Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 13 Januari 2015

MENYIMAK KEJAYAAN BIOSKOP BIOSKOP DI BANDAR LAMPUNG.

 
Lobby Bioskop Kim Jaya



..."emang dari dulu Bioskop di Bandar Lampung cuma 1 ya, Yah ?.  Tanya si Abang - Bujang pertama saya  di sabtu sore saat santai dalam percakapan seputar film.
"Dulu banyak Bioskop di Bandar Lampung." Sela  istri yang tampaknya menyimak percakapan saya dan anak anak.
"Sok tau.!" Seloroh saya segera ke arah istri.
"Lho kok Sok tau.? Emang Bunda tau." ujar istri seraya duduk mendekat.
"Bunda kan lahir dan besar di Bandar Lampung, sedangkan Ayah tinggal di Bandar Lampung saat SMA kan.?" jelas sang Istri yang langsung membuat saya terdiam!.



Bioskop Kim jaya yang Sempat jaya di masanya

Tampilan Kim jaya kini


Nah, berdasarkan bincang sore di sabtu yang cerah itulah akhirnya saya terpikir untuk melakukan napak tilas gedung gedung Bioskop di Bandar Lampung. Tak kalah semangat, anak anak juga berminat ikut serta plus Istri jadi pemandu beberapa lokasi gedung gedung Bioskop yang saya kurang paham letaknya.

1. Biskop King.
Ini adalah gedung bioskop paling Hits di tahun 80'an. Terletak di Jalan Teuku Umar - Tanjung Karang, bersinggungan dengan  pemukiman padat penduduk - Gunung Sari. Berada di kawasan ramai pinggir jalan. Kata 'KING' cukup familiar bagi warga yang sejak tahun 80an sudah tinggal di Bandar Lampung. Mulai dari King Supermarket And Departement Store,  Lorong King hingga Bioskop King.  Kini keriuhan suasana Bioskop kala itu tak dapat lagi di jumpai bahkan bangkai bangunan pun tak lagi dapat di lihat karena telah berganti dengan Gedung Juang dan rapatnya rumah penduduk Gunung Sari yang khas hingga kini.

2. Bioskop Sederhana dan Bioskop Raya 
Konon bioskop Sederhana dan bioskop Raya ini kerap jadi sasaran kalangan menengah ke bawah karena harga tiket yang lebih murah di banding Bioskop King. Bioskop Raya bersebelahan dengan Bioskop Sederhana. Terletak di kawasan Pasar Bawah - sebutan kala itu, yang bersentuhan dekat dengan areal Stasiun Kereta Api TanjangKarang sejak dulu. Baik Bioskop Sederhana dan Bioskop Raya kini telah hilang tak lagi berbekas karena telah berubah menjadi gedung besar bangunan pusat perbelanjaan modern - Ramayana dan terminal angkutan umum plus pasar sayur los bawah Ramayana. Bioskop Sederhana hanya tinggal nama dan cerita. Beberapa penduduk asli yang tinggal dekat dengan stasiun kereta api sejak dulu menceritakan betapa ramainya suasana Bioskop Sederhana dan lingkungan sekitar kala itu, jika malam minggu sekitar Bioskop Raya dan Sederhana berubah menjadi pasar malam.

3. Bioskop Golden.
Di awal tahun 1980, bioskop Golden adalah pusat hiburan menonton film paling 'happening'. Berjarak tak jauh dari lokasi Bioskop King dan Bioskop Sederhana, bioskop Golden menawarkan suasana lebih ramai. Bagaimana tidak, terletak di sebuah jalan padat kendaraan areal Pasar Tengah (sebutannya) dengan bangunan tinggi mencorong dan paling kinclong kala itu, plus pusat perbelanjaan bernama 'DIAMOND' menjadikan Bioskop Golden sebagai pusat paling glamour di kawasan Tanjung Karang. Terlebih ada banyak hotel hotel kecil bagi pelancong dahulu dan masih ada hingga kini. Bioskop Golden kini hanya tinggal wujud gedung dengan tampilan toko toko baju.
 
Bioskop  GOLDEN , yang telah beralih fungsi menjadi purat perdagangan

4. Biskop Odeon.
Setelah kejayaan Bioskop King, Bioskop Sederhana, bioskop Raya dan  Bioskop Golden perlahan runtuh. Hadirlah gedung bioskop Odeon atau yang akrab di sebut warga Bioskop Bambu Kuning - karena berada dalam satu gedung dengan pusat perbelanjaan bernama sama dengan kawasannya : Bambu Kuning. Bioskop ini terus hidup hingga awal tahun 2000. Saya punya banyak kenangan kala SMA kerap menonton film film silat khas Indonesia tempo dulu di Bioskop Odeon atau film film Indonesia bernuansa 'mesum' komplit dengan bintang layar perak nan seksi. Dengan harga tiket Rp.3.000 jadi sebuah hiburan mewah anak SMA kala itu.

5. Bioskop Jayapura.
Selain kawasan Tanjungkarang, Way Halim adalah sebuah wilayah di Bandar Lampung yang juga ramai. Bermula dari ragam areal perumahan menjadikan Way Halim sebagai kawasan padat pemukiman. Bioskop Jayapura adalah salah satu hiburan di Way Halim sejak tahun 90an. Menyajikan film film khas Indonesia kala itu. Saya masih ingat saat SMA di tugaskan oleh sekolah menonton film perjuangan di Bioskop Jayapura dan menulis kembali cerita film tersebut sebelum di kumpul. Kini Bioskop Jayapura masih menyisakan bentuk megah gedung masa lalu dengan berganti menjadi toko waralaba.

6.Bioskop Cahaya - Way Halim.
Berjarak sekitar 100meter dari Bioskop Jayapura. Dahulu Bioskop Cahaya Way Halim dan Jayapura yang sama sama terletak di jalan Ki Maja itu jadi pusat hiburan di Way Halim. Kini gedung Bioskop Way Halim yang bentuknya sedikit lebih kecil dari bioskop Jayapura telah beralih fungsi menjadi toko ragam elektronik.

7. Bioskop Kemiling.
Meski kala itu Kemiling tak seramai Tanjungkarang atau Way Halim, tapi di kawasan Kemiling memiliki bangunan Bioskop yang juga tak kalah megah pada masanya. Kini gedung Bioskop telah berubah fungsi menjadi toko waralaba.

8. Bioskop Apolo
Nama Bioskop ini langsung jadi perhatian warga di kawasan Panjang - kawasan penduduk dengan sektor industri pabrik paling banyak di Bandar Lampung sejak dulu. Bioskop Apolo terletak di pinggir jalan tak jauh dari terminal Kendaraan dalam dan antar kota. Saya pernah beberapa kali nonton film di bioskop Apolo karena letaknya tak jauh dari sahabat saya kala SMA.

9. Bioskop 21 Artomoro 1
Sebelum bangunan Departemen Store CENTRAL PLAZA (CP) saat ini, dahulu adalah bangunan megah di pusat kota bernama Artomoro - Departement Store. Dengan sarana dan fasilitas paling lengkap di Bandar Lampung kala itu. Di tahun 1980 hingga 1990an, Serangan film film Hollywood berkualitas dapat di simak di teater 21 Artomoro.

10. Bioskop 21 Artomoro 2.
Seolah melengkapi hingar bingar Trends film film Hollywood kala itu,  bioskop 21 (twenty one) hadir di gedung cabang Artomoro departemen store. Terletak di pinggir jalan utama kawasan Teluk Betung dan bersebelahan dengan pesisir teluk lampung. Kini gedung megah pada masanya itu telah jadi gudang dengan hamparan belukar tak terawat. Meski wilayah sekitar masih jadi wilayah padat aktivitas.

Kondisi Bioskop Queen - Teluk Betung kini - dulu sang primadona

11. Bioskop Queen.
Nama bioskop ini seolah ingin melengkapi kehadiran Bioskop King yang terletak di Tanjungkarang. Bertempat di jalan Ikan Kakap - Bioskop Queen adalah Bioskop paling pertama hadir di kawasan Teluk Betung. Berdiri pada awal tahun 1970 an menjadikan Bioskop Queen sebagai pusat keramaian paling bergengsi kala itu. Kala melihat bangunan Bioskop Queen dari dekat kita akan merasakan betapa Megahnya dunia hiburan perfilman hadir di Teluk Betung saat itu. 

12. Bioskop Mega Ria
Bertempat di lokasi padat penduduk dan aktivitas di Teluk Betung menjadikan Bioskop Mega Ria sebagai Bioskop tertua kedua di Bandar Lampung setelah Bioskop Queen. Dulu selain suasana ramai karena tontonan film film Indonesia ternama di masa nya, bioskop Mega Ria juga kerap di sebut sebagai Bioskop Cimeng - begitu sebutannya hingga kini. Kejayaan Bioskop Cimeng masih dapat di saksikan dari kokohnya bangunan Gedung yang kini berada dekat dengan keramaian pasar tradisional dan pemukiman padat.

Gedung Bioskop Mega Ria - Cimeng - Teluk Betung. megah dimasanya.

13. Bioskop KIM JAYA.
Selain peninggalan gedung gedung lampau, Kemegahan dan kejayaan kawasan Teluk Betung pada masanya juga dapat di lihat dari gedung Bioskop Kim Jaya yang sampai kini masih berdiri kokoh di pinggir jalan utama di Teluk Betung. Dahulu Kim Jaya adalah tempat menyaksikan film film romantis khas tahun 80 dan 90an hingga film film laga dan mafia mafia ala Tionghoa. Saya juga pernah beberapa kali nonton di bioskop Kim Jaya kala zaman SMA. Kini meski bentuk gedung masih membekas sebagai gedung bioskop lengkap dengan tata letak loket dan jarak pajang poster film, tapi aktivitas pemutaran film sudah tidak lagi terjadi. Bahkan seorang penjaga yang saya temui di sana mengatakan sedang di lakukan bertahap peremajaan gedung dan alih fungsi menjadi gedung serba guna atau hall event.



pintu masuk ke Teater 1  di Bioskop Kim jaya

Kondisi kini bagian dalam Lobby Bioskop Kim jaya


14. Bioskop Panorama.
Juga berlokasi di Teluk Betung, letak Bioskop Panorama tak jauh dari Kim Jaya. Bahkan sepanjang Kim Jaya dan Panorama adalah pusat keramaian sejak lampau di Teluk Betung. Suasana gemerlap perkotaan di Bandar Lampung mulai di retas sejak kehadiran Kim Jaya dan Panorama serta pusat hiburan malam lainnya di Teluk Betung. Pergeseran Trend kehidupan tak terbantahkan. Denyut bisnis bioskop Panorama telah runtuh jauh sebelum Kim Jaya menyusul gulung tikar di era akhir tahun 90an.  Kini gedung Bioskop Panorama tinggal bongkahan gedung tak bernyawa dan beraura. Meski terkesan seram namun ada kehidupan jual beli - perdagangan di sekitar gedung Bioskop yang hits dimasanya.



Bioskop Panorama kini

Panorama yang juga sempat jaya



Dari banyaknya nama gedung Bioskop yang saya uraikan diatas, belum termasuk beberapa nama bioskop yang sempat eksis di beberapa titik dalam kota Bandar Lampung pada masanya, di antaranya  ; 
Bioskop Apsara di jalan Agus Salim - Kaliawi.
Bioskop Rajawali di jalan Z.A. Pagar Alam.
Bioskop Sinar di jalan P. Antasari 
Bioskop Bumijaya di jalan Raden Intan
Bioskop Kadora di jalan Teuku Umar
Yang hingga kini nama nama bioskop tersebut hanya tinggal nama. Lokasi yang dulu gedung bioskop telah berubah fungsi menjadi pertokoan atau malah hilang berganti gedung gedung baru yang lebih modern. 


Bisnis Bioskop di tahun 1970-1990 marak seiring dengan produksi film Indonesia yang cukup banyak dengan harga tiket murah dan masyarakat yang belum banyak memiliki TV. Makin beranjak tahun, akses nonton film tak hanya Bioskop, tersedianya DVD dan VCD film menjadikan kemudahan tersendiri selain tayangan tayangan TV yang menjadi alternatif hiburan warga.  Selain itu, tak dapat di pungkiri bisnis gedung pemutaran film (bioskop) di nusantara harus mengalah dengan kedigdayaan 21 Group dengan termasuk Cinema XXI dan The Premier yang menguasai - bahkan cenderung memonopoli bisnis pemutaran film sejak lebih dari 2 dekade.  21 Group menguasai hampir 90 persen jaringan bioskop di Indonesia. Di tambah kehadiran Blitz Megaplez di tahun 2006. Bisa jadi semua itu menjadi salah satu alasan mengapa gedung gedung bioskop bisnis personal atau kelompok lokal yang sejak dulu eksis harus rela gulung tikar dan menghilang dari peredaran.

Pada kenyataannya, kini hanya tersisa 1 gedung bioskop - 21 group, itupun jadi satu dengan pusat perbelanjaan CENTRAL PLAZA di kawasan Tanjungkarang - gedung yang dulu bernama Artomoro. Kelak akan ada XXI di Mall Boemi Kedaton. 

Belum begitu piawai saya Menganalisa seputar bisnis bioskop dan jaringannya, tapi yang menarik bagi saya adalah gedung gedung Bioskop di Bandar Lampung yang ternyata ada banyak pada masanya serta mengandung banyak kisah di dalamnya. Setiap masa di wakili oleh sebuah gedung bioskop. Setiap personal memiliki segudang memori berkenaan dengan gedung Bioskop. 

Bermula perbincangan ringan bersama anak anak dan istri menjadikan saya mendatangi dan melihat langsung gedung gedung bioskop di Bandar Lampung yang tersebar di beberapa kawasan dengan mengulik kisah kisah menarik berkenaan dengan gedung gedung tersebut. 

28 komentar :

  1. Banyak juga ya om. sy cuma tau yg deket gereja itu om :D
    King bukan ya? lupa banget..hehe
    Duh jadi kangen Bandar Lampung :)

    BalasHapus
  2. Ya betul Bioskop King skrg sudah jadi Gedung Juang. Tak ada sisa bangunan nya

    BalasHapus
  3. Bagitu 21 Group berkembang dan beranak pinak, semua bioskkop di luar itu jatuh jadi kelas kambing semua. Habis film-film keren cuma diputar di gedung mereka sih..Monopoli distribusi film lah yang membuat bioskop2 di Lampung ini begini keadaannya sekarang

    BalasHapus
  4. Udahlah Mba Evi gak usah ketawa, aku jadikan Menteri PerFilm-an Aja biar senyum jutek khas Mba Donna di film kan hahhahahhahahaahhahahhahahhahahahhahahhahahahhahahahhahahahhahahahhahahahah

    BalasHapus
  5. Ya awal sekali bioskop di lampung thn 60 an adalah bioskop sederhana, pada waktu itu film yang tenar film India, bintangnya Kasmaboti, dan Juwita, ini cerita ibu saya pada waktu itu.biokop pada waktu itu merupakan sarana hiburan utama masyarakat, sampai ada istilah misbar(gerimis bubar) untk bioskop yang kala itu beratap langit, dan tempat duduk dari balok dan pohon kelapa.dan sebelum theather 21 hadir di artomoro, awalnya di bambu kuning plaza , lalu beralih ke artomoro, bambu kuning jadi biokop biasa saja setelah ditinggal theather 21.setiap bioskop menyimpan banyak kenangan dan peristiwa , kalo filmnya bagus, antrian panjang tak dapat dihindari dari calo tiket, dan ketika masuk ke pintu masuk , berdesak desakan, sampai tak menyadari kalo dompet yang ada di kantong celana bagian belakang sudah berpindah tangan alias dicopet.ha ha ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. seru banget memory bang raswan heheheheh

      Hapus
  6. eh banyak juga ya di lampung,, sayang harus pupus ketelan jaman :(
    VOTE!! bang indra jd Menteri Perfileman!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ide hayal Alan yaaah hahahahhaha amin aja deh

      Hapus
  7. Di daerah Bumi waras teluk betung ada namanya bioskop MISBAR (gerimis bubar), letaknya klo ga salah seputaran hotel pasifik samping gedung BCA sekarang. Saya rasa ini bioskop paling tua di Bandar Lampung, berdiri. kayaknya berdiri sebelum tahun 1970

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul....thanks bantu info hehehe

      Hapus
  8. Ha berkat artikel ini gw baru tau kalo bioskop yg gw nonton di pasar bawah bersama kluarga sewaktu ms kecil itu bioskop Raya/sederhana. Nonton film amitabachan, rumah di kampung sawah, skrg jadi tiserba Chandra. Tgl nyesot 5 mnt Dr rumah.

    Bioskop bambu kuning interiornya lumayan bagus. Keluarga pindah ke kompleks ruko di samping bambu kuning. Ga nyampe 3 mnt Dr bioskop, Dr ruko bs ngeliet aktivitas org2 di mall bambu kuning. Tiket dulu 2500. Untuk Anak2 lebih murah harganya. Bioskop bambu kuning jadi hiburan favorite keluarga. Sayang skrg keberadaannya sudah tergusur....

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kenangan masa itu inget banget yaaa hehehe....terima kasih berbagi kisah... salam kenal ...

      Hapus
  9. sebagai orang yang lahir dan besar sampai SMA di Bandar Lampung, beberapa bioskop itu pernah saya datangi, dulu waktu SD sampai SMA sy lumayan rutin nonton film di Bioskop. Biasanya seminggu dua kali. Megaria, Kim Jaya, Queen, Odeon, Golden, King, 21 artomoro, 21 sukaraja pernah saya jajaki. Tapi paling sering di Kim Jaya, soalnya gak jauh dari rumah.
    Sayangnya, sekarang bioskop itu sudah tutup. Kalau pulang kampung, pas lewat depan bioskop Kim Jaya sering bernostalgia sekaligus miris. Oh seandainya distribusi film gak dimonopoli, mungkin kita masih bisa menonton film di bioskop dengan biaya yang gak menguras kantong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh terima kasih berkenan menitipkan comment pada tulisan saya ini.... begitulah, kenangan akan sebuah tempat. terkadang tempat yang dulu bagian dari sejarah hidup malah kini telah tiada..

      Hapus
  10. Bioskop Panorama adalah tempat yang punya banyak kenangan bagi saya dan keluarga ,...jika Buyah (Ayah) setiap weekend selalu kasih kesempatan untuk nonton bersama...hahahha ada lucunya jika duduk di posisi atas maka kita akan merasa nyaman karna angin sepoi sepoi ga perlu ac..dengan duduk di kursi kayu...sambil ketawa lepas kebahagian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahhh Memory nya bagus banged yaaa.... kebayanglah masa seru kala itu yaaa...heehehehe pasti film lawas yang skrg masih di putar yaaa..

      Hapus
  11. setahu saya bioskop tertua di bandar lampung itu bioskop KIM dahulu bioskop tersebut bernama bioskop KIM Jaya yang mengambil nama dari sang pemilik yakni KIM PHONG berdiri antara 1947 - 1948, sekitar tahun 1960 berdiri bioskop Panorama, sedang kan bioskop queen adalah bioskop paling mewah dan begengsi dimasanya thn 70 an

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih berbagi kisah soal bioskop....skrg hanya perusahaan raksasa XXI

      Hapus
  12. sempat merasakan bioskop kemiling dan golden... he

    BalasHapus
  13. Pringsewu yg notabene kota kecil juga punya beberapa bioskop, namun telah lama berubah fungsi jadi hall event, pertokoan dan gedung walet.
    Pengen rasanya sebagai anak muda merasakan kedigdayaan masyarakat lokal.
    FYI aja min, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terima kasih berbagi kenangan soal bioskop....yaaa memang aktivitas masyaraakt lokal menarik untuk di simak

      Hapus
  14. Bang.. baca-baca artikelnya, saya jadi kangen sama home town. Jadi ingat masa kecil dan remaja di Lampung. Tapi kalo pas kunjungan ke Lampung lagi rasanya sudah beda. Gak seperti dulu. Thanks ya Bang untuk tulisan-tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, zaman berubah suasana juga berubah, tinggal persepsi kita aja yang harus tetap mencintai daerah asal muasal kita. salam kenal yaaa

      Hapus
  15. Di Panjang masih ada lagi namanya Panjang Theatre sekarang udah jadi indomaret..

    BalasHapus
  16. Di panjang masih ada satu lagi namanya panjang theatre tapi sekarang udah jadi indomaret

    BalasHapus
  17. Sebelum bernama bioskop ODEON, bioskop ini bernama bioskop bambu kuning. Dulu genre film2 yg diputar adlah film perjuangan dan pendekar /action dan kungfu misal: Jaka sembung. Sibuta dari goa hantu d.l.l.bintang2nya Barry prima,Advent bangun, George Rudy, Jacky Chan. Aku dulu nonton Jaka sembung sampai 4 episode ditahun 80 sampai 85 an

    BalasHapus
  18. pertama kali nonton kebioskop sederhana waktu SD dan pernah dipalak preman waktu pulang nonton di bioskop panorama, rmh saya di kampung sawah waktu SD sampai SMA

    BalasHapus

Scroll To Top