Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label beach. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beach. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

MENIKMATI SUASANA PAGI DI PATTAYA



 

 Bagi saya, menikmati suasana pagi disuatu kawasan yang sedang dikunjungi itu tak ubahnya dengan menikmati hidangan lezat yang tersaji didepan mata. Sungguh rugi  bila tak disantap. Meski  sebenarnya, jika tidak bepergian, saya termasuk orang yang susah bangun pagi, hehehehe.

Rabu, 25 Maret 2015

MENIKMATI RAGAM PESONA BAHARI PESISIR TELUK LAMPUNG





Cuaca cerah menemani pelayaran kami siang itu. Setelah sedikit meleset dari tepat waktu yang direncanakan, saya dan rekan rekan mekhanai Bandar Lampung beserta tim program ‘Explore Banget”  - Mas Arie dan kawan kawan bergerak menyusuri hamparan pesisir teluk lampung bersama mas Edi dari RQ Tour and Travel.
Seperti yang telah direncanakan, kami akan berlayar menuju beberapa pulau yang termasuk dalam garis pesisir teluk lampung. Bergerak dari dermaga Ketapang – Pesawaran, setelah melalui rute perjalanan cukup lancar dari pusat kota Bandar Lampung selama satu jam setengah, kami bergegas menaiki kapal nelayan bermesin solar ukuran sedang.
Air laut yang tenang, cuaca yang cerah serta rekan rekan yang sangat antusias menikmati perjalanan singkat ditengah padatnya aktivitas selama sepekan sebelumnya. Terlebih saya dan rekan rekan Mekhanai ; Kurnia, Panca, Angga, Agung dan Aqin disibukkan dalam kepanitiaan acara pemilihan Muli Mekhanai Bandar Lampung 2015 sejak awal Maret lalu hingga awal April mendatang. Jadilah suasana siang itu bagai kegembiraan dapat lepas dari rutinitas.

Tak ada kendala berarti yang saya dan tim hadapi selama pelayaran mengarungi garis pesisir Teluk Lampung. Air laut yang tenang dengan cuaca cerah membuat kami dapat melihat betapa indahnya hamparan laut nan luas berhias perbukitan yang menonjol di beberapa bagian dengan ragam ekosistem alami menambah sejuknya pandangan mata.




Tujuan pertama kami siang itu adalah Tanjung Putus.
Tanjung Putus adalah salah satu wisata bahari dengan pesona kekayaan biota laut. Tak hanya ragam terumbu karang yang memikat tetapi juga habitat laut yang melimpah. Tak heran, saya dan tim bergegas menanggalkan pakaian dan dengan sigap memakai ragam peralatan bantu snorkeling yang telah dipersiapkan.  Lagi lagi saya meyakinkan keselamatan dalam ber-snorkeling – biasalah, Nasib orang yang tak pandai berenang. Beruntung rekan rekan yang ikut serta dalam tim pandai berenang. 

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi Tanjung Putus. Tapi mendatangi salah satu kawasan snorkeling terbaik di garis pesisir teluk lampung  tersebut tak pernah ada bosannya. Bagi saya, melihat atraksi hewan bawah laut bergerak bebas tanpa dikomandoi itu adalah sebuah kemewahan akan karunia sang pencipta alam dan isinya. Dalamnya laut berarus tenang dengan aneka bentuk karang nan anggun sebagai hiasan alam maha agung. Berulang kali saya berdecak kagum kala dapat memandangi langsung kekayaan bawah laut. Tak pernah terfikirkan bisa begitu  bermain dekat dengan ikan ikan beragam bentuk dan warna yang lalu lalang sekitar tubuh. Belum lagi dapat memegang terumbu karang yang bergoyang tenang bagai menunjukkan misteri tersendiri kala di dalam laut dan berbeda rupa kala di permukaan.

Tak ada lelahnya mengagumi karya sang pencipta akan kehidupan bawah laut yang mengagumkan. Tanpa terasa lapar melanda. Kami menikmati makan siang di perjalanan pulang meninggalkan Tanjung Putus menuju Pulau Pahawang.



Ikan Kerapu hasil memancing

Sepanjang perjalanan menuju pulau Pahawang, mas Edi selaku owner RQ Tour and Travel dan mekhanai Panca mengisi waktu dengan memancing di laut lepas. Beruntung, aktivitas iseng berbuah ikan ikan Kerapu sebagai hasil  memancing siang itu.
Pulau Pahawang adalah kunjungan kami selanjutnya. Setelah 40 menit berlayar dari Tanjung Putus kami tiba di kawasan Pulau Pahawang Kecil yang tampak lebih tenang di banding Pulau Pahawang Besar yang didiami banyak penduduk pesisir dengan ragam aktivitas laut sebagai mata pencaharian mereka sehari hari.  Pengemudi kapal yang kami tumpangi harus hati hati kala merapatkan kapal di tepian, karena dibeberapa bagian sekitaran Pulau Pahawang ada banyak terumbu karang yang tumbuh cukup dangkal hingga riskan terkena bagian bawah kapal jika tidak hati hati. 


Kapal belum bertambat sempurna, saya dan rekan rekan satu kapal memutuskan untuk bergegas menjajakkan kaki di permukaan air laut yang tenang kala itu. Hamparan pasir dengan  gugusan perbukitan kecil lengkap dengan ragam pepohonan bagai hamparan sorgawi yang terlukis jelas di depan mata dan saying untuk tidak dinikmati. Bagai karya pencipta untuk suasana surga di bumi Lampung. Bersahutan kami bersorak kegirangan kala menjajakkan kaki di lembutnya hamparan pasir dengan sensasi dingin air laut berwarna biru dan hijau toska gradasi.  Menghabiskan waktu di Pahawang kecil dengan pengambilan gambar untuk program ‘Explore Banget” jadi suasana kebersamaan saya dan tim sore itu. Cuaca cerah sungguh mendukung kami semua.
Meski sungkan rasanya berpisah dengan pulau Pahawang, tetapi kami harus meninggalkan pulau dan bergegas kembali ke dermaga Ketapang mengingat hari menjelang petang.  Mas Edi – pemilik RQ Tour and Travel mengingatkan pada kemudi kapal untuk singgah di kawasan Batu Timbul dalam perjalanan menuju dermaga Ketapang. Sayang hujan super deras melanda perjalana pulang kami. Saya sempat khawatir akan keselamatan kala itu. Hujan benar benar deras. Air hujan mengenai tubuh bersama hempasan angin kencang dan ombak laut menyapa pelayaran pulang kami.  Berkali kali saya berdoa pada sang kuasa memohon keselamatan.  Saya takut karena tak pandai berenang sama sekali. Beberapa rekan tampak mulai memakai pelampung dan mengemas barang bawaan dalam wadah pelastik.  Niat ingin singgah ke Batu Timbul kami urungkan karena selain sulitnya kapal merapat ketepian, hujan terus menyapa dengan kuatnya bahkan berkali kali kilat datang menghentak denyut jantung hingga berdetak kencang. 

  

Memang tak cukup rasanya menikmati beberapa pulau hanya dalam satu hari. Terlebih akses pantai dan pulau dari pusat kota Bandar Lampung relatif dekat dan mudah. Sebagai bagian dari program trip RQ Tour and Travel, saya dan seluruh rekan yang terlibat merasa senang karena selain merasakan perjalanan penuh kesan tetapi sekaligus mendapat banyak pengetahuan tentang lingkungan perairan dan kelestarian biota laut. RQ Tour and Travel yang berpengalaman memandu  banyak pihak dalam paket wisata, tak hanya memanjakan rekan rekan wisatawan dengan paket yang memuaskan tetapi kerap memasukkan unsur edukasi dan penguatan team work dalam tiap paket perjalanannya. Tak heran jika paket dan konsep  “Small Paradise Trip”  yang diusung RQ Tour and Travel selalu jadi incaran para pencinta jalan jalan baik kelompok maupun korporasi.

Senja hadir lebih awal kala kami tiba di dermaga Ketapang . Guyuran hujan nan deras menyisakan tetesan kesejukan bagi semesta. Meski tak melihat suguhan matahari terbenam karena awan terus menghitam dan malam akan segera membentang, tetapi perjalanan mengarungi lautan dan menikmati pesona bawah laut Tanjung Putus serta menjajakan kaki di hamparan pasir nan halus Pulau Pahawang Kecil  bersama sosok – sosok dalam tim yang menyenangkan bagai rekreasi terindah disela padatnya aktiviitas kehidupan.

Rabu, 24 Desember 2014

KEPINGAN SORGA DI BUMI LAMPUNG ITU BERNAMA PULAU PISANG.

Sunrise di Pulau Pisang



Bagi kamu yang menyukai wisata pantai landai dengan suasana  pedesaan yang bersahabat, ada baiknya lakukan kunjungan ke Pulau Pisang.

Salah satu sudut Pantai di Pulau Pisang


Pulau Pisang adalah salah satu kecamatan dalam kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung yang baru saja di resmikan sebagai kabupaten pada tahun 2012 setelah sebelumnya menjadi bagian dari kabupaten Lampung Barat. Sebagai kecamatan, Pulau Pisang yang berupa kepulauan terpisah dari dataran Pesisir Barat ini memiliki luas 231 hektare dengan jumlah penduduk 915 jiwa dan memiliki 6 pekon (desa) yakni ; pekon Labuhan, pekon Sukadana, pekon Lok, pekon Bandardalam, pekon Sukamarga dan pekon Pasar yang letaknya pada bagian depan dekat dermaga Pulau Pisang.

Dari kejauhan, Pulau Pisang yang merupakan daerah asal tokoh nasional ; Hendri Yosodiningrat dan Taufik Kiemas ini telah menunjukkan pesona sebuah destinasi wisata. Musim panas adalah saat yang tepat mengunjungi Pulau Pisang. Tiba di kawasan Pulau Pisang dari dermaga Tembakak atau Kuala di pasar Krui, pengunjung akan langsung disambut oleh dermaga Pulau Pisang yang tampak sedikit rapuh dengan pasir putih nan lembut dan barisan pohon kelapa dan pohon kelor di muka rumah warga.

Dermaga Tembakak

Suasana Tenang Pedesaan di Pulau PIsang


Di dalam Pulau Pisang telah di bangun jalan lingkar pulau sepanjang 2,3km memudahkan pengunjung menyusuri bagian dalam kawasan Pulau Pisang dengan berjalan kaki hanya butuh waktu 120 menit.  Selain ragam potensi wisata pantai yang tak perlu di ragukan keunggulannya, yang tak kalah menarik untuk di simak jika berkunjung ke Pulau Pisang adalah jajaran rumah rumah bergaya tempo dulu yang sebagian besar di tinggal oleh penghuninya karena memilih tinggal menetap di bagian daratan Pesisir Barat atau merantau di kota lain.  "Beberapa warga meninggalkan rumah rumah di sini karena mereka membuka usaha di seberang daratan" ucap pak Handi - salah satu kepala Pekon di Pulau Pisang. "Tapi kala hari raya tiba warga yang berusaha di luar Pulau Pisang akan kembali lagi ke kediaman mereka di Pulau Pisang ini". ucap pak Kades selanjutnya. 
Bagi saya beberapa rumah kosong bergaya rumah panggung kayu tanpa penghuni itu sangat fotogenik karena ada unsur vintage tempo dulu meski beberapa lainnya meninggalkan kesan mistis kala melihatnya. 


Bangunan SD peninggalan Belanda


Masyarakat yang tinggal di Pulau Pisang pada umumnya berprofesi nelayan, petani cengkeh dan kelapa. Di Pulau Pisang pengunjung dapat melihat rimbunan pohon cengkeh yang kerap di sebut warga sebagai kebun wisata. Selain itu, cengkeh yang berasal dari Pulau Pisang telah tersohor akan kualitas terbaiknya. Kebutuhan air bersih tak perlu di ragukan. Di Pulau Pisang kini telah tersedia air bersih berkat program pemenuhan air bersih wilayah pesisir dan kelautan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

 
jalan lingkar dalam pulau


Kebun Wisata ; Kebun Cengkeh

Goa Liang berbentuk seperti Sumur yang dalam

Makam Keramat

Salah satu rumah yang di tinggal pemiliknya.


Potensi alam, ragam flora kawasan tropis, perkebunan dan tentu saja sejarah juga ada di dalam kawasan Pulau Pisang. Hanya dengan berjalan kaki mengitari bagian dalam kawasan Pulau Pisang pengunjung akan menjumpai sebuah bangunan Sekolah Dasar peninggalan Belanda yang di bangun sejak tahun 1892. Sekolah  Dasar itu kini bernama SDN Pasar Pulau, dan menjadi bangunan sekolah dasar tertua di kawasan Pesisir. Selain SD juga ada bangunan SMP yang bangunannya bergaya tempo dulu pada bagian dalam Pulau Pisang. Selain bangunan bangunan  bergaya tempo dulu dan bersejarah di sudut selatan Pulau Pisang terdapat sebuah kapal besar yang terdampar dan tampak berkarat. Tak jauh dari kapal besar terdampar tersebut berdiri kokoh Batu Guri - begitu masyarakat menyebutnya, merupakan gugusan batu yang bentuknya menyerupai Kepala Burung dan wujud sangkarnya di bagian depan. Lalu tak kalah menariknya ada pula makam keramat sosok sultan dan Goa Liang yang bentuknya bagai lubang sumur nan curam.

salah satu bagian desa yang rumah rumahnya tak berpenghuni

Komplit rasanya berkunjung ke Pulau Pisang - Pesisir Barat - Lampung. Tak hanya keindahan pantai dan ragam pesona wisata bahari, tapi juga aneka keindahan alam dan jejak sejarah yang wajib kita tengok. Tak berlebihan kiranya jika saya menjadikan Pulau Pisang sebagai sebuah wisata pantai terbaik di provinsi Lampung. Untuk mewujudkan Pulau Pisang sebagai wisata pantai terbaik tentu saja harus terus menerus mendapat sentuhan terbaik dari seluruh pihak, Pemerintah sebagai pembuat dan pemegang kebijakan harus dapat melihat Pulau Pisang sebagai potensi besar dengan terus menerus memberikan ragam kemudahan seperti akses dari dermaga Tembakak dan Kuala ke Pulau Pisang yang tak hanya 2 kali dalam sehari. Juga termasuk kesediaan Pemerintah Daerah melakukan penataan terhadap ragam rumah rumah tua warisan sejarah dan bagian dari budaya heritage yang harus terus di jaga termasuk di dalamnya peningkatan sarana dan prasarana penunjang. Selain Pemerintah, masyarakat yang berdiam di Pulau Pisang juga harus menjaga keindahan kawasan dengan tetap memelihara seluruh aset sejarah dan heritage dalam Pulau Pisang termasuk gaya hidup sehat dan bersih, memelihara kebersihan lingkungan dari tebaran sampah dan hewan peliharaan yang berkeliaran bebas. Jika seluruh pihak menyadari bahwa Pulau Pisang adalah aset pemasukan pendapatan daerah dan jalan untuk memberi tambahan ekonomi bagi masyarakat dalam kawasan, pastilah Pulau Pisang akan mendapat sentuhan lebih unggul lagi tak hanya jadi sarana kampanye para anggota dewan dan calon pemimpin daerah yang foto wajah mereka marak terpampang di dinding rumah rumah vintage dan  ketika mereka jadi pemimpin dan anggota dewan yang terhormat malah lupa asal usul daerah dan pengusung mereka di Pulau Pisang yang merupakan kepingan sorga di ujung Bumi Lampung.

Senin, 22 Desember 2014

BERKUNJUNG KE PULAU PISANG - LAMPUNG



"Ke Pulau Pisang?, ikut dong...."  si Abang - putra pertama dan Koko - putra kedua serentak meminta ikut serta saat melihat saya sedang packing pakaian.
Melihat wajah antusias tak tega rasanya tak mewujudkan permintaan mereka. Meski istri sempat dua kali memastikan  saya tentang kesanggupan membawa serta 2 bujang sekaligus. Tak masalah. Saya kira ini saat nya saya ajak 2 bujang Kecil saya trip tanpa ibu mereka ke tempat yang bukan penuh fasilitas nyaman lataknya Mall atau Resort.

Tampilan Pulau Pisang dari Dermaga Tembakak
Dermaga Pulau Pisang dengan pantai berpasir Putih nan Halus - photo by Derry S.Emilga


Hari beranjak sore di Jumat yang cukup cerah memulai perjalanan bersama rekan rekan traveller : Derry,Mas Teguh, Alan, Andy dan Erick. Dengan mobil avanza dan keceriaan 2 Bujang yang tak sabar membuktikan langsung keindahan Pulau Pisang Seperti yang Ayahnya ceritakan.
Sebenarnya saya sendiri belum pernah ke pulau pisang. Dulu mas Yopie - admin akun Keliling Lampung pernah berkisah banyak hal akan Pulau Pisang dan sejak itu pula saya langsung kepincut dan berniat datang ke Pulau Pisang.

Berbekal arahan mas Yopie dan pengalaman mas Teguh yang pernah datang ke Pulau Pisang lah yang membuat saya semangat mengendalikan kemudi avanza sore itu. 
Rute yang kami lalui menuju Pulau Pisang adalah via Kota Agung - Tanggamus. Alternatif lain bisa pula melalui jalan lintas Sumatera tapi jarak tempuh jadi lebih jauh jika dari bandar lampung. Kontur Jalan yang baik dan lalu lintas pun lancar membuat sore semakin menyenangkan. 
Lepas dari tanjakan Sedayu, hari mulai gelap. Maghrib baru usai. Saya mulai was was mengemudikan kendaraan kala malam memasuki kawasan hutan bukit barisan. Sebisa mungkin saya menghindari nyetir malam di tengah hamparan bukit barisan selatan. Berupaya menghindari hal hal yang tak di inginkan.
Bersyukur rute membelah hutan bukit Barisan malam itu dapat di lalui dengan lancar dan aman meski hujan super deras plus kini banyak lubang di beberapa ruas  jalan dan ada beberapa bagian jalan yang tertutup oleh pohon tumbang.

Tak ada satupun yang kami hubungi di Krui - pusat kota Pesisir Barat jelang keberangkatan untuk sekedar meminta bantuan home stay atau informasi.
Pukul 10 malam kami tiba di Krui dan memutuskan untuk makan malam. Pilihan kami jatuh pada ragam gerobak jajanan di tengah pasar yang posisinya persis di pinggir jalan raya dalam kota Krui. Setelah menghabiskan seporsi bakso ikan khas Krui saya memutuskan menghubungi Bang Yusri - sosok yang dulu rumahnya pernah saya tumpangi saat acara bersama AIESEC UNILA - Lampung. Berharap bisa memberi tumpangan tidur malam sebelum esok pagi menuju Pulau Pisang. 
Beruntung rumah bang Yusri berkenan kami tumpangi bermalam. Tuhan pun memberi jalan bagi traveler seperti kami.

The team 

the team enjoy the trip

mengajari 2 bujang trip bacpacker-an


BERTANDANG KE KEPINGAN SORGA DI BUMI.

Pagi sekali kami telah terjaga dan bersiap menuju Pulau Pisang. Menurut bang Yusri dalam perbincangan semalam, berlayar menuju Pulau Pisang dapat di tempuh melalui dua dermaga. Pertama via Dermaga Kuala yang letaknya dekat pasar Krui dengan jarak tempuh 1 jam pelayaran dengan kapal nelayan bertarif 20.000/orang, alternatif kedua via dermaga Tembakak yang mengharuskan kami menempuh rute darat dahulu 40menit lalu lanjut menaiki perahu kecil jenis nelayan 20 menit ke Pulau Pisang. Dengan alasan cuaca yang sedang musim hujan dan arus ombak, kami memutuskan menyeberang ke Pulau Pisang via dermaga Tembakak. Tiba di Tembakak saya langsung memarkirkan mobil di rumah warga yang tak jauh dari dermaga Tembakak. Suasana ramai masyarakat pantai terlihat di dermaga Tembakak yang berhias batu batu Pantai nan khas. Kami beruntung dapat menaiki kapal bersama penumpang lainnya dengan tarif 15.000/orang. Kapal dari dermaga Tembakak menuju Pulau Pisang hanya terjadi dua kali dalam sehari, yakni pada pukul 7-9 pagi atau 2-3 sore selebihnya harus menyewa kapal sendiri dengan tarif 500.000/PP dengan muatan maksimal 10 penumpang.

Pelayaran 20 menit di mulai. Sejak dari dermaga Tembakak, gugusan Pulau Pisang telah nampak jelas. Jarak tempuh berlayar 20 menit itu seolah menjelaskan betapa dekatnya jarak Pulau Pisang dan dermaga Tembakak. Bersyukur pula ombak laut bersahabat pagi itu. Cuaca cerah menghiasi perjalanan kami meski semalam dalam perjalanan ke Krui kami di landa hujan yang sangat lebat. Memang waktu yang pas mengunjungi Pulau Pisang adalah bukan kala musim hujan akhir tahun. Tapi beruntung selama di Pulau Pisang cuaca sangat bersahabat.

Menjejakkan kaki di pasir tepian pantai Pulau Pisang bagai menapak di atas permadani nan empuk. Tekstur pasir yang halus berpadu lekat dengan air laut biru gradasi toska. Gesekan udara dari pohon nyiur mencipta suasana sejuk bertata rapih pepohonan rindang sekitar pulau. Sebuah bentangan keindahan memanjakan mata dan mencipta decak kagum kami kala itu. Akhirnya, kami tiba di salah satu pecahan sorga di bumi. 

Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu, kami langsung berjalan kaki mengitari Pulau Pisang setelah menaruh ransel dan ragam perlengkapan di Wisma Kemala - tempat dimana kami bermalam selama di Pulau Pisang. Sepanjang penelusuran berjalan kaki, deretan rumah rumah bergaya vintage nan fotogenic menghiasi sepanjang jalan. Keramahtamahan penduduk asli Pulau Pisang sangat kontras dengan suasana asri dan tenang di perkampungan dalam kawasan Pulau Pisang.
Meski berjalan kaki tapi menelusuri kawasan Pulau Pisang sudah setengah bagian. Kami memutuskan untuk kembali ke Wisma untuk makan siang dengan menu khas Pesisir Barat ; gulai Taboh dan sayur bening daun kelor. Saking lezatnya santapan siang itu membuat kami tertidur di tengah udara siang nan tropis. (Detail Keindahan Pulau Pisang akan saya tuturkan dalam bagian lainnya).



Kurang rasanya dua hari mendiami Pulau Pisang. Apa daya senin harus kembali bekerja. Meski berat meninggalkan Pulau Pisang kami tetap beranjak sejak pagi ke dermaga kapal di Pulau Pisang untuk menuju dermaga Tembakak. Sayang, Kapal yang semula berjanji membawa kami pukul 6.30 Pagi malah meninggalkan kami lebih dulu. Akhirnya kami harus menunggu kapal selanjutnya atau kapal jam 2 siang. Sempat menunggu cukup lama akhirnya kami bergegas ke dermaga lain di sisi selatan Pulau Pisang untuk mencegat kapal penumpang disana ketika melihat kapal merapat dari kejauhan. Lagi lagi kami harus kecewa karena di tinggal sang kapal meski langkah kaki kami cukup cepat menuju bagian selatan dari Pulau Pisang. Beruntung ada kapal yang bisa kami sewa menuju dermaga Tembakak dengan harga 200.000 - khusus mengangkut kami saja, berkat Nego bang Yusri yang turut serta dalam perjalanan kami.

Masih ingin rasanya berlama lama di Pulau Pisang, terlebih landscape Pulau Pisang masih terlihat jelas saat kami tiba di dermaga Tembakak. Kami pun tak bergegas meninggalkan dermaga Tembakak. Photo di beberapa sudut dan melanjutkan sarapan plus ngopi di Warung kecil pinggir jalan dermaga Tembakak jadi pilihan kami selanjutnya sebelum memacu kendaraan kembali ke Bandar Lampung.

Sebelum kembali ke Bandar Lampung kami singgah ke Rumah bang Yusri yang telah banyak membantu kami, Ia dengan suka hati jadi pemandu kami selama di Pulau Pisang. Bagai menemukan sosok tepat ditengah ketidaktahuan kami sebagai traveller. Tak lupa pula kami membeli gula merah khas Krui yang terkenal kualitasnya dari istri bang Yusri. 

Kembali ke Bandar Lampung siang itu meninggalkan memori mengesankan yang dalam tak hanya pada saya Pribadi tapi juga di tiap personal team termasuk kedekatan saya dengan mereka sebagai travel mates dan hubungan pertemanan kami. Karena pertemanan terbaik adalah ketika kita bisa menerima sosok teman bukan hanya dalam kondisi menyenangkan,hura-hura, glamour-gelimang harta, tapi juga dalam kondisi paling sederhana dan jauh dari fasilitas memadai.
Bagi saya, selain hubungan pertemanan yang menyenangkan saya pun berhasil mendidik 2 Bujang saya cara berwisata dalam kondisi sederhana. Mengarahkan mereka menjadi sosok backpacker selanjutnya. Saya mengajari 2 Bujang bersahabat dengan alam, survive dalam kondisi yang tak semua Anak Anak seusia mereka alami. Tak ada perlakukan manja dan mereka mengambil hikmah dari perjalanan bersama Ayah dan teman teman Ayah nya.

Scroll To Top