Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

SEPENGGAL KISAH DAN SOSOK PEMBERI WARNA INDAH PERJALANAN



Selain mengikuti briefing  bersama Soul Stories jelang keberangkatan ke Thailand, kedatangan saya ke Jakarta  pada 11 – 12 September 2016 silam juga mempertemukan saya dengan beberapa pihak baik sekaligus menjalin silaturahmi kembali.
Sosok pertama yang saya temui adalah  Agung – sahabat baik saya yang dahulu menyelesaikan gelar Sarjana Tehnik nya di Universitas Lampung. Agung  berkenan menjemput saya pada pagi buta di terminal induk Bekasi hingga jamuan makan pagi dan perkenan istirahat sepanjang siang dikamarnya. Tak hanya itu,  disore hari, Agung pun berkenan mengantarkan saya mencari alamat Kafe D’Broer – lokasi pertemuan Soul Stories.

Malam itu, seusai pertemuan Soul Stories, tentu terlalu larut bagi saya untuk langsung kembali ke Lampung. Terlebih angkutan bis Damri sudah tidak ada lagi.  Pukul 22.30 kala itu. Setelah  menaiki GoCar dari Bekasi bersama mba Sari dan mba Ruth, jadwal saya selanjutnya adalah  bertemu dengan Arie – rekan jelajah Gunung Anak Krakatau beberapa bulan silam yang telah menunggu saya di Pejaten Village.  Tujuan saya menemui Arie tak lain adalah  merepotkan Arie, dengan menumpang bermalam di kost-an nya. Jadilah malam itu, dalam kondisi flu berat, Arie menemui saya di Pejaten Village sebelum saya diajak menuju kamar kost nya yang letaknya tak jauh dari Pejaten Village.  Obrolan malam di kost-an Arie seputar kisah percintaannya bersama alunan musik dari program Spotify  seolah menjadi  ajang perbincangan hangat diantara kumandang takbir jelang hari raya kurban keesokan hari.  Ya, esok – 12 September 2016, perayaan Idul Adha.
 Soal hari raya di luar kota, ini bukan yang pertama.  Saya pernah merayakan moment  Idul Adha jauh dari keluarga. Tak apalah, asal kala Idul Fitri  kumpul keluarga kembali.

SAJIAN AROMA SEDAP HINGGA JELAJAH MALL

Pengingat digital  yang kami setting sejak malam membangunkan kami dengan sempurna dipagi hari.  Sebagai pengingat  kami melaksanakan shalat ied Idul Adha. Dengan segera kami bersiap menuju  masjid yang letakknya tak jauh dari rumah kost Arie.
Tampak bagian dalam dan pekarangan masjid telah padat jamaah. Kami kurang pagi. Alhasil, saya dan Arie memutuskan menggelar kertas bekas famplet iklan di bagian badan gang sempit yang terletak di samping masjid. Tak hanya kami, beberapa pria muda dan bapak bapak juga ikut serta menggelar koran dan sajadah di sekitar kami.
Runutan Shalat Ied idul Adha pun berjalan lancar. Kemudian khotbah berlangsung seusai shalat. Diawal khotbah berlangsung,  beberapa pemuda di samping Arie tertawa. Cukup mengganggu. Terlebih bujang bujang tanggung itu sudah mulai terkekeh sejak akhir rakaat shalat. Penasaran apa yang ditertawakan oleh para bujang di samping Arie, saya menoleh kearah bujang bujang tersebut. Belum sempat saya melempar pertanyaan, para bujang bujang itu menunjuk ke tanah didepan Arie yang duduk tepat di bagian kanan saya. Pantas saja bujang bujang itu tertawa, selama aktivitas shalat berlangsug, rupanya ada seonggok kotoran kucing menumpuk di depan bentangan kertas tepat di depan Arie. Aromanya sungguh semerbak!!. Bau tai kucing!!. Sayang  Arie tak menyadari jika di depannya terdapat tai kucing!!. Sungguh serangan flu yang  Arie alami menyumbat aroma kotoran kucing yang menyengat!!.

Ngopi Pagi

Balada Shalat Ied Idul Adha di gang senggol!. Sudahlah lupakan, anggap saja setumpuk kotoran kucing tadi sebagai bonus dari kejadian alam. Hahahah.
Untuk menghilangkan bau kotoran kucing dari ingatan, mari kita jelajah Jakarta.
Jelajah Jakarta akan diawali dengan kunjungan ke Stasiun Gambir guna membeli tiket bis Damri ke Lampung. Karena hari raya, tentu jalanan di ibukota tidaklah sepadat sebagaimana biasanya. Warga Jakarta memang butuh lebaran setiap hari, sebagai solusi menghilangkan kemacetan setiap hari, hehehehe.  Berbekal sarapan di warteg dekat kost-an Arie cukuplah memberi kekuatan kami jelajah pesona Jakarta ; Mall to Mall.

Video JAKARTA lengang... via Ponsel


Sebenarnya saya tidak terlalu gemar bertandang ke Mall. Karena pada hakikatnya bentuk Mall dimana mana sama saja.  Tapi ya sudahlah, mumpung lagi di Ibukota. Nikmati saja. hehehehe. Kunjungan pertama kami pagi itu adalah Mall Senayan City. Kurang rajin apa saya dan Arie. Pukul 9 pagi sudah nangkring  di depan gedung Senayan City. Agar kelakukan terlalu pagi kami tidak terlalu mencolok. Kami bersantai sejenak di gerai Mcdonalds yang persis berada di seberang kawasan mall Senayan City, - pura pura jadi warga setempat!.

Belumlah terlihat ada aktivitas kunjungan di Senayan City. Hanya beberapa pekerja dan pegawai yang lalu lalang mempersiapkan gerai mereka. Selama menunggu gedung Senayan City buka, saya menikmati segelas Kopi Mcdonalds yang tidak terlalu istimewa sembari menyimak kisah kisah percintaan seorang Arie.

pertemuan singkat yang seru


Usai jelajah Mall Senayan City, saya dan Arie melanjutkan jelajah gedung Grand Indonesia. Menjajaki  lantai demi lantai Grand Indonesia layaknya anak anak metropolitan. Tak belanja apa apa, hanya sekedar melihat lihat barang yang lebel harganya tak sesuai dengan isi dompet bahkan ATM saya, hahahahah. Sudahlah, lupakan barang bermerek internasional yang menyilaukan mata itu. Mengisi perut dengan makanan yang sesuai selera adalah aktivitas kami selanjutnya, sebelum akhirnya saya dan Arie bertemu dengan Bli Adi Pratama – Ketua Umum ADWINDO dan Yudha – Duta Wisata Kota Padang  yang telah berkarier di Jakarta. Pertemuan yang baru terrencana pada pagi hari itu kemudian jadi moment perbincangan hangat sekaligus merumuskan banyak hal diantara guyonan yang terjadi.  Dalam pertemuan yang bertempat di gerai kopi itu pun  dihadiri oleh Timothy – blogger hits sejagad hiburan kota Jakarta – meski saya tak begitu mengenal Timothy sebelumnya. Sayang perbincangan  tak  berlangsung lama. Bli Adi dan Yudha memiliki agenda lain, sedangkan Arie dan Timothy pun undur diri untuk keperluan mereka masing masing. Nah, saya yang  tinggal sendirian tentu menghabiskan waktu dengan mengitari lantai demi lantai Grand Indonesia yang luas itu  sebelumnya akhirnya jam 9  malam menaiki bis Damri menuju Lampung tercinta.


Setiap perjalanan menyertakan  ragam personal didalamnya. Sosok baik harus diingat sebagai bagian  pemberi warna dari perjalanan tersebut.  Bisa jadi, sepenggal kisah ke Jakarta akan menjadi biasa bagi meraka yang tak mampu memaknai waktu bersama orang orang baik. Beruntung saya bertemu orang orang baik.  Semoga keberkahan tercurah pada mereka – jiwa jiwa baik yang saya temui dan berkenan menjadi bagian dari kisah perjalanan saya.

Senin, 08 Februari 2016

WEDDING TRIP ; PENGALAMAN JELAJAH PENUH KISAH (Part 2)



Tugu Kayu Aro - Landscape menarik di tengah pasar Liwa - Lampung Barat



Rencana yang telah disusun untuk siap jam 6 pagi hanyalah sebuah wacana.
Nyatanya, saya dan semua rombongan baru meninggalkan hotel pada pukul 7.30 pagi. Itupun sudah bercampur komando ligat dari mba Dewi. Saya termasuk yang bangun kesiangan. Hahahah.  Sungguh saya mengalami tidur pulas sepanjang malam.

Pagi ini, giliran bang Decky yang mengendalikan kendaraan menuju lokasi perayaan pernikahan Ryan. Selama perjalanan kami mencari kue Serabi khas Krui yang pada akhirnya tidak juga kami dapatkan. Untunglah beberapa dari kami mengganjal perut dengan seduhan pop mie. Tidak dengan saya. Karena saya tidak suka mie instan dipagi hari.

Lokasi tujuan kami pagi itu adalah pekon (desa) Bandar Pugung kecamatan Lemong kabupaten Pesisir Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan pedesaan yang khas, asri dan bersinggungan dengan garis pantai tampak indah di pelupuk mata. Sesekali kami melihat aktivitas masyarakat yang juga begitu khas. Meski hari Sabtu, beberapa masyarakat tampak menjalankan aktivitas berkebun mereka. Panjang lebar kami membahas ragam topik pembicaraan bukan hanya bertujuan mengisi suasana kebersamaan kala pagi tetapi lebih pada menghibur diri, mengingat tujuan yang hendak kami capai tak juga kunjung tiba. Setiap personal di dalam kendaraan mulai cemas,  apakah rute yang kami tempuh salah. Meski terkadang ada keyakinan bahwa jalan yang kami lalui adalah rute yang benar. Pekon atau desa Bandar Pugung merupakan desa yang cukup ujung dalam kecamatan Lemong – Pesisir Barat – Lampung. Dengan kondisi jalan berliku dan bersinggungan dengan kawasan hutan dan hamparan perkebunan selain desa desa yang berdekatan.
Sempat bertanya pada beberapa warga, bahkan sempat bertemu dengan suasana perayaan pernikahan pihak lain. Termasuk menduga jemuran selimut bermotif bunga merupakan papan bunga layaknya papan ucapan  pernikahan. Hah!!! Maklum efek mata masih ngantuk.
Akhirnya kami tiba di lokasi perayaan pernikahan Ryan.  Kami merasakan sambutan hangat dari segenap keluarga Ryan. Sebuah penyambutan masyarakat Lampung yang khas. Sesaat saya dibuat takjub dengan hiasan acara pernikahan yang begitu tradisional. Setelah mengabadikan bentuk bentuk dekorasi yang unik dan khas Lampung pesisir. Bertindak sebagai pembawa acara, saya kemudian bergegas berkoordinasi dengan beberapa pihak keluarga Ryan untuk susunan acara pernikahan yang sesaat lagi akan berlangsung.

Narsis Sesaat di belakang rumah Ryan - Pekon Pugung - Lemong - Pesisir Barat.



***
Suasana pernikahan yang berkesan. Khas Lampung Saibatin. Bercampur suasana meriah dan kehadiran tetamu yang tak bisa dibilang sedikit. Bahkan rekan rekan kampus UTB dimana Ryan berkuliah dan berkarier turut hadir dalam kebahagiaan Ryan dan Diar – istrinya. Bahkan jajaran mahasiswa Ryan pun turut hadir merayakan kebahagiaan sepanjang siang tersebut – wajarlah, jika mahasiswa bimbingan tidak hadir di moment berharga sang dosen jangan harap bisa dapat nilai memuaskan. Hahahahahhaa

Bersiap memandu resepsi pernikahan Ryan dan Diar.

Pelaminan khas dengan pengantin berbusana pengantin Lampung Pesisir.


Tugas saya memandu acara resepsi pernikahan Ryan dan Diar tuntas terlaksana. Berkenalan dengan biduan berbusana hijau nan aduhai  lengkap dengan ‘sumpalan’ seolah menggenapi kumpulan kisah seru sepanjang perjalanan. Sungguh sebuah perhelatan yang khas dan meriah.
Selesai santap siang dan photo photo, kami bergegas pamit pada sang pemilik acara. Beberapa pihak harus segera kembali ke Bandar Lampung – begitupun saya yang telah terikat pada jadwal pada minggu pagi esok.

Selama perjalanan pulang, kami sempat singgah di beberapa spot wisata menarik. Salah satunya kawasan pekon (desa) Kota Karang – sebuah desa yang bersinggungan langsung dengan garis pantai. Pesona Batu Tihang yang menjulang menjadi incaran pengambilan photo dan video kami siang itu.

Pemotretan sedang berlangsung di Batu Tihang - pekon Kota Karang - Lemong - Pesisir Barat.


Ide mba Dewi lah yang kemudian mengubah laju kendaraan tidak melalui rute perjalanan pulang seperti rencana semula, tetapi malah melaju melalui rute kabupaten Lampung Barat.
Liwa adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya.
Kondisi tempuh berkelok dari Krui ke Liwa di tambah kontur jalan yang bersinggungan langsung dengan jurang dan rimbunnya pepohonan tak menyurutkan semangat jiwa petualang kami, meski sepanjang perjalanan isi pembicaraan seputar berita artis artis ibukota merebak. Sosok mendesah gatal haus belaian – masuk setengah, hingga lantunan merdu nan khas dari sosok Patin yang menggemaskan. Semua adalah kelakar saya dan rekan rekan dalam kendaraan – membunuh sepi dalam perjalanan.

Pukul 15.30 WIB kami tiba di pasar Liwa dengan mendung menggulung tebal. Suasana lengang saat itu. Beberapa bangunan dan Tugu kayu Aro menghipnotis kami untuk berphoto.
Puas bernarsis diri di tengah pasar Liwa termasuk menunaikan Azhar di masjid depan Tugu Kayu Aro kami melanjutkan perjalanan ke Fajar Bulan. Kediaman bang Edward – sohib mba Dewi adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya. Lumayan, bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan sambil ngopi dan makan gratis. Hahahah.
Benar saja, sesampainya kami di kediaman bang Edward telah tersaji hidangan makan berat lengkap dengan lauk pauk lezat. Hhhmmm…. Tanpa banyak basa basi kami langsung menyerbu apa yang tersaji. Mba Dewi pun tampak lahap menyantap hidangan persembahan bang Edward. Makanan datang tepat disaat lapar melanda. Klop.!!!.

Bahagianya wajah kami di jamu oleh bang Edward. Terima kasih banyak bang Edward.


Seusai menyeruput kopi hangat persembahan bang Edward dan tak lupa menunaikan maghrib bersama, kami pun melanjutkan perjalanan. Jarak dari Fajar Bulan – Lampung Baret menuju Bandar Lampung masih lebih kurang 5 jam. Sungguh baik bang Edward. Mengerti betul ia akan para musafir yang lapar dan haus seperti kami, hahahha. Thanks Bang Edward.

Kondisi jalan yang berkelok sepanjang keluar wilayah Lampung Barat, disertai hujan lebat mengiringi rute kembali kami. Beberapa ruas jalan berlubang mengganggu perjalanan malam kami.  Bang Imron memegang kendali kendaraan malam itu. Beberapa kali mba Dewi kesal dengan kondisi jalan termasuk si pengatur laju kendaraan ketika mobil menghantam lubang lubang yang terasa rapat selepas kawasan Bukit Kemuning menuju Kota Bumi.  
Kami sempat singgah di Kota Bumi untuk menjajal kenikmatan bakso setelah mendatangi beberapa kedai bakso yang tutup. Hangat kuah bakso menyemarakkan perayaan malam minggu kami dalam perjalanan.

Suasana mobil dalam perjalana pulang.


Sungguh suatu perjalanan yang berkesan. Bertujuan menghadiri perayaan pernikahan Ryan dengan suasana pelesiran yang dominan. Maklum, rombongan satu mobil hobi jalan jalan semua. Tidaklah lelah dirasa, karena sepanjang perjalanan selalu ada saja yang bercerita dan kemudian memancing gelak tawa. Rute memutar khas petualang telah kami lakukan. Bermula dari Bandar Lampung melalui kabupaten Pesawaran – Pringsewu – Tanggamus – Pesisir Barat – Lampung Barat – Lampung Utara – Lampung Tengah – Lampung Selatan dan tiba dengan selamat kembali di Bandar Lampung. Alhamdulilah.

Terima kasih semua team satu mobil yang super kece – mba Dewi, mba Rara, bang Imron, bang Decky, Ilham dan Lucky. Salam Chebok, Cucuk, Mendesah-desah tanpa Kampak yaa.

Rabu, 24 Desember 2014

LOKSADO - KOTABARU ; 12 JAM PERJALANAN PENUH KENANGAN.

Garis berwarna Hijau adalah rute yang kami tempuh ; 12 Jam perjalanan darat ; Loksado, Kandangan ke Kotabaru


Sesungguhnya Saya dan team masih Ingin berlama lama di ️Kandangan dan Loksado kala itu. Meng-Explore ragam keindahan dan keunikan ️Kandangan dan Loksado plus menengok budaya Dayak Meratus adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

PETUALANGAN 12 JAM DI MULAI.

Suhu dingin lereng Gunung Meratus menyerang kami pagi itu. Menatap gagahnya Meratus pagi hari bagai melihat mahakarya dan agung nya budaya khas Indonesia secara langsung. Bermalam di homestay ALYA yang bersebelahan dengan pinggir sungai Amandit di kawasan Loksado adalah kenyamanan yang menyenangkan setelah seharian sebelumnya meng-explore keunikan Loksado. Nampak ragam aktivitas warga sejak pagi di sungai Amandit. Seusai berkemas dan siap, kami melanjutkan perjalanan ke Kotabaru. 

Sebelum berlanjut ke Kotabaru, kami singgah di Kandangan untuk sarapan, menikmati nasi kuning sebagai sarapan pagi di warung ibunda Wahyu, Gratis pula.! aaahh baik sekali Wahyu dan Ibu nya pada kami. 

Sebenarnya, rute ke Kotabaru dapat di tempuh via Loksado dengan waktu tempuh 5 jam, tapi mengingat saran dari beberapa orang dan pula Saya pribadi belum mengetahui secara pasti rute Jalan singkat tersebut maka berdasarkan kesepakatan team, kami memilih melalui rute Plaihari meski dengan jarak tempuh 12 jam!. Setidaknya selama 12 jam saya dan team bisa singgah di beberapa spot wisata menarik Untuk usir kebosanan.
Terbayang 12 jam diatas mobil. Dan saya yang Nyetir mobil selama 12 jam itu.!! Hahaahahha. Tenggak Kopi gelas besar.!

Bagi saya dan team ini adalah petualangan yang sesungguhnya. Berkunjung ke Kotabaru adalah sebuah keingintahuan yang tak bisa di halang. Secara personal 12 jam perjalanan berkendara Bukan hal mudah. Akses ke Kotabaru sebenarnya dapat menaiki pesawat kecil yang menghubungkan Banjarmasin - Kotabaru. Terlanjur jiwa petualang kami berkehendak. Terlebih di Kotabaru ada gelaran event Nasional yakni Peringatan Puncak Hari Nusantara 2014 yang akan di hadiri oleh bapak Presiden Republik Indonesia. 

Dalam perjalanan, kami berempat saling bertukar banyak cerita mulai dari hal serius hingga kekonyolan. Seperti kesepakatan kami bahwa 12 jam perjalanan akan juga di manfaatkan berhenti di beberapa spot menarik untuk sekedar mengabadikan moment dan diri kami sebagai team agar mengusir rasa bosan sepanjang jalan. Pemberhentian pertama adalah Rumah usang nan iconic yang terletak di kawasan real estes dan masyarakat menyebutnya rumah Gunung Kupang. letaknya menyendiri dan berada di atas tumpukan tanah yang tak tergerus, meski lahan sekitar telah rata karena pembangunan rumah tinggal. 

Rumah tua diatas gundukan tanah yang tak ter-gerus - Gunung Kupang


Saat beranjak siang kami berhenti di rumah makan khas Banjar nan khas di daerah Banjar Baru, setelah itu berlanjut pada kunjungan ke Pendulangan Intan di Desa Cempaka. meski bergelar Desa, Cempaka terkenal sebagai lokasi pendulangan Intan terbesar dan terbaik di Kalimantan Selatan. Mendatangi lokalisasi Pendulangan Intan bagai melihat hamparan kekayaan bumi yang tak pernah habis. Meski beberapa bagian hamparan tanah telah berbentuk lubang lubang besar penggalian tetap saja di sisi lain masih memiliki potensi dan kandungan yang tak hanya batu akik atau permata, tetapi juga bongkahan emas dan berlian.

Desa Cempaka - Pusat Pendulangan Intan di Kalimantan Selatan


Setelah berbincang dengan pendulang, mengabadikan moment sekitar area pendulangan Intan Desa Cempaka, kami melanjutkan perjalanan. Pemberhentian selanjutnya dalah jajaran kebun Buah Naga yang terletak di desa Tanjung Pecah - Pelaihari - kabupaten Tanah Laut. Menyaksikan buah naga berwarna merah keunguan menyala di ujung dahan sungguh menyegarkan mata sekaligus memberi pengetahuan pada kami  seputar buah naga terlebih kami bisa berbincang dengan petani langsung di lokasi. Sayang kami tak memakan buahnya. Tak apalah.

Perkebunan Buah Naga di Pelaihari - Kabupaten Tanah Laut - Kalimantan Selatan


Perjalanan terus berlanjut. Honda CRV pinjaman dari Binuang beranjak pasti  dengan kenyamanan tersendiri di sela jauhnya rute yang akan kami tuju.  Bagai dapat suguhan terbaik dari sang pencipta, kami  tersentak saat Halim yang duduk di bangku depan sebelah saya menyampaikan ada pelangi di sepanjang lana yang kami lalui. Kami pun berhenti sejenak di tanah lapang menikmati semburat warna tiada dua melengkung indah di langit biru bagai lukisan agung maha karya sang pencipta. Senangnya kami kala itu mengabadikan ragam warna pelangi. Ternyata tak cukup hanya dengan seuntai pelangi saja, beberapa saat setelah kami melaju, Halim kembali mengejutkan kami dengan pengelihatannya akan Pelangi Ganda yang muncul di posisi yang sama dengan pelangi sebelumnya. Ternyata kini pelangi melengkung dua lapis dengan gradasi warna sungguh mempesona. Tak hanya takjub kami lantas mengabadikan moment langka berupa pelangi ganda dengan selfie bersama. hahahhaha. kami merasa kehadiran pelangi ganda yang langka itu bagai hiburan yang Tuhan beri pada parjalanan kami. Tuhan tahu sekali bahwa kami lelah menyusuri jalan hanya karena mewujdukan rasa penasaran dan niat tulus untuk eksplorasi keindahan alam indonesia. tak ada yang lain. Pengalaman langsung lebih berharga dari kisah indah buku bacaan.

Welfie bersama Pelangi

Pelangi Ganda, perembahan  Maha Karya Pencipta di tengah 12 jam rute perjalanan kami


Hari beranjak malam, susana cerah sepanjang hari berganti gelap dan turun rintik hingga derasnya hujan mewarnai perjalanan. Kami masih  menyusuri jalan memasuki Batulicin. Jalan landai tanpa lubang tanpa banyak kendaraan lalu lalang bersama kami. Musik dari CD CD persembahan Mba Donna sangat menghibur sedari pagi tadi terlebih CD Dendang Nusantara yang berisi 10 lagu lagu daerah Pulau Sumatera ; Aceh hingga Lampung luar biasa menghibur dan menyamangati plus menambah kecintaan kami sebagai bagian dari Indonesia. Nasionalisme itu lahir dari sebentuk CD lagu. Minim lampu penerangan sepanjang jalan. bahkan ada bagian bagian yang tak ada lampu jalan sama sekali. kami pun sempat tersesat salah sarah saat tiba di sebuah persimpangan yang tak ada penunjukarahnya. Kilat hadir beberapa kali di daerah yang tak kami ketahui namanya karena suasana semakin gelap tanpa lampu jalan. Beruntung Kilat yang hadir justru menyadarkan kami bahwa bagian kanan yang kami lalui ternyata adalah hamparan laut. Kami memutuskan berhenti di tengah rintik hujan pada sebuah warung pinggir jalan di dekat hamparan laut yang kami saksikan berkat hadirnya kilat. Lagi lagi kami yakin Tuhan membimbing arah dengan mengirimkan kilat sebagai ganti tak adanya penerangan lampu jalan.

Santai sejenak di warung makan sederhana malam itu lumayan melonggarkan urat urat tegang sedari pagi dalam perjalanan dari Loksado - Kandangan menuju Kotabaru yang entah berapa lama lagi. menikmati menu mie instan dan ayam goreng sembari bertanya tanya pada pemilik warung. ternyata kami masih butuh waktu sekitar 3 jam lagi. itu artinya tepat dini hari kami baru tiba di Kotabaru. " itu juga kalau lancar mas.." jelas mba pemilik warung makan pada kami.

Tiba di Batulicin kami menuju dermaga penyeberangan menuju Kotabaru - sebuah kabupaten baru di Kalimantan Selatan yang letaknya berupa pulau terletak terpisah dari daratan Batulicin. Pukul 10 malam kala itu, setelah membayar tiket  penyeberangan 1 mobil  ; 178.000, kami harus mengantri menunggu kapal ferry ukuran kecil. di beberapa bagian tampak pasukan loreng TNI dan pengamanan untuk event nasional Hari Nusantara terlihat. bahkan beberapa mobil pengangkut para anggota pengamanan di dahulukan menaiki kapal. ada pula kapal khusus bagi para bapak bapak berbaju loreng hujai pekat bersenjata itu. kami lalu merasa ada di daerah konflik berhias ragam sosok gagah angkatan bersenjata negeri ini.

suasana memasuki Kapal Ferry ukuran kecil dari  Batulicin ke Kotabaru

Suasana dalam dek penunpang
 

Memasuki Kapal Ferry berukuran kecil, kendaraan diatur sedemikian rupa agar cukup muatan. saya, mba donna, mba evi dan halim memutuskan naik ke bagian penumpang setelah memarkirkan kendaraan pada posisi aman di bagian depan barisan parkir. tampak pula rombongan ragam provinsi dengan gaya bahasa perbincangan yang beragam di sekitar kami. Tujuan mereka sama dengan kami yakni menghadiri acara puncak Hari Nusantara tapi bedanya kami ingin lebih meng-Explore Kotabaru yang belum kami ketahui sebelumnya.

Hanya butuh 45 menit berlayar dari dermaga Batulicin ke Kotabaru tak lantas membuat perjalanan kami terhenti. Kami masih harus menempuh perjalanan darat menyusuri jalan aspal halus bak jalan tol ke bagian kota dari kabupaten Kotabaru selama 1 jam perjalanan. Meski jalan ber-tekstur baik sayang tak ada penerangan jalan. sepanjang jalan gelap gulita. hanya ada penunjuk jalan yang kerap berbelok, menanjak atau menurun tajam. selebihnya penerangan sesama pengendara jalan yang berjalan beriring menuju pusat Kotabaru.

Memasuki wilayah Kotabaru, kami pun masih belum tahu musti bermalam dimana. Berbeda kondisi ketika kunjungan kami ke Kandangan yang telah di fasilitasi oleh Dinas Pariwisata Kandangan - HSS pada sebuah hotel. di Kotabaru kami menghubungi mas Jun - rekan yang baru saya kenal di Labirin.  Sayang mas Jun pun tak bisa membantu kami banyak karena ia pun tak punya banyak kenalan di Kotabaru, terlebih segala penginapan di Kotabaru telah penuh oleh seluruh tamu dari penjuru nusantara termasuk rumah warga yang full booking. Wajarlah, kawasan Kotabaru yang tak terlampau luas di datangi oleh seluruh pejabat dan jajaran staff dari seluruh Provinsi se Indonesia.

Sempat mendatangi kantor BANSARNAS untuk meminta informasi penginapan yang bisa kami tumpangi malam itu. waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari. kami masih mencari cari tempat bermalam untuk merebahkan diri seusai perjalanan panjang 12 jam. Kami pula sempat berfikir bermalam di Masjid atau Mushalla jika benar benar tak ada tempat bermalam. Aaahh... jika pengelana kami memang lebih unggul. akhirnya titik terang kejelasan tempat bermalam kami peroleh ketika kunjungan ke kantor Dinas Perhubungan yang masih buka dan seorang staff nya menawarkan kami bermalam di rumah warga dengan tarif  350.000 permalam untuk kami ber-empat. okelah. kami setuju meski untuk standard sebuah rumah harga itu cukup naik dari tarif biasanya dengan fasilitas seadanya. Tak apalah. yang penting kami dapat terlelap hingga pagi dan mandi menyejukkan diri dari jauhnya jarak tempuh.

..... Bersambung ....


Senin, 18 Agustus 2014

KRAKATAO ADVENTURE ; FRIENDSHIP AND FEARLESS

tak saling mengenal sebelumnya - dipertemukan karena misi yang sama - Mengibarkan Bendera Merah putih di Gunung Anak Krakatau


Pagi itu, di Dermaga Canti – dermaga yang menghubungkan beberapa kapal ke Pulau Sebesi dan beberapa pulau di sekitarnya termasuk Anak Gunung Krakatau, telah ramai dengan beragam aktivitas. Saya dan Derry – sahabat dan partner saya dari Bandar lampung setelah menempuh 2 jam perjalanan tiba di Dermaga Canti dengan perasaan senang dan cukup tergambar seperti apa perjalanan kami selanjutnya.
Info tentang Tour Krakatau dan sekaligus perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ini semula saya peroleh dari mas Arie – seorang Photographer Under water, yang sebelumnya terlibat dalam project pemotretan Hijab style Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung. Dan saya pun menawarkan Tour Krakatau pada Derry yang menyukai trip ke pantai dan alam terbuka.

saya dan Derry
Sebelum memparkir kendaraan di Dermaga Canti, kami bertemu dengan rombongan tour yang berasal dari Jakarta dan Cilegon. Tak butuh waktu lama bagi kami berkenalan dan akhirnya berakrab diri sebagai sebuah team. Kami pun menyempatkan photo bersama dan mengabadikan moment kebersamaan di beberapa titik di sekitar Dermaga Canti yang super ramai bagai pasar pagi sebelum akhirnya rombongan Mas Arie dan rekan rekan lain yang konvoi dari Kota Bandar Lampung datang.
Setelah rombongan lengkap dilanjutkan briefing tentang pelaksanaan Tour Krakatau, perkenalan dan tata Tertib dalam team selesai, Kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sebesi. Dengan menumpangi Kapal ukuran standard kami memulai perjalanan dua jam yang tak biasa. Saya, Derry dan beberapa orang dalam team memilih merebahkan diri dan tertidur sebagai pengalihan pada sapuan ombak yang cukup kencang. Dalam team ini, juga ada seorang berkebangsaan Pakistan yang telah melakukan tour Sumatera dari Sabang hingga Lampung bernama Amir tetapi lebih bangga di panggil dengan sebutan TEJO. Beragam usia dan profesi ada dalam team. Dari anak anak SMP, mahasiswa  hingga Bapak Bapak dan Ibu Ibu beranak tiga dan berprofesi pekerja pun ada.
 
Pukul 13.00 kami tiba di Pulau Sebesi. 2 jam perjalanan melelahkan terbalas dengan view pantai yang cukup asri. Ada 9 cottage yang tertata rapih di pinggiran Pantai. Kami harus menunggu sesaat di bibir dermaga karena penginapan sedang di persiapkan. Kami – 37 orang dalam team di pecah dalam 4 rumah Homestay yang merupakan rumah penduduk asli Pulau Sebesi, yang berjarak 500 meter dari dermaga.





salah satu dermaga di Pulau Sebesi

Pulau Sebesi berada di wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. terdiri dari empat dusun yaitu; Dusun I Bangunan, Dusun II Inpres, Dusun III Regahan Lada, dan Dusun IV Segenom. Luas wilayah Pulau Sebesi adalah 2620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Sebagian besar daratan Pulau Sebesi tersusun dari endapan gunung api muda dan merupakan daratan perbukitan. Bukit tertinggi di Pulau Sebesi mencapai 884 meter dari permukaan laut dengan bentuk kerucut yang mempunyai tiga puncak. Terletak di Selat Sunda atau wilayah selatan perairan Lampung. Pulau Sebesi berada di sebelah selatan dari Pulau Sabuku sebelah timur Pulau Serdang dan Pulau Legundi serta sebelah Timur Laut Gugusan Krakatau. Pulau ini merupakan daratan yang paling dekat dengan Gugusan Krakatau dan turut menjadi saksi kedahsyatan letusan besar Krakatau tahun 1883. Terdapat 3 dermaga semi-permanen di Pulau Sebesi. Warga di Pulau Sebesi dominan bercocok tanam di perkebunan mereka. Selainbermata pencaharian sebagai pedagang dan juga pengelola cottage dan home stay dimana pengunjung bisa menyewa rumah mereka sebagai tempat bermalam selama di Pulau Sebesi.

Setelah menaruh barang bawaan dan makan siang, kami kembali melanjutkan perjalan dengan Kapal menuju Pulau Umang, menikmati suasana sore di Pulau Umang yang berukuran relative kecil dengan keindahan terumbu karangnya.
Setelah cukup puas menikmati Pulau Umang, kami kembali ke home stay di Pulau Sebesi dengan hidangan bakso ikan persembahan Ibu Home Stay yang baik sebelum makan malam dan menikmati suasana perayaan 17 agustusan khas warga Pulau Sebesi. Si Tejo – Bule Pakistan pun di daulat untuk perfom di panggung dan berjoget dangdut dengan beberapa orang dalam team termasuk saya..hhahaha. Tak lupa mencharger Handphone dan power bank karena arus listrik di Pulau Sebesi hanya berlaku sejak pukul 18.00 hingga 24.00 selebihnya Pulau Sebesi gelap gulita tanpa beraliran listrik begitupun siang hari. Termasuk signal yang tak terakses, kecuali signal product Telkomsel, itupun hanya bisa di dapat di bibir Pulau dan dekat Dermaga.

sebagian The Team


MENGUKUR KEKUATAN

Bulan belumlah beranjak dari peraduannya. Lamat lamat cuaca dingin di subuh buta masih terasa di sekujur tubuh.  Pukul 3 pagi, Saya dan team yang berjumlah 37 orang telah berkemas dan bergegas menyatukan semangat dan tekad untuk mencapai tujuan utama kedatangan kami di sini ; Mendaki Anak Gunung Krakatau. Pendakian Anak Gunung Krakatau yang akan kami lakukan bertepatan dengan perayaan 69 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Saya yang masih menahan kantuk dan dinginnya cuaca Pulau Sebesi menyemangati diri agar dapat melalui segala aktivitas hari ini. 
Kapal di hidupkan dengan penerangan secukupnya dalam gelapnya pagi yang masih membius tubuh yang masih lelah. Awal keberangkatan ombak cukup tenang. Beberapa dari kami termasuk saya memulai dengan sarapan nasi uduk dalam box yang telah di siapkan panitia. Namun, suasana ombak yang bersahabat itu tak berlangsung lama. Beberapa menit dari keberangkatan bahkan nasi box belumlah habis, Ombak menerjang sangat kencang!. Beberapa kali air laut masuk kedalam perahu. Sahabat saya – Derry adalah satu dari beberapa orang yang tersiram air ombak yang masuk tanpa permisi kedalam kapal. Belum selesai kepanikan melihat air laut mampir kedalam kapal kecil kami, sejenak kami di buat tercengang tegang ketika kapal menukik tajam kearah kiri dan kanan. Terombang ambing dalam buaian ganas nya ombak yang menampakkan semangat kemerdekaannya. Saya sempat berucap pada sahabat saya – Derry yang pandai berenang untuk menyelamatkan saya jika terjadi kapal karam dan tenggelam. Fikiran buruk tentu ada di semua benak dalam terpaan ombak yang benar benar tak bersahabat. Ombak bukan lagi berupa air. Rasanya ia berkaki dan bertangan yang dengan lincah memainkan Kapal kecil yang kami tumpangi dengan sekehendakhati.  Terlihat oleh saya beberapa sosok telah tergeletak merebahkan diri sebagai upaya pengalihan diri dari kondisi kapal yang terombang ambing oleh ombak dan badai. Sebagain sudah mulai muntah dan tampak sekarat. Saya pun mulai men-suggest diri agar tak ikut mabuk laut dan jatuh sakit karena saya tahu perjuangan sebenarnya barulah di mulai. Sejujurnya, dalam pengalaman saya naik kapal menyeberangi lautan, ini adalah moment paling ‘gila’ dan menantang maut. Dalam benak saya hanya ada doa dan fikiran apa yang harus saya lakukan jika terjadi hal terburuk pada Kapal kecil yang kini berjuang melawan ganasnya ombak.
Dua jam setelah berjuang dengan ganas nya ombak, saya dan team tiba di bibir anak gunung Krakatau yang telah ramai oleh pengunjung lain yang datang dari beragam penjuru tanah air. Ke-eksotikan Anak Gunung Krakatau tentu telah memanggil hasrat adventure seseorang untuk mendaki nya. Saya melihat pemandangan teman teman dalam team berjuang menguatkan diri setelah mengeluarkan muntahan dari sarapan pagi yang salah setting. Termasuk sahabat saya – Derry yang saya kenal lebih kuat dari saya pun ikut muntah.!! Uniknya, meski 2 jam pelayaran plus muntah karena permainan ombak, teman teman, termasuk saya masih mampu cheers up dan photo bersama termasuk selfie. Dasar Narsis.!! hahahaa

Benar adanya, jika kesulitan terberat dari mendaki Anak Gunung Krakatau bukanlah terletal pada rute pendakiannya tapi pada kekuatan mental dan personal seseorang untuk melalui ganasnya ombak yang menerjang kapal yang di tumpangi. Terbayang betapa hebat para penjuang kemerdekaan dahulu yang berhari hari bahkan berbulan bulan menentang ombak dan menantang ketakutan diri bahkan siap sedia mati dalam karamnya kapal di tengah lautan hanya untuk berjuang menyelamatkan bangsa dan Negara ini.  Aaahh… ternyata jika mengingat kegigihan para pejuang belumlah ada apa apa nya pengorbanan yang saya dan teman teman lakukan selama 2 jam menantang ketakutan bahkan menaklukan ego diri untuk membaur dan saling membantu jika hal terburuk terjadi nantinya.

saya dan team mendaki Anak Gunung Krakatau


TERBAYAR LUNAS

Menegangkan dipermainkan ombak ganas selama 2 jam dan pendakian yang relative tak mudah dengan kontur tanah bebatuan kecil terjal dan pasir halus terbayar lunas ketika berada di puncak Anak Gunung Krakatau. Pemandangan yang bukan hanya dari buku atau cerita dari orang lain, Tetapi mengalami langsung. Meresapi betapa indah buatan sang pencipta yang tak bisa di tandingi oleh buatan manusia hebat digdaya sekalipun. Bangga menjadi orang Indonesia selalu ada dalam diri saya ketika berkunjung ke beberapa keindahan alam di belahan Nusantara. Betapa saya senang menjadi bagian dari team Trip Krakatau ini.  Tak lama setelah kami menikmati keindahan view yang nampak dari puncak Anak Gunung Kraktau dan tentu mengabadikannya melalui beragam foto bersama, kami pun melanjutkan pengibaran Bendera Merah Putih dengan penghormatan khusus dan sebuah kehormatan bagi saya di daulat memimpin Lagu Indonesia Raya. Lagu yang sangat Patriotik dan begitu ‘membakar’ semangat terdengar lantang dari puncak Anak Gunung Krakatau sama dengan betapa lantangnya kami dalam jiwa jiwa haus bertualang menjajakkan kaki menikmati indahnya ciptaan Ilahi. Tak di pungkiri, kami menyukai tantangan dalam sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan.

Anak Gunung Krakatau nampak dari kejauhan

Sunrise persisi di depan bibir pantai


Setelah puas menikmati diri diatas puncak Anak Gunung Krakatau, kami kembali menyusuri lereng dan beristirahat sejenak sebelum akhirnya kami ber-snorkeling di Pulau Lagoon Cabe, yang rasa airnya pedas bagai air cabe.
Letihnya pengarungi lautan, mendaki dan menyusuri lereng gunung tak lah jadi masalah besar bagi saya dan team. Kebahagiaan berhasil menaklukkan diri dan mengukur kekuatan nyali adalah suatu anugerah bahwa diri ini layak di sebut petualang dalam rentang kekejaman ombak yang tak biasa, dalam keterbatasan fasilitas dan keterbatasan personal.

Terima kasih buat semua teman teman yang tergabung dalam Team ini.
Terima kasih atas kesempatan yang menjadikan semua ini pembelajaran dan pengalaman berharga bagi saya.
Terima Kasih Sahabatku, Saudara ku – my Ding – Derry atas perkenan berbagi suka dan duka selama perjalanan ini. Partner hebat yang berkenan di ajak gila dan menikmati keterbatasan.
Terima kasih saudara saudara baru saya, teman teman Cilegon dan Jakarta. Terima kasih atas waktu yang luar biasa berharga bagi pembentukan jati diri kita yang sesungguhnya.
Terima kasih, Tuhan atas pengalaman dan perkenan kami selamat dalam segala rentang ujian hidup yang ada.

Sampai bertemu pada Trip berikutnya ….


our Friendship

menikmati keindahan Pulau Umang

Scroll To Top