Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 28 September 2016

SEJENAK MENGHIBUR DIRI DI WALKING STREET PATTAYA

Walking Street - Street Style Dancer

 “…kita meeting nya sambil ngopi yok!” sahut mba Ika – sesaat setelah tugas sepanjang hari usai
“…cari tempat yang asik lah..”lanjut mba Ika kemudian.
“ke Walking Street aja.”timpal mba Ana.

Walking Street ?, saya kok dengarnya seperti judul lagu Elvis Presley yaa?!. Hhmm – maklumlah saya kan belum pernah ke Thailand – terlebih Pattaya.
Yang saya tahu di Pattaya banyak wanita palsu. Alias dulunya lelaki dan kemudian berubah wujud menjadi wanita cantik. Lebih cantik dari wanita asli lho.! Please, jangan salah cari pasangan yaa… Hahahah.

Video saya dan teman teman menikmati naek mobil angkot khas Pattaya

Setelah diskusi dan tim SoulStories formasi lengkap kumpul dimuka hotel, kami memutuskan untuk menuju kawasan Walking Street.  Pukul 22.30 kala itu. Mengingat jumlah kami berenam, tidaklah muat dengan taksi kota biasa, kami pun memutuskan untuk naik angkutan khas Thailand. Berbentuk mobil dengan bagian belakang terbuka  beratap terpal dan berteralis besi ringan pada bagian kiri dan kanan badan mobil. Sekilas seperti angkutan pedesaan di pedalaman Indonesia.  Okelah. Sesekali memang kami harus mencoba sesuatu yang khas dari kawasan yang dikunjungi. Lagi pula ke negeri orang hanya tidur di kamar hotel saja, ya buat apa?, mending diam dirumah saja, tak usah ke luar negeri. Mumpung di negeri orang, saatnya lihat dan tahu secara langsung kondisi  kawasan. Terlebih menjajal suasana malam yang tentunya bisa jadi bagian dari kisah perjalanan.


bentuk mobil khas Pattaya yang kami coba


bagian depan Walking Street.

Meski hujan pengujung tetap ramai

 Sebenarnya, ajakan meeting mba Ika bukanlah sesuatu yang serius. Mba Ika – bahkan hampir semua dari kami ; mba Sari, mba Anna, Al, bang Alex dan Saya – berniat mengurai hal hal negatif  dan yang mendatangkan penat setelah seharian penuh dan beberapa hari sebelumnya berkutat dengan padatnya rutinitas.  Terkadang, menyenangkan diri sendiri juga perlu lho!. Selama hal yang dilakukan positif dan tidak merugikan banyak pihak, yaa, tak ada salahnya kan?, hehehe.

Jadilah malam itu, meski hujan gerimis datang sejak sore, tak mengurungkan niat kami berenam untuk sedikit merileksasi diri dan melakukan kegiatan tambahan diluar dari jadwal yang telah  tertulis.

mengabadikan kebersamaan  ditengah rintik hujan


Setelah tawar menawar  harga dengan sopir angkot, dan disepakati harga 300 bath, kami berenam diantar menuju Walking Street. Ternyata, dari posisi hotel dimana kami bermalam, kawasan Walking Street  terbilang  jauh.  Terletak di Pattaya Second Road – atau bagian selatan dari kawasan Pattaya. Walking Street sendiri merupakan kawasan hiburan malam yang terkoordinir dengan baik. Begitu tiba di kawasan Walking Street saya melihat ada screen LED besar tergantung dibagian depan kawasan seolah menjadi gapura selamat datang pengunjung. Lampu lampu bagian depan setiap bangunan menambah semarak suasana malam. Musik hingar bingar datang dari beragam  bangunan yang secara terbuka menawarkan hiburan malam. Mulai dari hiburan bernyanyai lagu Thailand, mandarin hingga Go Go Bar yang menjajakan beragam jenis musik ajojing hingga sajian penari super seksi.  Area Walking Street yang konon mencapai luas satu kilometer itu nampak padat dengan beragam jenis hiburan malam hingga beragam gerai café, bar dan diskotik.

Aksi ABG Street Style di tengah guyuran hujan

Sembari berlari kecil dan menyelematkan diri dari rintikan hujan, kami berenam mengikuti badan jalan utama Walking Street. Layaknya pusat hiburan malam bernuansa jalanan, Walking Street benar benar memberi ragam pilihan hiburan malam segala kasta. Mulai dari Diskotik kelas sosialita hingga Bar ala kadarnya  dengan sajian hiburan sederhana.

hangout time at Kafe - enjoy Ice Coke  and Juice

Karena tak kuat berjalan jauh hingga ujung Walking Street,  kami sepakat singgah di sebuah kafe – yang saya tak peduli namanya. Keputusan kami singgah di kafe tersebut lebih karena penerangan yang jelas – alilas tidak terlalu remang remang, selain awalnya kami  kepincut dengan live music yang disajikan oleh band yang tampilannya seperti  band top 40 di Indonesia.  Selain itu, segerombolan penari jalanan yang berajojing mengikuti irama  dibawah rinai hujan menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.  Lumayanlah, bersantai sejenak dari kepadatan aktivitas meski saya tak yakin kami benar benar  meeting seperti yang dibicarakan sejak awal. Meski beberapa hal penting memang disampaikan oleh mba Ika dan mba Sari. Beberapa hal saya paham, tapi beberapa lagi saya tak begitu ingat – tahulah, semarak musik dari band kafe dimana kami duduk begitu menggoda saya untuk mendekat. Mba Anna diam diam merasakan hal yang sama dengan saya. Gatal rasanya kaki ini untuk meliuk liuk di lantai dansa. Sebagai pribadi yang besar di dunia musik dan hiburan di Lampung,  jejingkrakan didepan panggung musik adalah hal wajib bagi saya. Sayang jika  sajian musik berkualitas dilewatkan hanya dengan duduk manis saja.  Apalagi sudah sampai lokasi hiburan terbesar di Pattaya. Kapanlagi moment ini terulang. Jikapun terulang tentu beda tokoh dan kisah didalamnya.


Enjoy the moment

Bergembira menikmati hentakan musik dari lagu lagu masa kini, seolah menjadi moment kebersamaan kami semua. Termasuk goyang Cheboox andalan saya. Apapun jenis musiknya, joged dangdut adalah hal utama!!.  Meski akhirnya kami tahu diri dan menyudahi kesemarakan malam mengingat waktu telah menuju dini hari dan sadar bahwa esok akan banyak tugas dan aktivitas yang harus dijalani. Menyenangkan diri itu wajib hukumnya, tetapi ingat akan tugas juga kewajiban yang utama. Baiklah, kami beranjak kembali ke titik awal dimana kami masuk area Walking Street. Gapura bertahta LED dengan tata cahaya yang menawan menjadi acuan langkah kembali kami.  Guyuran hujan semain deras. Tapi tingkat kunjungan semakin banyak. Beberapa menggunakan payung dan beberapa lagi melakukan hal seperti yang kami lakukan – berdesakan di muka pertokoan dan gerai gerai hiburan malam – mencari perlindungan dari serangan hujan. Sembari menuju jalan pulang,  diam diam saya sempat mengabadikan beberapa wanita berpakaian dalam yang menjajakan diri mereka di depan ruko khusus pertunjukan dewasa melalui ponsel yang saya sembunyikan dibalik tas. Lumayan malu jika kelakuan memotret saya ketahuan, meski sajian semacam itu menghiasi sepanjang jalan. Apa mereka tidak kedinginan ya?, ehehhe . 

sajian yang banyak di sepanjang Walking Street. Entah wanita asli atau palsu?!!

Cukup lama kami mencari mobil bak terbuka diantara banyaknya calon penumpang yang juga mencari mobil tumpangan untuk kembali ke tempat masing masing. Pukul 1.30 dini hari kala itu. Sudah waktunya kami istirahat meski sesaat. Mobil bak terbuka pun kembali mengantar kami kembali ke hotel dengan harga nego 200 bath dan seorang pria kebangsaan Jepang ikut menumpang rombongan kami. 

Malam seseruan yang berkesan. 

4 komentar :

  1. Kamu gak coba deketin cewe bikini itu kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya itu bukan cewek.. perempuan KW itu

      Hapus
  2. Terus Yang berdansa di sekitarmu cewek-cewek kawe juga kah Bang? Nah ya aku juga seperti itu kalau mendengar suara musik berdentam-dentam pengennya kaki ikut goyang saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kiri kanan sih wanita asli..tapi ada juga yang bukan di ujuang sana hahahahhahaha.... yaaahhhh namanya naluri biduan saya ini mbaaa jadi kalo denger musik langusng mau joged ajaaaa heheheh

      Hapus

Scroll To Top