Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Minggu, 01 April 2018

WISATA DAM RAMAN - REKREASI KELUARGA DI METRO UTARA



bosen lho Yah, tiap ke Metro main nya ke taman melulu…” sahut anak gadis saat saya tanya keinginannya siang itu.   Saat tak ada jadwal memandu acara di akhir pekan, saya dan keluarga  kerap menghabiskan waktu di  kota Metro. Sejak bujang pertama menempuh pendidikan di salah satu Pondok Pesantren di kawasan Punggur – Lampung Tengah.  Kota Metro selalu jadi spot kunjungan saya dan keluarga saat menjenguk bujang pertama. Lumayan untuk melepas rindu bertemu bujang pertama.


kondisi Bendungan yang tetap terawat



Memanfaatkan waktu pertemuan dengan bujang pertama itulah, saya kerap ajak anak-anak dan istri keliling kota Metro. Selain icip icip kuliner, tandang ke beberapa spot menarik selalu jadi jadwal kami sepanjang Minggu. Memang taman Merdeka kota Metro yang letaknya bersebelahan  dengan Masjid Agung Kota Metro merupakan spot public yang paling sering kami kunjungi. Tapi Minggu lalu, diakhir Maret saya mengajak keluarga berkunjung ke bagian utara Metro. Tepatnya mendatangi kawasan bendungan Way Raman.

Sesuai namanya, bendungan Way Raman adalah saluran irigasi atau pengairan ladang dan persawahan di kota Metro. Beberapa warga kerap menyebutnya dengan nama Dam Raman. Dam bermakna bendungan dan Raman adalah nama kawasan dari kata Way Raman. Way dalam bahasa Lampung berarti Air. Dan Raman dalam bahasa Hindi bermakna Indah. Konon Bendungan Way Raman atau Dam Raman telah ada sejak masa penjajahan kolonial Belanda, tepatnya pada masa perang dunia II dan telah berfungsi sebagai sarana utama pengairan untuk areal ladang dan sawah disekitar lokasi Dam Raman Berada.

bersantai diatas bentangan bendungan bak danau

kawasan santap di tepi bendungan
TREND KEKINIAN ; SPOT SELFIE WARNA WARNI HINGGA JEMBATAN BERSEJARAH WARNA WARNI.

Bagi saya, tandang ke kawasan Dam Raman bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa tahun sebelumnya saya pernah tandang ke kawasan pengarian tersebut hanya saja dibagian hulu. Sedangkan kawasan Dam Raman yang saya kunjungi bersama keluarga di hari Minggu kala itu adalah kawasan yang telah menjelma menjadi sarana wisata umum bagi warga sekitar.

Bentuk bendungan masih terjaga sesuai fungsinya. Pada bagian hulu terdapat bentangan air dari bendungan yang menyerupai danau luas dengan pepohonan rindang dan areal sawah dan ladang yang menambah asri kawasan tersebut. Beberapa sarana wisata telah tersedia dalam kawasan Dam Raman. Layaknya tempat wisata kekinian, spot selfie karya cipta sang pengelola menjadi daya tarik tambahan. Meski saya lebih suka sesuatu yang tak terlalu heboh warna warni. Tapi balik lagi ke selera yaa, bisa jadi kebanyakan pengunjung kawasan ini senang dengan suasana yang meriah warna warni.  Bilah-bilah spot photo warna warni dengan hiasan bunga plastik yang juga warna warni. Meriah dah!. Tambah meriah dengan iringan Musik organ tunggal yang menyuguhkan lagu dangdut bernuansa remix dan koplo!. Nyatalah suasana hingar bingar!.

sewa kapal untuk berlayar ke bagian hulu sungai. Rp. 25.000/orang

gelar tikar dan makan siang bersama tepi danau

Tidak ada pungutan tiket masuk kedalam kawasan Dam Raman.  Hanya saja, pengunjung wajib membayar sejumlah  biaya bila ingin memanfaatkan fasilitas wisata dalam kawasan Dam Raman. Bahkan untuk photo selfie di amben berbentuk LOVE, pengunjung pun harus membayar Rp.3.000,-. Letak Dam Raman berada persis pada jalan menuju kawasan hunian warga Metro Utara dan areal ladang serta sawah. Jadi bila mengikuti google map menuju Dam Raman, pengunjung akan mendapati rute jalan seolah sedang menuju persawahan. Sebagai tempat bersantai, Dam Raman bisa jadi lokasi menarik untuk keluarga. Tak heran bila terlihat beberapa keluarga datang berbondong lalu menjadikan lokasi Dam Raman sebagai tempat bersantai menghabiskan akhir pekan mereka. Pasang muda mudi juga banyak terlihat dikawasan Dam Raman. Secara khan, pacaran diakhir pekan lhoo.... hhhmmm.

spot photo selfie - peranjungan 3000/orang. monggo yang suka


Oleh karena di salah satu sisi kawasan Dam Raman terlalu ramai plus hingar bingar musik organ tunggal yang tak jelas arah lagunya kemana. Saya memutuskan mengajak anak anak dan isti kebagian yang lebih sepi. Tepatnya ke dekat dermaga perahu. Tersedia bentangan tanah lapang yang bisa dijadikan tempat santai gelar tikar bareng kaluarga atau buka bekel makanan di pondokan kayu sederhana yang letaknya diatas kolam pancing. Saya memutuskan menempati pondok kayu sederhana tersebut. Lebih privacy ketimbang gelar tikar dekat danau,hehehe. 

pondokan makan diatas kolam lele pinggir danau

Saya sempat menawarkan naik perahu pada anak anak. Sayang mereka tak berminat. “panas” begitu jawab bujang kedua. Tapi anak anak sempat bermain dipinggiran danau sembari melihat beebrapa pria dewasa yang berhasil mendapat ikan saat memancing.  Ada perahu berbentuk hewan yang berputar-putar diarea bendungan yang menyerupai bentangan danau tersebut. Ada pula kapal kayu yang akan membawa pengunjung ke bagian hulu dari aliran sungai. Nah, usai santap siang dan bersantai sejenak di kawasan Dam Raman, saya dan keluarga melanjutkan kunjungan ke bagian hulu. Tempat dimana dulu saya pernah tandang bersama rekan-rekan untuk melihat langsung bentuk irigasi dan jembatan gantung peninggalan Belanda. Tapi sayang, kawasan jembatan gantung yang dulu pernah saya abadikan telah berubah wujud dengan jembatan yang warna warni!. Hilanglah daya tarik sejarah dibalik jebatan tersebut. Memang, kawasan sungai kini jauh lebih rapih termasuk adanya penataan kawasan parkir dan lahan kunjungan. Tapi alangkah baiknya bila jembatan yang memiliki nilai sejarah tersebut tidak di cat warna warni kekinian. Duh!. Kadang pengelola memang suka sesuatu yang meriah tanpa mengindahkan nilai sejarah. 

photo saya beberapa tahun silam di jembatan penuh sejarah - photo by Oom Yopie


Jembatan yang telah berubah warna warni
Untuk rekreasi keluarga, Dam Raman menarik untuk dikunjungi. Terutama yang gemar photo di spot meriah berwarna-warni.

0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top