Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 13 Desember 2017

MENGENAL BUAK TAT - KUE LEZAT KHAS LAMPUNG BARAT



  
…’Kue Tat’… begitu banyak orang menyebutnya. Meski penyebutan yang tepat adalah ‘Buak Tat’. Buak berarti Kue dan ‘Tat’ nama dari kue tersebut.  Berdasarkan cerita bang Eka, kata ‘Tat’ sebenarnya berasal dari jenis kue Kaplertat yang dikenalkan Belanda pada masa penjajahan di bagian Barat dari provinsi Lampung hingga kawasan Bengkulu. Itulah sebabnya, ada pula kue yang bentuk dan rasanya sama dengan Buak Tat di Bengkulu atau kawasan lainnya yang berdekatan dengan provinsi Lampung. Masyarakat di pesisir Lampung kemudian menyebutnya secara praktis menjadi ‘Tat’. Sebenarnya seperti apa Buak Tat itu ?. Mari kita mengenal Buak Tat – Kue Khas Lampung Barat langsung dari dapur pembuatannya.


 
Bila ke Liwa, jangan lupa singgah di sini yaa ....

Siang itu, seusai tandang ke peresmian Kebun Raya Liwa, bang Eka membawa saya dan rekan-rekan lainnya mendatangi tempat pembuatan Buak Tat, setelah beberapa postingan Bang Endang menyulut rasa penasaran saya untuk melihat langsung proses pembuatan Buak Tat.  Beruntungnya, siang itu sedang berlangsung proses pembuatan Buak Tat di dapur ‘Dua Putri’ – pembuat dan penjaja beragam kue kue khas Lampung Barat. Termasuk dapat berjumpa dan bincang langsung dengan Ibu Hermawati – pemilik dari usaha toko kue ‘Dua Putri’.
 
ragam camilan khas produksi Lampung Barat

ragam bentuk dari Buak Tat - photo by bang Endang



CARA MEMBUAT BUAK TAT

Jauh sebelum tandang ke Dua Putri, saya pribadi telah mengenal Buak Tat, bahkan termasuk gemar menyantap Buak Tat.  Sajian kue dengan selai nanas dibagian dalamnya. Bahan yang digunakan untuk membuat Buak Tat tidaklah terlampau sulit. Terdiri dari tepung terigu, margarine, telur, susu cair dan gula halus.  Tahap pembuatannya dimulai dari mencampur margarine dan gula hingga lembut. Masukkan telur satu per satu, lalu di kocok. Masukkan tepung terigu dan susu cair lalu aduk rata. Setelah seluruh adonan tercampur rata dan dapat dipulung, adonan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama ditaruh didasar Loyang, lalu diberi selai nanas sebelum kemudian ditutup lagi dengan  adonan kedua.

proses pemberian Selai Nanas pada setiap cetakan

posisi selai nanas pada bentuk Buak Tat  loyang kecil kecil

posisi selai nanas dalam loyang Buak Tat ukuran sedang
 
Jadi, selalu ada sentuhan selai nanas dalam setiap Buak Tat. Nah, selai nanas yang digunakan pun bukan selai nanas jadi yang tersedia dipasar. Melainkan selai nanas yang dibuat secara langsung. Sejak nanas diparut dan direbus bersama gula pasir hingga tercampur rata dan menjadi isian dari adonan Buak Tat. “lezatnya Buak Tat itu tergantung dari kualitas selai nanasnya juga, itulah kenapa saya buat selai nanasnya sendiri. Tidak beli jadi dipasar.” ungkap Ibu Hermawati.

Setelah melalui proses cetak dan pemberian selai, Buak Tat dipanggang di oven dengan api bawah terlebih dahulu, lalu api atas. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan aroma yang wangi dan kematangan Buak Tat yang sempurna. “kalau api oven tidak diatur nanti bisa mutung sebelah” ujar Ibu Hermawati menjelaskan proses pemanggangan dari Buak Tat pada saya.

Buak Tat Loyang Besar

Loyang kreasi beragam bentuk dari tampilan Buak Tat
 
RAGAM BENTUK BUAK TAT

“Dulu, Buak Tat itu hidangan wajib ketika Tayuhan (pesta adat) atau pas Lebaran…” urai Ibu Hermawati menjawab pertanyaan saya soal awal mula Buak Tat.  Sesuai perkembangan jaman, Buak Tat dapat dinikmati oleh siapa saja, tanpa perlu menunggu adanya Tayuhan (pesta adat) atau Lebaran datang.

Seiring berjalannya waktu, Buak Tat pun mengalami  kreasi dalam bentuk dan wujudnya. Bila awalnya, Buak Tat hadir dalam bentuk Loyang segi empat atau kotak – atau kerap disebut Buak Tat Asahan. Kini ada pula bentuk Buak Tat Iwa (Loyang Ikan), Buak Tat Buttokh (Loyang Bulat) – baik bulat kecil, sedang hingga bulat besar.  Bahkan ada pula cetakan Buat Tat berbentuk Kerang atau Keong. Meski hadir dalam beragam bentuk, tetap saja selai nanas menjadi isi yang khas dari wujud Buak Tat.

tampilan Buak Tat dan Kue Cucur dalam sebuah acara adat di Lampung Barat

Buak Tat ukuran bulat kecil - dalam 1 box Mika berjumlah 50 buah seharga Rp.40.000,-

Buak Tat loyang bulat sedang - Rp.2.000 per buah nya

Buak Tat bentuk loyang Ikan - perbungkus seharga Rp.20.000,-
 
BUAK TAT BUKAN NASTAR!

…”oohh beda, dong!…” sanggah Ibu Hermawati sembari tersenyum, ketika saya tanya apakah sama antara Buak Tat dengan kue Nastar yang kini marak dikalangan masyarakat luas. “sesuai aslinya, Buak Tat itu lebih kering dari kue nastar. Karena proses panggangnya sedikit lebih lama daripada kue nastar” terang Ibu Hermawati. “tekstur adonan kue nastar cenderung lebih lembut” ungkap ibu Hermawati lebih lanjut.

Menurut ibu Hermawati, masyarakat kerap menyamakan citarasa kue nastar dengan Buak Tat karena ada sentuhan selai nanas dikeduanya. Meski sebenanrnya berbeda dari tekstur adonan maupun proses masaknya. Nastar cenderung lekas buyar karena berawal dari adonan yang lebih lembut dari Buak Tat. Sedangkan Buak Tat lebih kering dan teksturnya bersifat renyah. “makanya, kalo jaman dulu makan Buak Tat itu di iris dari Loyang, terus di celupkan ke gelas teh hangat” tutur Ibu Hermawati.
 
ketekunan ibu ibu dalam membuat Buak Tat - photo by bang Endang

ragam bentuk dari Buak Tat - photo by bang Endang


DUA PUTRI DAN BERAGAM KUE KHAS LAMPUNG BARAT

Menyimak penjelasan Ibu Hermawati soal kisah dibalik Buak Tat hingga penuturannya memulai usaha kecil sejak 10 tahun silam, hingga telah berkembang dan memiliki karyawan tetap ini, membuat saya semakin bangga akan upaya masyarakat lokal dalam melestarikan nilai tradisi masyarakat Lampung ditengah gempuran kue-kue artis yang marak saat ini.

Mengikuti perkembangan selera pasar, toko kue Dua Putri tak hanya menjajakan Buak Tat saja. Tetapi juga beragam kue  khas Lampung Barat lainnya, seperti Kumbang Luyang – yang berarti kembang yang dicetak dan digoyang-goyang digenangan minyak panas saat proses masaknya. Bila umumnya masyarakat mengenal nama Kembang Goyang, sebenarnya tak berbeda jauh dengan dari Kumbang Luyang. Citarasa yang ditawarkan pun terdiri dari rasa asin gurih dan ada pula yang manis.

Selain Kumbang Luyang, di gerai Dua Putri juga tersedia Kue Cucur khas masyarakat Lampung dan juga gula aren dengan kualitas prima selain jenis jenis kudapan lezat karya home industry masyarakat Lampung Barat. Kini, toko ‘Dua Putri’ menjadi pemasok permintaan Buak Tat dan jenis kue kue khas lainnya baik dalam jumlah kecil maupun jumlah besar. Bahkan tak jarang mendapat order untuk acara adat, pernikahan hingga hari raya.   

wujud Kumbang Luyang dengan citarasa asin
 
proses memasak Kumbang Luyang - photo by bang Endang

seorang Ibu dengan tekun memasak Kumbang Luyang
 
KUALITAS PRIMA DAN HARGA TERJANGKAU

Jadi jangan lupa, bila ke Liwa – Lampung Barat, singgahlah ke Toko Dua Putri yang menjual beragam kue khas Lampung Barat. Tepatnya di jalan Raya Wates Pekon Wates kecamatan Balik Bukit – Liwa – Lampung Barat. Soal harga jangan khawatir. Buak Tat Loyang persegi empat ynag besar dibandrol dengan harga Rp. 40.000/loyang. Buak Tat bundar sedang seharga Rp.2.000,- dan berukuran kecil jumlah 50 buah dalam box mika seharga Rp.40.000,-. Untuk Kumbang Luyang  dalam paket bungkusan mulai harga Rp.20.000,- sedangkan Kue Cucur berkisar harga Rp.20.000,- hingga Rp.40.000,-. Untuk pruduk gula aren seharga Rp.20.000 per buah.

Buak Tat loyang besar dengan citarasa yang istimewa
 
seseruan di dapur Buak Tat


Ingin melakukan pemesanan atau informasi lebih lanjut soal Buak Tat khas Lampung Barat?, dapat hubungi nomor ponsel  082216985999. Bersantai ditemani Kopi atau Teh hangat semakin lengkap dengan lezatnya Buak Tat dan kue kue khas Lampung Barat lainnya.

3 komentar :

  1. Lihat buak tat yang berbentuk ikan jadi bikin aku ingat sama kue bolu khas Aceh, Mas. Mirip banget penampakannya. Tapi kalau yang di Aceh ya bolu, rasanya agak crispy gitu. Ngga pakai isian apa-apa :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. yesss..aku juga pernah makan yang karya Aceh punya..tapi emang bolu taste yaaa...kalo ini ada isi selai nanas nya ...nanti mba MOlly ke Lampung aku traktir deh...

      Hapus
  2. Jejak-jejak Belanda begitu membekas hingga ke soal lidah dan perut

    BalasHapus

Scroll To Top