Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Kamis, 19 Februari 2015

BERPROGRESS DALAM KONSISTENSI






… tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat…

Barisan peribahasa itu seolah mengisyaratkan bahwa setiap umat di muka bumi hendaknya mengerahkan segala kemampuan untuk terus belajar dan berbenah menuju kearah yang lebih baik hingga akhir hayat.

Setiap personal tentu mengupayakan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meski tak dapat di pungkiri keinginan dan perwujudan kata ‘lebih baik’ seseorang dengan orang lain tentulah beragam. Terkadang, seseorang harus melalui banyak rintangan untuk mencapai tujuan yang ia tetapkan. Meski sebagain lagi cukup melampaui hal hal ringan dan sepele saja sudah mendapat hasil yang ia inginkan. Faktor penyebab kesuksesan seseorang pun beragam bentuk. Cenderung tak dapat di prediksi.

Beberapa waktu lalu,  dalam sebuah obrolan ringan, saya menyimak kisah dari Zaki Sanefal –  salah satu pemegang akun twitter @bandarlampung. Ia dan rekannya telah mengelola akun tersebut sejak 2010. Ada banyak kisah panjang menyertai perjalanan  Zaki dan rekan dalam mengelola akun twitter yang tak hanya menghadirkan serentetan informasi bagi khalayak dunia maya saja tetapi juga menghadirkan manfaat lebih dalam sebuah pengelolaan informasi online. Mewujudkan keinginan memberikan pelayanan maksimal bagi para pengikut akun tersebut ternyata tak semudah pembicaraan santai kala senggang. Tapi ada runutan kejadian dan perilaku yang segalanya menuntut banyak konsekuensi, tak hanya keinginan semata tetapi juga kesediaan untuk konsisten dalam menjalaninya.

Saya kemudian tertarik untuk membahas kesediaan konsistensi dalam melakukan sesuatu sesuai dengan passion.

Tahun 2003, adalah pertama kali saya terlibat dalam gelaran pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung sebagai panitia setelah pada tahun 2002 saya ada dalam jajaran finalist dan harus puas dengan gelar atribut ‘Mekhanai Pariwisata’. Bagi saya, terlibat dalam bagian kepanitiaan kala itu adalah sebagai bentuk dedikasi dari sebuah ajang yang setidaknya telah mengajarkan saya banyak hal kearah lebih baik.
Tetapi, kesediaan saya menjadi bagian dari ajang pemilihan duta wisata daerah di kota Bandar Lampung itu tak hanya sampai di tahun 2003 saja. Tahun tahun selanjutnya saya terus terlibat. Meski bekerja menjadi panitia dengan tugas yang bisa di bilang ‘serabutan’ selama dua pekan hanya di bayar seratus lima puluh ribu rupiah!!. Nilai rupiah yang jauh  lebih kecil dibanding dengan profesi saya sebagai penyanyi kawinan sekali tampil kala itu. Tapi nilai honor kepanitiaan bukanlah hal utama bagi saya. Yang terpenting adalah bagaimana saya dapat berbagi apa yang saya mampu kepada almamater yang saya anggap berjasa membentuk diri saya menjadi personal yang lebih baik.    Hanya itu.
Bersyukur tahun tahun selanjutnya saya tetap  di percaya terlibat bahkan menjadi bagain dari tim kreatif bersama para petinggi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung yang merupakan penyelenggara. Hanya tahun 2006 saja saya tidak terlibat sama sekali karena event pemilihan Muli Mekhanai Bandar Lampung di ambil alih pihak Event Organizer (EO) yang pada akhirnya berujung pada ketidakpuasan Kepala Dinas atas hasil dari beberapa personal dalam jajarajn pemenang.

Back on the Main Track.!, 2007 saya kembali terlibat dalam jajaran kepanitiaan dengan tidak menggandeng EO sebelumnya dan pelaksanaan pemilihan Muli Mekhanai Bandar Lampung kembali di kelola Dinas. Di tahun 2008 setelah selesai gelaran puncak pemilihan Muli Mekhanai saya kemudian mengusulkan untuk melakukan pembentukan organisasi resmi Duta Wisata Daerah di bawah naungan Pemerintah Kota Bandar Lampung. Setelah melalui serangkaian tahap  termasuk peng-konsepan dan persetujuan banyak pihak, terutama kepala daerah, akhirnya ide saya untuk mendirikan Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung yang di singkat IMKOBAL direstui dan mendapat pengesahan dari bapak Walikota Bandar Lampung – kala itu Eddy Sutrisno.
28 Oktober 2008, IMKOBAL resmi berbadan hukum dan menjadi yang pertama dan satu satunya di provinsi Lampung (hingga saat tulisan ini dibuat) organisasi Duta Wisata yang mengantungi Surat Keputusan (SK) dari kepala daerah (Walikota). Bahkan hingga kini – kala tulisan ini saya buat, belum ada perhimpunan duta wisata di provinsi Lampung yang resmi mengantungi SK Kepala Daerah (Bupati/Walikota/Gubernur).
Jadilah sejak 2008 – IMKOBAL berbentuk organisasi yang berbadan hukum dan memiliki AD/ART serta aturan aturan yang mengatur segala kehidupan berorganisasi termasuk keanggotaan didalamnya, meski pelantikan kepengurusan pertama baru di lakukan pada Oktober 2009, setelah Februari 2009 saya resmi menjadi bagian dalam lingkungan Pemda Kota Bandar Lampung.
Hingga kini, IMKOBAL solid karena konsistensi memegang teguh aturan aturan yang telah disetujui dan disepakati bersama sejak proses pendirian hingga pada proses pelaksanaan dilapangan. Dengan beragam kegiatan yang di laksanakan sesuai dengan empat bidang yang dinaunginya ; Bidang Sosial Kemasyaraatan, Bidang Seni Budaya dan Pariwisata, Bidang Peningkatan Mutu dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia serta Bidang Administrasi Kelembagaan. Dengan Visi dan Misi yang kuat IMKOBAL bukan hanya organisasi yang mencetak SDM berkualitas dengan azas – azas yang menaunginya tetapi juga memiliki program kerja yang nyata dengan capaian capaian yang terlihat setiap tahunnya.
Proses belajar tentu juga ada dalam tubuh IMKOBAL. Tak ada kata puas diri. IMKOBAL sealu memberi sentuhan dalam proses pemilihan setiap tahunnya dengan sistem audisi pada tahun 2010 hingga kini menghasilkan sosok sosok muli dan mekhanai yang sesuai dengan standar kriteria penilaian yang di tetapkan.
Terlepas perjalanan IMKOBAL. Saya pribadi tentu tak bisa luput dari perjalanan IMKOBAL. Sebagai penggagas dan pendiri organisasi yang  tak serta merta membuat saya pongah untuk menjadi penguasa dalam tubuh IMKOBAL. Posisi Sekretaris Umum yang saya pegang menunjukkan bahwa saya tak begitu berambisi menjadi Ketua Umum. Cukuplah saya hanya sebagai konseptor dari segala yang terlaksana di lapangan dan di praktekkan oleh setiap personal dalam tubuh IMKOBAL.  Tantangan terhadap diri saya ?, tentu ada. Bahkan hingga kini, banyak yang salah kaprah terhadap apa yang saya lakukan terlebih menganggap saya terlalu dominan dan sebagainya. Padahal jelas jelas IMKOBAL punya Ketua Umum yang tentu memberi arahan dan berfungsi lebih baik ketimbang saya. Sentuhan kreatif yang diberikan oleh tim dalam tubuh IMKOBAL tak jarang memancing reaksi negatif dari beberap pihak bahkan terang terangan menganggap IMKOBAL hanya ajang gegayaan semata kala  photo session menggunakan Batik Lampung yang di kombinasi dengan jas modern – misalnya.  Atau menganggap saya sebagai pribadi yang tak layak di contoh, trouble maker dan tak memiliki kemampuan apapun.  Jika mereka mampu mestinya mereka juga bisa me-legal-kan perkumpulan yang mereka beri lebel organisasi dengan mengantungi SK Kepala Daerah, kenyataannya – belum hingga kini. Bahkan setiap tahun pemilihan selalu saja tersiar kabar bahwa saya menerima sogokan sejumlah uang untuk kemenangan pihak tertentu. Tapi uniknya segala hal berhubungan dengan sogokan itu tak pernah terbukti sampai kini. 

Bagi saya, apapun tanggapan orang tentang saya pribadi maupun IMKOBAL silakan saja. Sah saja orang berpendapat. Hak setiap personal untuk berpendapat dan saya tidak akan pernah melarang bahkan tak akan pernah menggubris hal tersebut. Tapi tentu kewajiban saya untuk terus melakukan yang terbaik bagi diri saya maupun IMKOBAL yang telah dengan upaya panjang saya bentuk dan dirikan hingga dijalankan dengan SDM SDM unggul didalamnya. IMKOBAL besar karena SDM yang loyal bukan karena Saya Semata.!. Pekara ada pembelot, itu sih biasa.! Tak berpengaruh pada konsistensi dan kreativitas yang  akan saya lakukan. Seleksi alam itu selalu ada. Hanya pribadi yang kuat yang akan bertahan. Sama hal nya ketika seorang Zaki Sanefal berujar banyak tentang perjuanganya bersama team menghidupkan sebuah akun yang tak hanya eksis sebagai media online tapi juga memberikan pelayanan pada mereka yang membutuhkan di tataran dunia maya. “Belajar konsistensi  itu memang butuh kekuatan mental yang tak cukup sebatas niat saja”. Saya memetik hikmah itu dari banyak pihak.  Tak hanya diamini dalam pelaksanaannya, tetapi juga termasuk kesediaan melampau rintangan plus cercaan dari beragam pihak. Untuk IMKOBAL saya siap melakukan itu. Sama dengan kesiapan saya di caci maki atau digunjingkan dengan banyak topik perbincangan. Silakan. Selagi saya tidak minta makan dan minta uang dari mereka yang membicarakan tak akan pernah saya hiraukan apa yang mereka bicarakan.  Saya tetap melakukan segala hal sesuai track saya,  yang saya yakini akan berjalan dan besar berbarengan dengan impian saya yang lebih besar lagi dikemudian hari.  IMKOBAL bukan apa apa,  tapi apa apa yang saya mampu bermula dari IMKOBAL.

0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top