Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 10 Februari 2016

GELARAN PESTA PERNIKAHAN LAMPUNG PESISIR.



Tata dekorasi dan bentuk Pelaminan khas Pengantin Lampung Pesisir atau Lampung Saibathin.



Saya langsung terpukau dengan penampilan Ryan ketika ia menyambut kehadiran saya dan rombongan yang baru tiba di rumahnya. Lelah selama perjalanan 1,5 jam dari pusat kota Krui menuju pekon (desa) Bandar Pugung kecamatan Lemong – Pesisir Barat seketika hilang kala melihat tampilan Ryan begitu berbeda dengan balutan busana pengantin pria khas Lampung Pesisir.

Tampilan sepasang pengantin Lampung Pesisir atau Lampung Saibathin yang khas lengkap dengan pelaminan yang khas dekorasi adat istiadat Lampung
Sepasang Pengantin Lampung Pesisir atau Lampung Saibathin dengan busana dan aksesoriesnya.


Dalam adat istiadat, masyarakat Lampung terdiri dari dua suku asli, yakni ; Lampung Pepadun dan Lampung Saibathin. Lampung Pepadun adalah masyarakat Lampung yang tinggal di kawasan daratan atau dataran tinggi. Sedangkan Lampung Saibathin adalah masyarakat Lampung yang tinggal di dekat aliran laut atau pesisir. Itulah sebabnya,  masyarakat Lampung Saibathin kerap juga disebut sebagai masyarakat Lampung Pesisir.

Tampilan dekorasi dinding khas Lampung Pesisir yang menarik

 Ryan pagi itu nampak gagah dan bersahaja dengan balutan busana pengantin khas Lampung Pesisir. Sesetel beskap tutup berwarna hitam pekat tampak mewah berpadu dengan aksesoris kalung kalung menjuntai dengan bandul bermotif kuda laut– terisnpirasi oleh hewan hewan laut, dan koin koin emas. Tak lupa kalung jukum – kalung yang menyerupai buah pinang. Ryan juga melengkapi tampilannya dengan kain yang berbentuk kerucut sudut sebatas dengkul dan penutup kepala – tumpal dengan bagian ujung depan yang runcing. Persis dengan perlengkapan khas petinggi Skala Brak – Lampung Barat. Tak kalah menarik dengan penampilan Ryan,  Diar – sang mempelai wanita juga tampil memesona dengan balutan kebaya kurung berwarna merah menyala dan songket tenun khas Lampung Pesisir. Tak lupa aksesoris mempelai wanita sama bentuk dengan yang dipakai mempelai pria, tetapi lebih meriah dan bertumpuk. Bentuk siger mempelai wanita pun mengusung siger khas Lampung Pesisir dengan 7 sudut melengkung lekat menutup kepala. Tampilan mewah dan memukau tak terbantahkan.

Susunan kursi tamu, panggung hiburan dan pelaminan di bagian depan rumah yang lebih modern dengan sentuhan nuansa Lampung Pesisir.

bentuk  alap alap yang akan dibawa pengawal pengantin dalam prosesi arak arakan

 Yang membuat saya takjub selanjutnya ialah tata ruang khas pengantin Lampung Pesisir yang nampak melalui dekorasi penuh filosofi.  Pelaminan tradisional khas pengantin Lampung Pesisir tertata apik dibagian dalam rumah.  Bentuk pelaminan yang berasal  dari kasur yang ditumpuk berbalut kain kain songket khas Lampung Pesisir. Beberapa tapis motif pucuk rebung dan jung sarat bersanding diantara juntaian bunga bunga hias disekitar pelaminan.  Begitu juga kain warna warni dan berpayet juga tertata rapih di bagian dinding  dan langit langit bagian dalam rumah. Sungguh sebuah upaya keras menghadirkan ke-khas-an Lampung Pesisir dengan ragam warna untuk melengkapi kemeriahan suasana pesta.

Ucapan Selamat Datang yang terbuat dari jahitan manik manik terbentang di depan pintu rumah.

Bentuk Dekorasi dari Pelaminan Pengantin Lampung Pesisir.

Salah satu dekorasi di pintu kamar pengantin dibagian dalam rumah.


Selain bentuk pelaminan yang unik dan khas tersebut terdapat juga kain kain batik khas Lampung yang tertata apik dibagian kiri pelaminan. Menurut seorang ibu yang saya tanyai - kain kain yang tersusun rapih tersebut merupakan hadiah dari para kerabat terdekat yang kelak harus dijaga oleh kedua mempelai sebagai bagian dari persembahan turun temurun. Persis di dekat susunan kain batik pemberian kerabat tadi terdapat pula Tua Lelama – sebuah hantaran sesembahan yang berisikan sirih dan lampit (alas duduk pengantin) yang memang biasa dihadirkan dalam pernikahan Lampung Pesisir.

Kain kain pemberian tetua dan kerabat pengantin.


Tak hanya bagian dalam rumah. Bentangan kain kain dekorasi warna warni dan ucapan ‘Selamat Datang’ yang berasal dari sulaman manik manik cantik menghias bagian luar rumah – perwujudan ketekunan tehnik sulam hias tingkat tinggi. Terdapat juga Alap Alap – berupa bilah bambu setinggi 3 meter dengan bentangan kain batik khas Lampung Pesisir dibagian atasnya yang kelak akan diusung dalam arak arakan oleh para  pengawal pengantin.



ARAK-ARAKAN DAN BUTETAH

Prosesi arak-arakan pengantin dilaksanakan sebelum acara ceremonial resepsi pernikahan dimulai. Bermula dari ujung kampung hingga memasuki lokasi pesta. Bertindak sebagai pembawa acara, membuat saya tidak dapat leluasa mengabadikan moment arak-arakan. Terlihat oleh saya 12 Alap Alap – 6 di sisi kiri dan 6 di sisi kanan – diusung oleh 12 para pengawal pengantin. Dalam proses perjalanan arak arakan dengan iringan tabuh klenongan, kedua mempelai diapit oleh sepasang pendamping yang berbusana nyaris sama dengan pengantin utama. Dibagian belakang pengantin, turut kedua orang tua dan keluarga inti mengiringi perjalanan arak-arakan tersebut. 

Gambaran arak arakan dengan petugas pengawal pembawa alap alap.
 
tampilan arak arakan pengantin lampung pesisir atau lampung pepadun lengkap dengan pencak lampung yang khas.
Pelaku pencak khas Lampung pesisir beratraksi saat rombongan pengantin tiba di tempat acara

Ketika rombongan arak-arakan tiba didepan halaman rumah, terjadi pertunjukan pencak khas Lampung Pesisir yang dilakukan oleh pria pria paruh baya lengkap dengan iringan rabana dan syair syair islami. Saya yang saat itu berada di atas panggung sangat terhibur oleh sajian dari rombongan arak-arakan sebelum akhirnya kedua mempelai dan orang tua naik ke pelaminan yang ditata lebih kekinian namun tetap bernuansa Lampung Pesisir, di bagian depan rumah – berjarak dekat dengan panggung hiburan dimana saya berada sebagai pemandu acara.

Petugas pembaca Butetah yang merupakan pemuka adat di dalam masyarakat Lampung Pesisir/Saibathin


Untuk susunan acara resespi tidaklah terlampau berbeda dengan acara resepsi lain yang pernah saya pandu. Yang berbeda adalah adanya ‘Butetah’ – yakni sebuah prosesi penyampaian adokh (adat) dalam masyarakat Lampung Pesisir. Sebelum gelar disampaikan, penyampai Butetah yang merupakan pemuka adat dalam keluarga tersebut menyampaikan runutan kata kata petuah yang khas. Layaknya pesan pesan kehidupan yang diberikan oleh tetua adat pada kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan baru kelak.

Suasana Joget bersama tetamu yang hadir.


Rentetan acara berakhir tanpa ada kendala berarti.
Seperti biasa, diakhir acara para tamu dipersilakan memberikan ucapan selamat dan doa restu secara langsung pada kedua mempelai dan dua keluarga di pelaminan plus  photo bersama sebelum akhirnya dipersilakan menikmati hidangan prasmanan yang telah dipersiapkan keluarga. Sembari menikmati santap siang, para tamu disuguhi sajian lagu – lagu Lampung dalam balutan musik dangdut klasik yang cukup familiar ditelinga saya.  Lengkap dengan pemandangan joged bersama dari tetamu yang hadir. Bagai sebuah sajian yang menghibur khas masyarakat Lampung.

Sungguh sebuah gelaran acara pernikahan yang menarik disimak. Meski telah mendapat sentuhan modern namun tata laksana dari adat istiadat khas Lampung Pesisir tidaklah dihilangkan. Dan saya selalu kagum dengan pelaksanaan pernikahan yang masih memberi sentuhan kasanah adat istiadat daerah didalamnya. Itulah salah satu alasan utama saya berkenan menjadi bagian dari gelaran pernikahan Ryan di Pesisir Barat.

2 komentar :

  1. Bagusnya kedepan yg hadra maupun yg maen silat, menggunakan pakaian adat & yg sambutan menggunakan bahasa asli lampung

    BalasHapus

Scroll To Top