Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Senin, 16 Februari 2015

SUATU MASA DI KARANG ANYAR.



 
Pasar Karang Anyar - masih seperti dulu.

Kepidahannya sebagai tenaga pengajar dari Lampung Utara ke  Sekolah Dasar Negeri 5 Karang Anyar – Lampung Selatan bagai babak baru dalam lembar kehidupannya. Tak hanya urusan karier, tetapi juga urusan rumah tangga. Dua tahun membina hubungan baru dengan suami kedua setelah mahligai perkawinan yang di bangun selama 11 tahun dengan suami pertama harus kandas, bagai menjadi babak baru bagi kehidupannya.  Tahun 1995 saat itu. Bersyukur kepindahannya sebagai guru di SDN 5 Karang Anyar di sambut baik oleh pihak sekolah. Menempati sebuah bangunan rumah sederhana yang dulunya adalah gudang penyimpanan perlengkapan olah raga terletak  tepat di samping gedung sekolah sebagai rumah tinggal. Memudahkan ia melaksanakan aktivitas mengajar sekaligus dekat dengan anak anak yang masih belia.

Sosok wanita diatas adalah Ibu saya. Yulyati namanya.
Sosok tegar dan tegas tak hanya bagi dirinya tetapi bagi anak anaknya.
Saya adalah anak pertama dari enam bersaudara. Kepindahan Ibu, Suami kedua dan adik adik saya bersamaan ketika saya masuk pendidikan menengah pertama. Saya tertahan di Lampung Utara karena sebuah keharusan dari Ibu yang beranggapan tinggal bersama Uak – Kakaknya Ibu lebih baik ketimbang ikut bersamanya di penempatan tugas baru. Tak begitu saya mengerti kala itu. Tapi lambat laun, saya memahami kebijakan Ibu.

Saya punya adik perempuan satu satunya yang sangat dekat dengan saya sejak kecil – anak Ibu nomor dua setelah saya,  justru menjadi sosok tegar dan penuh dedikasi bagi Ibu. Ia, yang sepulang sekolah senantiasa siap menjaga keempat  adik yang kala itu masih belia dan lelaki semua. Sepulang sekolah, adik perempuan saya – Dini, mengasuh adik adik, mengajak bermain hingga sore. Manalah mampu Ibu membayar pembantu. Terlebih gaji guru negeri sungguh rendah kala itu.

Kondisi Sekolahn SDN 5 Karang Anyar - Lampung Selatan  kini - tak berbeda jauh dengan tempoe doeloe

Bangunan paling kanan di sudut bangunan sekolah itulah yang dulu jadi rumah kami.


Karang Anyar – adalah salah satu desa yang masuk dalam teritori kabupaten Lampung Selatan. Jarak dengan Bandar Lampung sebagai pusat kota tak begitu jauh. Cukup perjalanan 1 jam berkendara ke Tanjung Karang – Bandar Lampung. Bermain ke pusat kota kala awal bulan bersama Ibu adalah sebuah kemewahan kala itu bagi adik adik saya. Ditengah kesibukan Ibu mengajar dengan menjadi wali kelas dan penanggungjawab beberapa mata pelajaran sekolah dasar. Bagi adik adik saya, bermain di areal sawah yang tak jauh dari rumah kecil samping gedung sekolah adalah hal yang menyenangkan. Dalam dunia anak anak, adik adik saya menganggap berlarian di persawahan dilanjutkan dengan menghabiskan waktu sore di sungai yang jaraknya tak jauh dari areal sawah adalah suatu kesenangan tersendiri. Dini – adik perempuan saya satu satunya itu, meski masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar tapi telah piawai menjaga adik adik. Dini paham bagaimana menyuapi adik adik, memandikan mereka hingga meggendong adik  nomor 5 dan 6 agar nyaman hingga tertidur pulas sebelum ia menunaikan pekerjaan rumah lainnya seperti menyapu, berbenah dan tak jarang mengambil air bersih dari sumur umum kala itu.

Desa Karang Anyar – Lampung Selatan.
Sebuah tempat penuh kenangan. Meski saya tak setiap hari ada di sana. Saya kerap berkunjung ke Karang Anyar hanya ketika libur sekolah. Bertemu dengan Ibu dan adik adik adalah hal yang menyenangkan. Sebagai desa yang akses ke Bandar Lampung tak begitu sulit, Karang Anyar tetaplah sebuah desa yang tak begitu banyak mengalami perubahan hingga kini. Jalan raya yang membelahnya semakin parah – lebih parah dari tahun 1996 dimana saya kerap berkunjung kesana. Hanya saja kendaraan semakin banyak. Bahkan kini  ada Bis ke arah Metro yang melalui jalan Karang Anyar dari terminal Raja Basa.

Pekan lalu, saya mendatangi desa Karang Anyar. Hanya sekedar ingin tahu sekaligus napak tilas masa lampau dengan ragam untaian kisah. Kisah perjuangan Ibu dan adik adik saya. Kisah kesederhanaan sarat hikmah yang selalu saya dan adik adik maknai sebagai pembelajaran berharga dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Beruntung kami melalui masa masa kecil di banyak bagian di provinsi Lampung. Mulai dari masa kecil di Martapura - Baturaja, Baradatu – Way Kanan, di desa Kayu Batu, desa Negara Kemakmuran, dan desa Tulung Buyut di Lampung Utara hingga di desa Karang Anyar yang merupakan desa dalam kabupaten Lampung Selatan sebelum akhirnya tinggal di Perumnas Way Kandis – Bandar Lampung sebagai tempat terakhir keluarga kami sebelum ajal merenggut nyawa Ibu saya melalui musibah kecelakaan motor.

Masa lalu adalah pembelajaran. Sangat berharga jika kita memaknainya sebagai sebuah proses kehidupan yang memang harus dijalani. Tak akan ada sosok saya seperti ini jika tidak melampaui banyak fase pahit kehidupan di kala itu. Tak akan ada kekuatan dan semangat yang menggunung pada diri ini jika tidak melewati proses asam garam dan pahit serta manisnya hidup. Apapun bentuknya, saya mencintai masa lalu saya, sama hal nya rasa cinta saya pada Ibu dan Ayah kandung dan adik adik saya. 


0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top