kereta kencana dalam layout  tata kota Tulang Bawang Barat
 
Bila  nanti saya punya lebih banyak waktu, ingin rasanya mengunjungi  Tulang Bawang lebih lama. Bermalam di rumah tetua adat di kampung tua (tiuh toho) dan turut serta dalam aktivitas keseharian bahkan ritual adat masyarakat Menggala adalah keinginan saya selanjutnya. Semoga.
Scroll To Top