Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Sabtu, 24 November 2018

TIGA HARI MOTORAN DI BALI, DAPAT INI!.



Tandang ke Bali itu bukan sesuatu yang asing bagi saya.  Mulai masa liburan bareng keluarga, study tour jaman SMA hingga beberapa kali pelesiran bareng temen-temen saat liburan kuliah dulu.  Belum termasuk jadi biduan atau urusan pekerjaan. Dari sekian kali ke Bali, saya ingin melakukan sesuatu yang beda. Yang belum pernah saya lakukan sebelumnya bila ke Bali.  
“Serius lu pengen motoran di Bali?!” ujar rekan kerja tak percaya ketika tahu saya ingin menikmati Bali dengan sepeda motor.
 

Keinginan tersebut pun kesampaian.  Usai 4 hari gelaran Anak Lombok Semangat Sekolah (ALSS) bersama rekan-rekan lintas profesi di Lombok, maka sisa cuti yang saya miliki saya gunakan untuk singgah di Bali.   Usai mendapatkan sepeda motor di 9 November 2018 pagi, maka berlangsunglah misi saya keliling ke beberapa spot wisata di Bali sesuai dengan keinginan. 


PURA ULUN DANU BRATAN – BEDUGUL

Saya punya waktu hingga 11 November untuk kembali lagi ke kawasan Kute dan mengembalikan motor sewaan ke pemiliknya. Rute pertama yang saya tuju adalah kawasan Bedugul. Akses jalan yang terbilang lancar meski terkena serangan hujan lebat di beberapa lokasi yang saya lalui. Sempat beberapa kali singgah di pelataran toko pinggir jalan sebelum akhirnya terabas hujan dengan mantel hujan yang tak terlampau lebar. Alhasil sweeter yang saya kenakan pun basah terkena hujan. Termasuk bagian kaki dan celana pendek yang saya pakai.  Tiba di kawasan Pura Ulun Danu Bratan – Bedugul pun cuaca tak begitu bersahabat. Setelah hujan lebat, kabut datang dari kawasan perbukitan dan menyelimuti bangunan Pura. Cocok dah!!. Saya sempat bersantai Ngopi lalu pesan teh hangat yang kemudian lekas dingin karena suhu di kawasan pura begitu dingin. Sempat pula makan mie rebus guna menunggu kabut yang mendekap bangunan pura beranjak. 

mau dapat photo kece teteup wajib Antri dengan pengunjung lain yaaaa


MENIKMATI UBUD

Waktu semakin beranjak sore. Usai mengabadikan diri di bangunan pura yang ada dalam uang kertas 50.000-an tersebut, saya bergerak menuju kawasan Ubud. Yup!, kawasan Ubud memang jadi spot favorite saya di Bali.  Meski jarak dari Bedugul ke Ubud terbilang jauh, tapi sepanjang jalan yang saya lalui banyak hal –hal menarik yang buat saya banyak berhenti lalu mengabadikan momen menarik tersebut. Salah satunya adalah arak-arakan dari perayaan pernikahan. Tak heran bila tiba di Ubud suasana telah gelap. Malam beranjak. Usai menaruh ransel di kamar tidur yang telah saya pesan saat di Bedugul, saya memanfaatkan waktu untuk menikmati Ubud kala malam. Berjalan di sepanjang jalan Ubud Raya bersama para pelancong lainnya hingga singgah makan malam di sebuah resto yang ramai. Prinsipnya kalo tempat makan rame berarti enak!, hehehe.
   
Niat eksplorasi Ubud pun berlangsung keesokan harinya. Sejak pukul 4 pagi saya sudah bergerak menuju kawasan Tegallalang. Untuk menikmati hamparan padi dengan tanah berundak yang sangat cameragenic!. Usai memuaskan pandangan mata di hamparan padi saya bergerak menuju kawasan  pemandian suci – Tirta Empul dan juga melalui bagian depan  istana Tampaksiring. Hari beranjak terang. Saya menyempatkan tandang ke sebuah museum yang sejak dulu saya ingin kunjungi. Museum Blanco. Menyimak secara langsung karya seni yang ada dalam museum Blanco membuat saya tak henti berdecak kagum.  Sebagai penggemar tandang ke museum,  tak terasa dua jam berlalu.
Usai memuaskan pandangan mata dan jiwa menikmati maha karya Blanco saya menuju pasar seni tradisional Ubud yang begitu tersohor dengan beragam kerajinan tangan tersebut. Meski begitu, saya tidak membeli apapun di art market Ubud ini, malah mendatangi penjaja kue-kue tradisional dan makanan khas Bali yang berbaris rapih di bagian dalam pasar.  Blusukan ke pasar tradisional itu, seru lho!.
Pura Tirta Empul

salah satu spot kafe dan resto yang menarik dikunjungi saat ke Rice Terrace Tegalalalng.

OBROLAN PENGLIPURAN

Jelang tengah siang, saya bergegas menuju penginapan dan mengemas barang bawaan untuk menuju spot kunjungan berikutnya. Karangasem.
Meski kerap ke Bali. Tapi belum sekalipun saya mendatangi kawasan Karangasem. Dan berdasarkan pencarian di sosial media, kawasan Karangasem Bali punya banyak spot menarik yang layak di kunjungi langsung. Tapi sebelum menuju Karangasem, saya menyempatkan diri tandang ke desa wisata Penglipuran yang terletak di kawasan Bangil.

Tujuan awal ke desa Penglipuran tentu ingin mendapatkan photo-photo kece seperti yang marak terpampang di sosmed.  Meski tak semudah kenyataannya. Untuk mendapatkan photo berlatar rumah rumah bersusun rapih dalam desa Penglipuran, pengunjung wajib rela antri dengan pengunjung lain. Belum termasuk wujud pengunjung lain di kejauhan yang mengganggu frame photo.  Sembari menunggu antri dan pengunjung lain beranjak pulang, ada baiknya bersantai sejenak di warung-warung yang ada di setiap rumah dalam kawasan desa Penglipuran. Seperti yang saya lakukan siang itu. Makan siang dan bersantai disalah satu rumah yang dipenuhi beragam tumbuhan bunga nan asri. Yang menarik, saya justru mendapati sebuah bangunan  rumah yang telah berumur ratusan tahun. Sebuah bangunan kecil dari kayu dengan ukuran pintu hanya seukuran tubuh manusia dan sebuah ranjang dan lemari kayu kecil dibagian dalamnya.  Dan mengalirkan obrolan seputar bangunan rumah tersebut  yang sarat sejarah dengan si empunya rumah disela suasana makan siang saya.

Banyak bocor!!. mau photo kece harap antri dengan pengunjung lain yaaa....

TAMAN UJUNG DAN TIRTA GANGGA

Saya pun melanjutkan perjalanan usai makan siang dengan bonus kisah bangunan bersejarah dan kesempatan photo berlatar rumah-rumah berjajar rapih dalam desa Penglipuran. Kawasan Karangasem adalah tujuan terakhir dari motoran saya di Bali kali ini.  Sebelum hari beranjak semakin sore dan segera gelap. Saya manfaatkan waktu menuju Taman Ujung. Kunjungan  saya ke Taman Ujung untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. Mengingat Taman Ujung telah jadi sebuah destinasi kunjungan dan spot photo yang begitu marak di sosial media.  Tapi lagi lagi, pengunjung harus siap antri saat mengabadikan moment di beberapa spot menarik di Taman Ujung. Secara, banyak yang minat photo beragam gaya hingga beragam baju endorse di lokasi ini!,hahaha.

Memanfaatkan waktu sore, saya bergegas membawa sepeda motor menuju Tirta Gangga. Kawasan pura yang tak kalah menarik untuk diabadikan.  Untuk memuaskan hasrat ingintahu, tentu Tirta Gangga adalah spot  wisata menarik di Karangasem yang wajib saya datangi meski lagi-lagi kesabaran di uji saat ingin mengabadikan diri di spot menarik dalam kawasan pura.


mau photo bagus disini,  Wajib Ngantri yaaa


kawasan dalam Pura Tirta Gangga, mau photo kece wajib antri yaaaa hehehehhe

KESAMPAIAN KE PURA LEMPUYANG

Pukul 4 pagi saya bergegas menuju Pura Lempuyang usai bermalam di sebuah homestay di kawasan Amlapura – Karangasem.  Sengaja bermalam di kawasan Amlapura yang tak terlalu ramai agar tak terlampau jauh saat akses menuju Pura Lempuyang.
Sebenarnya, keinginan saya mendatangi Pura Lempuyang bukan karena bentuk pura semata, melainkan sebuah keinginan menikmati kopi hangat berlatar Gunung Agung!. Hahaha.  Momen seruput kopi yang istimewa bukan?, hehehe. Setelah 40 menit mengendari sepeda motor dengan cuaca pagi nan dingin plus beberapa kalil salah arah, akhirnya saya tiba di titik dimana Pura Lempuyang berada. Melihat bangunan pura dan gugusan gunung Agung sebagai latarnya adalah sesuatu yang istimewa. Pagi yang bernilai bagi saya.  Sama dengan perjalanan di Bali yang saya lakoni dengan motoran. Sungguh berkesan. Jalan sendirian. Mengandalkan Google Map dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias tanya-tanya warga di sepanjang jalan bila merasa bingung. Termasuk menemukan hal hal menarik disepanjang jalan yang saya lalui.  Uraian kisah seru yang belum tentu saya dapatkan bila mengendarai mobil atau bis dalam group tour. Tiga hari motoran penuh kesan, sebelum saya kembali ke kawasan Kuta untuk aktivitas lainnya.

Akhirnya kesampaian, Ngopi berlatar Gunung Agung! Check!

Noted ; Kelak akan ada uraian kisah tersendiri berkenaan dengan setiap spot menarik yang telah saya uraikan diatas.

3 komentar :

  1. Aku belum pernah motoran kalau main di Bali. Setelah tak pikir-pikir, seru juga kayaknya. Motoran kayak Ratna-Galih jaman baheula hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe bisa di coba mbaaa... sesama KLan Indra , mba Evi juga wajib coba lhooo...

      Hapus
  2. Om, dari restoran di Tegalang itu bisa terbangin drone atau tidak?

    BalasHapus

Scroll To Top