Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 03 Agustus 2016

PETUALANGAN SERU KE AIR TERJUN PUTRI MALU

Puteri Malu berselimut bebatuan eksotik - photo by Mba Dian @adventurose


Sarapan pagi buatan istri pak Ali di kampung wisata Gedung Batin jadi bekal energi tubuh  kami pagi itu. Setelah  sempat singgah di pasar Baradatu untuk membeli beberapa makanan dan minuman ringan dalam perjalanan, kami – masih dengan formasi ; Oom Yopie, Mba Katerin, Mba Dian, Mba Rian,  Mba Ross dan saya,  siap melanjutkan eksplorasi Way Kanan dengan menyambangi Air Terjun Putri Malu.

Tim Ekspedisi - Keluarga Ibu Ibu Ceria.

Perjalanan menuju Air Terjun Putri Malu akan kami tempuh lebih kurang 1 jam dari pasar Baradatu atau berjarak 46 km dari Blambangan Umpu - Way Kanan. Papan penunjuk arah ke objek wisata Putri Malu terletak jelas dipinggir jalan lintas. Jalan utama Baradatu memang merupakan salah satu akses yang lancar bagi mereka yang hendak bepergian hingga ke Sumatera Selatan dan provinsi lain di luar Lampung.  Rumah rumah penduduk dengan aktivitas yang harian mereka menjadi pemandangan dari balik kendaraan yang dikemudikan Oom Yopie.  Sesekali senda gurau mewarnai kebersamaan kami.  Kurang seru rasanya jika jalan jalan tanpa canda tawa. Dalam perjalanan beberapa kali Oom Yopie dan Mbak Katerin menghubungi bang Yazed. Berharap bang Yazed dan kawan kawan di Gedung Batin kemarin ikutserta dengan kami. Laju kemudi terus mengikuti rute jalan meski ponsel bang Yazed sulit dihubungi.

Rute jalan menuju Banjit

beberapa pematang sawah di sepanjang perjalanan

Suasana pedesaan di bagian kecamatan Banjit

Secara khusus, Oom Yopie pernah bertandang ke Putri Malu, itulah mengapa tidak terlampau sulit mengikuti rute jalan menuju lokasi tujuan.  – meskipun beberapa kali Oom Yopie berlagak tidak tau arah jalan. Sepanjang jalan, kami melihat aktivitas warga dengan rumah rumah berbaris rapi khas pedesaan. Ketika berlalu dari pasar Banjit, saya merasakan Dejavu ketika memasuki perkampungan dengan rumah rumah panggung tertata rapih. Seolah kembali pada masa kecil dahulu. Tumbuhan kopi, coklat dan jenis tanaman kebun menghiasi sepanjang jalan. Sesekali kami melalui area persawahan dan rumah rumah pondok.

Area Desa Jukuhbatu -  kecamatan Banjit - kabupaten Way Kanan.


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kami tiba di Desa Jukuh Batu dan singgah disebuah rumah yang menurut oom Yopie – rumah tersebut adalah rumah pak Lurah yang juga sekaligus rekan Oom Yopie dalam kunjungan sebelumnya. Sayang, si pemilik tidak ada dirumah. Kami sempat bersantai sejenak dibagian belakang rumah nan asri dan saya sempat memetik jeruk purut yang berbuah lebat. Sempat juga niat memetik papaya matang di pohon – namun dilarang Oom Yopie. Karena tak ada pemilik rumah, kami bergegas menyiapkan diri  menuju Putri Malu yang merupakan tujuan utama kami.  Pengendara sepeda motor telah siap berkumpul mengantarkan kami kearah tujuan. “Butuh 40 menit berkendaraa melalu medan jalan yang tak selamanya mulus”.- ujar salah satu dari  6 pengendara motor yang akan kami tumpangi.

Mba Rossana dengan driver andalannya

kontur jalan yang kami lalui

Kondisi medan terjal menuju Putri Malu


Kami pun sigap bersiap dengan kondisi hujan mulai rintik.  Karena rute tujuan yang terjal,  kami pun menyiapkan bekal seperlunya agar tidak terlalu merepotkan selama perjalanan.  Motor motor modifikasi khusus pun kemudian beriringan mengantarkan kami. Jiwa jiwa pengendara yang mahir mengendalikan kemudi. Jalan terjal, berbatu, tanah merah basah dan berlumpur menjadi tantangan tersendiri selama perjalanan menuju Putri Malu. Hamparan ladang kopi menjadi akrab dimata kami. Aroma kembang kopi pun seolah menghantarkan perjalanan kami ke air terjun Putri Malu siang itu. Cuaca cukup bersahabat. Pasalnya, rintik hujan yang semula datang kini berubah mendung dengan sedikit bias cahaya matahari dari balik awan.

Photo dulu di titik istirahat untuk penyegaran

Beberapa rumah panggung warga dibagian areal perkebunan kopi


MENCUMBUI PUTRI MALU.

Saya sempat mengabadikan beberapa moment perjalanan dari atas  motor yang saya tumpangi., meski sesekali merasa ngeri dengan kondisi jalan yang dilalui. Bang Sultan – si juru kemudi motor modifikasi yang membawa saya sesekali menjelaskan beberapa spot yang kami lalui. Mulai dari perkampungan warga, jalanan mendaki, turunan terjal, jalan berkelok tajam mengikuti kontur perbukitan. Sesekali saya jumpai pengendara motor pembawa karung kopi  berpapasan dengan kami. Terlihat pula aktivitas beberapa petani dan warga yang rumahnya berjarak dalam garis kebun kopi dan coklat. Buat saya pribadi, rute jalan yang dilalui justru terasa indah dengan hamparan kebun, perbukitan dan pepohonan rimbun khas lahan tropis. Meski sesekali dibuat takjub dengan  badan jalan yang sempit dan kontur medan terjal berbatu. Wajar kiranya jika pengemudi motor motor modifikasi tersebut mematok harga Rp.100.000,- /orang untuk mengantar dan menunggu pengunjung di air terjun Putri Malu sebelum akhirnya mengembalikan pengunjung degan selamat ke tepat semula.

Hamparan Kebun Kopi sepanjang rute jalan menuju Putri Malu

bahagia karena tiba di tempat tujuan

Photo bersama para pengendara yang telah selamat menghantarkan kami ke Putri Malu

Kondisi jalan menuju Puteri Malu setelah area parkir kendaraan


Setelah rute menanjak, kini giliran rute turunan bertanah basah.


Setelah menjalani konvoi dan sempat berhenti dibeberapa titik untuk penyegaran, kami tiba di pelataran bagian dalam hutan  dengan rimbun pepohonan.  Lega rasanya tiba di lokasi tujuan. Suara gemericik air sungai yang terlihat mengalir deras dibagian bawah jurang seolah penghibur bahwa kami telah tiba di lokasi air terjun Putri Malu. Meski ternyata perjuangan belum berakhir. Saya dan rekan rekan masih harus berjalan mengikuti jejak setapak dengan kondisi licin.  Yang menjadi perjuangan selanjutnya adalah jalan menurun kebagian bawah air terjun dengan kondisi tanah liat dan  bebatuan dibeberapa bagian.  Kami berpegangan dengan sebilah ranting yang memang dipasang untuk penyangga bagi pengunjung. Kondisi Sungai yang  lengang dengan air terjun yang tinggi seolah menjadi obat bagi sukarnya perjuangan menuju ke lokasi. Terbayar tuntas ketika melihat gelegar air menukik tajam dari ketinggian 70 meter tergolek indah dibalik bukit Punggur.   Selain tingginya curahan air dengan debit air yang cukup besar, dinding dinding bebatuan yang terletak melengkung seolah mendekap jatuhnya air terjun lah yang menjadi daya tarik saya dan rekan rekan. – Tetiba saya teringat dinding bebatuan di film Jurassic park, hahahaha.  Bisa jadi lengkungan bebatuan yang indah itu seolah menjadikan air terjun bak seorang Putri berselimut permadani. Atau – bisa jadi pula karena jarak tempuh untuk melihat air terjun yang tidak mudah dan terbilang pelosoklah yang menjadikan namanya Putri Malu. Demikianlah kiranya beberapa pemikiran saya tentang asal muasal mengapa sebutan air terjun yang kami datangi tersebut bernama Putri Malu, Hehehehe.


Penampilan Air Terjun Putri Malu

Sungguh Anggun rupa Puteri Malu

selain sebagai photographer handal, kini Oom Yopie pun merambah jadi model endorse.

senda gurau di genangan air terjun putri malu. photo by Oom Yopie

...Endorse..... We'll always Love You ...uuu.....  photo by oom Yopie.


Ajang photo mengabadikan moment di sekitar air terjun dalam beragam sudut photo menjadi aktivitas kami selanjutnya. Selain bahagianya kami mandi bersama dalam kubangan air terjun yang dinginnya bagai es batu. – maklumlah, sejak pagi kami hanya gosok gigi saja, belum mandi karena niat mandinya di genangan air terjun. Hahahahaha.

Setelah mengabadikan diri di air terjun Putri Malu, - termasuk photo barang barang Endorse – “Endorse…..we’ll always Love You ….” … (nyanyikan seperti Whitney Houston dalam bagian chorus lagu : I Will Always Love You), …. Bahkan Oom Yopie pun mulai pose dengan barang barang pesen sponsor, hahahaha, ….. beberapa pengendara yang mengantar dan menunggu kami di lokasi air terjun mengajak kami untuk ke lokasi air terjun lainnya yang jaraknya tak jauh dari lokasi Air Tejun Putri Malu.  Wujud air terjun tersebut telah terlihat dari posisi air terjun Putri Malu berada. Hanya saja jatuhan air yang tidak sederas air terjun Putri Malu.   Air Terjun Batu Duduk – namanya. Dua pengendara motor membantu kami menemukan jalan setapak  menuju air terjun Batu Duduk yang talah lama pudar akibat jarang dilalui.  Tak banyak orang berkunjung ke air terjun Batu Duduk. Mungkin karena daya pikat Putri Malu lebih memesona daripada Batu Duduk. Tapi terlanjur telah berada dilokasi dan saying untuk dilewatkan, hanya Saya, Oom Yopie, Mba Katerin dan mba Ross saja yang menyambangi air terjun Batu Duduk. Setidaknya saya tahu secara langsung kondisinya. Meski tidak se-anggun tampilan Putri Malu paling tidak air terjun Batu Duduk memiliki keindahan tersendiri. Salah satunya pepohonan yang tegak  luruh menjulang dikiri dan kanan air terjun selain bebatuan yang bersahabat untuk di tempati. Berphoto tentu jadi tujuan saya. Selain  menyaksikan kegemaran mba Ross mengabadikan beberapa merek produk  di sekitar lokasi air terjun.  – Sungguh kagum saya pada pribadi visioner mba Ross. Maju terus mba Heli. Jangan ragu,  apalagi  Horni pagi pagi.!!!.Oops.!!

Membuka Rute menuju Air Terjun Batu Duduk

Menuju Air terjun Batu Duduk

Tampilan Air Terjun Batu Duduk

Photo untuk cover majalah Flora dan Fauna - photo by Oom Yopie


Bagi kamu yang tidak  berkenan berpanas-panasan, tergores gesekan rerumputan ketika melalui jalan terjal bebatuan, atau bahkan tipikal anak mama, saya sarankan untuk tidak perlu bertandang ke Putri Malu.  Karena objek weisata air terjun Putri Malu hanya untuk mereka yang gemar berpetualang dengan jenis wisata minat khusus.  Saya tidak berharap ada pembangunan modern dikawasan air terjun Putri Malu. Justru kesederhanaan menjadi daya tarik tersendiri. Hanya jika dapat, akses jalan diperbaiki lebih rapih saja. sehingga tidak terlalu beresiko menimbulkan kejadian fatal kala berkendara.  Selebihnya, saya menyukai semua yang ada di kawasan air terjun Putri Malu termasuk hamparan ladang yang menyenangkan untuk dipandang, selain air terjun Putri Malu  yang mengagumkan.

15 komentar :

  1. Sewaktu tiba di air terjun, aku tertegun melihat penampakan air terjunnya. Beda dari semua air terjun yang pernah aku lihat. Megah, gagah, tapi anggun.

    BalasHapus
  2. Petualangan sangat berkesan dengan seribu rasa dan cerita di dalamnya.

    Mas Indra....aku kok pingin nangis ya baca cerita ini :(
    Nangis kangen, nangis senang, nangis haru....

    BalasHapus
    Balasan
    1. yok lah kita trip next kemana dmana kita ...

      Hapus
  3. Kapan2 kita nginap di Juku Batu ya.
    menikmati suasana sejuk daerah bebukitan sambil makan ikan bakar/goreng di belakang rumah mantan kepala desa.
    btw, aku juga terharu nih baca tulisan ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah aku suka tuh yang begitu ...biar bisa petik buah pepaya yang kemarin gak sempat dipetik ..hahahahahha.....segeralah kita datangi lagi. yoklaH. kita CHEBOOOXX semuaaa...

      Hapus
    2. Mas Indra pingin banget tuh makan pepaya yang ga jadi dipetik itu haha
      Mukanya melas banget. Pas dibilang jangan ama mas Yopie, langsung flat, kayak muka penyanyi dangdut ngarep saweran wkwkwk

      Hapus
    3. Cukup melelahkan juga ya perjalanannya, tapi seru kayaknya

      Hapus
    4. Aku mauuuu mas Yopieee... pengen ngerasain ngopi di tempat yang kemaren ituh

      Hapus
  4. Sungguh benar adanya, banyak teman banyak rezeki. Sungguh aku sangat terberkati bisa berbagi kehangatan bersama sahabat di tempat eksotis ini. Ingin, lagi dan lagi...

    BalasHapus
  5. Ya ampuuun ternyata Lampung keren banget. Banyak tempat-tempat yang tersembunyi, hidden paradise.

    BalasHapus
  6. Wew! Bener-bener petualangan di pelosok Lampung. Bang, itu ojek ke air terjunnya memang senantiasa stand-by atau memang carteran?

    BalasHapus
  7. untuk tracking abisa berapa biaya ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. naek ojek tril 100 per orang pulang pergi ... dari perkampungan ke air terjun yaaa

      Hapus
  8. Kangen ya pingin ke air terjun putri malu lagi.
    kapan yuk oom..

    BalasHapus

Scroll To Top