Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 02 Desember 2014

MENIKMATI BANGUNAN BERNILAI SEJARAH DAN BUDAYA DI KANDANGAN


Rumah Bersejarah Karang Jawa


Bermula dari undangan Ibu Kabid Dinas Pariwisata Hulu Sungai Selatan via telepon yang meminta saya untuk hadir dalam gelaran ceremonial hari jadi kabupaten Hulu Sungai Selatan pada Selasa lalu.
Sejak pagi udara begitu dingin. Hujan sejak malam berimbas hingga pagi. Bahkan saat menengok di balik jendela pagi itu, awan masih mendung.  Rintik  hujan  perlahan turun. Ada keengganan untuk datang. Dan beberapa kali badan masih bermanja diatas tempat tidur. Tak ada tugas pekerjaan yang bisa saya lakukan jika kelak hujan deras. Tapi si Ibu Kabid menelepon lagi untuk hadir bahkan mengingatkan untuk memakai Batik Sasirangan – Baik khas Banjarmasin di acara tersebut. Nah.! Untuk urusan batik saya cukup gelabakan. Dulu waktu menghadiri acara di Kandangan batik sasirangan yang saya pakai juga hasil pinjam. Beruntung rekan saya – Opik, warga asli Binuang yang ukuran badannya tak beda jauh dengan saya membawakan sepotong kemeja Sasirangan warna hijau. Meski sedikit pendek pada bagian bawah kemeja, lumayanlah yang penting pakai dan saya tetap terlihat Kece.! – Penting.!
Beruntung pula dapat pinjaman mobil dan dapat restu untuk menghadiri acara itu. Al hasil karena tak enak dengan 3 kali telepon Ibu Kabid saya berangkat sendiri dengan kemeja sasirangan sedikit sempit hasil pinjam dan mobil New CRV juga hasil pinjam.

Setelah menempuh jarak 1 jam perjalanan dengan lancar dari kecamatan Binuang – kabupaten Tapin, saya tiba di Kandangan – kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tak sulit menemukan lokasi acara, selain kerumunan warga yang jadi ciri khas sebuah perhelatan akbar daerah, jajaran spanduk juga cukup membantu menemukan lokasi event. Acara peringatan 64 tahun kabupaten Hulu Sungai Selatan di adakan di lapangan Lumbung Mangkurat tepat persis di seberang kantor Bupati Hulu Sungai Selatan. Ketika saya datang acara baru saja di mulai dengan tari kolosal yang cukup menarik mata saya. Segera saya menempati tempat duduk baris ke tiga dari depan dekat dengan rombongan ibu ibu. Sepanjang acara saya antusias menyimak tahap demi tahap acara yang di kemas dengan rapih khas ke-protokoler-an. Tapi lama kelamaan saya merasa ada beberapa orang yang berbisik dan melihat ke ara saya. Sudut mata saya memperhatikan beberapa orang ibu ibu yang berbisik. Merasa ada yang janggal saya menoleh penuh kearah ibu ibu sambil melemparkan senyuman. Ibu ibu pun membalas senyuman sambil mengangguk seolah salam perkenalan buat saya. Saya merasa tersanjung, meski kemudian saya menyadari bahwa saya salah posisi duduk. Setelah saya amati, baris duduk posisi pria dan wanita di acara itu di pisah. Dan saya masuk ke bagian para ibu ibu. Hahahahah. Kandangan memang Agamis. Akibat tak ada yang mengarahkan dan saya melihat bangku kosong langsung saja di duduki.  Okelah.  Saya salah, tapi tak mungkin juga saya harus pindah tempat duduk karena posisi saya ada di baris ke tiga dari depan sementara jika mundur lagi saya akan lebih jadi bahan perhatian  dan tertawaan ibu ibu lainnya. Lagi pula saya tidak macam macam dan sentuh sentuh ibu ibu sekitar saya duduk kok..hehe.

Tahap demi tahap acara berjalan dengan lancar meski diawal sempat berhiaskan rintik hujan. Tapi kemudian hujan reda bersamaan dengan selesainya acara ceremonial. Saya bergegas keluar dari barisan bangku ibu ibu. Ada rasa malu  ketika ibu ibu sekitar saya tertawa melihat saya. Saya hanya bisa meminta maaf pada mereka.  Sejak awal kedatangan hingga usai acara saya sempat beberapa kali telepon Ibu Kabid yang mengundang saya hadir melalui telepon. Tak ada jawaban dari sambungan telepon. Saya pun sempat 3 kali mengirim SMS mengabarkan bahwa saya telah hadir dan duduk di kelompok ibu ibu. Pun Ibu Kabid tak membalas SMS. Selesai seluruh rangkaian acara pun saya masih sempat telepon ibu Kabid dan SMS, pun tak ada tanggapan. Sejenak saya beli jajanan pasar di sudut lapangan dan melihat lihat pameran yang di kemas dalam event Kandangan Expo. Saat sedang sendirian itulah tiba tiba saya terfikir untuk mendatangi beberapa bangunan unik yang merupakan peninggalan sejarah. Saya ingat ketika kunjungan pertama saya ke Kandangan dan Loksado bersama Faden,Wahyu,Dian dan Alvi dalam acara Lomba Model Sasirangan di Kandangan beberapa bulan silam saya sempat melihat ada banyak bangunan khas masyarakat banjar, bahkan ada bangunan yang bersejarah yang letaknya di pinggir jalan ke arah menuju Loksado. Karena telepon dan SMS tak di respon oleh Ibu Kabid saya memutuskan mengitari keunikan Kandangan sendiri. Ya, Sendiri.! Tak masalah bagi saya, toh saya pernah sendiri ke tempat tempat terpencil lainnya di belahan nusantara. Kandangan adalah bagian ramai menurut saya.


Salah Satu Sudut Rumah Bersejarah Karang Jawa

Plang di bagian halaman Rumah Bersejarah Karang Jawa


 KARANG JAWA

Bangunan pertama yang saya datangi siang itu adalah Rumah Perjuangan ALRI DIVISI IV HANKAL – Milik H.KASPUL ANWAR – masyarakat sekitar menyebutnya Rumah Sejarah Karang Jawa, karena terletak di Desa Karang Jawa Kecamatan Padang Batung – Hulu Sungai Selatan, tak jauh dari lokasi acara – Lapangan Lumbung Mangkurat. Rumah dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Hulu Sungai Selatan ini merupakan situs cagar budaya dan di lindungi oleh undang undang Nomor 1 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pada prasasti di halaman muka rumah jelas tertulis. Bahwa di lokasi Rumah telah terjadi sebuah perisitiwa bersejarah ; pada tanggal 2 September 1949 sehabis pertemuan dengan Moenggoe Raja diadakan ramah tamah antara delegasi pemerintah Republik Indonesia dengan Jendral Mayor Soehardjo Hardjowardojo, Kapten Zainal Abidin (Angkatan Darat) dan kapten Boediardjo (Angkatan Udara) dan Delegasi Pemerintah Belanda, Resident A.G. Oeelman dan Overste Neals (unc) denngan tokoh tokoh Alri Divisi IV Pertahanan Kalimantan dibawah pimpinan Letnan Kolonel Hassan Basri. Membaca tulisan di batu prasasti itu saya jadi ingat ulasan sejarah singkat tentang cikal bakal pembentukan Kabupaten hulu Sungai Selatan pada rangkaian acara ceremonial di lapangan Lumbung Mangkurat tadi. Sungguh sebuah saksi sejarah yag sangat bernilai. Saya kemudian tak putus-putus  mengagumi bagian demi bagian rumah yang tipikal tempoe doeloe itu.  Sesekali saya menengok bagian dalam dari jendela rumah yang terbuka lebar. Tak ada isi atau perabot rumah. Tetapi  lantai dan dinding dalam mkondisi bersih. Ada beberapa helai karpet tergulung di sudut ruangan. Tak ada satupun penjaga yang bias saya tanyai atau saya ajak berbincang tentang rumah yang plang bagian depan bertuliskan Kampus Perjuangan. Terbayang oleh saya betapa heroic nya suasana kala itu. Betapa ramainya para pejuang pejuang berkumpul untuk mendirikan sebuah Kabupaten dalam sebuah provinsi dari campur tangan penjajah. Sungguh saying jika kini bangunan seindah ini malah hanya jadi bangunan sunyi tanpa penghuni apalagi tanpa kegiatan yang bernilai sejarah terjadi di sekitarnya. Cukuplah saya photo photo dan mengagumi sekeliling rumah yang sunyi itu. Selanjutnya saya berniat mendatangi sebuah rumah adat yang sebenrnya sejak kedatangan pertama dulu ingin sekali photo disana.


kondisi Rumah Adat yang di beri Spanduk cukup mengganggu estetika mata dan photography

BUBUNGAN TINGGI

Bangunan bernilai sejarah selanjutnya dalah Rumah Adat Suku Banjar nan khas bernama Rumah Banjar Bubungan Tinggi.  Di sini, saya melihat ornament khas Banjarmasin tempo dulu dengan menggunakan Kayu sebagai keseluruhan bangunan.  Pada masa kerajaan Kanjar, rumah Bubungan Tinggi diperuntukkan bagi para raja dan pangeran kerajaan banjar. Bentuk atap dan keselluruhan bangunan yang sangat khas.  Sayangnya, rumah adat ini malah di jadikan basecamp untuk para satpol PP, sesuatu yang tak sesuai. Mengapa tidak jadi bagian dari daya tarik kunjungan wisata dengan menghadirkan para narasumber, budayawan atau duta wisata daerah yang berkantor disini.  Yang membuat saya jengkel selanjutnya adalah adanya peletakan spanduk ucapan ulang tahun kabupaten Hulu Sungai Selatan tepat di depan rumah adat. Sangat mengganggu pemandangan!. Nilai luhur dari rumah adat tiba tiba berkurang dengan spanduk yang mengganggu estetika itu. Begitu banyak space di bagian halaman atau pagar pinggir jalan yang dapat di jadikan tempat peletakan spanduk, mengapa harus persis di depan bangunan?. Entahlah. Bisa jadi pemasang spanduk hanya pasang tanpa instruksi yang jelas dari atasan. Atau atasan pun tak menganggap bahwa spanduk yang di pasang persis di depan bangunan itu mengganggu?.  Saya hanya bisa berguman kesal.

Puas mengabadikan bangunan dari beragam sudut bagunan Rumah Bumbung dengan kamera HP yang nyaris lowbat, saya kembali membawa CRV pinjaman kembali ke Binuang. Tak ada satupun orang yang bisa saya mintai bercerita tentang bangunan bangunan unik tersebut. Bahkan Ibu Kabid yang meminta kehadiran saya dengan menelpon saya 3 kali di pagi hari pun menghilang tak berkabar bagai pemilik acara yang mengundang tamu lalu tamu nya di biarkan saja. Mungkin si Ibu Kabid sedang sibuk mengurusi ragam rangkaian acara. Okelah. Tak masalah. Toh saya menikmati kesendirian dengan melihat lihat sekitar kota, mencicipi banyak kue kue khas di sepanjang pasar, makan ketupat Kandangan sendiri. Dan yang paling penting beberapa hari lagi saya akan mendatangi Kandangan dan Loksado bersama Travel mates saya, dan tentu akan bertemu dengan Ibu Kabid itu lagi.

2 komentar :

  1. Nanti sekali-kali jalan jalan ke Benteng madang di padang batung atau mesjid su'ada di Wasah hilir pak hehe .

    BalasHapus
  2. Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat, hikayat, legenda, situs sejarah dan situs prasejarah kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Situs pemukiman hunian kuno manusia prasejarah di situs jambu hilir padang rasau dan situs jambu hulu sungai tatau, Sang maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang dan raja bagalung kerajaan bakaling, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba di sungai paring dalam, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin, tumenggung mat lima dan tumenggung mat jingga mempertahankan benteng gunung madang, datu ali kangsa dan datu ali syahid di durian rabung, panglima bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais, datu ali akbar dan datu jaya pati di bamban, datu gulama di sungai paring, datu janggar dan datu janggaran di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam tumenggung kartawedana, datu haji sahid dan datu haji said, datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan letnan dua Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, bagambir, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, tabihi, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan kalimantan.
    Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    BalasHapus

Scroll To Top