Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 14 Januari 2020

MENYIMAK BANGKITNYA ARWAH DALAM PARADE HARI KEMATIAN DI MEXICO.



… “Can’t wait to see the parade this evening”…  ucap pria bertubuh tambun pada rekannya sembari meletakkan sepiring omelet dan segelas orange juice sebelum duduk berdekatan. Sang rekan berkulit lebih coklat pun menunjukkan wajah antusias. “Such huge celebration Day of the Dead on the street, right?” seloroh pria pada rekannya yang bertubuh tambun.  Sebagai pihak yang duduk di sebelah meja dengan mereka, saya pun tertarik menyimak lebih lanjut ketika kedua pria tersebut membicarakan soal hantu.  Maka tak heran bila pembicaraan mereka jauh lebih menarik untuk di simak ketimbang menu sarapan di hadapan saya.

Balai Kota Monterrey

 
“Hi, guys, may I know about the parade?. I am interested to know about the ghost that you’re talking about ?” tanya saya ketika obrolan mereka terhenti sembari saya mendekatkan posisi duduk seraya berbasa-basi memperkenalkan diri. SKSD!.
Kedua pria itu pun menerima kehadiran saya dengan ramah. Bahkan mereka sempat bertanya perihal aktivitas saya di Monterrey, Mexico.
Setelah di hias pembicaraan pengantar, kedua pria secara bergantian mengurai obrolan mereka.

Pernak Pernik Hari Kematian. photo by Google.
 
FESTIVAL MENGENANG KERABAT YANG TELAH WAFAT.

Saya terkejut ketika menyimak arah pembicaraan dua pria tersebut. Sekaligus kaget. Ternyata, di Mexico terdapat sebuah tradisi khusus untuk mengenang kematian dari sosok ternama, teman hingga kerabat dekat. Bahkan kemudian, tradisi tersebut di kemas dalam bentuk festival bertajuk Dia de Los Muertos, bermakna ; Hari Kematian !!. Sontak saya teringat akan adegan pembuka dari film James Bond berjudul Spectre yang menggambarkan suasana pawai topeng tengkorak dan manusia-manusia berhias bak hantu!. Tau dong serial Bond yang di mainkan oleh Daneil Craig dengan lokasi syuting di Meksiko itu?.

Pria bertubuh gempal yang mengenalkan dirinya dengan nama Bartho tersebut menguraikan bahwa saat perayaan Dia deLos Muertos berlangsung, tiap keluarga menghias rumah mereka dengan membuat sebuah altar bertingkat yang di hiasi oleh photo-photo pihak  keluarga yang telah tiada, bunga berwarna kuning atau akrab di sebut orang-orang Mexico dengan sebutan AztecMarigold atau bunga kematian. Selain itu, pada altar yang umumnya berbalut kain putih juga terdapat kerangka dan tengkorak, permen gula berbentuk tengkorak hingga ornamen-ornamen khas Meksiko yang kerap di sebut papelpicado. Tersaji pula beragam jenis panganan, beberapa jenis minuman plus berjajar barang-barang favorite mendiang semasa hidup.
Sampai pada penjelasan ini, mata saya tak henti membelalak.  Urat leher nyaris tercekat. Terbayang betapa mistisnya suasana di tiap rumah yang merayakan Hari Kematian tersebut.

dekorasi hari Kematian di Meksiko - photo by google.
 
“Selain menghias rumah,  seluruh anggota keluarga akan mendatangi pusara para kerabat yang telah wafat tersebut.” terang pria berkulit coklat tanning dengan rambut keriting bernama Daniel. Dalam kunjungan ke makam para kerabat tersebut, Daniel menerangkan bahwa ada ritual membawa persembahan berupa bunga-bunga, lilin, juga beberapa jenis makanan dan minuman khas. Mendadak imajinasi saya mengingat wujud sesajen.
“Di makam yang mereka datangi itu juga di hias dengan bunga kematian, barang-barang kesayangan mendiang semasa hidup hingga mainan bila yang wafat adalah seorang anak kecil. Bahkan tak jarang ada juga botol-botol alkohol di makam orang dewasa.” urai Daniel semakin bersemangat ketika saya menunjukkan ekspresi antusias.

“Lalu apa yang mereka yakini dari perayaan Hari Kematian tersebut?” tanya saya dengan keterbatasan kosakata mengenai kematian dalam bahasa inggris. Beruntungnya, orang asing akan menunggu sampai akhir dari semua susunan kalimat yang terucap meski saya terbata-bata menyampaikannya.  Sungguh sebuah pelajaran bagaimana mereka menghargai orang asing.
“Bagi orang-orang Meksiko yang merayakan Hari Kematian sangat percaya bahwa arwah para kerabat yang mereka beri sesembahan itu akan bangkit dari kubur dan ikut merayakan gelaran festival bersama keluarga masing-masing” jelas Bartho dengan gerakan tangan atraktif ala pria-pria latin nan khas. “Bahkan para arwah yang bangkit itu di percaya menikmati hidangan kesukaan mereka yang tersaji termasuk memainkan barang-barang kegemaran mereka semasa hidup” imbuh Daniel.
“Apakah perayaan ini termasuk tradisi Hallowen di Meksiko ?” tanya saya sembari menikmati semangkuk sereal.
“Hallowen itu perayaan umum di beberapa negara di akhir Oktober saja. Tapi Festival Kematian berlangsung sejak 27 Oktober hingga 2 November setiap tahunnya di Meksiko. Khususnya Meksiko bagian Tengah dan Selatan. Acaranya di mulai dari ritual mendirikan dan menghias altar, kunjungan ke makam hingga parade di jalan-jalan utama kota.” jelas Daniel sembari merapikan peralatan makannya.
“Kami undur diri dulu. Jika kamu ingin melihat parade sore ini datanglah ke jalan utama depan Balai Kota.” sahut Bartho. “Well, jika kamu ingin tahu seperti apa bentuk altar dan persembahan untuk mereka yang telah wafat, di depan Balai Kota dan taman umum di samping Gran Hotel Ancira ini juga ada. Datangi saja.” timpal Daniel.
“Enjoy Monterrey…” ucap mereka bersamaan sebelum beranjak dari hadapan saya dan hilang dari pandangan.

dekorasi  peringatan Hari Kematian di depan bangunan pusat kota Monterrey - Mexico.

beberapa pusat perbelanjaan yang menyajikan dekorasi Hari Kematian.
 
SESEMBAHAN BAGI PARA MAYAT.

Usai menyimak uraian mengenai tradisi lokal nan khas dari Bartho dan Daniel saya jadi semangat untuk melihat secara langsung. Meski sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan. Tapi saya harus tahu diri bahwa mereka tentu punya kesibukan yang jauh lebih penting ketimbang meladeni pertanyaan-pertanyaan saya. Siapalah gua ini Rudolfhoo?!!!

Setelah menyelesaikan santap pagi saya langsung menuju lobby hotel. Mendekati rak yang berisi brosur dan buku panduan wisata yang terletak di ujung meja receptionist. Beberapa keterangan mengenai parade hari kematian pun saya dapatkan. Meski tidak begitu memuaskan keingintahuan saya.  Setelah bertanya letak taman umum samping hotel pada petugas hotel saya bergegas menuju lokasi. Supaya tak sendirian saya mengajak rekan saya – Saddam.  Padahal sebenernya gue serem juga kalo sendirian!, hahaha.
 
bentuk Altar pada depan gedung  Palacio Municipal.

photo-photo para mendiang terpajang di sekitar Altar.


Saat kami berada di taman samping hotel,  terlihat sebuah gedung bertuliskan 'Palacio Municipal' yang menggelar altar serta sesembahan di bagian depan bangunan. Wujud altar bertingkat langsung menarik minat saya untuk mendekat dan melihat secara langsung.  Tersaji beragam jenis hiasan di sekitar altar. Semacam dekorasi khas lengkap dengan photo-photo mereka yang telah wafat. Saya menyimak lebih dekat deretan photo yang di pajang.  Dari tampilan photo, terlihat beberapa pesohor layar kaca Meksiko hingga pejabat publik di antara puluhan photo masyarakat umum.  

Usai menyimak detail hiasan altar, saya mengajak Saddam untuk melihat sisi lain dari bagian gedung. Sembari memotret ruangan bagian dalam, penciuman saya menyerap aroma-aroma rempah dan wangi beberapa bunga dari sesaji yang terdapat di sekitar altar. Aromanya lebih menyengat daripada dupa di Vihara. Pada bagian dinding terdapat hiasan berupa kerangka, tengkorang, boneka berwujud menyeramkan dan photo mereka yang telah wafat lengkap dengan untaian kain berwarna putih dan hitam pada pilar-pilar penyangga ruangan.  Di sisi lain, tak jauh dari gedung yang saya dan Saddam datangi terdapat museum yang memajang kerajinan tangan khas masyarakat Meksiko bernuansa Hari Kematian. Saya dan Saddam sempat melihat-lihat dan mengabadikan beberapa gambar di area depan museum.

Pada sebuah keterangan di samping altar yang berada di museum tersebut saya memperoleh informasi bahwa perayaan Dia de Los Muertos merupakan tradisi masyarakat Aztec Kuno dan telah ada sejak zaman pra-hispanik atau sekitar 2.500 – 3.000 tahun silam!.  Di Meksiko, hari perayaan Dia de Los Muertos jadi hari libur nasional karena bertepatan dengan perayaan hari raya Semua Orang Kudus (All Saints Day) dan hari Arwah (All Souls Day) bagi umat Katolik.

rekan saya - Saddam yang saya abadikan depan Altar, sementara saya tak berani. ketakutan.
  
sajian pada altar dan detail dekorasi di sertai  hiasan bunga  kematian (waktu saya kecil di kampung menyebutnya bunga tai ayam).

PESONA PARADE KEMATIAN

Denger gak? …” tanya Saddam membuyarkan suasana hening kami kala itu. Sesaat saya mengenali suara yang sepertinya berasal dari tetabuhan drum atau semacamnya.
“Jalan utama!. Di depan Balai Kota!!” sahut saya sembari mengingat apa yang Bartho dan Daniel sampaikan dalam obrolan di sela sarapan beberapa jam lalu.  “Maksud lo karnaval udah di mulai ?” tanya Saddam meyakinkan. “Bukannya lo bilang sore ampe malem?” Saddam terus bertanya meski kakinya mengikuti langkah saya.

Beruntung teknologi saat ini memudahkan. Google map lah yang berjasa menuntun langkah saya dan Saddam menuju Balai Kota yang di maksud oleh Bartho dan Daniel.  Ketika jalan yang kami susuri berakhir tepat di depan halaman Balai Kota, mata saya kembali terbelalak melihat ratusan orang berkumpul yang terbagi dalam kelompok-kelompok. Mereka mengenakan kostum tengkorak. Sebagian besar menghias wajah dan tubuh serupa hantu. Sebagian lagi mengenakan beragam pernak-pernik karnaval nan mencolok. Ada pula kelompok pembawa alat musik lengkap dengan tampilan bak tuan dan none Belanda berkostum serba hitam.  Dentuman yang kami dengar sebelumnya ternyata berasal dari tabuhan drum yang di pukul dengan ketukan dinamis sembari di selingi syair-syair yang sama sekali tak saya pahami karena berbahasa Spanyol.  
Sorry Mersedes!!.

Persiapan parade. Photo by Saddam.

kelompok kelompok parade. photo ny Saddam.

 Sejauh pandangan mata, suasana benar-benar seperti adegan pembuka dalam film agen rahasia James Bond – Spectre. Mulailah saya berimajinasi akan kehadiran Daniel Craig diantara kerumunan peserta pawai. “This is the day of the dead parade?” tanya saya pada seorang pria yang berdiri menonton tak jauh dari saya. “I don’t think so. I think it’s just rehearsal.” jawab si pria. “The show will start at 6pm.” sambung si pria. Saya dan Saddam bertatapan ketika si pria menerangkan soal waktu pertunjukan yang sesungguhnya.  Karena jika pertunjukan berlangsung saat lepas senja, itu tandanya saya dan Saddam tak dapat menyimak secara langsung karena kami memiliki kewajiban untuk tampil dalam panggung pertunjukan Festival Santa Lucia.

Suasana Parade Hari Kematian. photo by KBRI MEXICO.

 Sungguh sayang kami tak dapat menyimak secara utuh parade hari kematian. Tapi dari gambaran yang kami simak siang itu sungguh sebuah gelaran yang mengagumkan. Iring-iringan yang menarik untuk di simak dengan sajian atraktif nan memukau. Tak heran bila nyaris seluruh bagian muka dari jajaran bangunan bertingkat di tengah kota menyajikan hiasan bernuansa Dia de Los Muertos. Tapi saya pribadi merasa beruntung menyaksikan gelaran perayaan hari kematian. Meski hanya berupa bentuk altar dan persiapan acara saja. Bagai mendapat bonus dari perjalanan yang kami lakoni. Semoga di masa mendatang saya benar-benar dapat menikmati secara utuh sajian Parade Hari Kematian yang  oleh UNESCO telah tercatat sebagai ‘Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity’ pada tahun 2008.

5 komentar :

  1. Seru sekaliii.. Sayang sekali cuma hadir pas gladinya aja yah, pasti rame banget ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gladi nya aja udah buat WOW. semoga next bisa dateng lagi ke sana.

      Hapus
  2. Bener-bener "berjodoh" karena pas ke sana eh bertepatan dengan perayaan ya bang. Aku sejak nonton Spectre tuh pun mupeng liat langsung. Apalagi pas kemudian nonton Coco yang mengharu biruuuu huhuuu makin tertarik sama Mehiko ini hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah nanti kita road trip ke Mehiko pas akhir Oktober ajaa... trus melipir ke guadalupe, Belize, Peru, Chile, Haiti, Jamaika, dll ....

      Hapus
  3. Wowww ini jadi kayak versi beneran dari film Coco yaaa...

    Asik banget dapet kesempatan liat langsung...

    Jadi pengen ke sana juga hahaha...

    BalasHapus

Scroll To Top