Bagi
saya, menikmati suasana pagi disuatu kawasan yang sedang dikunjungi itu tak
ubahnya dengan menikmati hidangan lezat yang tersaji didepan mata. Sungguh rugi
bila tak disantap. Meski sebenarnya, jika tidak bepergian, saya termasuk
orang yang susah bangun pagi, hehehehe.
Tampilkan postingan dengan label amazing thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amazing thailand. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Januari 2017
Rabu, 11 Januari 2017
BERTANDANG KE NONG NOOCH GARDEN - PATAYA
Sekumpulan gajah di
kandang besar langsung terlihat ketika saya dan rombongan memasuki bagian depan dari kawasan Nong Nooch Pataya.
Saya dan rombongan langsung bergegas antusias
ketika bis yang kami tumpangi terparkir sempurna. Sebenarnya, antusias kami
telah terjadi ketika bis memasuki kawasan Nong Nooch yang memperlihatkan
hamparan taman dengan aneka tanaman dan
bunga berwarna warni. Sungguh membangkitkan rasa penasaran untuk mendekatinya.
Selasa, 27 Desember 2016
MENJAJAL KULINER THAILAND YANG SENSASIONAL
Sebagai pejalan atau gelar bekennya – wisatawan, kurang lengkap
rasanya jika tidak menjajal kuliner di
lokasi kunjungan. Terlebih jika tempat yang dikunjungi tersebut tersohor dengan
kulinernya, jauh lebih tersohor dari sajian
‘Om Telolet Om’! , eehh!.
Senin, 10 Oktober 2016
TERBUAI PESONA MALAM KOTA BANGKOK DI ASIATIQUE RIVERFRONT
![]() |
| wisata malam di Asiatique The Riverfront - photo & Retouch by @lexisid |
Kapal
kayu yang saya dan rekan rekan tumpangi bergerak kearah semula seusai
bertandang ke candi Wat Arun – meski kunjungan tersebut tidaklah sepenuhnya
menikmati candi Wat Arun.
simak tulisan terkait sebelumnya ..... Mencumbui Chao Praya di Kala Senja
simak tulisan terkait sebelumnya ..... Mencumbui Chao Praya di Kala Senja
Malam
hadir begitu cepat. Entahlah, selama di Thailand saya merasa waktu begitu cepat
bergerak. Bisa jadi karena saya menikmati perjalanan, hingga perputaran waktu
tak pernah begitu difikirkan, tahu tahu sudah malam.
Pukul
7 malam kala itu. Kapal kayu merapat ke dermaga Asiatique The Riverfront. Makan
malam diatas kepal pesiar adalah jadwal kami selanjutnya. Sembari menunggu kapal pesiar datang, kami
sejenak menikmati suasana The Asiatique Riverfront – sebuah hamparan pasar
malam yang menarik dengan memadukan konsep sejarah masa lampau sungai Chao
Praya yang di tata kelola modern. Barang barang yang dijajakan pun beragam. Mulai
dari cinderamata, kuliner hingga fashion. Saya tak begitu tertarik untuk berkelana soal harga dagangan
di pasar malam. Meski sebenarnya, tak banyak konsep pasar malam di kawasan Asia
Tenggara yang ditata matang seperti yang saya lihat di Asiatique ini, tapi soal
belanja, tidaklah saya punya cukup uang untuk difoya-foyakan. Cukuplah mengabadikan beberapa sudut menarik,
berphoto bersama rekan rekan, dan kemudian mengamati hal hal unik yang belum
tentu saya temui di kawasan lain. Selain
itu, dalam kawasan Asiatique The Riverfront juga berdiri gagah memesona ferris wheel atau bianglala ‘Bangkok
Eyes’. Komedi putar raksasa super canggih itu bisa kamu nikmati dengan membayar
tiket 250 bath. Bagi pengunjung yang punya banyak waktu dan ingin merasakan
sensasi menaiki bianglala besar ada baiknya mencoba, sekaligus mendapatkan view
kota Bangkok. Sayang saya dan rekan rekan tak bisa merasakan naik bianglala
besar tersebut karena keterbatasan waktu yang kami punya. Padahal saya sungguh
gemar menaiki jenis komedi putar!. Hah!.
| bianglala di Asiatique yang layak di coba hehehehe |
| suasana pasar malam di Asiatique |
| suasana ramai di pelataran pasar malam Asiatique |
Bagi pelancong
yang berkunjung ke Bangkok, wisata susur sungai Chao Praya sungguh menguntungkan
karena sekali pelayaran dapat singgah kebeberapa lokasi menarik tanpa terhambat
kemacetan layaknya via darat. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari
dermaga Bangkok River City – tempat awal rombongan kami menaiki perahu, dalam
aktivitas menaiki kapal kayu di atas sungai Chao Praya, pengunjung dapat mendatangi
Wat Arun, Wat Pho (patung budha rebahan leyeh leyeh) selain akses Grand Palace
yang berdekatan dengan kawasan Emerald
Budha. Selain itu pesona bangunan dan beberapa pagoda di sepanjang sungai
termasuk landmark kota Bangkok dengan
gedung gedung pencakar langit merupakan keindahan tersendiri yang layak disimak.
Soal angkutan, pengunjung tak perlu khawatir, ada banyak dermaga sepanjang sungai yang menyediakan jasa kapal.
Seperti jenis kapal Chao Phraya Express Boat yang kami tumpangi yang memuat
penumpang hingga 20 orang lebih dengan tarif 40 bath perorang. Atau dapat juga
menaiki jenis kapal Cross River Ferry
yang harganya lebih terjangkau, sekitar 13 bath perorang. Atau adapula kapal
jenis Cross Over khusus sekali penyeberangan saja dengan tariff 3 bath, jadi
jika pulang pergi 6 bath. Lebih hemat kan?. Itu info yang saya dapatkan dari
dermaga Bangkok River City.
| kapal White Orchard River Cruise |
PENGALAMAN MAKAM MALAM DI KAPAL
PESIAR
Kapal
besar dua tingkat bertuliskan ; ‘White Orchard River Cruise’ pada sisi luar
kapal sungguh mentereng. Bak kapal pesiar kalangan jet set. Terlihat pramusaji
dengan tampilan rapih dan ramah siap menyambut
pengunjung. Sajian live musik dengan
ragam hidangan ‘all you can eat’ tersaji
apik di lantai dua kapal besar tersebut.
Untuk wisatawan yang ingin menaiki cruise
mewah tersebut dipatok tarif 1.350 bath
per orang atau sekuta 450 ribu rupiah. Sebuah pilihan wisata susur sungai
bergaya modern.
Wait!!!, saya dan rekan rekan bukan naik
kapal yang bertuliskan ‘White orchard River Cruise’ itu lho!!. Heheheh. Karena jumlah
rombongan kami lebih dari 40 orang, maka kami menaiki kapal yang lebih private alias hanya rombongan kami saja
yang ada didalam kapal, jadi aktivitas makan malam tidak terganggu oleh
pengunjung lain. Lebih mewah kan??!!.
Yuhuu!!. Kapal yang kami naiki bernama
Sabai Cruise – ukurannya sedikit lebih kecil dari kapal bertuliskan White
Orchard River Cruise tadi meski tetap berwujud 2 lantai.
| kapal pesiar yang kami tumpangi |
| suasana makan malam dan kebersamaan saya dan rombongan |
Setelah
menaruh barang barang bawaan di dek dasar, saya dan rekan rekan diarahkan naik
ke dek atas dengan meja kursi yang telah tertata rapih. Hidangan ala prasmanan
tersaji dengan aroma yang menggoda. Beberapa rekan langsung menikmati sajian makan
malam dengan menu utama yang lezat. Saya
pribadi sangat menikmati semua sajian kuliner selama di Thailand. Meski
di beberapa lokasi makan harus berhati hati dengan sajian prasmanan
daging babi.
Menikmati
sajian lezat dalam suasana malam kota
Bangkok diatas aliran sungai Chao Praya adalah pengalaman yang menyenangkan. Ditambah
kebersamaan dengan seluruh rekan rekan perjalanan yang berlangsung akrab dan
hangat tanpa ada gangguan penumpang lain.
Bernyanyi dan jogged bersama seusai makan malam adalah aktivitas kami
selanjutnya. Waktu 2 jam pelayaran pulang pergi di kapal yang kami naiki, kami
manfaatkan betul untuk bersenang-senang bersama. Mba Ika dari SoulStories-ID mengusulkan untuk karaoke
bareng dengan menggunakan laptop kapal yang telah diberi program beberapa lagu
lagu mancanegara lawas oleh empunya kapal. Jadilah ajojing ala 90an digelar usai makan malam. Lagu lagu populer berirama
upbeat dari ABBA, BeeGees, The
Beatles, hingga Elvis Presley menggenapi
kebahagiaan kami. Gerakan poco poco pun terjadi dalam aktivitas ajojing bersama
selain goyang Chebox yang sudah saya perkenalkan ke semua rekan rekan! Hahahah.
![]() |
| saya bersama team SoulStoriesID |
![]() |
| photo di pelataran Asiatique - photo by @lexisid |
Tanpa
terasa, dua jam menyusuri sungai dengan keindahan landmark
kota Bangkok kala malam dengan bersantap di atas kapan pesiar harus diakhiri. Kapal yang membawa kami berlayar tiba kembali
di Asiatique The Riverfront. Satu
persatu dari kami meninggalkan kapal Sabai Cruise.
Beberapa
rekan masih menyempatkan belanja beberapa barang dalam area pasar malam
Asiatique selama perjalanan menuju
lapangan parkir kendaraan.
Jika kamu ke Bangkok – Thailand, baiknya jelajah kawasan Asiatique sejak
sore agar mendapatkan suasana secara keseluruhan sejak dibukanya pasar
Asiatuque pada pukul 5 sore hingga tutup
pukul 11.30 malam.
_________________________________________________________
Asiatique The Riverfront
Alamat: 2194 Charoenkrung Road, Wat Prayakrai, Bangkoleam, Bangkok
Telpon: +66 2 108 4488
Website: thaiasiatique.com
Alamat: 2194 Charoenkrung Road, Wat Prayakrai, Bangkoleam, Bangkok
Telpon: +66 2 108 4488
Website: thaiasiatique.com
Minggu, 09 Oktober 2016
MENCUMBUI CHAO PRAYA DIKALA SENJA
![]() |
| salah satu bangunan di bibir sungai Chao Praya - photoand retouch by @lexisit |
Langit
menggantung mendung ketika saya dan rombongan tiba di sebuah gedung besar bertuliskan
Bangkok River City. “Sungai!!”
semangat saya pada diri sendiri. Ya,
sore itu saya dan rekan rekan akan menikmati wisata sungai.
| bangungn Bangkok River City |
![]() |
| jajaran kafe sepanjang bibir sungai - photo and retouch by @lexisit |
Tampak depan,
gedung bertulis Bangkok River City sungguh mewakili bentuk modern pusat
perbelanjaan. Bersanding pula gambar
Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit pada sisi lainnya. – semua gedung gedung hingga public area di Thailand memajang wajah
raja dan Ratu tersebut, - kalau di
Indonesia seperti wajah wajah pejabat negara sampai pejabat daerah!.
Selama
berjalan memasuki alur bagian dalam gedung, saya melihat bermacam gerai belanja
yang menawarkan produk unggulan Thailand
maupun mancanegara. Tapi tujuan saya dan rekan rekan bukan berbelanja melainkan
bergegas menaiki kapal yang akan mengangkut kami menuju Wat Arun.
| dermaga Bangkok River City |
| jenis kapal yang kami tumpangi mengarungi sungai Chao Praya |
Waktu terus
beranjak keperaduan, awan awan berpendar kelabu diantara beberapa titik hujan
yang menyapa. Gerai gerai kafe dengan tata ruang dan tata hias memesona
memanjakan mata saya. Hasrat ngopi sore tetiba muncul ketika melihat kedai
kedai kopi merek lokal berjajar apik disepanjang bibir sungai. Hhmmm – emang susah kalo kopi maniak ini.!!.
Jadilah Sore itu kami menaiki kapal besar yang isinya menampung 20 orang lebih
untuk mengarungi sungai Chao Praya.
| salah satu bentuk kapal yang mengarungi sungai Chao Praya |
| kafe dan restaurant di salah satu bagian pinggir sungai |
Menyusuri sungai
Chao Praya merupakan jenis wisata wajib yang harus dinikmati wisatawan jika
berkunjung ke Bangkok – Thailand. Sungai yang membelah kota Bangkok menjadi dua
bagian dengan panjang sungai mencapai
372 kilometer itu sungguh sebuah daya tarik yang tak dapat dipisahkan dari
pesona wisata Thailand. Selama berlayar
dengan tongkang ukuran besar itu, saya
dan rekan rekan dapat melihat beragam bentuk bangunan yang tersaji di sisi kiri
dan kanan sungai. Chao Praya seolah bentangan yang menyajikan ragam bentuk hunian
hingga tata bangunan peribadatan yang
tersebar di sepanjang bibir sungai dan menjadi pemandangan indah tersendiri
bagi wisatawan.
![]() |
| candi Wat Arun yang sedang renovasi - photo and retouch by @lexisid |
![]() |
| bentangan pesona candi Wat Arun - photo and retouch by @lexisit |
![]() |
| Candi Wat Arun yang sedang di renovasi - photo and retouch by @lexisit |
Sebenarnya,
tujuan saya dan rekan rekan sore itu adalah mengunjungi Wat Arun – sebuah candi
Budha yang terletak di bagian barat dari sungai Chao Praya atau tepatnya di
distrik Bangkok Yai – Kota Bangkok.
Dalam
pelayaran, bangunan Wat Arun yang menjulang tinggi 70 meter itu menampilkan
pesona tersendiri bagi pengunjung. Wat
Arun dikenal dengan sebutan ‘Temple of
Dawn’ – karena keindahannya semakin terpancar pada saat matahari terbit
maupun terbenam. Pada dua waktu itu, konon candi Wat Arum semakin nampak gagah.
Tiket masuk ke Wat Arun terbilang murah,
sekitar 50 bath (20 ribu rupiah) dengan jam operasional pada pukul 08.00 s/d
17.30 waktu Bangkok.
| bangunan utama Bangkok River City kala senja |
| Bangunan megah Hotel Sheraton bersanding dengan Bangkok River City |
Tapi sayang, sore
itu, saya dan rekan rekan tidak dapat leluasa menikmati Wat Arun karena sedang
dalam tahap renovasi dibeberapa bagian utama. Tapi menyaksikan beragam bangunan
pendukung yang tersebar disekitar bangunan utama juga menjadi kesenangan
tersendiri. Meski tidak kesampaian naik kebagian atas, setidaknya mengetahui
lokasi Wat Arun secara langsung cukuplah jadi bagian dari kebahagiaan sore itu.
Tapi, aktivitas belanja di pasar murah
disamping Wat Arun juga jadi hal seru lainnya lho..hehehe…
Soal belanja
seru itu akan saya kisahkan pada penggal berikutnya yaa…penasaran ya ?, ikuti terus update-an blog saya ini yaa….
Meski tidak
leluasa menikmati Wat Arun, mengarungi sungai Chao Praya di kala senja sudah
menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Sungai mengalir deras dengan lalu
lalang perahu perahu beragam bentuk dan ukuran. Beberapa perahu ditata dengan ornamen
oriental, beberapa lagi memakai cat warna warna mencolok dengan gaya modern. Seolah
menyaksikan peragaan busana berupa perahu kayu diatas sungai Chao Praya sebagai
catwalk-nya.
| suasana Chao Praya kala senja |
Sejauh
pandangan, aliran sungai yang deras dan kebersihan yang tertap terjaga nampak dimanfaatkan
betul oleh para pelaku usaha di sepanjang bibir sungai. Terlihat jajaran kafe, beragam
jenis restaurant dan jenis hotel – mulai
dari hotel melati hingga hotel bintang 5
sampai jenis jenis pusat perbelanjaan tertata apik di pinggir aliran
sungai dan menghias sepanjang pelayaran.
| landmark Bangkok City |
Dalam pelayaran
sepulang dari Wat Arun, pandangan mata
dimanjakan dengan sajian landmark
kota Bangkok berupa gedung gedung pencakar langit nan gagah dengan beragam
bentuk modern. Mentari telah keperaduan. Malam menjelang, bias lampu lampu
berpendar dalam gelap. Seusai dari Wat Arun, kami akan menuju kawasan Asiatique
termasuk menikmati makan malam istimewa dalam diatas sebuah Cruise…. Hhhmmm tak sabar menikmati pengalaman
seru lainnya, wait, tunggu pada paruh berikutnya yaa …. (bersambung –mode on) – biar penasaran yaaa…
Rabu, 05 Oktober 2016
MERASAKAN KASANAH BUDAYA THAILAND DI SAMPRAN RIVERSIDE
| salah satu sisi dari Sampran Riverside |
Hujan
yang mewarnai perjalanan kami sejak pagi itu masih setia menemani hingga sore. Thailand berhias hujan
sejak kehadiran saya dan rombongan dihari pertama. Inginnya berleyeh-leyeh di kamar hotel saja,
tapi apa daya jadwal kegiatan padat. Jangankan berleyeh-leyeh, tidur cukup 6
jam pun tak terlaksana, hahahah – Tetiba terngiang lagu Photograph – Ed Sheeran
, menambah suasana pingin rebahan!. Baiklah, karena moment kebersamaan dalam
perjalanan ini tak akan terulang lagi kedua kali, jadi nikmati saja seluruh
rangkaian kegiatan yang memang telah jadi keharusan untuk dijalani.
| salah satu sudut Sampran Riverside |
Rintik
hujan menghias ketika bis yang membawa saya dan rombongan memasuki sebuah
gerbang besar. Dari balik kaca bis, terlihat
bentangan rumput hijau dan pepohonan rindang yang basah terguyur
hujan. Saya coba mengembalikan antusias diri setelah sempat terlelap selama
perjalanan. Sampran Riverside, adalah lokasi kunjungan kami sore itu.
| pak Nicholas menjelaskan kawasan Sampran Riverside denngan Mba Ika sebagai penerjemah |
Bapak
dan Ibu paruh baya mengatupkan telapak tangan, membungkukkan sedikit tubuh dan
menyertakan senyuman yang ramah. “sawadikap”,
ucap mereka menyambut kehadiran saya dan rombongan. Beberapa rekan berlari
kecil dari pelataran parkir bis menuju aula depan tempat dimana penyambutan
saya dan rombongan berlangsung.
Setelah
beberapa saat menikmati suasana lobby area bagian hotel Sampran Riverside, kami diarahkan
menuju lantai 2. Tata ruang berciri
Thailand lengkap dengan aroma therapy
yang khas mewarnai perjalanan kami menuju ruang pertemuan yang terletak di lantai 2. Suguhan
teh sereh menjadi minuman selamat datang kami. Sosok pria gaek menyambut ramah kehadiran kami
dalam ruang pertemuan sebelum ia menjelaskan panjang lebar mengenai Sampran
Riverside.
| hamparan hijau yang menyegarkan mata |
| salah satu fasilitas dalam kawasan Sampran Riverside |
WISATA EDUKASI BERBASIS LINGKUNGAN
Bermula
dari upaya pasangan DR. Chamnan dan
Khunying Valee Yuvaboon untuk menyelamatkan
sebuah pohon tua bernama ‘pohon Bullet’ agar tidak tumbang dan merusak keasrian
sungai yang mengalir di bawah pohon tersebutlah kawasan Sampran Riverside dibuat pada 1960.
Seiring
waktu, pengembangan kawasan terus
berlanjut. Pada tahun 1962, kawasan Sampran Riverside yang luasnya mencapai 7 hektar dengan sungai bernama Tha Chine River sebagai pemisah dua daratan itu dibuka untuk umum dan
kemudian menjelma menjadi kawasan yang tak hanya menyajikan fasilitas hiburan bergaya modern dan khas Thailand saja tetapi juga sarana belajar berbasis lingkungan hingga pertanian yang
mengakar pada budaya luhur Thailand. “Budaya bercocoktanam yang merupakan warisan pendiri
Thailand, terus kami pertahankan dan kembangkan.” ucap pak Nicholas, petugas Sampran
Riverside menjelaskan. Kini, Sampran
Riverside dilengkapi oleh beragam sarana yang dapat digunakan oleh beragam
pengunjung, Mulai dari kamar hunian bergaya khas Thailand yang terletak dibibir
sungai hingga hotel bergaya modern. Tak hanya itu, Sampran Riverside juga
mengembangkan beragam taman tematik, mulai dari taman bunga mawar, anggrek,
beragam tumbuhan herbal dan pohon buah buahan hingga pertanian dan peternakan organik.
| bagian depan kawasan perkebunan organik dalam areal Sampran Riverside |
| alur kayu yang dibuat untuk mengitari areal jalan setapak di bagian dalam perkebunan organik |
Sore
itu pula, setelah menyimak penjelasan lengkap seputar kawasan Sampran Riverside
oleh petugas, kami diajak mengitari kawasan agar dapat melihat lebih
dekat. Kawasan organik adalah tujuan
utama kami. Sebelum beranjak, seluruh pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu
dan menggantinya dengan sepatu boot yang memang telah disediakan dalam jumlah
banyak dan ragam ukuran. Selain itu, pengunjung
juga di wajibkan mengenakan life jacket
/ pelampung guna jaminan keselamatan. “mau
kemana sih, pake pelampung segala?” bisik saya pada salah satu rekan. “kita mau dibawa nyebrang sungai, mas.” sahut
seorang rekan lainnya. …. Hhhmmm –
Nyeberang sungai aja pengunjung di wajibkan pakai pelampung, Lha – saya pernah lho, Nyeberang lautan luas pulang pergi 11 jam, TIDAK di beri
Pelampung!!.
Pengelola
Sampran Riverside tidak main main soal keselamatan dan nyawa pengunjung.
| Jenis kapal yang menampung rombongan kami |
Sebuah
tongkang besar mengangkut rombongan yang
berjumlah 50 orang dari dermaga menuju
salah satu sisi dataran luas yang letaknya tidak terlampau jauh dari gedung
pertemuan dimana kami berada sebelumnya. –yaelaahh,
kirain pelayaran pake kapal kayu ini jauh bange – hingga harus pakai pelampung
segala!. Hahahah…. Baiklah.
Pengunjung harus taat aturan, lho.
Karena bagaimanapun pihak pengelola peduli dengan keselamatan pengunjung. Bukankah
insiden tidak bisa diterka oleh manusia, meski menyeberang sungai tak lebih
dari 500 meter.
| mengitari alur jalan perkebunan |
| perkebunan organik |
Sesampai
di dataran seberang, sosok pria – yang konon bertugas sebagai juru kunci
kawasan pertanian, menyambut ramah kedatangan
rombongan kami. Dengan jalan setapak
bertanah lembab, kami menyusuri bagian perkebunan yang nampak hijau dengan beragam
tumbuhan. Sebagai personal yang lahir dan menghabiskan masa kecil di pedesaan, beberapa
tumbuhan yang dikenalkan oleh pemandu
sore itu, bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Yang menarik, kala berjalan kaki, tak jarang
saya temui ikan ikan kecil yang berasal dari aliran air sungai yang di tata
mengitari perkebunan melompat hingga ke badan jalan.
Selama
mengelilingi kawasan perkebunan yang ditumbuhi beragam jenis pepohonan buah
khas kawasan tropis hingga sayur mayur itu, kami diperkenalkan pula dengan tehnik tanam
cangkok dan bentangan kebun organik. Beberapa
jenis sayuran taka sing bagi saya dan rombongan, meski ada beberapa jenis
sayuran yang merupakan khas Thailand yang kami jumpai disela diajak perjalanan
mengitari area perkebunan. Salah satu yang buat saya kagum, ketika melihat
kandang ayam organik dan bai organik!.
… Soal perkebunan dan peternakan organik di Sampran Riverside yang
menarik itu, kelak akan saya jabarkan dalam judul tulisan tersendiri.
| pak kuncen kawasan perkebunan organik |
| tempat ngaso seusai berkeliling areal perkebunan |
Puas
berkeliling, - malah sebagain dari rekan
sudah ada yang mengeluh karena kelelahan!. Kami diajak beristirahat pada sebuah pondokan di
tengah areal persawahan yang telah
tersedia beragam panganan khas Thailand. Aneka teh organik dengan olahan bunga, sereh dan tumbuhan
berkhasiat lainnya sebagai pilihan utama sajian teh. Terhidang pula jambu bangkok dengan bumbu yang khas layaknya petisan, hingga minuman buah kelapa muda yang menyegarkan. Terbayarlah lelahnya
perjalanan mengitari perkebunan dengan mengenal banyak jenis tumbuhan hingga
kandang ternak organik yang menarik. Cukup lama kami bersantai dengan beragam
kudapan lezat khas Thailand. Jika saja tak diingatkan jadwal kegiatan
selanjutnya, sudahlah pasti kami betah bersantai di pondok tengah sawah
tersebut.
| pengunjung diberi buah kelapa muda |
| sajian snack Thailand |
| teh yang berasal dari tumbuhan organik |
| buah jambu bangkok dan bumbu petis yang khas |
Tak
hanya sekedar hotel atau sarana rekreasi keluarga dengan ragam fasilitas modern
saja, Sampran Riverside menyajikan suguhan budaya Thailand nan khas lengkap
dengan sisi edukasi lingkungan secara lengkap. Dalam perkembangannya, Sampran
Riverside tak melulu berfikir soal
keuntungan dari pendapatan kunjungan, hunian hotel atau acara acara hiburan
semata tetapi juga mengetangahkan kearifan lokal dengan tetap berkomitmen pada
keasrian dan keberlangsungan lingkungan sekitar.















