Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 30 Agustus 2017

GOA PANDAN - SPOT WISATA POTENSIAL DI LAMPUNG TIMUR




… Jangan pernah percaya kata orang, termasuk urusan spot wisata. Kamu akan tahu realita ketika sudah mendatanginya secara nyata.  Kunjungilah secara langsung. Kapanpun kamu punya waktu. Meski  tandang ke Goa di malam hari.
***


sempet photo bareng Mister Pepeng di depan mulut Goa Pandan.


Tubuh saya terguncang-guncang saat kendaraan yang saya dan rekan-rekan blogger tumpangi melalui ruas jalan berbatu dan berlubang.  Mas Sutris telah berusaha mengarahkan kemudi dengan baik. Memilah badan jalan yang tidak berlubang dimalam gelap dengan penerangan lampu jalan yang minim. Hanya lampu kendaraan yang dapat diandalkan untuk melihat kondisi jalan yang dilalui.

Sembari menahan kantuk, sesekali bola mata saya merekam kondisi jalan yang kami lalui  malam itu lengkap dengan jajaran rumah warga dan areal perkebunan. Gelap malam membuat saya tidak begitu jelas menangkap suasana dibalik kaca kendaraan.  Meski begitu, aktivitas warga desa terlihat menghias di kiri dan kanan jalan. Tujuan kami malam itu tak lain untuk mendatangi sebuah Goa yang merupakan spot wisata potensial di Lampung Timur.


Whaatt!!??!!, Goa?. Hhhmmm, serius di Lampung Timur ada Goa ?
Pepeng – rekan saya yang gemar berpetualang sempat berbisik ragu pada saya ketika mengetahui tujuan perjalanan kami malam itu.

Sebenarnya, perjalanan menuju Goa di malam hari itu tak ada dalam jadwal kegiatan. Ibu Bupati mengajakserta saya dan rekan rekan yang satu kendaraan dengan mas Sutris dan bang Adhyt usai menghadiri Village Carnival di lapangan desa Braja Luhur.  Meski tak ada dalam jadwal kegiatan, toh kalo urusan tandang ke spot wisata tak mungkin ditolak. Meski beberapa kali sempat sangsi dan saling bertanya antara rekan rekan blogger, “serius ini mau ke Goa?”.

Mobil yang saya tumpangi bersama rekan rekan blogger tertinggal jauh dibelakang dari iring-iringan kendaraan  Ibu Bupati dan rombongan.  Jadilah  saya dan rekan rekan blogger serta mas Sutris dan bang Adhyt sebagai pengemudi kendali berkali-kali bertanya pada penduduk setempat soal lokasi persis dari tujuan utama kami.  Bagai mencari jejak dalam kegelapan malam rasanya. Sebagai abdi negara di Lampung Timur, mas Sutris dan bang Adhyt tidaklah terlalu asing dengan rute tempuh kami, terlebih mba Rahma – ajudan ibu Bupati beberapa kali memberi arahan melalui ponsel saya. Meski begitu, suasana malam cukup menyulitkan untuk usaha cari alamat kan?, beruntung bisa meminta bantuan GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Cukuplah membantu. Meski beberapa arahan penduduk sempat membuat kami bingung karena dipenuhi penuturan yang ambigu. Misal ; ..”oh, mas lurus aja, trus belok kanan ketemu perempatan ada tugu, nah tanya aja sama tugu..” hhmmm… ambigu kan?.

Meski berkali-kali harus bertanya pada penduduk setempat dan sempat diwarnai salah arah, toh kami tetap semangat mengikuti arah jalan yang di tunjukkan warga dan bimbingan rute dari beberapa pihak yang memandu perjalanan kami via telepon.

Lubang besar di bagian depan mennuju bagian dalam Goa

PERAYAAN MENUJU GOA

Mobil yang dikendalikan mas Sutris tiba disebuah desa yang sebelumnya di arahkan oleh warga yang kami tanyai dibeberapa titik pemberhentian. Persis anak pramuka cari jejak, tapi  ini pakai kendaraan, hehehe.  Suasana tentram pedesaan sontak terlihat. Beberapa kendaraan telah terparkir rapih di sebuah rumah. Beberapa warga tampak berkumpul menyaksikan kehadiran banyak kendaraan malam itu. Saya dan rombongan segera mendekati sebuah rumah yang telah ramai didatangi tetamu dan penduduk sekitar.  Rumah Sekdes (Sekretaris Desa) Giri Mulyo – desa dimana letak dari Goa Pandan akan kami kunjungi malam itu. “seriusan ditempat begini ada goa?” tanya saya pada rekan rekan blogger, lagi lagi saya tak percaya.

Ibu Bupati Lampung Timur dan beberapa Kepala Satker berada dibagian dalam rumah pak SekDes. Saya sempat melihat ada perbincangan serius yang terjadi saat itu. Saya kemudian izin ke kamar kecil dibagian belakang rumah pada beberapa ibu yang sedang mengolah bahan makanan. “kayaknya, kita makan malam dulu, deh..” bisik saya pada rekan. “Ngarep lu..” ucap rekan kearah saya.

Dan benar saja. Tebakan saya terjadi. Saya dan rekan rekan dipersilakan ikut antrian makan malam yang telah disiapkan oleh ibu-ibu yang tadi saya lihat saat menuju toilet. Hahaha… Emang rezeki gak kemana kan?, setelah terpuntal-puntal dalam kendaraan yang melalui medan jalan tak mulus akhirnya kami dipersilakan menikmati hidangan lezat malam itu. Nasi, sambal goreng, sayur tumis kates dan ayam goreng kampung dengan potongan besar jadi kepuasan bersantap malam.

Usai makan malam, saya sempat menikmati beberapa potong singkong goreng nan empuk dan segelas es teh manis, sebelum akhirnya diajak serta oleh seluruh rombongan menuju Goa. Cocok kan??!!, mau tandang ke goa aja pakai makan malam dulu. Berasa celebrate before party gitu!!.. hahahaha.

mbah Karno menunjukkan Lubang utama yang menghubungkan dengan 3 pintu berbeda ke bagian dalam Goa

GOA PANDAN NAN MENGAGUMKAN

Saya sempat mengira akan berjalan kaki menuju goa dari letak rumah pak SekDes. Ternyata salah.  Kami diarahkan menaiki kendaraan untuk kemudian mengikuti arahan perangkat desa menuju letak goa yang dimaksud.

Selama perjalanan (yang katanya menuju Goa) lagi-lagi saya dibuat penasaran. Beberapa kali saya beradu pandang pada rekan-rekan dalam mobil.  Sorot mata kami semakin tak yakin akan melihat goa yang benar-benar goa. “paling juga lubang besar biasa diantara kebon kebon, yaa..” bisik saya pada Juanda. Rute jalan yang tempuh kami semakin menyempit dan memasuki kawasan pedesaan yang nampak padat penduduk.  Di beberapa bagian desa, puluhan penduduk berkumpul seolah tahu akan kedatangan saya dan rekan rekan…eh salah, maksudnya, warga tahu akan kedatangan Ibu Bupati. 

salah satu pintu dalam Goa yang menghubungkan dengan bagian yang lebih dalam


Menuju letak goa yang dimaksud, ternyata harus melalui kawasan perkebunan. Tak jelas kebun apa. Karena suasana gelap. Saya hanya ingat beberapa kali mobil yang kami tumpangi menghantam bebatuan yang melintang dibeberapa badan jalan yang kami lalui. Hhhmm… saya mulai yakin ada sebuah Goa ketika melihat serpihan bebatuan berukuran cukup besar menghias badan jalan.

Saat kendaraan terparkir diareal perkebunan, saya langsung mengikuti  arahan pemandu menuju sebuah titik dimana (katanya) goa itu berada.  Ibu Bupati dan rombongan petinggi telah lebih dulu dibagian depan. Saya mulai meyakini adanya sebuah goa ketika melihat ada beragam bentuk bebatuan di jalan setapak yang saya dan rekan rekan blogger lalui.

Dan pertanyaan demi pertanyaan yang saya ragukan sejak awal seketika hilang saat melihat sebuah lubang besar yang menganga dengan pohon pandan hutan di salah satu sisinya.  Dari lubang besar yang merupakan pintu masuk utama tersebut ada tiga lubang lainnya yang merupakan akses masuk di tiga penjuru yang berbeda. Beberapa kali saya dibuat terperangah seolah tak percaya dengan apa yang saya lihat.  Bagai masuk kedalam sebuah ruangan besar saat berada di bagian dalam Goa. Ibu Bupati dan para pejabat daerah beserta beberapa masyarakat bergegas memasuki lubang besar tersebut dan berjalan menuju bagian dalam sesuai arahan pemandu. Beberapa lampu penerangan dinyalakan untuk memudahkan langkah kaki pengujung.

salah satu pintu Goa yang menghubungkan ke bagian dalam Goa

lorong Goa pada bagian dalam

Sesekali saya menengok bebatuan pada langit langit Goa yang saya yakini akan sangat indah bila diabadikan dalam bentuk photography.  Meski malam, saya menangkap keindahan Goa yang menurut warga telah ditemukan sejak tahun 1977 itu. “dulu kawasan ini penuh dengan pohon pandan hutan yang besar-besar.” ucap Mbah Karno ketika saya tanya soal asal muasal Goa. “awalnya kawasan ini dibuka untuk area perkebunan. Tapi saat lahan hendak digunakan untuk bercocok tanam ternyata banyak bebatuan, dan kemudian terlihatlah lubang goa  ini saat pepohonan pandan hutan dibersihkan”. Jelas  Mbak Karno pada saya dan beberapa rekan yang mendekatinya.  Mbah Karno – selaku pihak pertama yang menemukan kawasan Goa dan juga sebagai pemandu rombongan malam itu pun menjelaskan soal upaya warga yang pernah menyusuri mulut  Goa yang ternyata sampai ke kawasan Jepara (bagian dari Lampung Timur) dengan menempuh perjalanan selama dua hari di dalam mulut Goa!!. Berkali-kali saya dibuat terperangah dengan kisah-kisah yang dituturkan mbah Karno soal Goa yang malam itu kami kunjungi.  Belum lagi letak lantai dua dibagian tengah Goa yang menurut mbah Karno terdapat bebatuan yang menyerupai kursi dan meja. Bagai ruangan kerajaan masa lampau!!. 

kayu yang berdiri di bagian tengah itu digunakan sebagai tanda arah menuju kebagian lantai 2

 Juanda - rekan saya yang berphoto di salah satu pintu Goa pada bagian dalam - maaf saya sendiri tak berani photo diri (takut).


Meski tak begitu tuntas menelaah sisi  Goa, tetapi Goa Pandan yang kami datangi malam itu benar-benar mengagumkan. Sayang saya tak membawa kamera yang memadai untuk mengabadikan Goa secara maksimal malam itu  (maklumlah, blogger tanpa kamera, hahaha). Terbayang bila akses berupa jalan menuju desa telah baik dengan prasarana penunjang pada kawasan sekitar Goa Pandan berada telah diperindah, tentulah Goa Pandan akan sama indahnya dengan Goa – Goa di pulau Jawa. Dan tentu akan mendatangkan banyak keuntungan bagi masyarakat desa sekitar akibat kunjungan wisatawan. Ibu Bupati Lampung Timur yang berkenan turut masuk kebagian dalam Goa malam itu pun mengungkapkan niatnya untuk menggarap Goa Pandan untuk menjadi destinasi wisata yang layak di kunjungi dikemudian hari. Saya dan teman teman pun berharap bisa tandang ke Goa Pandan di siang hari agar dapat melakukan eksplorasi lebih banyak. Semoga.

2 komentar :

  1. Pengalaman yang luar biasa. Kapan kesana lagi bro indra

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti di kabari bila waktunya tandang kesana lagi..kemarin kurang puas eksplorasi karena malam....

      Hapus

Scroll To Top