Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Senin, 01 Desember 2014

SABUNG AYAM ; ANTARA TRADISI DAN BUDAYA JUDI


Ayam Jago  yang  siap di Adu.


Sabung Ayam. Adalah sesuatu yang tak asing bagi saya. Sejak kecil saya kerap mendengar kata itu, bahkan juga pernah melihat orang orang di kampung halaman dimana saya dilahirkan melakukan Sabung Ayam sebagai bagain dari tradisi kampung.
Yang saya ingat – dahulu dikampung, sekumpulan pria deawasa dan bapak-bapak berkumpul di hari tertentu sesuai jadwal kegiatan mereka menyabung ayam. Sabung ayam di mulai pada sore hari lepas waktu Ashar. Ketika saya kecil, moment ramainya orang orang berkumpul dalam gelaran sabung ayam adalah hal yang menyenangkan. Bagi saya – kala itu, bukan perkara sabung ayamnya yang saat itu kurang paham bagaimana aturan jelasnya, tetapi dapat uang logam hasil saweran para sodagar kampung yang kaya adalah incaran utama.

Saweran. Ya tradisi saweran adalah bagain dari kebersamaan yang seru warga kampung. Dari uang receh hingga lembaran nominal besar ada di sela berlangsungnya Sabung Ayam. Tak hanya itu, di acara akbar peringatan tujuh belas agustusan pun arena Sabung Ayam adalah gelaran yang di tunggu tunggu selain lomba lomba rakyat lainnya. Karena jika pada ajang peringatan HUT Kemerdekaan itu selain saweran juga ada banyak kudapan kampung yang bercitarasa istimewa. Seolah tak mau kalah dengan teman teman sebaya kala kecil dahulu, saya selalu bergegas lebih awal datang ke arena Sabung Ayam.

Itu acara Sabung Ayam yang saya tahu saat kecil.

Kini, 20 tahun berlalu, dan ketika kini saya di tugaskan di sebuah kecamatan bernama Binuang, arena Sabung Ayam kembali saya jumpai.
Saat sore menjelang. Ketika urusan tugas terselesaikan. Opik – begitu ia kerap saya panggil – kenalan akrab saya selama di Binuang, kerap menceritakan hal hal seru seputar Binuang yang ia tahu. Binuang tak hanya kecamatan di Kabupaten Tapin – Kalimantan Selatan saja, tetapi memiliki banyak kisah. Nah, salah satu kisah yang Opik kerap sampaikan ke saya  ialah tentang Arena Sabung Ayam.
Menarik untuk saya ceritakan, karena Sabung Ayam yang saya lihat langsung – karena ajakan Opik, ada banyak ragam. Mulai dari Sabung Ayam kelas para juragan kaya raya di Kalimantan Selatan hingga Sabung Ayam sebagai hiburan rakyat biasa di desa desa, bahkan ada pula Sabung Ayam yang merupakan arena Judi dengan setting-an ala kadar tapi nilai nominal uang taruhan mencapai jutaan rupiah.

Suatu kali, Opik membawa saya dengan motornya ke sebuah gudang. Sebelumnya Opik telah sampaikan ke saya bahwa akan melihat Sabung Ayam. Begitu sampai di tempat yang Opik maksud. Saya tak melihat ada suasana Sabung Ayam disitu. Hanya  gudang kayu yang berdiri kokoh dengan dua mobil jenis pick up pengangkut barang terparkir didepan gudang. Dan ada sebuah pos layaknya pos satpam, tapi ternyata hanya pos biasa yang juga tak ada isi apa apa. Bahkan tak ada satpamnya. Di bagian dalam dari gudang justru yang menarik. Ragam rupa pria pria berkumpul, saling berteriak dan meng-elu-elu-kan ayam jagon mereka. Sebuah arena pertarungan terpampang di hadapan saya.
Tak ada yang istimewa.  Jikapun ada taruhan hanya taruhan sederhana.

Di lain waktu, Opik membawa saya ke pusat kota di Banjarmasin. Sejak keberangkatan Opik tak pernah berkisah tentang Sabung Ayam. Ia hanya menyampaikan akan membawa saya melihat sebuah acara akbar. Saya pun tak pernah bertanya. Karena tiap di ajak ke pusat kota saya sudah cukup bahagia. Tak perlu lah yang lainnya.
Setelah tiba di pusat kota Banjarmasin, Opik membawa kendaraan ke sebuah komplek perumahan.  Tak ada yang istimewa menurut saya, hanya komplek perumahan biasa.  Terlihat dari bentuk bangunan rumah hingga orang orang yang lalu lalang nampak sederhana. Jikapun ada kendaraan pribadi hanya beberapa. Di sebuah jalan dekat dengan kumpulan pedagang jajanan gerobak Opik menghentikan mobilnya. Ia mengajak saya mengikutinya.
Saya diajak memasuki sebuah rumah dengan gerbang kokoh dan tinggi. Jauh diatas tinggi tubuh saya. Di bagian halaman depan rumah terparkir beragam merek mobil mobil ber tipe terbaru dan cukup modern. Saya mengira bahwa pemilik rumah pasti orang kaya. Uniknya, Opik tidak masuk ke rumah melalui pinta depan layaknya orang bertamu. Ia malah mengajak saya masuk lewat pintu samping yang ukuran pintunya lebih kecil hingga saya harus menundukkan kepala agar bisa melalui pintu tersebut.  Kemudian kami melalui lorong yang cukup luas. Saya sempat melihat ada bagian dapur dan mesin cuci di dekat lorong. Lebih kurang 10 meter berjalan di lorong kami tiba di hamparan tanah yang luas. Bagai halaman belakang sebuah rumah. Ada banyak pohon mangga lengkap dengan buahnya yang berjuntaian.  Yang menarik mata saya bukan mangga yang berbuah dengan lebatnya tetapi justru suasana di halaman yang banyak pohon mangga itu. Di sana saya lihat bapak bapak berpenampilan perlente di beberapa sudut lalu ada pula tipikal bapak bapak pesuruh yang membawa bawa ayam dengan bungkusan eksklusif bagai ayam bernilai puluhan juta rupiah. “setiap yang perlente itu boss, dan mereka membawa ayam yang di bawa oleh anak buah mereka masing masing. Sesaat lagi pertarungan Sabung Ayam kelas atas dimulai.” Ucap Opik setengah berbisik kearah ku.
Sesekali Opik menyapa beberapa bapak bapak bergaya necis dengan bahasa khas Banjar. Saya pun sedikit paham maksudnya. Nampaknya Opik sedang membaur dengan semua yang ada di arena. Karena sejak kedatangan kami tadi beberapa mata nampak curiga. Mungkin karena diri saya asing bagi mereka atau mungkin mereka takut saya memata-matai mereka.
“jangan mem-foto apapun di sini. Simpan HP mu!.” Opik mengingatkan. Kali ini volume suaranya cukup tegas dan sangat terdengar kasar di tellinga saya. Saya meng-iakan dengan anggukan.
Sepanjang acara, saya hanya mengamati.  Tak mem-photo-photo seperti kebiasaan saya biasanya. Memilih melihat beragam hal hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Bagaimana  rumah yang tampak luar biasa saja malah di bagian dalam sedang berlangsung sebuah ajang Sabung Ayam yang berskala besar. Sesekali saya mengerjibkan mata melihat lembaran uang seratus ribu rupiah dalam tumpukan banyak ada di sebuah meja yang di jadikan sebagai uang taruhan. Yang menang tentulah akan kaya mendadak. Yang kalah pun pasti rugi besar. Ada unsur judi di Sabung Ayam kelas atas ini. Judi yang saya tahu memakai kartu remi kini tak hanya itu. Ayam pun jadi alat. Ayam ayam yang tangguh dan dapat mengalahkan kekuatan ayam lain sesuai dengan batas waktu yang di tentukan akan keluar sebagai pemenang. Tak jarang ada beberapa ayam yang sampai terjatuh  - mungkin pingsan atau bahkan meregang nyawa dalam arena. Jika itu terjadi maka ayam yang kuat bertahan dengan gagah berdiri adalah pemenangnya. Dan sudah barang tentu para petaruh dan tuan ayam yang menang akan mendapat keuntungan besar atas uang taruhan yang di kumpulkan di meja taruhan sebelum pertandingan tadi di mulai.

 
Areal Sabung Ayam

Plang peringatan yang mengecoh

saya berdiri di atas kandang ayam untuk menyaksikan pertandingan Sabung Ayam

secara diam diam berhasil mengabadikan moment Sabung Ayam



Pada Jum’at sore lalu, Opik lagi lagi menyambangi saya dan mengajak saya ke tempat Sabung Ayam dengan tipe yang lain lagi. Menurut Opik sabung ayam berikut ada unsur budaya nya tapi juga tetap ada aroma judi meski tidak begitu nampak terlihat. Opik lalu membawa saya ke sebuah perbukitan. Saya menikmati indahnya view dari atas bukit. Sesampai di puncak bukit. Ada pos satpam yang harus di lewati dan membuat Opik sesaat berbasa basi dengan bahasa Banjar yang saya mengerti. Intinya Opik meminta izin masuk kebagian dalam. Di bagian dalam dari arena bagai areal persawahan yang belum di tumbuhi padi itu terdapat beberapa mobil jenis kijang di parkir. Lalu Opik mengajak saya menuju sebuah jalan yang ada plang bertuliskan ‘Tempat Pembuangan Sampah’. Saya sempat heran mengapa Opik mengajak saya ke areal pembuangan sampah. Oohh… ternyata itu hanya plang tipuan. Tak berjarak dari plang sampah itu ternyata ada jurang dengan tangga undakan tanah ke bagian bawah dan di bawah telah terparkir banyak motor motor beragam merek lengkap dengan sebuah gardu besar dimana semua orang berkumpul dan memulai Sabung Ayam. Yang unik, beberapa sosok tua – seperti tetua adat, dengan tampilan bersorban kain ala kadar, tanpa baju dan bersarung setengah tiang, berkomat kamit bak seorang dukun membaca mantra. “itu ritual doa, Ndra” sela Opik saat saya terpana melihat adegan sang bapak tua.
“ itu salah satu budaya warisan suku Dayak pedalaman Banjar, sebelum memulai Sabung Ayam ada ritual memohon do’a.” lanjut Opik bagai tour guide.
“Mohon doa untuk Sabung Ayam?”, saya bergumam sendiri. Terdengar lucu. Okelah ini bagian dari adat.  Tak boleh membantah. Nikmati saja.
Saking saya menikmati moment itu  membawa saya mendekat ke bagian gardu besar dimana orang orang berkumpul. Hujan rintik mulai turun. Tak ada satupun yang menghiraukan. Semua orang sibuk denngan persiapan Sabung Ayam. Beberapa orang tampak merawat ayam ayam jagoan mereka dengan mengusap usap dan seolah memijat tubuh kekar ayam ayam Jago itu. Sebagain lagi membenahi arena yang nantinya akan di gunakan untuk gelaran Sabung Ayam. Saya ingin melihat arena Sabung Ayam dari dekat. Karena tubuh saya tertutup kerumuman orang orang, saya memutuskan naik ke kandang Ayam yang terbuat dari bilah bilah kayu kecil. Cukup kuat nampaknya menyangga badan saya. Dari atas kandang tempat berdiri saya melihat Ayam Ayam Jago sedang di persiapkan tuan mereka. Para ayam di beri ragam minyak yang bau nya menyengat sebelum di adu dengan ayam lain. Ketika adu ayam di mulai semua penonton sorak sorai. Berjerit gembira meski ada yang sumpah serapah karena Ayam nya tak sejago dugaannya.  “Jangan Photo – Photo mas…” ucap tegas  seorang pria saat melihat saya mengabadikan moment Sabung Ayam dengan kamera HP. Mas yang mengingatkan saya terlambat. Di HP saya telah ada beberapa photo yang saya ambil diam diam sejak tadi dating. Bahkan Opik pun tak tahu.

Opik membawa saya pada pertunjukan adu ayam yang tak biasa. Jauh dari apa yang selama ini saya tau dan yang pernah saya lihat ketika kecil. Sabung Ayam yang saat dulu saya tahu adalah ritual hiburan warga di waktu tertentu bahkan kala peringatan hari kemerdekaan Indonesia, kini bergeser pada hobby sekumpulan orang. Hobby Sabung Ayam bisa jadi adalah bagian yang tak bisa di bantah bahwa ada komunitas penggiatnya. Bagai para pelaku Sabung Ayam yang Opik ceritakan bahwa mereka berasal dari beragam golongan pekerjaan dan juga beragam tingkat usia. Bahkan anak anak remaja pun terlihat menjadi bagian dari Sabung Ayam. Bisa jadi di semua bagian provinsi negeri ini ada aktivitas Sabung Ayam. Tak menutup kemungkinan pula Sabung Ayam di daerah lain nyaris sama dengan yang saya lihat di Kalimantan Selatan. Bermula dari bagian budaya menjadi sebuah arena judi yang dapat menjadi pundi penghasilan bagi palaku Sabung Ayam sejati.

1 komentar :

  1. Nice Post !!!!

    BOLA899 merupakan Live Master Agent Betting House yang terbaik dan terpercaya dari semua Betting House lainnya.

    Gabung dengan kami dan dapatkan bonus sbb :

    PROMO SPORTBOOKS (COMMISION 0.25%)

    - BONUS DEPOSIT 20% UNTUK NEW MEMBER
    - BONUS NEXT DEPOSIT 5%
    - CASHBACK MINGGUAN 5% - 10% (DI HITUNG SETIAP HARI SENIN)

    PROMO CASINO

    - BONUS DEPOSIT 5% UNTUK NEW MEMBER
    - ROLLINGAN CASINO 0.8% (KHUSUS PRODUCT CASINO021)

    PROMO BOLA TANGKAS

    - PROMO BONUS 10% SETIAP DEPOSIT

    PROMO REFERENSI

    - BONUS REFERENSI SEBESAR 5% DARI DEPOSIT PERTAMA TEMAN YANG ANDA REFERENSIKAN

    Mengapa anda harus memilih Agen kami?

    - Pelayanan Costumer Service 24/7
    - Ditangani oleh orang - orang yang profesional
    - Turn over ringan untuk semua produk
    - BONUS menarik dan up to date
    - Kerahasiaan data anda terjamin
    - Proses DEPO / WD CEPAT cukup 2 MENIT!

    Untuk info lebih lengkap, hubungi kami di :

    * YM : Bola899_cs1
    * YM : Bola899_cs2
    * YM : bola899_cs3
    * Pin BB : 52E17695
    * We Chat : Bola889
    * Phone : +85587378951
    * Live Chat : http://bola899.com/

    Agen Bola | Agen Casino | Bandar Bola

    BalasHapus

Scroll To Top