Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label krui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krui. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2018

MENGENAL DEKAT ANJUNGAN BANG OKING DI PESISIR BARAT.



Sekuat tenaga saya menahan kantuk. Bukan karena ada yang ditunggu. Tapi topik obrolan bersama rekan jalan yang sayang untuk dilewatkan. Aldi masih mengatur kemudi dengan baik sejak mulainya perjalanan kami dipagi hari dari Liwa hingga masuk kawasan Krui – Pesisir Barat. Bentangan alam berpadu barisan rumah warga di sepanjang Krui pun jadi sesuatu yang sayang dilewatkan.  Dari balik kaca kendaraan,  mata saya merekam aktivitas masyarakat Krui  sepanjang perjalanan.  

Senin, 08 Februari 2016

WEDDING TRIP ; PENGALAMAN JELAJAH PENUH KISAH (Part 2)



Tugu Kayu Aro - Landscape menarik di tengah pasar Liwa - Lampung Barat



Rencana yang telah disusun untuk siap jam 6 pagi hanyalah sebuah wacana.
Nyatanya, saya dan semua rombongan baru meninggalkan hotel pada pukul 7.30 pagi. Itupun sudah bercampur komando ligat dari mba Dewi. Saya termasuk yang bangun kesiangan. Hahahah.  Sungguh saya mengalami tidur pulas sepanjang malam.

Pagi ini, giliran bang Decky yang mengendalikan kendaraan menuju lokasi perayaan pernikahan Ryan. Selama perjalanan kami mencari kue Serabi khas Krui yang pada akhirnya tidak juga kami dapatkan. Untunglah beberapa dari kami mengganjal perut dengan seduhan pop mie. Tidak dengan saya. Karena saya tidak suka mie instan dipagi hari.

Lokasi tujuan kami pagi itu adalah pekon (desa) Bandar Pugung kecamatan Lemong kabupaten Pesisir Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan pedesaan yang khas, asri dan bersinggungan dengan garis pantai tampak indah di pelupuk mata. Sesekali kami melihat aktivitas masyarakat yang juga begitu khas. Meski hari Sabtu, beberapa masyarakat tampak menjalankan aktivitas berkebun mereka. Panjang lebar kami membahas ragam topik pembicaraan bukan hanya bertujuan mengisi suasana kebersamaan kala pagi tetapi lebih pada menghibur diri, mengingat tujuan yang hendak kami capai tak juga kunjung tiba. Setiap personal di dalam kendaraan mulai cemas,  apakah rute yang kami tempuh salah. Meski terkadang ada keyakinan bahwa jalan yang kami lalui adalah rute yang benar. Pekon atau desa Bandar Pugung merupakan desa yang cukup ujung dalam kecamatan Lemong – Pesisir Barat – Lampung. Dengan kondisi jalan berliku dan bersinggungan dengan kawasan hutan dan hamparan perkebunan selain desa desa yang berdekatan.
Sempat bertanya pada beberapa warga, bahkan sempat bertemu dengan suasana perayaan pernikahan pihak lain. Termasuk menduga jemuran selimut bermotif bunga merupakan papan bunga layaknya papan ucapan  pernikahan. Hah!!! Maklum efek mata masih ngantuk.
Akhirnya kami tiba di lokasi perayaan pernikahan Ryan.  Kami merasakan sambutan hangat dari segenap keluarga Ryan. Sebuah penyambutan masyarakat Lampung yang khas. Sesaat saya dibuat takjub dengan hiasan acara pernikahan yang begitu tradisional. Setelah mengabadikan bentuk bentuk dekorasi yang unik dan khas Lampung pesisir. Bertindak sebagai pembawa acara, saya kemudian bergegas berkoordinasi dengan beberapa pihak keluarga Ryan untuk susunan acara pernikahan yang sesaat lagi akan berlangsung.

Narsis Sesaat di belakang rumah Ryan - Pekon Pugung - Lemong - Pesisir Barat.



***
Suasana pernikahan yang berkesan. Khas Lampung Saibatin. Bercampur suasana meriah dan kehadiran tetamu yang tak bisa dibilang sedikit. Bahkan rekan rekan kampus UTB dimana Ryan berkuliah dan berkarier turut hadir dalam kebahagiaan Ryan dan Diar – istrinya. Bahkan jajaran mahasiswa Ryan pun turut hadir merayakan kebahagiaan sepanjang siang tersebut – wajarlah, jika mahasiswa bimbingan tidak hadir di moment berharga sang dosen jangan harap bisa dapat nilai memuaskan. Hahahahahhaa

Bersiap memandu resepsi pernikahan Ryan dan Diar.

Pelaminan khas dengan pengantin berbusana pengantin Lampung Pesisir.


Tugas saya memandu acara resepsi pernikahan Ryan dan Diar tuntas terlaksana. Berkenalan dengan biduan berbusana hijau nan aduhai  lengkap dengan ‘sumpalan’ seolah menggenapi kumpulan kisah seru sepanjang perjalanan. Sungguh sebuah perhelatan yang khas dan meriah.
Selesai santap siang dan photo photo, kami bergegas pamit pada sang pemilik acara. Beberapa pihak harus segera kembali ke Bandar Lampung – begitupun saya yang telah terikat pada jadwal pada minggu pagi esok.

Selama perjalanan pulang, kami sempat singgah di beberapa spot wisata menarik. Salah satunya kawasan pekon (desa) Kota Karang – sebuah desa yang bersinggungan langsung dengan garis pantai. Pesona Batu Tihang yang menjulang menjadi incaran pengambilan photo dan video kami siang itu.

Pemotretan sedang berlangsung di Batu Tihang - pekon Kota Karang - Lemong - Pesisir Barat.


Ide mba Dewi lah yang kemudian mengubah laju kendaraan tidak melalui rute perjalanan pulang seperti rencana semula, tetapi malah melaju melalui rute kabupaten Lampung Barat.
Liwa adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya.
Kondisi tempuh berkelok dari Krui ke Liwa di tambah kontur jalan yang bersinggungan langsung dengan jurang dan rimbunnya pepohonan tak menyurutkan semangat jiwa petualang kami, meski sepanjang perjalanan isi pembicaraan seputar berita artis artis ibukota merebak. Sosok mendesah gatal haus belaian – masuk setengah, hingga lantunan merdu nan khas dari sosok Patin yang menggemaskan. Semua adalah kelakar saya dan rekan rekan dalam kendaraan – membunuh sepi dalam perjalanan.

Pukul 15.30 WIB kami tiba di pasar Liwa dengan mendung menggulung tebal. Suasana lengang saat itu. Beberapa bangunan dan Tugu kayu Aro menghipnotis kami untuk berphoto.
Puas bernarsis diri di tengah pasar Liwa termasuk menunaikan Azhar di masjid depan Tugu Kayu Aro kami melanjutkan perjalanan ke Fajar Bulan. Kediaman bang Edward – sohib mba Dewi adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya. Lumayan, bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan sambil ngopi dan makan gratis. Hahahah.
Benar saja, sesampainya kami di kediaman bang Edward telah tersaji hidangan makan berat lengkap dengan lauk pauk lezat. Hhhmmm…. Tanpa banyak basa basi kami langsung menyerbu apa yang tersaji. Mba Dewi pun tampak lahap menyantap hidangan persembahan bang Edward. Makanan datang tepat disaat lapar melanda. Klop.!!!.

Bahagianya wajah kami di jamu oleh bang Edward. Terima kasih banyak bang Edward.


Seusai menyeruput kopi hangat persembahan bang Edward dan tak lupa menunaikan maghrib bersama, kami pun melanjutkan perjalanan. Jarak dari Fajar Bulan – Lampung Baret menuju Bandar Lampung masih lebih kurang 5 jam. Sungguh baik bang Edward. Mengerti betul ia akan para musafir yang lapar dan haus seperti kami, hahahha. Thanks Bang Edward.

Kondisi jalan yang berkelok sepanjang keluar wilayah Lampung Barat, disertai hujan lebat mengiringi rute kembali kami. Beberapa ruas jalan berlubang mengganggu perjalanan malam kami.  Bang Imron memegang kendali kendaraan malam itu. Beberapa kali mba Dewi kesal dengan kondisi jalan termasuk si pengatur laju kendaraan ketika mobil menghantam lubang lubang yang terasa rapat selepas kawasan Bukit Kemuning menuju Kota Bumi.  
Kami sempat singgah di Kota Bumi untuk menjajal kenikmatan bakso setelah mendatangi beberapa kedai bakso yang tutup. Hangat kuah bakso menyemarakkan perayaan malam minggu kami dalam perjalanan.

Suasana mobil dalam perjalana pulang.


Sungguh suatu perjalanan yang berkesan. Bertujuan menghadiri perayaan pernikahan Ryan dengan suasana pelesiran yang dominan. Maklum, rombongan satu mobil hobi jalan jalan semua. Tidaklah lelah dirasa, karena sepanjang perjalanan selalu ada saja yang bercerita dan kemudian memancing gelak tawa. Rute memutar khas petualang telah kami lakukan. Bermula dari Bandar Lampung melalui kabupaten Pesawaran – Pringsewu – Tanggamus – Pesisir Barat – Lampung Barat – Lampung Utara – Lampung Tengah – Lampung Selatan dan tiba dengan selamat kembali di Bandar Lampung. Alhamdulilah.

Terima kasih semua team satu mobil yang super kece – mba Dewi, mba Rara, bang Imron, bang Decky, Ilham dan Lucky. Salam Chebok, Cucuk, Mendesah-desah tanpa Kampak yaa.

WEDDING TRIP ; PENGALAMAN JELAJAH PENUH KISAH (Part 1)




pemandangan belakang rumah Ryan - kecamatan Lemong - Pesisir Barat - Lampung

 


Saya langsung setuju kala mba Dewi mengajak saya ikut serta dalam perjalanan ke Pesisir Barat.
Terlebih, kunjungan ke Pesisir Barat kali ini dalam rangka gelaran pernikahan rekan kami – Ryan, selain menengok keindahan Pesisir Barat yang memesona.
Tak berlebihan kiranya, jika saya menyebut Pesisir Barat sebagai salah satu kabupaten di provinsi Lampung yang menawan hati saya dan selalu ada rasa rindu untuk kembali lagi dan lagi. Meski rute perjalanan menuju ke Pesisir Barat tidaklah singkat. Butuh waktu 6 jam dari kota Bandar Lampung. Tapi saya tetap bersemangat jika diajak serta menuju kawasan Pesisir Barat.

Mba Dewi dan Ryan adalah dua sosok yang pertama kali saya kenal dalam sebuah perjalanan menapaki Gunung Anak Krakatau bersama rombongan trip kala media 2014 silam. Sejak pertemuan perdana, kami langsung klik dan kemudian beberapa kali melakukan kopi darat hingga akhirnya merasa ada keseruan antara pertemanan yang terjalin. 

***
 
Narsis di gardu Ronda seusai makan di Warung Sederhana. photo by Ilham.


Jadilah pada Jum’at siang,, rencana keberangkatan menuju Pesisir Barat terwujud nyata. Pada lokasi yang telah disepakati, saya di jemput oleh mba Dewi. Tak hanya mbak Dewi, telah ada beberapa rekan mba Dewi yang juga turut serta dalam perjalanan tersebut yang merupakan rekan rekan mba Dewi dan Ryan di Kampus UTB. Seiring perjalanan  saya pun mengenal mereka – mba Rara (sosok periang yang telah saya kenal sebelumnya), Lucky, Ilham, bang Imron dan bang Decky,. Mengapa saya sebut mereka ‘Bang’ ? – selain sapaan baru kenal , secara tampilan mereka tampak lebih dewasa daripada saya....hahahah…. Ooopss.!!! (kampak saya!!). 

Ilham mengendalikan kemudi siang itu. Melaju dengan kecepatan cukup baik diantara cuaca cerah dan rute perjalanan yang lancar. Meski sempat berhenti dibeberapa titik perjalanan. Biasalah, ada yang kurang rasanya jika melakukan perjalanan tanpa berhenti di beberapa tempat – warung waralaba – belanja camilan hingga minuman penambah gairah dan semangat, berhenti di pom bensin – isi bensin dan  pipis, dan sebagainya.  Selama perjalanan terjadi ragam perbincangan diantara lantunan music yang berpendar apik sebagai pelengkap suasana. Tak perlu waktu lama untuk saya dapat akrab dengan beberapa personal yang belum pernah saya temui sebelumnya tersebut. Well. Untuk sebuah permulaan perjalanan, segalanya berlangsung  menyenangkan.

Jelang sore, kendaraan memasuki kabupaten Tanggamus. Sempat berputar cukup lama dalam upaya mencari mesin ATM yang rata rata mengalami error. Beruntung kami telah menyempatkan makan siang (yang kesorean) dengan hidangan lezat dan khas di rumah makan sederhana beberapa saat sebelumnya. Setidaknya kekesalan pencarian mesin ATM yang berfungsi tidaklah begitu membawa emosi karena perut telah terisi.
Sore terus beranjak. Kendaraan  melaju gagah menuju Pesisir Barat. Memasuki kawasan Taman Bukit Barisan Selatan selepas kabupaten Tanggamus jadi moment tersendiri. Mulai dari kisah kisah seru, lucu, pengalaman personal hingga cerita mistis yang konon pernah dialami sendiri, orang lain maupun fiksi agar gelak tawa tercipta. Aahhh… tidaklah asik jika suatu perjalanan terlalu dibawa serius. Beruntung saya dan seisi mobil tidak ada yang begitu serius. Hahaha.

karena Selpik adalah sebuah keharusan dalam perjalanan

Sore semakin beranjak ke peraduan. Kami beruntung dapat menikmati matahari terbenam di areal pantai Mandiri – kawasan pantai yang dekat dengan area Surfing Tanjung Setia – Pesisir Barat. Tak ada pengunjung lain, selain kami sore itu. Matahari boleh terbenam, tapi semangat kami tak pernah padam. Malah semakin menyala dan super lincah kala mengabadikan diri di sepanjang bibir pantai yang lengang dengan ombak besar.
Aktivitas photo photo narsis dan mencoba aplikasi video slow motion harus segera di sudahi mengingat malam segera datang. Kemudi bergegas menuju Hotel Janitra – hotel yang telah di booking sebelumnya oleh mba Dewi untuk melepas lelah kami serombongan malam ini.

Hotel janitra - recomended buat para pelancong bermalam di kawasan Krui Pesisir Barat


Bersantai malam di Food Court khas pasar Krui.


Setelah  aktivitas berbenah diri , mandi dan meluruskan tubuh di kamar hotel kami sepakat keluar hotel untuk mencari menu makan malam sebelum tidur pulas nantinya. Saya langsung menyarankan rekan rekan menuju area pasar Krui yang saat malam menjadi arena berkumpul muda mudi dan keluarga menghabiskan waktu malam sembari menikmati aneka pilihan hidangan. Nyaris setiap ke Krui, saya selalu menyempatkan bertandang makan malam di area Pasar kota Krui ini. Suasana ramai dengan interaksi masyarakat yang khas sungguh menarik minat pengamatan saya. Begitupun malam itu. Makan malam, menuturkan banyak kisah sembari menyusun rencana rencana esok hari.
Sebelum tidur, malam itu kami sepakat untuk siap pukul 06.00 WIB. Karena butuh 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Krui menuju kediaman Ryan – sang pengantin yang berbahagia.


…. Berlanjut ke Part 2 …..


Scroll To Top