Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Senin, 22 September 2014

BUDAYA BELAJAR, BUDAYA MENGHARGAI PROSES BELAJAR



Mas Yopie menyampaikan Materi Photography dalam perspektif nya . Photo by @LampungBelajar

“tuntutlah ilmu sampai negeri Cina.”
“Belajarlah selalu hingga liang lahat.”
“berhenti belajar. Berhenti hidup.”
 
Beberapa petikan kalimat diatas adalah beragam quote yang sejak kecil kerap saya dengar dari orang tua, guru dan kawan kawan bahkan mudah saya jumpai di buku buku pelajaran yang tujuannya tak lain untuk memberi motivasi agar terus meningkatkan kemampuan diri melalui belajar.

Pada dasarnya, belajar  adalah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan kemampuan – kemampuan lainnya.

Suasana kelas @LampungBelajar photo by @LampungBelajar

 
Nah, berkenaan dengan implementasi dari definisi belajar yang saya dapat dari web diatas,  saya pun menyukai suasana belajar yang bukan hanya belajar secara resmi layaknya di bangku sekolah, kuliah atau pendidikan dan pelatihan formal yang sejauh ini pernah saya rasakan langsung.

Minggu (21/9/14) bertempat di Cosmic Cafe, saya terlibat kembali dalam sebuah kelompok belajar bergelar @LampungBelajar, yang merupakan akun twitter yang secara konsisten melaksanakan forum belajar.  Uniknya, dalam forum gelaran akun twitter @LampungBelajar yang di gawangi oleh mas Teguh ini membuka peluang bagi siapapun yang berkenan sharing ilmu dan pengalaman dengan audience yang memang segmented terhadap topik yang di tawarkan setiap pertemuan.

Pada Minggu lalu, @LampungBelajar mengangkat tema tentang Photography. Yang bertindak sebagai pemateri adalah Mas Yopie – sosok yang juga sudah saya kenal sebelumnya dan merupakan admin dari akun @KelilingLampung. Yang unik, materi yang mas Yopie sampaikan adalah sesuatu yang setiap saat justru di hadapi oleh mereka yang hobby mem-photo. Jangan berfikir bahwa materi yang Mas Yopie sampaikan sama seperti kelas photo Darwis Triadi atau Arbain Rambey yang sangat teoritis dengan bahasa dan analogi analogi yang sulit di pahami oleh orang seperti saya yang tingkat pemahaman akan dunia photography sangat rendah. Tapi yang menarik adalah, Mas Yopie justru membagi pengalamannya sebagai individu pada umumnya yang mengalami banyak hal remeh temeh di ‘lapangan’ photo yang kerap di alami semua orang termasuk saya pribadi. Sebagai contoh, mas Yopie menerangkan, bahwa jika pada waktunya kita di hadapkan pada landscape photo yang bagus tapi disaat itu kita justru tidak membawa kamera sama sekali,  kita tak perlu panik, cukup abadikan moment landscape yang indah itu dalam ingatan kita, nikmati, dan kemudian datangi lagi di hari selanjutnya dengan waktu dan perkiraan yang menurut kita landscape tersebut akan menampakkan keindahannya sama seperti sebelumnya. Pernyataan  simple  dan penuh makna lainnya adalah, mas Yopie juga mengatakan bahwa tak ada yang salah dan benar dalam sebuah hasil photo, karena setiap pemotret memiliki selera yang berbeda dan semuanya harus di hargai dalam prespktif personal.  Selain pemaparan pengalaman oleh mas Yopie kelas @LampungBelajar juga mempersilakan seluruh audience yang hadir untuk praktek mem-photo beragam object yang ada di ruangan belajar. Dan hasilnya tentu banyak ragam photo yang menarik bahkan tak di duga sebelumnya. Bahwa dalam satu ruangan bisa menghasilkan beragam sudut pandang photo yang beda dan menarik tentunya.

salah satu hasil photo yang saya dapat di ruangan belajar @LampungBelajar

Photo bersama seusai kelas - photo by @LampungBelajar

Invitation kelas @LampungBelajar yang di sebar via twitter

 Sebenarnya, bukan hanya akun @LampungBelajar yang kerap membuka forum forum sharing yang sungguh bermanfaa.  Ada banyak akun akun twitter lainnya yang saya tahu tidak hanya ‘bertemu’ dalam dunia maya tetapi juga bertemu dalam ‘dunia’ yang sesungguhnya. Hal ini tentu saja jadi penyeimbang bagi status ‘dunia maya’ yang non visual dan dapat juga menjadi ajang silaturahmi yang efektif di tengah kecanggihan teknologi  yang individualist dan  serangan “autis gedjed’. 

Saya pribadi menyukai suasana dalam forum sharing, meski sebelumnya pernah menjadi pembicara untuk kelas public speaking di gelaran @LampungBelajar, tetapi saya juga senang ketika dalam posisi menjadi audience. Karena belajar bukan hanya menyampaikan tetapi termasuk mendengarkan. Belajar dalah sebuah proses untuk mendapatkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dan saya selalu menghargai siapapun yang menyampaikan. Tak penting soal usia ataupun latar belakang dan kedudukan seorang pembicara di depan kelas. Yang terpenting adalah sharing yang di sampaikan dapat membuat perspektif saya bertambah tak hanya dari yang saya sudah tahu via buku atau media cetak dan elektronik tetapi juga melalui sosok sosok yang telah mengalami proses belajar tersebut secara langsung. Saya juga kerap menjadi audience untuk pembicara yang usia nya jauh lebih muda dari saya atau bahkan saya pernah menyimak apa yang disampaikan oleh anak SMA sekalipun. Tak ada kata gengsi dalam belajar. Menjadi pendengar atau audience pun adalah proses belajar yang efektif. Tentu dengan syarat kita tidak boleh egois dan merasa ‘tak butuh ilmu baru’ ketika menjadi audience. Karena tentu ada juga beberapa personal yang merasa dirinya sudah jauh lebih hebat dan sangat berpengalaman sehingga tidak berkenan dan tak perlu lagi belajar. Bahkan tak mau belajar pada forum forum gelaran akun twitter yang di rasa ‘lokal’. Termasuk ketidaksetujuan saya dengan pernyataan bahwa pemateri untuk sebuah forum belajar HARUS orang orang tingkat nasional dan sudah sukses dalam kancah nasional atau internasional. So What ?, apa bedanya ?. belajar bukan hanya tentang siapa dan apa yang telah mereka lakukan, tetapi juga tentang komitmen dan eksistensi seseorang terhadap bidang yang ia geluti. Dan mendengarkan proses belajar seseorang juga dapat memperkaya diri dalam belajar itu sendiri. Seperti forum gelaran akun @LampungHeritage yang beberapa waktu lalu menghadirkan pembicara Ibu Frieda Amran - orang lokal tapi berkancah di international yang berbagai banyak hal akan bidang budaya dan kebudayaan yang memang telah ia geluti sejak lama. Bagi saya proses si ibu yang memegang teguh konsistensi bidang nya itulah yang membuat saya semakin 'kaya' akan pemahaman sebuah hal. 

Forum diskusi gelaran @LampungHeritage yang membahas tentang Budaya dan Kebudayaan dengan pembicara Ibu Frieda Amran

Tradisi ; Berphoto bersama seusai kelas or forum, sebuah rekam jejak dalam proses belajar.

Belajar bisa dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.  Semaksimal mungkin setiap personal harus meningkatkan diri dalam beragam proses belajar. Dan saya selalu ingin belajar dengan siapa saja dan kapan saja. Karena saya butuh banyak tinjauan dan referensi dari beragam pihak yang belum tentu saya miliki meski saya merasa sudah memiliki. Layaknya sebuah pepatah ada saat memberi ada saat menerima, begitupun dengan belajar - ada saat menjadi pemateri ada saatnya menyimak tanpa perlu banyak menyanggah dan berkata seolah kita yang paling bisa.



0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top