Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 12 September 2018

SENSASI BERMALAM DAN KONSER MEWAH DI BAWAH KAKI GUNUNG RINJANI




Saat mas Anton menyampaikan bahwa rombongan kami akan bermalam di Sembalun, saya pribadi senang sekali. Membayangkan suasana syahdu di Sembalun. Perbukitan, lingkungan alami pedesaan, udara segar hingga gugusan gunung Rinjani yang tentu memesona. Beberapa kali tandang ke Lombok, tak pernah sekalipun sempat mengunjungi Sembalun (kasian Indra!). Jadi wajar bila saya menyambut bahagia ide nya mas Anton tersebut. Tak soal bermalam dimana, yang penting saya kesampaian mendatangi Sembalun, hahahaha.
 
Wujud Gunung Rinjani dari depan homestay mas Sandy


Saya pribadi tak pernah berharap apapun soal sarana bermalam. Jikapun kami harus tidur disebuah tenda darurat pun tak masalah.  Sebagai tukang jalan, saya terlatih tidur dimana saja. bahkan tidak tidur sepanjang malam pun tak apa, hahaha. Meski kemudian, Daeng Mamat, salah satu anggota rombongan mengarakan kami pada sebuah hunian yang letaknya persis di kaki gunung Rinjani. Berulang kali saya mengagumi lingkungan nan alami saat tiba di kawasan tersebut.  Perkebunan sayur mayur membentang luas. Buah cabai dan tomat  terlihat ranum. Pepohonan rindang menghias kawasan hunian. “ini homestay tempat kita nginap malam ini” ucap mas Anton pada kami. Saya terdiam sejenak. Menikmati suasana yang tersaji dihadapan. Bagai mendapat bonus setelah beraktivitas sepanjang siang. Relawan bermalam disebuah homestay?!!. Hobbah dah!!. Yang buat girang, dari halaman homestay terlihat wujud gunung Rinjani!! Tjakep beuuudd!!!!.

Triana menikmati hamparan kebun cabai di depan pekarangan homestay

mau nyambel?, cabai langsung petik

suka ngemil tomat?, silakan petik langsung.
 
KONSEP HOMESTAY EKOWISATA

Karena kerap melakukan pendakian ke puncak gunung Rinjani, daeng Mamat selalu singgah di homestay tanpa nama tersebut. Ya, benar-benar tanpa nama. Tak ada plang nama layaknya homestay komersil. Yang unik, menurut pengakuan daeng Mamat,  sang Empunya hunian tidak pernah mematok harga bagi siapapun yang singgah bermalam di homestay tersebut.  Abdul  Halik atau akrab di sapa mas Sandy  adalah pemilik dari homestay bernuansa tersebut. Sandy adalah nama dari putera pertamanya. “masyarakat Lombok sering menggunakan nama anak pertama sebagai panggilan pada Ayahnya” jelas mas Sandy.  Tak hanya mas Sandy, kedatangan kami sore itu juga disambut hangat oleh sosok wanita berkebangsaan Jerman yang selalu menebar senyum. Gabriele Haller namanya. Ia adalah istri dari mas Sandy. Mereka memiliki 3 anak yang kini memiliki karier masing-masing, tetapi tetap tinggal di  Mataram dan Gili Trawangan.  “Saya sengaja mengembangkan konsep bermalam alami seperti ini” terang mas Sandy ketika saya tanyakan alasannya soal konsep homestay. Sejak tahun 2007, mas Sandy terus berbenah. Satu persatu bangunan ia dirikan bersanding dengan pekarangan yang tematik. Mulai dari sayuran, buah-buahan hingga tanaman obat-obatan. “saya mengembangkan konsep ekowisata” jelas mas Sandy. Itulah sebabnya, bila bermalam disini, pengunjung wajib mengambil air sendiri pada kolam air bersih untuk sarana mandi. “termasuk bila ada yang mau buat sambal. Silakan petik sendiri cabai dan tomatnya” terang mas Sandy pada saya. Konsep homestay yang mengagumkan dari pensiunan pemandu pendakian ke gunung Rinjani. “dulu saya guide buat siapapun yang mau naik ke Rinjani”. Jelas mas Sandy. “Lama kelamaan, tenaga saya tidak lagi prima. Makanya saya buat homestay ini, setidaknya saya masih bisa bertemu para pendaki yang beristirahat sebelum melanjutkan pendakian” pungkas mas Sandy.

 
Bangunan utama tampak depan dengan 2 kamar tidur dan beranda tempat bersantai

Bentuk bangunan homestay terbagi menjadi 4 bagian. Tiga bangunan terbuat dari bilah kayu dan bambu dengan atap jerami dan ijuk sederhana. Lalu satu bangunan batako yang merupakan tempat tinggal sang pemilik.  Terdapat kasur pada bangunan bambu dibagian depan dengan dua kamar pada bangunan disebelahnya. Akses kedua bangunan bambu dibagian depan itu terhubung dan berdekatan.  Satu bangunan terpisah jarak dan berfungsi sebagai dapur terbuka dibagian bawah dengan terdapat lantai atas yang berfungsi sebagai kamar tidur yang dapat melihat hamparan perkebunan. Untuk bangunan yang satu ini, sang pemilik terinspirasi dari sebuah atap kapal pesiar yang banyak berlayar di kawasan Labuan Bajo. “ada kasur dibagian atas untuk rebahan, serta dapur dan tempat bersantai dibagian bawah” ucap Mrs. Haller pada kami.  Mrs. Haller pun menuturkan kegemarannya menyantap masakan khas nusantara. “tinggal disini membuat saya selalu lapar, dan makan terus, makan terus…” seloroh Mrs. Haller dengan logat bule’ nya yang kental.

bangunan yang terinspirasi dari bagian atas kapal pesiar di Labuan Bajo

bangunan bersantai di bagian belakang

tempat tidur yang nyaman, plus cuaca dingin di pagi hari

Kolam Air Bersih, pengunjung wajib ambil air sendiri untuk mandi. Seperti Daeng Mamat  @KlinikDrone
 
API UNGGUN DAN KONSER MEWAH SUKA SUKA

Usai mengatur barang pada kamar masing-masing, kami diajak Mrs. Haller menikmati makan malam dengan hidangan hasil karyanya. Meski sederhana, cita rasa masakannya  begitu istimewa. Makan malam sembari bincang santai dengan suhu dingin khas kaki pegunungan menambah hangat suasana.  “jangan terlalu kenyang, nanti ada ubi rebus” celetuk daeng Mamat. “kita bakal buat api unggun juga, mala mini” timpal mas Anton. Uurrgghh berasa mewah gak ini para relawan hidupnya!!. 

Usai makan malam, kami bersantai diberanda pada bangunan depan yang berdekatan dengan kamar hunian mba Tati dan mba Anaz. Obrolan pun mengalir. Mas Sandy datang membawa bilah kayu bakar dan menyusunnya bersama Firman dan daeng Mamat menjadi api unggun sederhana. Suhu dingin tak begitu terasa dengan kehadiran api unggun yang menghangatkan suasana.
 
Obrolan diantara kami semakin mengalir. Mulai dari membahas hal ringan hingga tema obrolan yang serius bahkan soal kehidupan. Keakraban antar kami memuncak ketika saya memanfaatkan speaker daeng Mamat sebagai sumber suara untuk bernyanyi bersama. Jadilah babak Konser Mewah Suka Suka bermodal youtube chanel dan sound speaker seadanya. Buktinya kami semua terhibur. Gelak tawa berasal dari tingkah polah kami masing-masing hingga deretan judul lagu yang kemudian didendangkan bersama-sama jadi pengisi suasana malam. Saya pribadi terkagum-kagum pada kemampuan bernyanyi sang Pilot – kak Kent, yang untuk pertama kali, menunjukkan kemampuan olah vocal nya yang merdu.  Sungguh malam yang akan selalu saya kenang.  Ternyata dengan fasilitas sederhana dan suasana kebersamaan dapat mencipta kebahagiaan. Ada musik, sound, penyanyi, pemandu sorak, tukang rekam hingga penonton kelas VIP, kelas Festival dan penonton kelas Selundupan karena pakai tiket bekas robekan kemaren malam!!.
 
photo bareng dengan Mas Sandy dan Mrs. Haller

Wefie all Genks adalah Kewajiban.

Pilot yang juga model catwalk. (bukan  photo endorese)


Jadi, buat kamu yang tandang ke Sembalun, entah untuk tujuan wisata atau butuh istirahat sebelum melanjutkan pendakian ke puncak gunung Rinjani, jangan lupa singgah ke Homestay nya mas Sandy yang beralamat di jalan Raya Sembalun, Desa Sajang Kecamatan Sembalun Bawaknau Daya, Lombok Utara. Sebut saja Homestay mas Sandy, penduduk setempat akan menunjukkan letaknya. Karena mas Sandy dan homestaynya belum memiliki akun di media sosial jadi dapat pula hubungi  ponsel mas Sandy – 087765101421 untuk informasi dan pemesanan.  Jikapun kamu berminat melakukan pendakian ke gunung Rinjani, dapat hubungi daeng Mamat di nomor ponsel  08114403514.

0 comments :

Posting Komentar

Scroll To Top