![]() |
| menatap hamparan penuh pesona dari puncak Nirwana. |
Keinginan
mendaki gunung kembali muncul dalam obrolan bersama teman-teman. Terlebih
pernah mampu mencapai puncak gunung Rajabasa, Lampung Selatan pada 31 Mei – 1
Juni 2025. Maka di sepakatilah jadwal tracking to summit pada akhir pekan di
awal Februari – alasannya, di weekend tersebut saya tidak ada jadwal memandu
acara pernikahan. Tak tanggung-tanggung, dalam obrolan terucap keinginan untuk
summit di 3 puncak gunung yang jaraknya berdekatan ; puncak Ratai, Kantong
Semar dan Nirwana. Meski dua hari
sebelum keberangkatan di putuskan hanya
melakukan pendakian ke puncak Nirwana plus rencana camping di Bukit Lantana.
Personil tracking kali ini pun bertambah. Selain saya, Jerry dan Lucky yang
pernah jejak muncak di gunung Rajabasa, kali ini bergabung Deni, Dika, Ananta, Fatih dan Dimas. Persiapanpun
tak tanggung-tanggung. Bila pendakian ke Rajabasa terbilang sat set dan minim persiapan, kali ini
perlu perhitungan memadai. Personil bertambah, maka persiapanpun perlu
berbenah. Beberapa personil yang terbilang ‘first
time’ tracking melakukan olah raga ringan guna menyesuaikan diri pada medan
pendakian. Beruntung Rangrang Outdoor
berkenan support beragam perlengkapan
yang perlu kami bawa. Mulai dari 3 tenda besar, perlangkapan memasak, ransel
besar hingga sepatu tracking. Selain itu, dukungan mobil dari @prc.sewamobillampung memudahkan akses kami ke lokasi
pendakian.
![]() |
| Pos Registrasi sebelum Tracking ke Basecamp Bukit Lantana |
PESONA BUKIT LANTANA
Perjalanan
dari Bandar Lampung menuju kecamatan Way Ratai kabupaten Pesawaran terbilang
lancar. Mengawali pendakian, kami melakukan registrasi pada pos awal yang terletak di dusun Sinar Dua – desa Harapan
Jaya. Tujuan utama kami sore itu bukan langsunug menuju puncak Nirwana, tetapi
bermalam terlebih dahulu di basecamp yang berada di bukit Lantana. Selain
melakukan pembayaran, di pos registrasi juga di lakukan pemeriksaan barang
bawaan. Hal ini bertujuan untuk
menghitung jumlah makanan kemasan dan
botol plastik yang kami bawa ke puncak
lalu wajib di bawa kembali saat kami selesai melakukan pendakian. Setelah segala proses registrasi terlaksana,
kami memulai langkah menuju basecamp Lantana. Terjadwal 1 jam perjalanan. Tentu kami tidak
begitu wajib tepat waktu. Maklum, kami bukan pendaki sejati. Lagi pula tujuan
utama kami melakukan pendakian bukan
untuk tepat waktu tetapi untuk menikmati momen kebersamaan dalam bentangan alam
ciptaan Tuhan. Maka selama perjalanan dari Pos registrasi hingga basecamp Bukit
Lantana berhias guyonan yang justru buat
kami terhenti beberapa kali. Termasuk cerita-cerita yang tersampaikan dalam
obrolan selama perjalanan yang seringkali buat kami harus berhenti sejenak hanya
karena perlu melepas tawa sekaligus meluruskan ketegangan urat betis karena
rute jalan menanjak dan terus menanjak.
![]() |
| pesona bentangan alam dari puncak Bukit Lantana. |
Setelah
melalui akses jalan menanjak berhias perkebunan warga di sisi kiri dan kanan
jalan, kami tiba pada bagian depan Bukit Lantana. Bentangan pesisir Teluk
Lampung berhias pulau-pulau cantik sungguh menyegarkan pandangan mata. Lelah
berjalan menanjak 1 jam lebih seketika terlupa. Kami berulangkali mengagumi
bentangan alam nan cantik dari Bukit Lantana sore itu.
“Selamat
Datang di Bukit Lantana..” ucap pak Zainal selaku Kepala Dusun yang kebetulan
sedang berada pada pondokan ojek depan Bukit Lantana. Sebenarnya tersedia jasa
Ojek motor Rp.25.000,- per-orang dalam satu kali pengantaran dari Pos
Registrasi menuju ke Basecamp dan
sebaliknya. Tapi kami memilih berjalan kaki sebagai pemanasan. Kami pun terlibat
obrolan ringan dengan pak Zainal yang menjelaskan bahwa lokasi camping Bukit
Lantana baru menjadi spot komersil lebih kurang 3 bulan belakangan. Meski
menemukan letak Bukit Lantana sudah berlangsung sebelum wabah Covid melanda. “Dulu
kawasan ini jadi akses petani sekitar
untuk menuju kebun” terang pak Zainal. Kemudian kelompok warga dusun Sinar Dua terus
bersemangat menata Bukit Lantana termasuk menyisir rute tracking menuju puncak Nirwana. “Ke puncak Nirwana itu dulunya bisa
dari beberapa akses, tapi sekarang pengelolaannya terpisah pada beberapa pintu
akses. Yang ini lewat Bukit Lantana” jelas pak Zainal kemudian.
Usai
bertegur sapa sekaligus mendapat sedikit penjelasan mengenai Bukit Lantana dan
Puncak Nirwana kami bergerak menuju letak mendirikan tenda. Untungnya, tak ada
pengunjung lain selain kami saat itu. Cuaca cerah bersahabat usai sedikit
rintik di siang tadi mencipta gelombang awan berarak cantik di langit sore
dengan bentangan pesisir Teluk Lampung lengkap dengan bentuk pulau-pulau nan
membanggakan. Pesona alam Lampung benar-benar istimewa.
![]() |
| pak Zainal - kepala dusun Sinar Dua jumpa kami saat tiba di bagian depan Bukit Lantana. |
![]() |
| kerjasama mendirikan tenda dari RangRang Outdoor |
.jpeg)
Fatih menikmati sore dengan bentangan alam nan indah dari Bukit Lantana.
Usai
mendirikan 3 tenda, kami bergegas menyiapkan kompor dan perlengkapan menjirang
air. Keinginan seduh kopi di sore nan
memesona semacam hasrat jiwa yang tak dapat di bendung. Maka berkumpullah kami
sore itu di depan salah satu tenda. Beralas rumput hijau dan bebatuan yang
seolah menjadi kursi menambah nikmat menyecap kopi. Suasana kebersamaan semakin istimewa ketika
Ananta bersedia kami daulat untuk menjadi barista sekaligus bertukar cerita
soal biji kopi, petani kopi dan kualitas kopi. Dalam suasana santai sore itu hadir pula si
Mira – anjing betina yang baru kami beri nama dan setia menemani kami dari
awal pendakian hingga tiba di basecamp Bukit Lentana.
![]() |
| suasana santai sore |
![]() |
| Ngopi sore dengan racikan barista Ananta |
KEBERSAMAAN YANG HANGAT
Tak
terasa sore bergerak cepat. Suasana temaram berganti gelap. Beberapa dari kami
mulai mengenakan jacket dan baju
hangat. Cuaca dingin mengikat. Kilat
cahaya kapal nelayan di pesisir Teluk Lampung menghias malam berpadu taburan
gemintang di langit terang. Bukit Cendana dan perkemahan Harapan Jaya terlihat
jelas dari ketinggian Bukit Lentana benar-benar memanjakan pandangan mata. Perapian
dari kompor yang menanak mie instan
menjadi satu-satunya penghangat suasana
kebersamaan kami malam itu. Perlahan mie instan terhidang, perbekalan makan
dan lauk-pauk yang kami bawa seadanya siang tadi tuntas tak berbekas. Jangan
tanya bagaimana kami menikmati makan dengan penerangan seadanya. Karena justru kebersamaan saat menyantap hidangan ala
kadar itulah yang buat cuaca dingin menjadi hangat. Usai hidangan tandas, kami
semua duduk melingkar. Seduh kopi berhias
obrolan seputar lelaki dewasapun di mulai. Masing-masing dari kami menjadi penutur atas
penggalan kisah. Mulai dari kisah personal hingga kisah-kisah berita yang
akhir-akhir ini terasa di luar akal sehat. Terkadang saya menjadi pelontar pertanyaan
pada beberapa personal yang saya rasa perlu di beri kesempatan bicara. Bahkan
diantara personal yang menuturkan kisahnya, terdapat kisah perjuangan hidup
yang memukau. Meski ada pula kisah-kisah yang memancing gelak tawa yang tak di
sangka.
![]() |
| suasana malam, makan bersama dan melingkar bincang banyak hal. |
Ketika
suhu malam semakin mengikat, kami memutuskan memasuki tenda dan merebahkan
badan sebagai upaya persiapan tenaga untuk memulai pendakian esok pagi. Satu
persatu dari kami bergerak rehat meski beberapa diantara kami masih berbincang
dengan tema obrolan yang berbeda-beda di setiap tenda. Saya, Dimas dan Fatih dalam satu tenda di bagian ujung dekat perapian punya bahasan
seputar romansa para remaja dan sesekali bahas cerita film Alas Roban yang buat
bergidik. Lalu Deni, Dika dan Ananta
yang berada pada tenda ujung dekat akses kedatangan menyajikan obrolan
setingkat lebih berat ; perihal kuliah, bisnis dan kehidupan. Obrolan tenda
ujung kiri dan kanan yang berjalan pada ritmenya masing-masing itu justru buat
Jerry dan Lucky yang berada di tenda tengah seolah mendapat saluran berita
gratis. Macam menyimak siaran radio yang
chanel-nya tak dapat dikendalikan.
![]() |
| sesekali ngaso, istirahat meluruskan kaki dan ngobrol bareng Mirna - si Anjing betina. |
PERJUANGAN KE PUNCAK NIRWANA
Malam
seolah bergerak cepat. Rasanya baru beberapa menit lalu saya mendengar
cerita-cerita film horor dari Dimas dan Fatih termasuk ketakutan yang mereka
kemukakan, lalu tersadar di bangunkan
oleh Lucky dan Jerry yang ternyata telah berkemas untuk bersiap pendakian. Kami
pun lekas bergegas. Beberapa barang bawaan memang telah kami persiapkan sejak
sore. Hanya 1 tas besar yang kami bawa guna perbekalan makan dan perlengkapan
memasak plus 1 tas ransel khusus botol minum dan kopi. Semantara barang-barang
lain kami tinggalkan di dalam tenda untuk meringankan langkah pendakian.
Pukul
4 pagi tracking kami di mulai. Waktu
yang tepat untuk memulai langkah mencapai puncak. Meski mata masih sulit
terbuka sempurna setidaknya badan sudah merebah dan semangat lebih gagah karena
sedikit istirahat sebelumnya. Yang membuat semangat pendakian pagi buta justru ketidaktahuan
kami akan jenis lintasan yang di lalui. Sehingga tidak merasa sebuah beban
meski ternyata kiri kanan rute jalan adalah tebing dan hutan belukar.
Langkah
kaki kami mulai menanjak selepas dari ujung Bukit Lantana. Saya pribadi
memastikan kiri dan kanan adalah jurang karena kabut pagi yang tebal. Gelap
pagi terasa bergerak pelan. Sementara setiap kami tak banyak berucap. Selain
langkah awal penyesuaian kamipun menyadari pentingnya menghemat tenaga. Maka
langkah demi langkah terus menanjak hingga memasuki bagian rimba berpohon
besar. Sekali waktu kami mengingatkan berhati-hati terhadap langkah. Pada
beberapa bagian terdapat pepohonan tumbang dan jalan tanah berkubang. Kami pula
sempat berhenti sejenak menghela nafas dan sedikit menyiram dahaga. Pada
beberapa pemberhentian saya tak ragu buat merebahkan badan dan meluruskan kaki.
Betis tegang semakin nyata rasanya.
Perasaan lega ketika berhasil melewati Pos 1 dan Pos 2 dengan penuh
perjuangan. Kami sempat berhenti cukup lama pada Pos 3 karena cuaca mulai
berwarna. Semburat cahaya matahari menyelinap di antara pepohonan tinggi dan
rindang. Sesekali saya menghirup udara pagi yang benar-benar segar. Bangga
rasanya masih bisa menyesap kesegaran alami yang sensasi rasanya sulit di
lukiskan.
Akses
menuju puncak semakin menantang. Kontur tanah terus menanjak berhias akar
pepohonan yang merambat sembarang. Pepohonan besar berbalut lumut mulai jelas
terlihat. Beberapa di antara kami mulai terengah-engah. Saya pun mulai sulit
menata nafas. Wajah-wajah lelah tergambar jelas. Meski begitu, Lucky tak pernah kehabisan tema kelakar. Di
antara kami semua, Lucky memang punya simpanan tenaga ekstra. Kadang kami tak
sanggup lagi berkata banyak dalam
langkah menanjak, tetapi Lucky malah punya energi buat bernyanyi. Bahkan
bernyanyi dengan suara lantang.
Selepas
Pos 4, kami semakin bersemangat memompa tenaga untuk menjejak di puncak
Nirwana. Cuaca cerah pagi itu seolah menjadi tambahan energi bagi kami. Saya,
Dimas dan Fatih semakin melangkah jauh mengikuti langkah Jerry sebagai pemimpin
regu yang seolah tahu rute jalan menuju puncak. Padahal Jerry pun baru kali pertama
tandang ke Puncak Nirwana. Sekali waktu, saya sempat terjerembab dalam kubangan
lumpur. Tanah merah dan basah dengan kontur menanjak semakin menantang. Pada
beberapa bagian jalan terpasang tali tambang guna memudahkan pendaki
berpegangan. Tapi pada bagian lain membutuhkan ketenangan dan kesabaran.
Sungguh rute menanjak yang aduhai. Dalam perjalanan menuju puncak, rombongan
Lucky, Ananta, Dika dan Deni tertinggal jauh di belakang kami. Beberapa kali
Jerry berteriak memanggil mereka, tapi rimba punya aturan lain terhadap
penakluknya. “Semoga mereka nggak
kesasar.” ucap Dimas. Saya pun terdiam. Tak berani berprasangka apapun selain
berharap semua baik-baik saja. Saya dan Dimas sempat beberapa kali berhenti.
Tertinggal jauh dengan Jerry dan Fatih yang lebih dahulu. Saat berhenti di sisi
rute menanjak, Dimas melihat wujud kera besar berbulu putih sedang bersantai di
ranting pohon besar. Melihat sosok kera putih tersebut, saya dan Dimas terdiam
takjub seolah jumpa langsung salah satu penghuni rimba, Hanoman Putih.
Matahari
terus bergerak. Semburat kekuningan memudar. Tapi bahagia saya dan rekan-rekan
meluap kala tiba di puncak Nirwana. Saya dan Dimas berhasil tiba saat Jerry dan
Fatih lebih dulu berada di puncak. Kami
berdecak kagum melihat hamparan keindahan yang terlihat jelas. Yang istimewa,
saat berada di puncak Nirwana tersaji dua sisi keindahan yang membentang
berhias gumpalan awan. Pada sisi kiri
terbentang rimbunan pepohonan hutan tropis yang menghias wujud Gunung Ratai dan
puncak Kantong Semar. Sementara sisi kanan tersaji bentangan hijau, barisan hunian warga berpadu indahnya Pesisir
Teluk Lampung dan pulau-pulau cantik. Tak berselang lama Lucky, Ananta, Deni
dan Dika muncul. Lengkaplah kami
berdelapan di atas puncak Nirwana. Ternyata mereka berempat sempat tersesat arah dan harus
menyisir ulang rute tracking. Bahkan
Ananta sempat mengalami kram otot kaki dan butuh beberapa menit untuk
pemulihan.
![]() |
| pose pose bahagia berada di Puncak Nirwana |
![]() |
| kebersamaan di Puncak Nirwana kala cuaca mendukung sebelum kabut tebal menggulung. |
Udara
dingin tiba ketika kami selesai menyantap
perbekalan makan pagi yang kami bawa. Kopi hangat terasa lekas dingin. Awan
yang semula berarak menggumpal bergegas rendah. Tanda bahwa cuaca cerah
berganti kabut. Pepohonan yang semula jelas terlihat kini menjadi samar dan
perlahan tenggelam. Kabut datang menghadang. Beberapa pengunjung lain
berdatangan setelah kami memuaskan diri dengan suasana yang lebih cerah
sebelumnya. Kami pun memutuskan untuk bergerak turun ke basecamp meski berat
rasanya meninggalkan puncak Nirwana yang memberikan bentangan bagai surga. Perlahan kami bergerak menyusuri rute menurun
untuk kembali ke basecamp. Terlihat jejak langkah yang sebelumnya kami lalui
hingga menyadarkan kami bahwa langkah-langkah kecil yang kami lakukan mampu
membawa kami ke puncak Nirwana. Dalam perjalanan pulang kami bertemu dengan
beberapa rombongan yang sedang memompa semangat mereka menuju puncak. Sekali
waktu kami bertegursapa dan memberi semangat pada langkah mereka. Semakin mendekat ke arah basecamp semakin banyak
rombongan menuju puncak. Padahal cuaca
makin gelap. Kabut menggulung bukit dan pegunungan dengan cepat. Saya dan
teman-teman bersyukur bahwa pendakian yang di mulai sejak pukul 4 pagi dengan
waktu tempuh lebih kurang 4 jam tersebut tergolong di lindungi sang Maha
Pencipta. Kami di beri udara bagus, cuaca cerah, semburat matahari pagi dan
awan berarak dengan langit biru saat di
puncak. Tentu berbeda cerita bagi mereka yang memulai pendakian di tengah
siang. Pastilah kawasan rimba tertutup kabut. Dan benar saja, saat kami
merebahkan badan dalam tenda begitu tiba di basecamp Bukita Lantana, hujan
lebat mengguyur. Bersyukur semesta
mengawal perjalanan kami untuk menikmati puncak nirwana hingga kembali dengan
selamat di basecamp Lantana. Meski pada akhirnya kami semua menyadari, bahwa mendaki
gunung bukan hanya soal tiba di puncak, tetapi menjadi pribadi pembelajar
melalui proses yang di lalui dalam rute tracking menuju puncak. Misi menuju puncak Nirwana ; 1681 mdpl, berhasil.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)





masyaallah indah sekali blog yang dibuat oleh pak indra ini 🥹🙏🏻 otw puncak nirwana
BalasHapusamin makasih
HapusKata perkata ditulis berdasarkan keindahan, applause 🙏🏻
BalasHapusprok prok prok... makasih Gus Patih
Hapus