Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Rabu, 11 Februari 2026

MENIKMATI SURGA DI PUNCAK NIRWANA

 

Puncak Gunung Nirwana Pesawaran
menatap hamparan penuh pesona dari puncak Nirwana.


Keinginan mendaki gunung kembali muncul dalam obrolan bersama teman-teman. Terlebih pernah mampu mencapai puncak gunung Rajabasa, Lampung Selatan pada 31 Mei – 1 Juni 2025.  Maka di sepakatilah jadwal tracking to summit pada akhir pekan di awal Februari – alasannya, di weekend tersebut saya tidak ada jadwal memandu acara pernikahan. Tak tanggung-tanggung, dalam obrolan terucap keinginan untuk summit di 3 puncak gunung yang jaraknya berdekatan ; puncak Ratai, Kantong Semar dan Nirwana.  Meski dua hari sebelum keberangkatan  di putuskan hanya melakukan pendakian ke puncak Nirwana plus rencana camping di Bukit Lantana.

 

Personil tracking kali ini pun bertambah. Selain saya, Jerry dan Lucky yang pernah jejak muncak di gunung Rajabasa, kali ini bergabung Deni, Dika, Ananta, Fatih dan Dimas. Persiapanpun tak tanggung-tanggung. Bila pendakian ke Rajabasa terbilang sat set dan minim persiapan, kali ini perlu perhitungan memadai. Personil bertambah, maka persiapanpun perlu berbenah. Beberapa personil yang terbilang ‘first time’ tracking melakukan olah raga ringan guna menyesuaikan diri pada medan pendakian. Beruntung Rangrang Outdoor berkenan support  beragam perlengkapan yang perlu kami bawa. Mulai dari 3 tenda besar, perlangkapan memasak, ransel besar hingga sepatu tracking. Selain itu, dukungan mobil dari @prc.sewamobillampung  memudahkan akses kami ke lokasi pendakian.

 

 

Gunung Nirwana 1681
Pos Registrasi sebelum Tracking ke Basecamp Bukit Lantana

PESONA BUKIT LANTANA

 

Perjalanan dari Bandar Lampung menuju kecamatan Way Ratai kabupaten Pesawaran terbilang lancar. Mengawali pendakian, kami melakukan registrasi pada pos awal  yang terletak di dusun Sinar Dua – desa Harapan Jaya. Tujuan utama kami sore itu bukan langsunug menuju puncak Nirwana, tetapi bermalam terlebih dahulu di basecamp yang berada di bukit Lantana. Selain melakukan pembayaran, di pos registrasi juga di lakukan pemeriksaan barang bawaan. Hal ini bertujuan  untuk menghitung jumlah  makanan kemasan dan botol plastik yang kami bawa ke puncak  lalu wajib di bawa kembali saat kami selesai melakukan pendakian.  Setelah segala proses registrasi terlaksana, kami memulai langkah menuju basecamp Lantana.  Terjadwal 1 jam perjalanan. Tentu kami tidak begitu wajib tepat waktu. Maklum, kami bukan pendaki sejati. Lagi pula tujuan utama kami melakukan pendakian  bukan untuk tepat waktu tetapi untuk menikmati momen kebersamaan dalam bentangan alam ciptaan Tuhan. Maka selama perjalanan dari Pos registrasi hingga basecamp Bukit Lantana berhias  guyonan yang justru buat kami terhenti beberapa kali. Termasuk cerita-cerita yang tersampaikan dalam obrolan selama perjalanan yang seringkali buat kami harus berhenti sejenak hanya karena perlu melepas tawa sekaligus meluruskan ketegangan urat betis karena rute jalan menanjak dan terus menanjak.


Lantana Hill Dusun Sinar Dua Desa Harapan Jaya Kecamatan Way Ratai, Pesawaran, Lampung
pesona bentangan alam dari puncak Bukit Lantana.

Setelah melalui akses jalan menanjak berhias perkebunan warga di sisi kiri dan kanan jalan, kami tiba pada bagian depan Bukit Lantana. Bentangan pesisir Teluk Lampung berhias pulau-pulau cantik sungguh menyegarkan pandangan mata. Lelah berjalan menanjak 1 jam lebih seketika terlupa. Kami berulangkali mengagumi bentangan alam nan cantik dari Bukit Lantana sore itu.

“Selamat Datang di Bukit Lantana..” ucap pak Zainal selaku Kepala Dusun yang kebetulan sedang berada pada pondokan ojek depan Bukit Lantana. Sebenarnya tersedia jasa Ojek motor Rp.25.000,- per-orang dalam satu kali pengantaran dari Pos Registrasi menuju ke Basecamp  dan sebaliknya. Tapi kami memilih berjalan kaki sebagai pemanasan. Kami pun terlibat obrolan ringan dengan pak Zainal yang menjelaskan bahwa lokasi camping Bukit Lantana baru menjadi spot komersil lebih kurang 3 bulan belakangan. Meski menemukan letak Bukit Lantana sudah berlangsung sebelum wabah Covid melanda. “Dulu  kawasan ini jadi akses petani sekitar untuk menuju kebun” terang pak Zainal.  Kemudian kelompok warga dusun Sinar Dua terus bersemangat menata Bukit Lantana termasuk menyisir rute tracking menuju puncak Nirwana. “Ke puncak Nirwana itu dulunya bisa dari beberapa akses, tapi sekarang pengelolaannya terpisah pada beberapa pintu akses. Yang ini lewat Bukit Lantana” jelas pak Zainal kemudian.

Usai bertegur sapa sekaligus mendapat sedikit penjelasan mengenai Bukit Lantana dan Puncak Nirwana kami bergerak menuju letak mendirikan tenda. Untungnya, tak ada pengunjung lain selain kami saat itu. Cuaca cerah bersahabat usai sedikit rintik di siang tadi mencipta gelombang awan berarak cantik di langit sore dengan bentangan pesisir Teluk Lampung lengkap dengan bentuk pulau-pulau nan membanggakan. Pesona alam Lampung benar-benar istimewa.


pak Zainal - kepala dusun Sinar Dua jumpa kami saat tiba di bagian depan Bukit Lantana.


kerjasama mendirikan tenda dari RangRang Outdoor


 

Fatih menikmati sore dengan bentangan alam nan indah dari Bukit Lantana.

Usai mendirikan 3 tenda, kami bergegas menyiapkan kompor dan perlengkapan menjirang air.  Keinginan seduh kopi di sore nan memesona semacam hasrat jiwa yang tak dapat di bendung. Maka berkumpullah kami sore itu di depan salah satu tenda. Beralas rumput hijau dan bebatuan yang seolah menjadi kursi menambah nikmat menyecap kopi.  Suasana kebersamaan semakin istimewa ketika Ananta bersedia kami daulat untuk menjadi barista sekaligus bertukar cerita soal biji kopi, petani kopi dan kualitas kopi.  Dalam suasana santai sore itu hadir pula si Mira – anjing betina yang baru kami beri nama dan setia menemani kami dari awal pendakian hingga tiba di basecamp Bukit Lentana.


suasana santai sore

Ngopi sore dengan racikan barista Ananta

KEBERSAMAAN YANG HANGAT

 

Tak terasa sore bergerak cepat. Suasana temaram berganti gelap. Beberapa dari kami mulai mengenakan jacket dan baju hangat. Cuaca dingin mengikat.  Kilat cahaya kapal nelayan di pesisir Teluk Lampung menghias malam berpadu taburan gemintang di langit terang. Bukit Cendana dan perkemahan Harapan Jaya terlihat jelas dari ketinggian Bukit Lentana benar-benar memanjakan pandangan mata. Perapian dari kompor yang menanak mie instan menjadi  satu-satunya penghangat suasana kebersamaan kami malam itu.  Perlahan mie instan terhidang, perbekalan makan dan lauk-pauk yang kami bawa seadanya siang tadi tuntas tak berbekas. Jangan tanya bagaimana kami menikmati makan dengan penerangan seadanya. Karena  justru kebersamaan saat menyantap hidangan ala kadar itulah yang buat cuaca dingin menjadi hangat. Usai hidangan tandas, kami semua duduk melingkar. Seduh kopi berhias  obrolan seputar lelaki dewasapun di mulai.  Masing-masing dari kami menjadi penutur atas penggalan kisah. Mulai dari kisah personal hingga kisah-kisah berita yang akhir-akhir ini terasa di luar akal sehat.  Terkadang saya menjadi pelontar pertanyaan pada beberapa personal yang saya rasa perlu di beri kesempatan bicara. Bahkan diantara personal yang menuturkan kisahnya, terdapat kisah perjuangan hidup yang memukau. Meski ada pula kisah-kisah yang memancing gelak tawa yang tak di sangka.

suasana malam, makan bersama dan melingkar bincang banyak hal.

 

Ketika suhu malam semakin mengikat, kami memutuskan memasuki tenda dan merebahkan badan sebagai upaya persiapan tenaga untuk memulai pendakian esok pagi. Satu persatu dari kami bergerak rehat meski beberapa diantara kami masih berbincang dengan tema obrolan yang berbeda-beda di setiap tenda.  Saya, Dimas dan Fatih dalam satu tenda  di bagian ujung dekat perapian punya bahasan seputar romansa para remaja dan sesekali bahas cerita film Alas Roban yang buat bergidik.  Lalu Deni, Dika dan Ananta yang berada pada tenda ujung dekat akses kedatangan menyajikan obrolan setingkat lebih berat ; perihal kuliah, bisnis dan kehidupan. Obrolan tenda ujung kiri dan kanan yang berjalan pada ritmenya masing-masing itu justru buat Jerry dan Lucky yang berada di tenda tengah seolah mendapat saluran berita gratis. Macam  menyimak siaran radio yang chanel-nya tak dapat dikendalikan.

 

sesekali ngaso, istirahat meluruskan kaki dan ngobrol bareng Mirna - si Anjing betina.

 

PERJUANGAN KE PUNCAK NIRWANA

 

Malam seolah bergerak cepat. Rasanya baru beberapa menit lalu saya mendengar cerita-cerita film horor dari Dimas dan Fatih termasuk ketakutan yang mereka kemukakan,  lalu tersadar di bangunkan oleh Lucky dan Jerry yang ternyata telah berkemas untuk bersiap pendakian. Kami pun lekas bergegas. Beberapa barang bawaan memang telah kami persiapkan sejak sore. Hanya 1 tas besar yang kami bawa guna perbekalan makan dan perlengkapan memasak plus 1 tas ransel khusus botol minum dan kopi. Semantara barang-barang lain kami tinggalkan di dalam tenda untuk meringankan langkah pendakian.

 

Pukul 4 pagi tracking kami di mulai. Waktu yang tepat untuk memulai langkah mencapai puncak. Meski mata masih sulit terbuka sempurna setidaknya badan sudah merebah dan semangat lebih gagah karena sedikit istirahat sebelumnya. Yang membuat semangat pendakian pagi buta justru ketidaktahuan kami akan jenis lintasan yang di lalui. Sehingga tidak merasa sebuah beban meski ternyata kiri kanan rute jalan adalah tebing dan hutan belukar.

Langkah kaki kami mulai menanjak selepas dari ujung Bukit Lantana. Saya pribadi memastikan kiri dan kanan adalah jurang karena kabut pagi yang tebal. Gelap pagi terasa bergerak pelan. Sementara setiap kami tak banyak berucap. Selain langkah awal penyesuaian kamipun menyadari pentingnya menghemat tenaga. Maka langkah demi langkah terus menanjak hingga memasuki bagian rimba berpohon besar. Sekali waktu kami mengingatkan berhati-hati terhadap langkah. Pada beberapa bagian terdapat pepohonan tumbang dan jalan tanah berkubang. Kami pula sempat berhenti sejenak menghela nafas dan sedikit menyiram dahaga. Pada beberapa pemberhentian saya tak ragu buat merebahkan badan dan meluruskan kaki. Betis tegang semakin nyata rasanya.  Perasaan lega ketika berhasil melewati Pos 1 dan Pos 2 dengan penuh perjuangan. Kami sempat berhenti cukup lama pada Pos 3 karena cuaca mulai berwarna. Semburat cahaya matahari menyelinap di antara pepohonan tinggi dan rindang. Sesekali saya menghirup udara pagi yang benar-benar segar. Bangga rasanya masih bisa menyesap kesegaran alami yang sensasi rasanya sulit di lukiskan.

 

Akses menuju puncak semakin menantang. Kontur tanah terus menanjak berhias akar pepohonan yang merambat sembarang. Pepohonan besar berbalut lumut mulai jelas terlihat. Beberapa di antara kami mulai terengah-engah. Saya pun mulai sulit menata nafas. Wajah-wajah lelah tergambar jelas. Meski begitu,  Lucky tak pernah kehabisan tema kelakar. Di antara kami semua, Lucky memang punya simpanan tenaga ekstra. Kadang kami tak sanggup lagi  berkata banyak dalam langkah menanjak, tetapi Lucky malah punya energi buat bernyanyi. Bahkan bernyanyi dengan suara lantang.

 

Selepas Pos 4, kami semakin bersemangat memompa tenaga untuk menjejak di puncak Nirwana. Cuaca cerah pagi itu seolah menjadi tambahan energi bagi kami. Saya, Dimas dan Fatih semakin melangkah jauh mengikuti langkah Jerry sebagai pemimpin regu yang seolah tahu rute jalan menuju puncak. Padahal Jerry pun baru kali pertama tandang ke Puncak Nirwana. Sekali waktu, saya sempat terjerembab dalam kubangan lumpur. Tanah merah dan basah dengan kontur menanjak semakin menantang. Pada beberapa bagian jalan terpasang tali tambang guna memudahkan pendaki berpegangan. Tapi pada bagian lain membutuhkan ketenangan dan kesabaran. Sungguh rute menanjak yang aduhai. Dalam perjalanan menuju puncak, rombongan Lucky, Ananta, Dika dan Deni tertinggal jauh di belakang kami. Beberapa kali Jerry berteriak memanggil mereka, tapi rimba punya aturan lain terhadap penakluknya.  “Semoga mereka nggak kesasar.” ucap Dimas. Saya pun terdiam. Tak berani berprasangka apapun selain berharap semua baik-baik saja. Saya dan Dimas sempat beberapa kali berhenti. Tertinggal jauh dengan Jerry dan Fatih yang lebih dahulu. Saat berhenti di sisi rute menanjak, Dimas melihat wujud kera besar berbulu putih sedang bersantai di ranting pohon besar. Melihat sosok kera putih tersebut, saya dan Dimas terdiam takjub seolah jumpa langsung salah satu penghuni rimba, Hanoman Putih.

 

Matahari terus bergerak. Semburat kekuningan memudar. Tapi bahagia saya dan rekan-rekan meluap kala tiba di puncak Nirwana. Saya dan Dimas berhasil tiba saat Jerry dan Fatih lebih dulu berada di puncak.  Kami berdecak kagum melihat hamparan keindahan yang terlihat jelas. Yang istimewa, saat berada di puncak Nirwana tersaji dua sisi keindahan yang membentang berhias gumpalan awan.  Pada sisi kiri terbentang rimbunan pepohonan hutan tropis yang menghias wujud Gunung Ratai dan puncak Kantong Semar. Sementara sisi kanan tersaji bentangan hijau,  barisan hunian warga berpadu indahnya Pesisir Teluk Lampung dan pulau-pulau cantik. Tak berselang lama Lucky, Ananta, Deni dan Dika muncul.  Lengkaplah kami berdelapan di atas puncak Nirwana. Ternyata mereka  berempat sempat tersesat arah dan harus menyisir ulang rute tracking. Bahkan Ananta sempat mengalami kram otot kaki dan butuh beberapa menit untuk pemulihan.


pose pose bahagia berada di Puncak Nirwana

kebersamaan di Puncak Nirwana kala cuaca mendukung sebelum kabut tebal menggulung.

Udara dingin tiba ketika kami selesai  menyantap perbekalan makan pagi yang kami bawa. Kopi hangat terasa lekas dingin. Awan yang semula berarak menggumpal bergegas rendah. Tanda bahwa cuaca cerah berganti kabut. Pepohonan yang semula jelas terlihat kini menjadi samar dan perlahan tenggelam. Kabut datang menghadang. Beberapa pengunjung lain berdatangan setelah kami memuaskan diri dengan suasana yang lebih cerah sebelumnya. Kami pun memutuskan untuk bergerak turun ke basecamp meski berat rasanya meninggalkan puncak Nirwana yang memberikan bentangan bagai surga.  Perlahan kami bergerak menyusuri rute menurun untuk kembali ke basecamp. Terlihat jejak langkah yang sebelumnya kami lalui hingga menyadarkan kami bahwa langkah-langkah kecil yang kami lakukan mampu membawa kami ke puncak Nirwana. Dalam perjalanan pulang kami bertemu dengan beberapa rombongan yang sedang memompa semangat mereka menuju puncak. Sekali waktu kami bertegursapa dan memberi semangat pada langkah mereka.  Semakin mendekat ke arah basecamp semakin banyak rombongan menuju puncak.  Padahal cuaca makin gelap. Kabut menggulung bukit dan pegunungan dengan cepat. Saya dan teman-teman bersyukur bahwa pendakian yang di mulai sejak pukul 4 pagi dengan waktu tempuh lebih kurang 4 jam tersebut tergolong di lindungi sang Maha Pencipta. Kami di beri udara bagus, cuaca cerah, semburat matahari pagi dan awan berarak dengan langit  biru saat di puncak. Tentu berbeda cerita bagi mereka yang memulai pendakian di tengah siang. Pastilah kawasan rimba tertutup kabut. Dan benar saja, saat kami merebahkan badan dalam tenda begitu tiba di basecamp Bukita Lantana, hujan lebat mengguyur.  Bersyukur semesta mengawal perjalanan kami untuk menikmati puncak nirwana hingga kembali dengan selamat di basecamp Lantana. Meski pada akhirnya kami semua menyadari, bahwa mendaki gunung bukan hanya soal tiba di puncak, tetapi menjadi pribadi pembelajar melalui proses yang di lalui dalam rute tracking menuju puncak.  Misi menuju puncak Nirwana ; 1681 mdpl, berhasil.

4 komentar :

  1. masyaallah indah sekali blog yang dibuat oleh pak indra ini 🥹🙏🏻 otw puncak nirwana

    BalasHapus
  2. Kata perkata ditulis berdasarkan keindahan, applause 🙏🏻

    BalasHapus

Scroll To Top