Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Senin, 13 Maret 2017

NEGERI KATON - KAWASAN PENGERAJIN TAPIS LAMPUNG BERKUALITAS


photo by Kevin Addict


Siapa yang tak mengenal Tapis ?. Bila ada yang tak mengenal Tapis, saya yakin yang di tonton hanya sinetron dan serial turki masa kini saja. Oopss. Tidak bermaksud nyinyir yaaa, hehehe… Tapis yang merupakan seni sulam benang emas pada kain berserat tersebut,  saat ini bukan sesuatu yang asing layaknya limapuluh tahun silam. Kini, kain Tapis tak lagi sekedar selembar kain yang digunakan pada acara acara adat atau pertemuan sakral dalam kehidupan masyarakat Lampung saja. Lebih dari itu, kain Tapis kini bermetamorphosa dalam karya busana yang menawan, dipakai dalam setiap kesempatan, dikenakan oleh beragam kalangan, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, peragawati hingga jawara kontes kecantikan dan ketampanan dalam skala nasional dan internasional. Bahkan tapis telah terimplementasi dalam t-shirt santai yang dapat dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.


merangkai benang hingga menjadi kain tenun bernama Tapis - photo by Kevin Addict

Demikianlah pergerakan wujud dan fungsi dari kain Tapis. Sebuah kain dengan nilai budaya dan kandungan filosophi dari setiap ragam corak dan warna menjadi sebuah kekayaan yang merebak di beragam kalangan. Tak hanya menjadi identitas masyarakat Lampung saja, tetapi telah digemari oleh beragam kalangan dinusantara bahkan mancanegara.

salah satu motif tapis kreasi - photo by Kevin Addict
RAGAM KREASI TAPIS DI NEGERI KATON

Bicara soal Tapis, di Lampung – sebagai kawasan asal muasal kain Tapis, terdapat beragam pengerajin  kain tapis. Mulai dari bisnis berbasis home industry hingga usaha pembuatan kain tapis dalam skala besar. Nah, di kabupaten Pesawaran  terdapat sebuah desa yang sebagian besar ibu ibu dalam suatu desa tersebut menggeluti usaha pembuatan kain tapis.  Desa Negeri Katon namanya – jadi ingat lagu Negeri Diawan-nya Katon Bagaskara ya?, heheheh.
Menuju ke desa Negri Katon tidaklah sulit.  Cukup berkendara menuju pusat kabupaten Pesawaran  yang jarak tempuhnya  sekitar 1,5 jam  dari kota Bandar Lampung. Meski belum tersedia angkutan umum menuju desa Negeri Katon, tapi akses jalan raya menuju Negeri Katon terbilang baik.

Ibu Diah - salah satu pengerajin Sulam Tapis di Negeri Katon - photo by kevin Addict

Memasuki desa Negeri Katon, tak ubahnya seperti desa desa lain dalam kawasan provinsi Lampung. Rumah rumah sederhana berjajar rapih di kiri dan kanan jalan utama. Tanaman hijau nan rimbun nyaris menghias di setiap halaman rumah yang luas. Suasana asri langsung terasa. Terlebih ketika kita berpapasan dengan warga setempat. Keramahtamhan langsung terasa. Bagi pengunjung yang suka menyimak bahasa lampung asli, di desa Negeri Katon akan mudah menjumpai warga bertutur sapa dengan bahasa Lampung pepadun. Kalaupun menggunakan bahasa Indonesia, pastilah logat asli suku Lampung Pepadun terasa lekat.



 
menyimak aktivitas Ibu Ibu Pengerajin Tapis di Negeri Katon - photo by Kevin Addict

  
Setiap rumah dalam kawasan desa Negeri Katon mengerjakan pembuatan sulam tapis. Aktivitas menapis atau menyulam tapis pada umumnya dilakukan oleh ibu ibu atau remaja puteri. Bapak bapak atau pria dewasa cenderung melakukan aktivitas bercocok tanam di kebun.  Tapis yang dibuat oleh ibu ibu di Negeri Katon tak hanya sebatas kain atau selendang saja, tetapi merambah pada kerajinan tangan lainnya. Mulai dari taplak meja, hiasan dinding, tutup dan tatakan gelas hingga dompet, kerudung dan juga busana muslim. Melihat langsung ibu ibu duduk tekun menapis di beranda rumah bagai melihat wanita masa kini yang pandai memanfaatkan waktu produktif mereka sembari melestarikan nilai luhur masyarakat Lampung. "Saya sudah mulai napis sejak tahun 84" ucap seorang ibu yang saya tanyai soal aktivitasnya menenun tapis. "Kalau urusan rumah beres dan anak anak sekolah, kami mulai menapis, sambil nunggu anak dan suami pulang." sambung sang Ibu yang tak sungkan mengajari teman teman saya yang ingin belajar langsung menyulam tapis.

Ibu Diah - mengajari menyulam tapis - photo by Kevin Addict

Kreatifitas ibu ibu Negeri Katon memang patut diacungi jempol. Ketekunan mereka dalam menenun, menyulam satu persatu benang emas pada kain serat hingga terwujudlah menjadi sebuah kain dan selendang yang pengerjaannya dapat memakan waktu 1 sampai 2 bulan.  Soal harga, tapis hasil olahan desa Negeri Katon cukup terjangkau dibanding harga dipasaran atau bahkan yang telah masuk toko dan butik mewah di tengah kota. Sebagai contoh, untuk sehelai selendang dengan sulaman tapis berkualitas dibandrol dari harga  Rp.100.000,- nilai yang lebih rendah dengan kualitas baik ketimbang harga  di pasaran. Selain itu, membeli kerajinan tapis dan hasil olahan tangan ibu ibu di desa Negeri Katon merupakan upaya pengunjung membantu perekonomian masyarakat setempat.

bercengkrama di beranda - menenun tapis dengan ketekunan


INSTA CULTURE MEET WITH NAFOURA KURMA WATER

Berada di desa Negeri Katon – kecamatan Negeri Katon – kabupaten Pesawaran memberi banyak inspirasi sekaligus sumber pengetahuan seputar pembuatan tapis yang berbasis home industry.  Saya beruntung  dapat tandang ke Negeri Katon bersama beberapa  teman penggiat media sosial dan blogger Lampung. Kunjungan kami disepanjang Sabtu siang itu difasilitasi oleh NafouraKurma Water – minuman siap saji pertama di Indonesia yang berbahan dasar buah kurma.

Kurma Water dan Keluhuran Budaya Lampung - Tapis Lampung - photo by Kevin Addict

Buah Kurma memberikan manfaat sangat baik bagi kesehatan. Kurma juga merupakan sumber antioksidan, juga mengandung zat besi tinggi yang baik bagi penderita anemia. Selain itu kandungan kalium nya yang tinggi mampu mengurangi resiko penyakit stroke dan jantung. Dengan beragam manfaat dari buah Kurma, masyarakat dapat memperoleh manfaat dari buah kurma tersebut dari Kurma Water. Karena sebotol Kurma Water mengandung 3 ekstrak kurma terbaik yang akan melindungi kesehatan tubuh dari beragam serangan radikal bebas ketika beraktivitas diluar rumah.


Kurma Water juga peduli pada kelestarian nilai  seni budaya daerah. Itulah sebabnya, kunjungan ke Negeri Katon terlaksana. Dengan tajuk Insta Culture Meet with Nafoura Kurma Water – yang diikuti oleh para social media influencer dan blogger di Lampung diharapkan gelaran ini mampu menyebarluaskan nilai nilai budaya daerah Lampung – khususnya seni dan nilai sakral dari kain Tapis Lampung.  Beruntung, saat berada di desa Negeri Katon, saya dan teman teman di ajak melihat langsung pembuatan Tapis dan beragam kerajinan tangan lainnya di beberapa rumah yang ada di dalam desa Negeri Katon.

photo bersama di Negeri Katon - photo by Kevin Addict

saya dalam group REMBESAN di depan salah satu rumah warga di Negeri Katon



Kegiatan seru yang dilaksanakan sepanjang siang hingga malam pada Sabtu tersebut, selain di isi dengan Kunjungan ke Negeri Katon di Pesawaran juga di isi dengan perkenalan Nafoura Kurma Water oleh bapak Deny Liaw selaku Direktur Nafoura Kurma Water. Tak hanya itu, ada pula pemaparan wirausahawan muda Lampung yang mengangkat tapis menjadi lebih stylish – Ecca – salah satu owner dan founder  brand Taps in Lampung.  Meski saya belum beruntung di sesi doorprize karena saat posting photo contest di Instagram ponsel saya tetiba hang, hahahah. Tapi semoga Kurma Water selalu berkenan menjadi bagian dari pelestarian nilai seni budaya daerah melalui kegiatan kegiatan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.

10 komentar :

  1. lihat postingan kaya gini makin kangen mudik dan merasa bersalah. Tempat lain dipromosikan habis2an eh tanah kelahiran sendiri nggak pernah ditulis. Udah berapa lama nggak nulis lampung ?

    BalasHapus
  2. cantik banget tapisnya! Aku belum pernah ke sini nih, Indra..segera kalau ada kesempatan yaaaa

    BalasHapus
  3. mas Danan...ayooo ke Lampung...aku undang tgl 22 April yok.... ada event kece...joint yaaa....

    BalasHapus
  4. mba Indah....kalo ke Lampung kabari aku nanti tak ajak tempat tempat kece dan dekat jangkauan.... kalo aku samperin mba Indah ke USA kan gak mungkin hahahahah

    BalasHapus
  5. kurma water ini belum masuk ke palembang kayaknya bang. Aku tak sabar icip :D

    BalasHapus
  6. Wah,,
    sudah ke Negri Katon aja oom. kayaknya asik banget suasana dan cerita selama di situ.

    BalasHapus
  7. Nunggu diajak om Yo kesini.
    seru banget liat ibu-ibu kreatif.

    BalasHapus
  8. @Deddy Huang...kudu coba deh...rasanya unik, segar dan berkhasiat buat tubuh kita....

    BalasHapus
  9. @Keliling Lampung & Mba Rahma...yesss kita kesana bareng yaa hehehe. aku aja gak bosen kalo harus kesana lagi..... tempatnya asik. kemarin masih terasa kurang lama eksplore nya...

    BalasHapus

Scroll To Top