Sebagai pejalan atau gelar bekennya – wisatawan, kurang lengkap
rasanya jika tidak menjajal kuliner di
lokasi kunjungan. Terlebih jika tempat yang dikunjungi tersebut tersohor dengan
kulinernya, jauh lebih tersohor dari sajian
‘Om Telolet Om’! , eehh!.
Tampilkan postingan dengan label thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thailand. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Desember 2016
Senin, 10 Oktober 2016
TERBUAI PESONA MALAM KOTA BANGKOK DI ASIATIQUE RIVERFRONT
![]() |
| wisata malam di Asiatique The Riverfront - photo & Retouch by @lexisid |
Kapal
kayu yang saya dan rekan rekan tumpangi bergerak kearah semula seusai
bertandang ke candi Wat Arun – meski kunjungan tersebut tidaklah sepenuhnya
menikmati candi Wat Arun.
simak tulisan terkait sebelumnya ..... Mencumbui Chao Praya di Kala Senja
simak tulisan terkait sebelumnya ..... Mencumbui Chao Praya di Kala Senja
Malam
hadir begitu cepat. Entahlah, selama di Thailand saya merasa waktu begitu cepat
bergerak. Bisa jadi karena saya menikmati perjalanan, hingga perputaran waktu
tak pernah begitu difikirkan, tahu tahu sudah malam.
Pukul
7 malam kala itu. Kapal kayu merapat ke dermaga Asiatique The Riverfront. Makan
malam diatas kepal pesiar adalah jadwal kami selanjutnya. Sembari menunggu kapal pesiar datang, kami
sejenak menikmati suasana The Asiatique Riverfront – sebuah hamparan pasar
malam yang menarik dengan memadukan konsep sejarah masa lampau sungai Chao
Praya yang di tata kelola modern. Barang barang yang dijajakan pun beragam. Mulai
dari cinderamata, kuliner hingga fashion. Saya tak begitu tertarik untuk berkelana soal harga dagangan
di pasar malam. Meski sebenarnya, tak banyak konsep pasar malam di kawasan Asia
Tenggara yang ditata matang seperti yang saya lihat di Asiatique ini, tapi soal
belanja, tidaklah saya punya cukup uang untuk difoya-foyakan. Cukuplah mengabadikan beberapa sudut menarik,
berphoto bersama rekan rekan, dan kemudian mengamati hal hal unik yang belum
tentu saya temui di kawasan lain. Selain
itu, dalam kawasan Asiatique The Riverfront juga berdiri gagah memesona ferris wheel atau bianglala ‘Bangkok
Eyes’. Komedi putar raksasa super canggih itu bisa kamu nikmati dengan membayar
tiket 250 bath. Bagi pengunjung yang punya banyak waktu dan ingin merasakan
sensasi menaiki bianglala besar ada baiknya mencoba, sekaligus mendapatkan view
kota Bangkok. Sayang saya dan rekan rekan tak bisa merasakan naik bianglala
besar tersebut karena keterbatasan waktu yang kami punya. Padahal saya sungguh
gemar menaiki jenis komedi putar!. Hah!.
| bianglala di Asiatique yang layak di coba hehehehe |
| suasana pasar malam di Asiatique |
| suasana ramai di pelataran pasar malam Asiatique |
Bagi pelancong
yang berkunjung ke Bangkok, wisata susur sungai Chao Praya sungguh menguntungkan
karena sekali pelayaran dapat singgah kebeberapa lokasi menarik tanpa terhambat
kemacetan layaknya via darat. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari
dermaga Bangkok River City – tempat awal rombongan kami menaiki perahu, dalam
aktivitas menaiki kapal kayu di atas sungai Chao Praya, pengunjung dapat mendatangi
Wat Arun, Wat Pho (patung budha rebahan leyeh leyeh) selain akses Grand Palace
yang berdekatan dengan kawasan Emerald
Budha. Selain itu pesona bangunan dan beberapa pagoda di sepanjang sungai
termasuk landmark kota Bangkok dengan
gedung gedung pencakar langit merupakan keindahan tersendiri yang layak disimak.
Soal angkutan, pengunjung tak perlu khawatir, ada banyak dermaga sepanjang sungai yang menyediakan jasa kapal.
Seperti jenis kapal Chao Phraya Express Boat yang kami tumpangi yang memuat
penumpang hingga 20 orang lebih dengan tarif 40 bath perorang. Atau dapat juga
menaiki jenis kapal Cross River Ferry
yang harganya lebih terjangkau, sekitar 13 bath perorang. Atau adapula kapal
jenis Cross Over khusus sekali penyeberangan saja dengan tariff 3 bath, jadi
jika pulang pergi 6 bath. Lebih hemat kan?. Itu info yang saya dapatkan dari
dermaga Bangkok River City.
| kapal White Orchard River Cruise |
PENGALAMAN MAKAM MALAM DI KAPAL
PESIAR
Kapal
besar dua tingkat bertuliskan ; ‘White Orchard River Cruise’ pada sisi luar
kapal sungguh mentereng. Bak kapal pesiar kalangan jet set. Terlihat pramusaji
dengan tampilan rapih dan ramah siap menyambut
pengunjung. Sajian live musik dengan
ragam hidangan ‘all you can eat’ tersaji
apik di lantai dua kapal besar tersebut.
Untuk wisatawan yang ingin menaiki cruise
mewah tersebut dipatok tarif 1.350 bath
per orang atau sekuta 450 ribu rupiah. Sebuah pilihan wisata susur sungai
bergaya modern.
Wait!!!, saya dan rekan rekan bukan naik
kapal yang bertuliskan ‘White orchard River Cruise’ itu lho!!. Heheheh. Karena jumlah
rombongan kami lebih dari 40 orang, maka kami menaiki kapal yang lebih private alias hanya rombongan kami saja
yang ada didalam kapal, jadi aktivitas makan malam tidak terganggu oleh
pengunjung lain. Lebih mewah kan??!!.
Yuhuu!!. Kapal yang kami naiki bernama
Sabai Cruise – ukurannya sedikit lebih kecil dari kapal bertuliskan White
Orchard River Cruise tadi meski tetap berwujud 2 lantai.
| kapal pesiar yang kami tumpangi |
| suasana makan malam dan kebersamaan saya dan rombongan |
Setelah
menaruh barang barang bawaan di dek dasar, saya dan rekan rekan diarahkan naik
ke dek atas dengan meja kursi yang telah tertata rapih. Hidangan ala prasmanan
tersaji dengan aroma yang menggoda. Beberapa rekan langsung menikmati sajian makan
malam dengan menu utama yang lezat. Saya
pribadi sangat menikmati semua sajian kuliner selama di Thailand. Meski
di beberapa lokasi makan harus berhati hati dengan sajian prasmanan
daging babi.
Menikmati
sajian lezat dalam suasana malam kota
Bangkok diatas aliran sungai Chao Praya adalah pengalaman yang menyenangkan. Ditambah
kebersamaan dengan seluruh rekan rekan perjalanan yang berlangsung akrab dan
hangat tanpa ada gangguan penumpang lain.
Bernyanyi dan jogged bersama seusai makan malam adalah aktivitas kami
selanjutnya. Waktu 2 jam pelayaran pulang pergi di kapal yang kami naiki, kami
manfaatkan betul untuk bersenang-senang bersama. Mba Ika dari SoulStories-ID mengusulkan untuk karaoke
bareng dengan menggunakan laptop kapal yang telah diberi program beberapa lagu
lagu mancanegara lawas oleh empunya kapal. Jadilah ajojing ala 90an digelar usai makan malam. Lagu lagu populer berirama
upbeat dari ABBA, BeeGees, The
Beatles, hingga Elvis Presley menggenapi
kebahagiaan kami. Gerakan poco poco pun terjadi dalam aktivitas ajojing bersama
selain goyang Chebox yang sudah saya perkenalkan ke semua rekan rekan! Hahahah.
![]() |
| saya bersama team SoulStoriesID |
![]() |
| photo di pelataran Asiatique - photo by @lexisid |
Tanpa
terasa, dua jam menyusuri sungai dengan keindahan landmark
kota Bangkok kala malam dengan bersantap di atas kapan pesiar harus diakhiri. Kapal yang membawa kami berlayar tiba kembali
di Asiatique The Riverfront. Satu
persatu dari kami meninggalkan kapal Sabai Cruise.
Beberapa
rekan masih menyempatkan belanja beberapa barang dalam area pasar malam
Asiatique selama perjalanan menuju
lapangan parkir kendaraan.
Jika kamu ke Bangkok – Thailand, baiknya jelajah kawasan Asiatique sejak
sore agar mendapatkan suasana secara keseluruhan sejak dibukanya pasar
Asiatuque pada pukul 5 sore hingga tutup
pukul 11.30 malam.
_________________________________________________________
Asiatique The Riverfront
Alamat: 2194 Charoenkrung Road, Wat Prayakrai, Bangkoleam, Bangkok
Telpon: +66 2 108 4488
Website: thaiasiatique.com
Alamat: 2194 Charoenkrung Road, Wat Prayakrai, Bangkoleam, Bangkok
Telpon: +66 2 108 4488
Website: thaiasiatique.com
Minggu, 09 Oktober 2016
MENCUMBUI CHAO PRAYA DIKALA SENJA
![]() |
| salah satu bangunan di bibir sungai Chao Praya - photoand retouch by @lexisit |
Langit
menggantung mendung ketika saya dan rombongan tiba di sebuah gedung besar bertuliskan
Bangkok River City. “Sungai!!”
semangat saya pada diri sendiri. Ya,
sore itu saya dan rekan rekan akan menikmati wisata sungai.
| bangungn Bangkok River City |
![]() |
| jajaran kafe sepanjang bibir sungai - photo and retouch by @lexisit |
Tampak depan,
gedung bertulis Bangkok River City sungguh mewakili bentuk modern pusat
perbelanjaan. Bersanding pula gambar
Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit pada sisi lainnya. – semua gedung gedung hingga public area di Thailand memajang wajah
raja dan Ratu tersebut, - kalau di
Indonesia seperti wajah wajah pejabat negara sampai pejabat daerah!.
Selama
berjalan memasuki alur bagian dalam gedung, saya melihat bermacam gerai belanja
yang menawarkan produk unggulan Thailand
maupun mancanegara. Tapi tujuan saya dan rekan rekan bukan berbelanja melainkan
bergegas menaiki kapal yang akan mengangkut kami menuju Wat Arun.
| dermaga Bangkok River City |
| jenis kapal yang kami tumpangi mengarungi sungai Chao Praya |
Waktu terus
beranjak keperaduan, awan awan berpendar kelabu diantara beberapa titik hujan
yang menyapa. Gerai gerai kafe dengan tata ruang dan tata hias memesona
memanjakan mata saya. Hasrat ngopi sore tetiba muncul ketika melihat kedai
kedai kopi merek lokal berjajar apik disepanjang bibir sungai. Hhmmm – emang susah kalo kopi maniak ini.!!.
Jadilah Sore itu kami menaiki kapal besar yang isinya menampung 20 orang lebih
untuk mengarungi sungai Chao Praya.
| salah satu bentuk kapal yang mengarungi sungai Chao Praya |
| kafe dan restaurant di salah satu bagian pinggir sungai |
Menyusuri sungai
Chao Praya merupakan jenis wisata wajib yang harus dinikmati wisatawan jika
berkunjung ke Bangkok – Thailand. Sungai yang membelah kota Bangkok menjadi dua
bagian dengan panjang sungai mencapai
372 kilometer itu sungguh sebuah daya tarik yang tak dapat dipisahkan dari
pesona wisata Thailand. Selama berlayar
dengan tongkang ukuran besar itu, saya
dan rekan rekan dapat melihat beragam bentuk bangunan yang tersaji di sisi kiri
dan kanan sungai. Chao Praya seolah bentangan yang menyajikan ragam bentuk hunian
hingga tata bangunan peribadatan yang
tersebar di sepanjang bibir sungai dan menjadi pemandangan indah tersendiri
bagi wisatawan.
![]() |
| candi Wat Arun yang sedang renovasi - photo and retouch by @lexisid |
![]() |
| bentangan pesona candi Wat Arun - photo and retouch by @lexisit |
![]() |
| Candi Wat Arun yang sedang di renovasi - photo and retouch by @lexisit |
Sebenarnya,
tujuan saya dan rekan rekan sore itu adalah mengunjungi Wat Arun – sebuah candi
Budha yang terletak di bagian barat dari sungai Chao Praya atau tepatnya di
distrik Bangkok Yai – Kota Bangkok.
Dalam
pelayaran, bangunan Wat Arun yang menjulang tinggi 70 meter itu menampilkan
pesona tersendiri bagi pengunjung. Wat
Arun dikenal dengan sebutan ‘Temple of
Dawn’ – karena keindahannya semakin terpancar pada saat matahari terbit
maupun terbenam. Pada dua waktu itu, konon candi Wat Arum semakin nampak gagah.
Tiket masuk ke Wat Arun terbilang murah,
sekitar 50 bath (20 ribu rupiah) dengan jam operasional pada pukul 08.00 s/d
17.30 waktu Bangkok.
| bangunan utama Bangkok River City kala senja |
| Bangunan megah Hotel Sheraton bersanding dengan Bangkok River City |
Tapi sayang, sore
itu, saya dan rekan rekan tidak dapat leluasa menikmati Wat Arun karena sedang
dalam tahap renovasi dibeberapa bagian utama. Tapi menyaksikan beragam bangunan
pendukung yang tersebar disekitar bangunan utama juga menjadi kesenangan
tersendiri. Meski tidak kesampaian naik kebagian atas, setidaknya mengetahui
lokasi Wat Arun secara langsung cukuplah jadi bagian dari kebahagiaan sore itu.
Tapi, aktivitas belanja di pasar murah
disamping Wat Arun juga jadi hal seru lainnya lho..hehehe…
Soal belanja
seru itu akan saya kisahkan pada penggal berikutnya yaa…penasaran ya ?, ikuti terus update-an blog saya ini yaa….
Meski tidak
leluasa menikmati Wat Arun, mengarungi sungai Chao Praya di kala senja sudah
menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Sungai mengalir deras dengan lalu
lalang perahu perahu beragam bentuk dan ukuran. Beberapa perahu ditata dengan ornamen
oriental, beberapa lagi memakai cat warna warna mencolok dengan gaya modern. Seolah
menyaksikan peragaan busana berupa perahu kayu diatas sungai Chao Praya sebagai
catwalk-nya.
| suasana Chao Praya kala senja |
Sejauh
pandangan, aliran sungai yang deras dan kebersihan yang tertap terjaga nampak dimanfaatkan
betul oleh para pelaku usaha di sepanjang bibir sungai. Terlihat jajaran kafe, beragam
jenis restaurant dan jenis hotel – mulai
dari hotel melati hingga hotel bintang 5
sampai jenis jenis pusat perbelanjaan tertata apik di pinggir aliran
sungai dan menghias sepanjang pelayaran.
| landmark Bangkok City |
Dalam pelayaran
sepulang dari Wat Arun, pandangan mata
dimanjakan dengan sajian landmark
kota Bangkok berupa gedung gedung pencakar langit nan gagah dengan beragam
bentuk modern. Mentari telah keperaduan. Malam menjelang, bias lampu lampu
berpendar dalam gelap. Seusai dari Wat Arun, kami akan menuju kawasan Asiatique
termasuk menikmati makan malam istimewa dalam diatas sebuah Cruise…. Hhhmmm tak sabar menikmati pengalaman
seru lainnya, wait, tunggu pada paruh berikutnya yaa …. (bersambung –mode on) – biar penasaran yaaa…
Rabu, 28 September 2016
SEJENAK MENGHIBUR DIRI DI WALKING STREET PATTAYA
![]() |
| Walking Street - Street Style Dancer |
“…kita
meeting nya sambil ngopi yok!” sahut
mba Ika – sesaat setelah tugas sepanjang hari usai
“…cari
tempat yang asik lah..”lanjut mba Ika
kemudian.
“ke
Walking Street aja.”timpal mba Ana.
Walking Street ?, saya kok dengarnya seperti judul lagu Elvis Presley yaa?!. Hhmm – maklumlah saya kan belum pernah ke Thailand –
terlebih Pattaya.
Yang
saya tahu di Pattaya banyak wanita palsu. Alias dulunya lelaki dan kemudian
berubah wujud menjadi wanita cantik. Lebih cantik dari wanita asli lho.! Please, jangan salah cari pasangan yaa… Hahahah.
Video saya dan teman teman menikmati naek mobil angkot khas Pattaya
Setelah
diskusi dan tim SoulStories formasi lengkap kumpul dimuka hotel, kami memutuskan
untuk menuju kawasan Walking Street. Pukul
22.30 kala itu. Mengingat jumlah kami berenam, tidaklah muat dengan taksi kota
biasa, kami pun memutuskan untuk naik angkutan khas Thailand. Berbentuk mobil
dengan bagian belakang terbuka beratap
terpal dan berteralis besi ringan pada bagian kiri dan kanan badan mobil. Sekilas
seperti angkutan pedesaan di pedalaman Indonesia. Okelah. Sesekali memang kami harus mencoba
sesuatu yang khas dari kawasan yang dikunjungi. Lagi pula ke negeri orang hanya
tidur di kamar hotel saja, ya buat apa?, mending diam dirumah saja, tak usah ke
luar negeri. Mumpung di negeri orang, saatnya lihat dan tahu secara langsung
kondisi kawasan. Terlebih menjajal suasana
malam yang tentunya bisa jadi bagian dari kisah perjalanan.
![]() |
| bentuk mobil khas Pattaya yang kami coba |
![]() |
| bagian depan Walking Street. |
![]() |
| Meski hujan pengujung tetap ramai |
Sebenarnya,
ajakan meeting mba Ika bukanlah sesuatu yang serius. Mba Ika – bahkan hampir semua
dari kami ; mba Sari, mba Anna, Al, bang Alex dan Saya – berniat mengurai hal
hal negatif dan yang mendatangkan penat
setelah seharian penuh dan beberapa hari sebelumnya berkutat dengan padatnya rutinitas.
Terkadang, menyenangkan diri sendiri
juga perlu lho!. Selama hal yang dilakukan positif dan tidak merugikan banyak
pihak, yaa, tak ada salahnya kan?, hehehe.
Jadilah
malam itu, meski hujan gerimis datang sejak sore, tak mengurungkan niat kami
berenam untuk sedikit merileksasi diri dan melakukan kegiatan tambahan diluar
dari jadwal yang telah tertulis.
![]() |
| mengabadikan kebersamaan ditengah rintik hujan |
Setelah
tawar menawar harga dengan sopir angkot,
dan disepakati harga 300 bath, kami berenam diantar menuju Walking Street. Ternyata,
dari posisi hotel dimana kami bermalam, kawasan Walking Street terbilang
jauh. Terletak di Pattaya Second
Road – atau bagian selatan dari kawasan Pattaya. Walking Street sendiri
merupakan kawasan hiburan malam yang terkoordinir dengan baik. Begitu tiba di
kawasan Walking Street saya melihat ada screen LED besar tergantung dibagian
depan kawasan seolah menjadi gapura selamat datang pengunjung. Lampu lampu bagian
depan setiap bangunan menambah semarak suasana malam. Musik hingar bingar datang
dari beragam bangunan yang secara terbuka
menawarkan hiburan malam. Mulai dari hiburan bernyanyai lagu Thailand, mandarin
hingga Go Go Bar yang menjajakan beragam jenis musik ajojing hingga sajian penari
super seksi. Area Walking Street yang
konon mencapai luas satu kilometer itu nampak padat dengan beragam jenis
hiburan malam hingga beragam gerai café, bar dan diskotik.
Aksi ABG Street Style di tengah guyuran hujan
Sembari
berlari kecil dan menyelematkan diri dari rintikan hujan, kami berenam mengikuti
badan jalan utama Walking Street. Layaknya pusat hiburan malam bernuansa
jalanan, Walking Street benar benar memberi ragam pilihan hiburan malam segala
kasta. Mulai dari Diskotik kelas sosialita hingga Bar ala kadarnya dengan sajian hiburan sederhana.
![]() |
| hangout time at Kafe - enjoy Ice Coke and Juice |
Karena
tak kuat berjalan jauh hingga ujung Walking Street, kami sepakat singgah di sebuah kafe – yang saya
tak peduli namanya. Keputusan kami singgah di kafe tersebut lebih karena
penerangan yang jelas – alilas tidak terlalu remang remang, selain awalnya
kami kepincut dengan live music yang disajikan oleh band yang
tampilannya seperti band top 40 di
Indonesia. Selain itu, segerombolan
penari jalanan yang berajojing mengikuti irama dibawah rinai hujan menjadi daya tarik
tersendiri bagi kami. Lumayanlah,
bersantai sejenak dari kepadatan aktivitas meski saya tak yakin kami benar
benar meeting seperti yang dibicarakan sejak
awal. Meski beberapa hal penting memang disampaikan oleh mba Ika dan mba Sari.
Beberapa hal saya paham, tapi beberapa lagi saya tak begitu ingat – tahulah,
semarak musik dari band kafe dimana kami duduk begitu menggoda saya untuk
mendekat. Mba Anna diam diam merasakan hal yang sama dengan saya. Gatal rasanya
kaki ini untuk meliuk liuk di lantai dansa. Sebagai pribadi yang besar di dunia
musik dan hiburan di Lampung, jejingkrakan didepan panggung musik adalah hal
wajib bagi saya. Sayang jika sajian
musik berkualitas dilewatkan hanya dengan duduk manis saja. Apalagi sudah sampai lokasi hiburan terbesar
di Pattaya. Kapanlagi moment ini terulang. Jikapun terulang tentu beda tokoh
dan kisah didalamnya.
![]() |
| Enjoy the moment |
Bergembira
menikmati hentakan musik dari lagu lagu masa kini, seolah menjadi moment
kebersamaan kami semua. Termasuk goyang Cheboox andalan saya. Apapun jenis musiknya, joged dangdut adalah hal utama!!. Meski akhirnya kami tahu diri dan menyudahi kesemarakan
malam mengingat waktu telah menuju dini hari dan sadar bahwa esok akan banyak
tugas dan aktivitas yang harus dijalani. Menyenangkan diri itu wajib hukumnya,
tetapi ingat akan tugas juga kewajiban yang utama. Baiklah, kami beranjak
kembali ke titik awal dimana kami masuk area Walking Street. Gapura bertahta
LED dengan tata cahaya yang menawan menjadi acuan langkah kembali kami. Guyuran hujan semain deras. Tapi tingkat
kunjungan semakin banyak. Beberapa menggunakan payung dan beberapa lagi
melakukan hal seperti yang kami lakukan – berdesakan di muka pertokoan dan
gerai gerai hiburan malam – mencari perlindungan dari serangan hujan. Sembari
menuju jalan pulang, diam diam saya
sempat mengabadikan beberapa wanita berpakaian dalam yang menjajakan diri
mereka di depan ruko khusus pertunjukan dewasa melalui ponsel yang saya
sembunyikan dibalik tas. Lumayan malu jika kelakuan memotret saya ketahuan,
meski sajian semacam itu menghiasi sepanjang jalan. Apa mereka tidak kedinginan
ya?, ehehhe .
![]() |
| sajian yang banyak di sepanjang Walking Street. Entah wanita asli atau palsu?!! |
Cukup
lama kami mencari mobil bak terbuka diantara banyaknya calon penumpang yang
juga mencari mobil tumpangan untuk kembali ke tempat masing masing. Pukul 1.30
dini hari kala itu. Sudah waktunya kami istirahat meski sesaat. Mobil bak
terbuka pun kembali mengantar kami kembali ke hotel dengan harga nego 200 bath
dan seorang pria kebangsaan Jepang ikut menumpang rombongan kami.
Malam
seseruan yang berkesan.





















