Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Senin, 27 November 2017

MESKI ADA DUA KUBURAN, PULAU KUBUR ITU KINI BERNAMA PULAU PERMATA



Pernah dengar kata ‘Pulau Kubur’ ? Mungkin pernah. Tahu letak Pulau Kubur di Bandar Lampung?.   Sekilas terdengar janggal dengan nama pulau nya ya?, meski ada nuansa seram dalam kata ‘Pulau Kubur’ tapi sesungguhnya nama pulau tersebut tak seseram suasananya kok. Terlebih kini,  Pulau Kubur telah beralih nama menjadi Pulau Permata. Nah, jika dengar kata ‘permata’ jadi tak seram lagi kan ?.  Dipandu oleh Kabid Destinasi – mba Eva yang penasaran, jadilah saya dan rekan-rekan seluruh bidang Destinasi Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung menyambangi kawasan Pulau Kubur atau yang kini dinamai dengan Pulau Permata tersebut.

tanda nama Pulau yang mulai rusak

Secara geografis, Pulau Kubur atau Pulau Permata masuk dalam peta administratif kota Bandar Lampung berbatasan langsung dengan garis administratif kabupaten Pesawaran dan bersinggungan dengan beberapa pulau-pulau yang jaraknya tak jauh dari Pulau Kubur atau Pulau Permata. Secara bentuk, pulau yang tak terlampau luas ini memiliki dua bagian ; bagian tebing berbatu karang dan  kawasan pantai berpasir halus yang dapat dijadikan spot kunjungan wisatawan.

hamparan pasar langsung menyambut kedatangan di dermaga kapal berlabuh

SEJARAH PULAU KUBUR – BANDAR LAMPUNG

Jauh sebelum kawasan Bandar Lampung dipadati penduduk seperti saat ini, pulau-pulau kecil yang tersebar dalam bentangan garis pesisir Teluk Lampung itu telah memilik fungsi sebagai bagian dari aktivitas kehidupan masyarakat nelayan. Di awal tahun 2000, saya sempat mendapat kisah soal Pulau Kubur yang konon dahulunya dijadikan tempat pembuangan mayat saat masa penjajahan Jepang.  Bahkan sebagian besar  penduduk yang tinggal di kawasan pesisir, Gudang Lelang dan Teluk Betung Selatan memberikan larangan untuk tandang ke Pulau Kubur karena suasana angker dan kerap terjadi hal-hal mistis didalamnya. “Dulu memang kawasan ini sepi penghuni. Tak ada kehidupan. Bahkan sering ada suara suara wanita menangis yang diyakini sebagai mahluk halus.” urai Fahmi – salah satu penjaga Pulau Kubur yang kini beralih nama menjadi Pulau Permata yang berkenan mendampingi kunjungan kami siang itu.

Jadi, bila dulu kawasan Pulau Kubur terlarang untuk didatangi karena angker, tidaklah sepenuhnya benar. Meski hal-hal mistis disinyalir kerap terjadi. Tetapi penamaan Pulau Kubur sejak dahulu tersebut bukan tanpa alasan. Mas Fahmi menjelaskan bahwa selain jadi tempat pembuangan mayat tanpa identitas, kawasan Pulau Kubur dulunya juga jadi tempat pembuangan abu dalam ritual tionghua.
suasana pantai yang nyaman dan lengang

KUBURAN TANPA IDENTITAS SEPANJANG 2 METER

Yang paling nyata, di Pulau Kubur yang kini bernama Pulau Permata tersebut memang terdapat Kuburan yang hingga kini masih belum diketahui identitasnya. “satu berada diatas bukit, satunya di bibir pantai dekat ayunan” jelas mas Fahmi memandu kunjungan saya dan rekan-rekan siang itu. Meski medan tempuh untuk melihat kuburan yang konon panjangnya 2 meter tersebut tidaklah mudah, tapi saya dan rekan-rekan tetap antusias untuk melihat kondisi makam secara langsung.  

tracking ke bagian perbukitan menuju lokasi makam

mas Fahmi - pendamping kami - kalo mau ke Kuburan pakai pendamping yaa...

Usai melakukan tracking ringan kebagian perbukitan yang tak terlampau terjal, saya dan rekan rekan melihat langsung kuburan yang panjangnya 2 meter di bagian perbukitan dalam kawasan Pulau Kubur atau Pulau Permata tersebut. Sesaat kami terdiam melihat kondisi nyata kuburan yang panjang bentuknya lebih panjang dari bentuk kuburan di pemakaman umum. “Banyak yang bilang ini makam orang Belanda masa penjajahan” mas Fahmi menjelaskan pada kami. “Tapi ada pula tokoh adat yang bilang ini kuburan pejuang kemerdekaan di bumi Lampung jaman penjajahan dahulu” urai mas Fahmi serius.

Apapun penjelasan mas Fahmi, saya dan rekan-rekan meyakini makam tanpa identitas di batu nisan itu tentu keramat. Tak ada identitas yang dapat menerangkan siapa empu-nya jasad dalam kuburan tersebut. “batu nisan rapih ini merupakan upaya masyarakat adat dan tokoh agama dikawasan Teluk Betung” jelas mas Fahmi soal kondisi nisan yang rapih berwarna hijau.

kuburan keramat sepanjang 2 meter
MAKAM KECIL PINGGIR PANTAI

Usai melihat langsung makam yang panjangnya 2 meter tersebut, saya dan rekan-rekan kembali kebagian bawah dengan melanjutkan langkah kaki kebagian lain dari kawasan Pulau Permata. Bila sebelumnya kami menyaksikan langsung bentuk kuburan yang menjadi alasan masyarakat dahulu memberi  nama pulau dengan nama Pulau Kubur, selanjutnya, mas Fahmi mengajak kami menyusuri jalan setapak menunju sisi lain dari pulau yang lebih berbatu.

Dalam perjalanan menuju bebatuan, mas Fahmi menjelaskan sebuah kuburan kecil yang letaknya tak jauh dari posisi ayunan. Tepatnya di bibir pantai dengan bentuk makam berupa undakan bebatuan. Sekilas terlihat bagai bentuk batu karang. Tapi bila diperhatikan secara seksama akan terlihat berupa makam kecil. Posisi ayunan yang sengaja dibuat berdekatan pun seolah memberi fasilitas bermain bagi arwah kecil yang ada dalam makam kecil tersebut (mungkin). Imajinasi saya kemudian berpendar keawan-awan.  Hhhmm… skip!!.

mainan si adik...hhmm.....


PIJAKAN KAYU INSTAGRAMABLE

Setelah melihat langsung dua makam yang memang ada dalam Pulau Permata, maka terbuktilah alasan masyarakat dahulu memberi nama pulau ini dengan sebutan Pulau Kubur, karena memang ada dua kuburan yang terlah terbukti keberadaannya. Selain makam-makam lain yang bisa jadi tak terlihat secara bentuk karena kisah pembuangan mayat dalam masa penjajahan masa lalu.

Meski sempat merasa bergidik saat mas Fahmi menguraikan kisah-kisah yang berkenaan dengan dua makam di Pulau Permata, tapi justru ending dari tracking kami jadi momen bahagia kala melihat sebuah Boardwalk – sebuah titian kayu yang  menghubungkan kawasan bebatuan Pulau Permata ke bagian  laut lepas. “pijakan kayu ini belum jadi 100 persen” terang mas Fahmi. Mas Fahmi menjelaskan bahwa pembangunan masih akan berlanjut bersamaan dengan penambahan fasilitas memadai lainnya.  Meski belum rampung secara utuh, titian kayu tersebut jadi spot photo beragam sesi. Sungguh Instagramable!!. “spot photo menarik, terlebih saat sunset atau sunrise” ujar mas Fahmi yang berkenan dimintai jadi juru gambar kebersamaan saya dan rekan-rekan siang itu.  Terbayang pula serunya berpose di boardwalk ini ketika cuaca mendukung. “beberapa kali ada pula yang photo prewed disini..” ungkap mas Fahmi pada saya.

Broadwalk yang menawan

sungguh spot photo yang menarik

photo bersama satu Tim Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung.

spot instagramable!! hehehe
PULAU KECIL DENGAN FASILITAS MEMADAI

Untuk tandang ke Pulau Permata, pengunjung bisa mengaksesnya dengan kapal kecil dari  Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing atau pantai Queen Artha, dapat pula dari Pantai Tirtayasa dengan biaya 10.000 rupiah per-orang. Jaraknya tidaklah terlampau jauh. Dari posisi TPI Lempasing saja, Pulau Permata telah terlihat mentereng!.

Pemberian nama Pulau Permata baru saja dilakukan dalam kisaran waktu 4 tahun terakhir.  Dengan alasan bentuk pulau yang kecil bagai permata. “Pemberian nama ‘permata’ pada pulau sebagai daya tarik pengunjung tandang ke pulau kecil ini, daripada diberi nama pulau Kubur” jelas mas Fahmi. 

dermaga dan pasir pantai nan memukau

pondokan dan kursi santai nyaman bagi pengunjung
Fasilitas penunjang dalam kawasan pun masih dalam tahap pembenahan di dua tahun terakhir. Jadi sebenarnya, kawasan Pulau Permata terbilang kawasan pantai kunjungan yang baru saja dibuka untuk umum.  Masuk kedalam kawasan Pantai Permata, pengunjung membayar 10.000 rupiah dengan sewa pondok-pondok untuk istirahat senilai 30.000/pondok. Penataan yang rapih dengan hamparan pasir yang halus menambah kenyamanan berlama-lama di Pulau Permata. Selain hamparan pasir yang seru buat photo photo kamu juga bisa melakukan tracking atau memancing di kawasan pulau Permata. Meski pihak pengelola dan penjaga Pantai wajib terus menerus melakukan perbaikan pada kawasan sekitar pantai. Termasuk meningkatkan kebersihan pantai hingga perbaikan tanda nama pantai yang telah mulai rusak.

asik sebagai tempat leyeh leyeh yaa bukan tere liyeeh

kawasan kecil dengan fasilitas memadai...
Tapi buat kamu yang suka suasana pantai landai dengan suasana tenang tanpa terlalu banyak pengunjung, silakan datang ke Pulau Permata yang aksesnya sangat mudah dari pusat kota Bandar Lampung.  Meski begitu tetap jaga sikap dan tutur kata selama berada di kawasan Pulau Permata yaa, termasuk jaga kebersihan dan keasrian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan agar pulau yang tidak luas ini tetap asri dan nyaman untuk terus dikunjungi.

23 komentar :

  1. Seruuuuuu yaaa, aku suka pantai yang begini. Bukan pantai yg riuh. Thanks infonya bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. untungnya aku datang saat Senin, coba aja kalo weekend atau libur nasional atau tanggal merah, pasti padaaattt rameee sumpeeekkk orang hahahahahah

      Hapus
  2. Kok Pulau Kubur ini lucu. Tapi kece juga sih, biarin aja orang bilang angker, biar pulau ini ga rame dan kotor. Ajak aku ke sana dong Om. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari ke Lampung lagi.... aku siap jadi tour guide laah tenang ajaaa selama tak benturan sama jadwal jadi biduan.

      Hapus
  3. Mantab..jd kangen pantai di
    lampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. merantau mu jauh sekali yaaa kakak..hehehehe

      Hapus
  4. Duh wisata mistis kayak gini emang gimana gitu, tapi nyari sisa sejarah itu memang salah satunya dari kuburan .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang agak bergidik gimana gitu..tapi kan Rose pemberani yaaa Rose..?!!! wkwkwkwkwkw

      Hapus
  5. Pantainya cantik sekali
    Tapi liat foto ayunan itu kok aku agak bergidik ya
    Mungkin sebaiknya gak perlu tau klo itu buat si adik dalam kuburan

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw...konon dibuatnya ayunan itu supaya si adik tidak kemana mana mainnya... jadi dia di kasih spot khusus gitu ....hhhmmm....

      Hapus
  6. Lampung mempunyai daya tarik banyak ketika mereka menawarkan pantai. Selain itu untuk akses dan transportasi ke sana pun jauh lebih mudah. Tinggal bagaimana pihak dinpar Lampung membaca peluang tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes semoga segala pihak berupaya maksimal termasuk saya yang cuma orang biasa ini bantu bantu promo dikit ..sukur sukur kalau ada yang minat... thanks for advice nya.

      Hapus
  7. Apa potensi terbesar pulau permata ini kak Indra?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wisata bahari, water sport, photography, videography, event, dll....detail di tulisan blog telah saya urai dalam bentuk penuturan berdasarkan kunjungan.

      Hapus
  8. Jadi inget kuburan keramat di Pulau Pisang, kayaknya yang di sana jauh lebih tua ya bang. Aku setuju penggunaan nama baru, walaupun nama lama lebih "menjual" hehehe. Semoga pulau ini tetap terjaga kecantikannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau makam keramat di Pulau Pisang itu jauh lebih senior kayaknya... dari wujud makam saja terlihat... sebenarnya ada dalam pulau kecil bersih ini tetiba ingat suasana seram film air terjun pengantin,, wkwkwkwkwk ....

      Hapus
  9. Inilah pentingnya rebranding. Dari kedengarannya seram jadi keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yess betul, setuju kakak....Permata lebih memikat ketimbang Kuburan yaa hahahahah

      Hapus
  10. kemarin pas balik dari pulpis ada "yang tak kasat mata" ikut balik ke Palembang bang :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah lhoooo....wkwkwkw...serem amat..semoga gak gentayangan yaaaa..heheheh

      Hapus
  11. Mas Indraaa, pijakan kayunya bagus ya itu... Nanti kalo saya ke Lampung lagi, ajak ke sana ya.. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Datang ke Lampung kabari aku nanti tak ajak kesana,,,, dan tempat tempat kece lainnya...

      Hapus
  12. Asyik. Nambah lagi nih tempat wisata keren di Lampung. Kayaknya bisa nih om Indra jadi guide-nya 😊

    BalasHapus

Scroll To Top