Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 16 Februari 2016

SEPENGGAL KISAH, SUATU PETANG DI GUDANG LELANG



suasana pasar ikan Gudang Lelang Bandar Lampung
suasana pasar ikan Gudang Lelang




…”Ayah tunggu di depan gang aja, nanti si bapak nemuin dan bawa barangnya.”
Begitu istri saya berucap melalui telepon yang meminta saya sepulang kerja untuk mengambil ikan giling pesanannya.

Istri saya, berikut keluarga besarnya telah terbiasa melakukan pemesanan ikan giling atau bahkan hasil laut lainnya dalam jumlah banyak pada penjual ikan langganan mereka. Untuk harga jual yang tidak terlampau tinggi, penjual ikan pihak pertama adalah pilihan tepat. Terlebih selisih harga yang lumayan untuk dialihkan pada pengeluaran lainnya.

Rinai hujan telah menghias perjalanan saya dari kantor menuju Gudang Lelang. Sebagai salah satu pusat transaksi hasil laut antara tengkulak ikan secara langsung pada nelayan, Gudang Lelang – beralamat di jalan Ikan Bawal Teluk Betung,  telah menjelma menjadi denyut pertumbuhan ekonomi baik kelas kecil, menengah maupun industri besar. Sejak masa sekolah menengah atas hingga kini berkeluarga, saya telah mengenal kawasan Gudang Lelang. Dari kawasan jual beli ikan sederhana kala itu, hingga menjadi pasar ikan skala besar saat ini. Tak lupa saya mengganti seragam dengan kaus oblong dan celana pendek sebelum memasuki kawasan Gudang Lelang. Kurang sedap rasanya jika berkeliaran di pasar ikan dengan seragam kantor yang formal itu, heheheh.

Suasana nelayan pengangkut hasil laut tangkapan di kawasan Pasar Ikan Gudang Lelang.


Semakin sore, hujan turun semakin deras. Meski beberapa nelayan terlihat merelakan tubuh mereka dalam deraan hujan. Aktivitas nelayan dan beberapa pembeli tetap berlangsung. Saya singgah berteduh dibawah sebidang atap warung yang menjual sayur mayur tepat di depan pintu masuk kawasan Gudang Lelang. Seperti arahan istri, saya harus menunggu bapak penjual ikan langganannya itu di depan gang tepat di sebelah bagian pintu masuk kawasan Gudang Lelang.

Tiga puluh menit menunggu. Saya belum juga bertemu sosok bapak yang membawa ikan giling pesanan istri saya. Nomor ponsel si bapak yang diberikan istri saya tak dapat dihubungi. “Diluar Service Area” – begitu kata operator seluler. Saya kemudian memutuskan memasuki lorong gang dan mencari letak rumah bapak penggiling ikan berdasarkan arahan istri saya. Tak begitu yakin, karena hanya bermodal nama si bapak penggiling ikan saja.

kondisi jalan dalam kampung nelayan Gudang Lelang

Suasana salah satu sudut dalam kampung nelayan


Malu bertanya sesat dijalan.
Begitulah kiranya jika saya tak memberanikan diri bertanya kebeberapa orang yang sore itu sedang hilir mudik di gang kecil yang saya lalui.
Tidak terlampau sulit bagi saya mengikuti arahan beberapa orang yang saya tanyai letak tempat tinggal si bapak penggiling ikan. Diantara gang sempit yang saya lewati terlihat aktivitas sore beberapa warga yang tinggal diantara bentuk rumah yang bersinggungan satu sama lain. Aroma laut terhendus jelas dalam susunan rumah panggung nan khas perkampungan nelayan. Hamparan sampah cukup mengganggu pandangan mata saya selama perjalanan mencari letak rumah si bapak penggiling ikan. Ternyata tak semua pemilik rumah menyadari betapa bahayanya buang sampah sembarangan ke perairan laut lepas dimana rumah mereka berada. Belum lagi dampak penyakit yang dapat timbul oleh genangan sampah dibagian bawah setiap rumah warga. Bagi saya, hamparan sampah yang terlihat sepanjang menyusuri gang sungguh mengkhawatirkan.

 
si bapak penggiling Ikan langganan istri saya

Setelah berjalan lebih kurang 300 meter kebagian dalam kampung nelayan plus bertanya pada beberapa pihak akhirnya saya sampai di kediaman bapak penggiling ikan tersebut. Wajahnya tetap ramah menyambut saya, meski tubuhnya nampak lelah dibalik mesin penggiling ikan. Ternyata ponsel si bapak penggiling ikan dimatikan karena keinginan si bapak fokus bekerja. Begitu ia menjelaskan.


Saya diminta menunggu beberapa saat oleh si bapak penggiling ikan. Ternyata ikan giling pesanan istri saya belum sepenuhnya selesai.
Sesekali saya ajak si bapak penggiling ikan berbasa basi. Sekedar bertanya seputar lingkungan rumah dimana bapak tersebut tinggal.
warga sini pernah kerja bakti bersih bersih sampah gak pak ?.” tanya saya dengan harapan dapat mengetahui mengapa genangan sampah begitu banyak di kampung nelayan ini.
“ pernah mas.” jawab si bapak. “lumayan sering malah.” lanjut si bapak sejurus kemudian.
Sampahnya masih banyak aja ya Pak,?.” tanya saya lagi.
itulah mas, kampung ini seperti menjadi persinggahan sampah dari beberapa daerah yang dekat dengan Gudang Lelang.” jelas si bapak penggiling ikan sembari menyerahkan ikan giling pesanan istri saya.
Ingin rasanya saya berbicang lebih lama dan bertanya lebih jauh seputar kepedulian masyarakat kampung nelayan dekat Gudang Lelang pada sampah. Tapi bahasa tubuh si bapak tampak tidak begitu tertarik membicarakan seputar sampah dan lingkungan tempat ia tinggal.
Saya pun menyudahinya.
Saya sempat memphoto aktivitas si bapak ketika menggiling ikan  sebelum izin pamit pada si bapak setelah membayar ikan giling pesanan istri saya. Senyum ramah si bapak melegakan hati saya  saat meninggalkan kediamannya. Bayangkan jika wajah si bapak cemberut. Yakin ia akan membenci saya dan tak akan lagi meladeni pesanan ikan giling istri saya. Hahaha.

Hujan semakin deras. Lebih deras dari saat saya tiba di bagian depan kawasan Gudang Lelang. Diantara atap atap bagian depan rumah yang bertautan saya menyelamatkan diri dari serangan air hujan.

Suasana pedagang hasil laut di sepanjang jalan kebagian pasar Gudang Lelang


Tetaplah saya menyerah pada guyuran hujan meski kesigapan saya menyelinap diantara atap atap rumah sepanjang lorong kampung nelayan sore itu. Saya memutuskan duduk mendekatkan diri di depan kios yang sudah tertutup rapat dengan terpal orange sebagai atap terasnya.  Seorang ibu paruh baya duduk tak jauh dari posisi saya yang sedang berteduh. Si Ibu berjualan gorengan hasil laut. Ia sendirian. Diantara produk minuman instan siap seduh yang tergantung rapih di depan kios.
gorengan mas ?,” si Ibu menawarkan dagangannya pada saya ketika wajah kami berpandang mata.
ada apa aja bu ?,” tanya saya sembari mendekatkan diri kearah si Ibu.
banyak mas, masih lumayan anget,” jelas si Ibu berpromosi.
Sesaat saya melihat gorengan yang dijajakan si Ibu.
Tidaklah saya tertarik.
Pertama saya tidak sedang lapar, kedua saya tidak terlalu suka gorengan.
tiap sore hujan terus mas. Gorengan Ibu kena ujan juga.” ucap si ibu kearah saya.
Saya melihat si ibu yang duduk berjualan sembari tersenyum seadanya.

Beberapa penjaja hasil laut terlihat berdiam diri di depan kios mereka masing masing tak jauh dari posisi saya dan si Ibu penjaja gorengan. Beberapa diantaranya perlahan berkemas. Malam akan datang sesaat lagi. Saya memandang bagian dalam pasar ikan Gudang Lelang yang ramai. Diantara lalu lalang pembeli dan pedagang, derasnya guyuran hujan, si Ibu penjaja gorengan tetap mengumbar senyum ramah pada setiap orang yang melalui dagangannya.
gorengan bu… silakan mba….” sapa si Ibu penjaja gorengan ke setiap orang yang lalu lalang.
Saya memutuskan mengambil gorengan pentul bakso ikan bergagang.
“kasih sambel lebih enak mas…” terang si Ibu menyodorkan semangkuk saus sambal kearah saya. Ada senyum renyah di wajah si Ibu. Sungguh saya terharu melihatnya. Bisa jadi ia senang karena akhirnya saya mencoba apa yang ia jajakan.
“ sudah lama berjualan disini, bu?” tanya saya berbasa-basi sambil menengok jenis gorengan lainnya.
sudah mas.” sahut si Ibu singkat. “sejak anak anak saya kecil sampai mereka sudah besar.” terang si Ibu kemudian.
Diam diam saya mengagumi rasa gorengan si Ibu. Terlebih ramuan sambalnya yang enak. Perpaduan pedas manis yang pas. Lumayan mengisi waktu menunggu hujan reda. Tidaklah mungkin saya menerobos hujan deras ke mobil yang saya parkir cukup jauh.
Ibu buat sendiri gorengan ini?” tanya saya memecah jarak hening antara saya dan si Ibu.
ia mas.” jawab si Ibu datar diantara hujan dan lalu lalang pengunjung Gudang Lelang.
anak anak Ibu pasti suka ya dengan gorengan buatan Ibu.” ujar saya sambil mengunyah gorengan kelima.
mereka sibuk semua mas. Sudah bekerja masing masing.” jelas si Ibu sekenanya.
Ada air muka yang membuat saya iba ketika melihat si Ibu menguraikan kesibukan anak anaknya. Tidaklah saya berkenan mengulik lebih banyak seputar kisah si Ibu dan keluarganya.  Akan terlalu lama saya berteduh, sedang petang menjelang malam dan malam ada tugas lanjutan yang harus saya lakoni.
Bu, saya makan lima.” ucap saya sembari memberikan lembaran uang seratus ribu rupiah padanya.
wah besar sekali uangnya. Belum ada kembalian, lho mas...” ujar si Ibu
Kembaliannya Ibu bungkusin gorengan aja.” pinta saya.
Semua?”. tanya si Ibu
Saya mengangguk. Si Ibu tersenyum riang. Ia tentu senang sebagain besar gorengannya tandas terbungkus saya – si pelanggan pertamanya di sela menunggu hujan reda. Saya sempat mengabadikan diri dengan latar belakang si Ibu yang sedang membungkus gorengan buat saya.

Saya dan si Ibu Penjaja Gorengan di Gudang Lelang.


kalau besok besok kesini lagi, mampir ya mas…” ucap si Ibu sambil menyerahkan sekantung plastik isi gorengan.
inshaAllah bu. Semoga ibu sehat terus ya…” ujar saya sebelum berlalu dari si Ibu yang memasang senyum hangatnya diantara rintik hujan.
Saya berlari kecil menuju parkiran dengan mengusung dua plastik besar berisi ikan giling dan gorengan diantara hujan yang sedikit reda.

2 komentar :

  1. Ga suka tapi abis lima gorengan? hehehehe...
    Ini salah satu cerita tangguhnya warga pesisir Bandar Lampung di kehidupan sehari-harinya.
    Salut buat mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul oom.... Mengenal mereka seperti belajar kekuatan Jiwa dalam menjalani kehidupan. Tetep berupaya, tidak mengeluh meski sebenarnya bisa di keluhkan.

      Hapus

Scroll To Top