Kilatan
cahaya yang berpendar di tugu Monumen Nasional belumlah hilang. Bahkan beberapa
lampu sekitar masih terang benderang diantara ragam aktivitas masyarakat ibukota.
Waktu subuh baru berlalu, ketika saya mengumpulkan semangat memulai pagi di
Jakarta setelah melalui perjalanan dengan bis Damri sepanjang malam, melintasi
selat sunda dan harus menikmati kenyataan berlayar bersama kapal besar yang hanya
menyediakan kursi penumpang sederhana.
Pupuslah harapan saya sebagai penumpang untuk dapat tidur lelap dalam fasilitas
lesehan. Meski begitu tetaplah berucap syukur atas kelancaran dalam pelayaran.
Setidaknya nyawa ini masih terselamatkan.
Tampilkan postingan dengan label enjoy jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label enjoy jakarta. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Mei 2017
Rabu, 14 Desember 2016
MENGUKIR RINDU DI KEPULAUAN SERIBU
Saya tersadar dari tidur ketika beberapa bayangan lalu lalang di depan saya. Bukan mahluk halus. Tapi benar benar sosok manusia. Tak begitu jelas terlihat. Bisa jadi mba Donna dan teman teman yang hilir mudik dari kamar mandi ke kamar tidur untuk ambil wudhu di waktu subuh.
Masih tersisa lelah bertandang pulau
sepanjang hari kemarin. Sebenarnya, istirahat malam saya cukup nyenyak
hingga datang alunan suara merdu mendengkur rindu, dari pria pria super lelah
menghias ruang pertunjukan. Sesaat suara mereda, saya terlelap. Tetiba suara
menanjak tajam, saya terbangun. Bak irama bersahutan tanpa perlu dipandu. Begitulah
indahnya kebersamaan.
Beberapa rekan nampak duduk manis
menghadap pantai dibalkon belakang home
stay, ketika saya beranjak dari tidur paruh kedua setelah waktu subuh tiba.
Beberapa diantara mereka sedang menikmati sarapan pagi berupa nasi uduk dan telur
bulat sambal. Tak perlu berfikir lama, saya pun ikutserta menyantap nasi uduk
lezat tersebut. Lezat karena saya lapar, meski semalam cukup banyak menyantap
ikan bakar pasca goyang biduan yang ‘memabukkan’. Eh.., soal biduan semalam, kira kira dia masuk angin gak ya setelah
goyang hot pinggir laut gitu ?..hehehehe...
![]() |
| sarapan pagi di Home Stay |
Hoping
Island, masih mewarnai jadwal kami dihari kedua. Tak hanya
itu, aktivitas snorkeling di beberapa
pulau yang kelak kami datangi akan jadi aktivitas seru yang akan kami jalani
sepanjang hari. kelak segala kisah yang terjadi akan menjadi rindu di Kepulauan Seribu.
“Aaahhh… tak perlu mandi pagi lah, karena nanti akan nyebur ke laut!!”. Begitu hasut saya kebeberapa rekan. Beberapa mengikuti hasutan saya, hehehe.. meski ada yang tetap mandi plus sempat menghias diri – mungkin ikan ikan dilaut akan mendekat bila snorkeling memakai bedak dan lipstick! Wow!!.
“Aaahhh… tak perlu mandi pagi lah, karena nanti akan nyebur ke laut!!”. Begitu hasut saya kebeberapa rekan. Beberapa mengikuti hasutan saya, hehehe.. meski ada yang tetap mandi plus sempat menghias diri – mungkin ikan ikan dilaut akan mendekat bila snorkeling memakai bedak dan lipstick! Wow!!.
Baiklah. Mari kita berangkat melaut! Lets Go
Genks!!!
![]() |
| salah satu perahu yang membawa kami snorkeling |
PELESIRAN YANG SESUNGGUHNYA
Dermaga Pulau Harapan telah dipenuhi ragam aktivitas nelayan. Kami langsung diarahkan oleh ibu Neneng dan tim dari Dinas Pariwisata dan KebudayaanKepulauan Seribu untuk naik ke kapal kayu setelah di bagikan pelampung dan alat snorkeling. Waaahh …bakal seru nih!. Saya dan mba Donna mengambil posisi duduk di ujung kapal – agar lebih menghayati jadi jack & Ross dalam film Titanic! HayaaL.!!!
Tak lama, dua kapal tongkang bergerak menuju tengah lautan hingga singgah
di Pulau Perak. Belumlah kapal bersandar sempurna pada dermaga pulau, saya
kembali berdecak kagum pada keindahan pulau yang tidak begitu luas namun
menyajikan hamparan pasir putih, air yang jernih berwarna biru toska. Wuuiihhh….tak perlu di komando saya pun
langsung menceburkan badan kedalam air jernih meski ternyata tujuan utama kami
bukanlah pulau Perak, melainkan kebagian tengah untuk diajak snorkeling.
![]() |
| pulau Perak |
Usai diberi pengarahan oleh pemandu
setempat, termasuk photo narsis sesaat di pulau Perak, kami yang terdiri dari 2
kapal kayu berlabuh di tengah perairan dengan dasar laut yang tidak begitu dalam. Melihat kondisi dasar laut yang tidak dalam, saya
seneng banged!. Sebagai orang yang tidak bisa berenang tentu menguntungkan. Meski
begitu saya tetap pakai pelampung. – sudahlah
gak usah sok sok an! Jangan demi dapet photo atau video bagus, lantas
mengorbankan keselamatan diri bahkan nyawa!. Well, lets play safe aja yaaa.. hahahaha.
![]() |
| photo bareng ibu Neneeeennngggg...... cekrek!!! |
Cukup lama kami berada di tengah
perairan menikmati snorkeling. Setiap
kami diberi keleluasaan menikmati jatah snorkeling,
berinteraksi dengan ikan ikan yang menari diantara beberapa kerang dan biota
laut lainnya. Saya pun mengagumi keindahan bawah laut Kepulauan Seribu.
Berharap kebersihan laut senantiasa terjaga. Karena bukan tidak mungkin semakin
banyak pengunjung yang datang, berdampak pada semakin banyak datangnya sampah –
terlebih pengunjung yang tidak begitu sadar diri akan kebersihan perairan laut
lepas, yang hobi buang sampah sembarangan.
A photo posted by Dede Ariyanto (@coretanmasdede) on
Saya sempat sewot ketika sebagain besar
teman teman seolah tak mau usai ber-snorkeling,
padahal jadwal kunjungan ke pulau lainnya masih menanti.
“hayoookkk..
pindah pindah!!...jangan cuma di sini ajaa!!....pindah ke tempat selanjutnya!!!”
teriak saya yang di dukung oleh Bernavita… hhhmm…volume
suara saya dan Berna yang lantang cukup efektif mengingatkan semua tim untuk
kembali ke perahu dan melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya. Hah!! Belulm tau kalo volume mulut ini bisa
lebih keras dari toak demo!.
Pelayaran pun berlanjut. Suasana seru
menikmati kehidupan bawah laut masih akan kami nikmati. Beberapa menit berlayar
dengan bentangan laut dan gugusan pulau pulau membuat saya takjub. Hingga saya
menikmati pelayaran diatas kapal kayu tanpa baju. Gak papalah sesekali tanning alami… bosan berkulit putih
mulus. Bolehlah agak negro dikit. Kapan lagi kan?!.hehehhehe. Ooohh iya,
kalo suka wisata bahari tapi takut terbakar matahari, mending berendam di bak mandi dalem rumah aja gih!.
Kapal merapat ke sebuah pulau yang ukuran
luasnya nyaris sama dengan pulau Perak.
Pulau Dholpin namanya. Hah, Dolphin?!. Ada lumba lumba nya
doong??!!.
“dulu
ada lumba lumba, sekarang sudah bergeser ke bagian lain”.
ucap seorang ibu pemilik warung yang saya tanyai seputar kata dolphin yang
melekat pada nama pulau.
Bila sebelumnya saya ikutan snorkeling, khusus di pulau Dolphin saya hanya ingin menikmati landscape indah yang membentang. Terlebih
hamparan pasir putih nan halus di sepanjang bibir pantai yang landai. Saya, mba
Donna dan mba Agustina yang datang dari Semarang memilih bersantai di warung
kopi yang ada di pulau Dolphin. Aahhh…tak
ada yang lebih menyenangkan selain diam menikmati pemandangan alam, sembari
mendengar desiran angin dan dabur ombak plus ditemani kopi hangat. Sorga??, eh bukanlah, masih dunia. Nyebut Sorga
nanti kena marah sama blogger anti
Sorga lho! Skip!!.
![]() |
| Kopi + Hamparan pantai di pulau yang nyaman = NIKMAT |
Ditengah sebagain teman teman
bersnorkeling, saya bersama mba Donna dan mba Agustina lebih memilih santai dipinggir
pantai dan kemudian menikmati semangkuk mie instan rebus pakai telor dan cabe
rawit. Aduh!! Nikmatnya. Ini baru
pelesiran!. Leasure bangeddd!!.
Meski sedang menikmati bentangan pantai
di pulau Dolphin tetap harus disudahi karena ajakan kembali ke pulau Harapan
untuk makan siang dan berkemas. Sebenarnya masih ingin berlama lama di pulau
Dolphin atau bahkan mengunjungi pulau pulau lain yang selama pelayaran nampak
indah dalam pandangan mata.
Kamipun bergegas mengemas barang dan
menyiapkan diri ketika tiba di home stay
pulau Harapan. Semalam di pulau Harapan meninggalkan kisah yang menyenangkan.
Kelak saya akan datang dan bermalam lagi
di pulau ini.
Upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kepulauan Seribu menyertakan kami dalam #enjoykepulauanseribu
– menjelajahi pulau pulau dalam kawasan Kepulauan Seribu merupakan konsep kegiatan
yang menarik dan perlu diapresiasi tinggi ditengah gencarnya promosi wisata
saat ini. Selain memberi pengalaman dan wawasan langsung pada kami, kegiatan
ini dapat jadi media bagi kami untuk terus mengupayakan pada banyak pihak agar
mencintai pesona wisata bahari dalam negeri termasuk menjaga kelestarian dan
kebersihan lingkungan. Mari jadi wisatawan yang peduli terhadap kelestarian dan
kebersihan lingkungan guna menunjang tujuan dari ‘Sustainable Tourism’.
Selepas meninggalkan kawasan pulau
Harapan, saya dan teman teman sempat diajak singgah ke pulau Pramuka, melihat
langsung penangkaran penyu hingga mendengar penuturan seputar pemeliharaan
lingkungan dan penanaman mangrove. Melihat langsung upaya pengembangbiakan penyu
bagai sebuah bonus bernilai edukasi dari perjalanan yang kelak akan saya
kisahkan secara terpisah.
Cukup lama kami di pulau Pramuka. Hingga
tak terasa sore datang begitu cepat dengan menghadirkan ombak yang cukup besar.
Niat semula ingin mengunjungi pulau Tidung pun harus rela ditanggalkan karena
ombak yang tidak bersahabat. Terbukti selama pelayaran pulang dari pulau Pramuka
ke dermaga Marina Ancol, speedboat yang kami tumpangi berhias guncangan ombak
yang cukup kuat hingga berhasil membuat Bernavita – si gadis cadas itu muntah!!
Hahaha! Kebayang Berna yang aktif dan
hits itu muntah karena goncangan kapal yang hebat. Selamat Berna!!.
![]() |
| photo keluarga sebelum berpisah...hiks.. (lihat wajah saya yang mutung!!) |
Sore menyambut kedatangan kami di
dermaga Marina Ancol setelah berlayar dengan ombak yang cukup besar. Tak lupa
kami mengabadikan kebersamaan yang terjadi selama 2 hari dalam bentuk photo
bersama sebelum kemudian kembali ke rumah masing masing. Terima kasih Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu atas undangan. Terima kasih
Indonesia Corner atas kesediaannya memasukkan saya dalam trip kali ini. 2 hari yang seru. kelak akan di rindu.
Selasa, 13 Desember 2016
BERLAYAR KE KEPULAUAN SERIBU ; MENIKMATI SEJARAH DAN PESONA BAHARI
Apa rasanya jika kamu diajak trip ke Kepulauan Seribu?. Hoping island, bermalam di pulau, membaur dengan masyarakat lokal hingga nantinya mengukir beragam kisah seru barsama penyuka wisata bahari selama 2 hari. Gratis!!. Mau?, simak kejadian nyata yang telah saya rasakan.
Dulu, saya pernah bertandang ke
Kepulauan Seribu – Jakarta bersama teman
teman kuliah, meski kemudian hanya tinggal rencana karena kendala biaya. Hah!, nasib dah.!. Meski sebenarnya
jarak tempuh dari Lampung ke Kepulauan Seribu – Jakarta, tidaklah terlampau
sulit.
Keinginan mendatangi langsung Kepulauan
Seribu tetap saya pelihara, --sama
seperti memelihara anak sendiri, Wheekss!!. Hingga melalui akun Facebook mba Donna Imelda dari
Indonesia Corner yang telah beberapa kali jadi travelmate saya tersebut mengajak serta dalam trip ke Kepulauan
Seribu. Seneng dooong…. Terlebih
acara tripnya berlangsung pada Kamis dan Jum’at, jadi gak benturan dengan
jadwal ngMC Wedding dikala weekend, hehehe. Selain itu tentu
kelak saya akan bertemu teman teman blogger yang tergabung dalam tim perjalanan.
Sudah kebayanglah serunya!.
PERJALANAN
YANG NYATA
Bunyi klakson bis Damri membangunkan
saya dari tidur pulas sepanjang malam dalam perjalanan dari Bandar Lampung ke
Jakarta. Pak sopir memberi tanda bahwa
bis yang saya tumpangi tiba dengan selamat di stasiun kereta api Gambir. Suasana
temaram terlihat dari balik jendela bis, meski beberapa pemakai jasa kereta api
telah terlihat. Saya sempat melempar pandangan
ke Tugu Monas yang kokoh menjulang diseberang stasiun Gambir. Semburat
cahaya bergantian warna masih menyelimuti Tugu Monas. Pukul 05.30 WIB saat itu. Saya pun bergegas
menyiapkan diri dan perlengkapan hingga menghubungi gojek, seusai gosok gigi
dan melupakan mandi. heheheh.
| pagi di dermaga 16 Marina Ancol jelang keberangkatan |
![]() |
| Ibu Neneng memberikan arahan pada semua peserta pelayaran |
Tak butuh waktu lama bagi Gojek
mengantarkan saya menuju dermaga 16 dalam kawasan Marina Ancol sebagai meeting point kami pagi itu. Meski sebelum masuk bagian dermaga saya sempat
berdebat dengan mba mba penjaga karcis yang mematok tiket masuk saya dan tukang
ojek hingga Rp.40.000,-!! – padahal si
ojek kan cuma nganter saya aja!. Sudahlah, anggep anggep sedekah sama si
Mba loket depan yang berlindung pada peraturan dari godaan sayton terkutuk!!. Kudu di Chebox deh si mba loket itu.hah!!
![]() |
| kehebohan dalam speedboat |
Saya tiba di Dermaga 16 Marina Ancol lebih
awal dari waktu 07.30 WIB yang ditetapkan dalam jadwal. Beberapa rekan telah
berkumpul diantara ramainya aktivitas pengelola kapal dan pengunjung lainnya.
Termasuk mba Donna – sosok mba kesayangan yang paling saya rindu karena telah
lama tak bertemu. – tetiba lagu ‘my heart
will go on –nya tante Celine Dion’ berpendar disekitar dermaga.
Tak lama berselang, beberapa wajah
bloger bloger kece berdatangan. Wajah sumringah mereka memudahkan saya memulai
interaksi. Selain karena sosok yang dipilih ID_Corner melalui akun facebook ini
pandai melebur dalam kelompok. Beberapa diantara mereka telah saling kenal dan
pernah bertemu di event sebelumnya. Beberapa juga ada yang pasangan suami
istri. Kesan pertama seru dech sama semua.
Sungguh trip ini terwujud nyata. Bukan sekedar obrolan dalam group ponsel
semata.
Registrasi kehadiran dan absensi adalah
aktivitas pagi kami selanjutnya setelah beberapa panitia dari Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Kepulauan Seribu datang di kawasan dermaga 16. Setelah melengkapi data administratif, kami
diberi kaos biru berkerah sebagai seragam peserta Perjalanan Komunitas Pecinta
Bahari yang selain jajaran blogger juga ada komunitas pecinta bahari bernama SeaSoldier. Aaahhh …tak sabar rasanya seseruan bareng temen temen baru.
MENEMUI BIDADARI, CIPIR, ORNUST DAN KELOR
| pulau Bidadari |
MENEMUI BIDADARI, CIPIR, ORNUST DAN KELOR
Setelah perkenalan jajaran Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu yang disampaikan oleh Ibu Neneng
selaku Kasubag Umum Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu termasuk
pengarahan dan rangkaian acara selama kegiatan kami pun bersiap memasuki Speedboat
yang telah bersiap dibibir dermaga. Eiittsss…
Jangan lupa Photo bersama!!. Kurang lengkap rasanya jika moment pertemuan
perdana belum diabadikan. Termasuk niat buat mannequin challenge yang akhirnya gagal!! Nah, soal photo bersama, menyebut kata ‘Ibu Neneng’ jadi slogan resmi yang nantinya
akan terus kami ucapkan setiap photo bersama agar tercipta ekspresi wajah yang
sumringah melalui penyembutan kata ; ‘Nenengggggg….” Yess,
Ibu Neneng langsung jadi top of the top
on chart!!. Selamat bu Neneng!. Hehehe.
| prasasti sejarah |
| puing puing benteng Martello |
Kelar urusan photo dan cek barang bawaan
masing masing, kami semua memasuki 2 Speedboat yang telah disiapkan. Satu
speadboat untuk rombongan blogger
yang diusung oleh Indonesia Corner dan satu speedboat lagi di isi oleh rekan
rekan dari komunitas SeaSoldier, beberapa photographer
dan videographer. Tim dari Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu pun turut dibagi mendampingi dalam
dua speedboat yang tersedia.
Cuaca cerah dan gerak ombak yang cukup
bersahabat menemani pelayaran kami dari Marina Ancol. Soal hujan lebat dan
cuaca buruk yang kerap ditakutkan pejalan dalam beberapa hari terakhir tidak
terbukti pada perjalanan kami. Suasana ceria antar blogger menambah hangat kebersamaan dalam pelayaran mengalahkan hempasan ombak dan
video concert Westlife yang diputar
selama speedboat melaju.
Patung wanita cantik bagai bidadari dengan
hamparan pasir halus dan pepohonan rindang menyambut kedatangan kami setelah 20
menit berlayar dengan speedboat dari Marina Ancol. Pulau Bidadari adalah kunjungan pertama kami.
Saya langsung mengagumi penataan Pulau Bidadari yang jaraknya dekat dari
dermaga Marina Ancol. Sebuah konsep wisata bahari yang telah ditunjang dengan
ragam pilihan fasilitas yang dapat dimanfaatkan wisatawan.
Setelah menikmati welcome drink dipintu masuk utama dan mendengar penjelasan singkat
seputar pulau Bidadari, kami diarahkan
oleh guide pada beberapa spot menarik selain mengenal lebih dekat
hal hal yang juga mengandung sejarah yang ada dalam kawasan pulau Bidadari.
Kami kemudian diajak menyusuri jalan
berpasir kebagian dalam dari pulau Bidadari. Hingga tertambat pada sebuah
benteng Martello yang sebagian bangunannya telah runtuh akibat dampak
meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1862. Benteng yang merupakan bagian dari
kedigdayaan kolonial Belanda itu seolah menjadi saksi bisu terhadap aktivitas
VOC dahulu.
Cukup lama saya dan teman teman
mengabadikan diri di kawasan benteng yang pada beberapa bagian,- menurut
saya, masih menyimpan daya magis.
| wujud biawak di pulau Bidadari yang berhasil saya abadikan melalui kamera saya |
![]() |
| rusa totol di dalam kawasan pulau Bidadari |
Sungguh menarik menyusuri kawasan pulau
Bidadari, selain keasrian pulau, pengunjung juga dapat melihat habitat biawak
yang masih bergerak bebas dalam rimbunnya pohon mangrove termasuk rusa totol
yang bergerak lincah diantara pepohonan. Tak lupa mengabadikan diri dalam
labirint pulau Bidadari, photo group dan selpik sesukahati termasuk photo di
pohon jodoh – konon, bagi yang jomblo akan lekas dapet jodoh bila berphoto di
pohon ini! yang jomblo, yang jomblo….!!
Buat penyuka wisata pantai dengan sajian
alam yang memikat, kandungan sejarah dan ragam fasilitas penunjang wisata
hingga aneka jenis sarana bermalam, pulau Bidadari wajib masuk dalam daftar
kunjungan kamu.
| puing puing bangunan bekas rumah sakit di pulau Cipir |
Pulau
Cipir atau yang kerap juga disebut pulau Kahyangan adalah kunjungan kami
selanjutnya seusai dari pulau Bidadari. Pulau Cipir merupakan pulau penunjang
dari aktivitas di pulau Onrust yang letaknya tak begitu jauh dari posisi pulau
Cipir. Itulah sebabnya kolonial Belanda membangun dermaga penghubung dari pulau
Cipir ke pulau Onrust. Meski kini dermaga dan jembatan penghubung tersebut
tidak lagi berfungsi.
Memasuki
pulau Cipir, saya langsung takjub dengan reruntuhan bangunan tua dengan pepohonan
hijau menjulang, diantara beberapa rumah warga yang mendiami pulau sekaligus bertugas
mengurus kebersihan dan kelestarian lingkungan pulau Cipir. Saya langsung mendekat ke beberapa sudut bangunan tua yang menyisakan puing dengan suasana
lembab di beberapa dinding bangunan.
Tergambar bentuk rumah sakit dan asrama haji yang dahulu pernah berdiri kokoh
di kawasan pulau Cipir.
![]() |
| makam makan belanda di dalam kawasan pulau Ornust |
Setelah
menyambangi Cipir yang penuh nilai sejarah, kami diajak bertandang ke pulau
Onrust.
Nilai
sejarah di pulau Onrust tak kalah menarik dengan pulau Cipir. Pulau yang berjuluk
‘pulau yang tak pernah tidur’ ini menjadi pusat keramaian di bagian pesisir
Jakarta pada zaman Belanda. Jejak keramaian dan ragam aktivitas di jaman
Belanda itu masih membekas melalui puing puing bangunan yang tersisa memenuhi
lahan huni diantara jalur kendaraan dan pejalan kaki.
Ketika
pemandu menuturkan soal pulau Onrust, saya dan Bernavita langsung bergegas
mendatangi beberapa sudut pulau Onrust untuk mengabadikan puing puing kejayaan
bangunan masa lampau lengkap dengan makam belanda yang berada di sudut pulau.
….Soal Pulau Bidadari, Cipir dan
Onrust, kelak akan saya uraikan dalam ulasan tersendiri, mengingat letak kedua
pulau tersebut – Cipir dan Onrust berdekatan dengan kisah yang saling
bertautan.
A photo posted by Indra Pradya (@duniaindra) on
Meski cuaca siang semakin terik dan
kunjungan pulau demi pulau mendatangkan letih, tapi semangat kami menuntaskan kunjungan pulau tetap terpelihara.
Walau rasa lapar menghadang, kami masih antusias melanjutkan kunjungan ke pulau
Kelor sebagai jadwal kunjungan terakhir sebelum makan siang dimulai.
Hamparan pulau Kelor telah nampak dari
kejauhan. Pulau yang tidak begitu luas ini semakin kontras dengan bangunan
benteng Martello yang menjulang di bibir pulau. Bentuk benteng melingkar
merupakan jenis yang sama dengan benteng yang terdapat dalam kawasan pulau Bidadari.
Selain benteng Martello, dalam pulau Kelor juga terdapat galangan kapal yang dibangun VOC untuk
menghadapi serangan Portugis di abad ke 17. Di sini juga terdapat kuburan Kapal
Tujuh atau Sevent Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang
memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda.
A photo posted by Indra Pradya (@duniaindra) on
Lagi
lagi saya merasakan getaran magis ketika mendekatkan diri pada bangunan
benteng. Sayapun tak banyak mengabadikan diri dalam kawasan pulau Kelor. Selain
merasa mual akibat merasakan getaran magis, rasa lapar yang saya rasa semakin
kuat. Nasi mana nasi?!!...
BERSANTAP
DI UNTUNG JAWA
Aktivitas masyarakat perkampungan
nelayan jelas terlihat ketika saya dan teman teman perjalanan tiba di pulau
Untung Jawa.
Untung Jawa?, unik ya penyebutannya, hehehehe.
Saat
Indonesia dikuasai Hindia Belanda, pulau-pulau di wilayah pulau Untung Jawa
sudah dikuasai oleh orang-orang pribumi yang berasal dari daratan Pulau Jawa. Itulah
sebabnya Untung Jawa jadi nama pulau.
Pulau
“Untung Jawa” memiliki arti
keberuntungan bagi orang orang dari daratan pulau Jawa yang mendiami pulau saat
itu.
Kami
bergegas menuju gedung terbuka yang letaknya dekat dengan rumah warga. Ternyata
hidangan lezat beragam pilihan sayur dan lauk pauk terhidang di meja prasmanan.
Sebagai pendatang pertama, saya dan Bernavita (lagi lagi kami berdua jadi yang pertama sampai ditempat) tanpa
sungkan mengambil hidangan terlebih disilakan oleh ibu ibu yang menyambut
kedatangan kami. – selain faktor lapar
maksimal!!!.hahaha.
Jangan
tanyakan soal rasa pada hidangan yang tersaji. Nikmatnya luar biasa. Bukan
karena saya merasa lapar, tapi memang masakannya lezat. Lauk pauk yang terdiri
dari ayam, ikan, udang, cumi hingga sop ikan tersaji memikat. Lengkap!!. Hingga
saya tak sungkan untuk nambah! Hahahaha…
bahkan saya berhasil menghabiskan 4 gelas es dugan yang terhidang!. Lapar dan Rakus jadi satu yaa!!!
Hahahahhaha.
![]() |
| kuliner lezat di Untung Jawa |
Usai
santap siang, kami diajak untuk mengitari bagian belakang pulau Untung Jawa
yang menyajikan hamparan hutan Mangrove yang telah ditata pijakan beton untuk pejalan kaki yang terhubung pada
dermaga kapal nelayan di ujung hutan Mangrove. Namanya juga pejalan, tak lengkap
rasanya jika tidak mengabadikan diri meski dalam hutan mangrove sekalipun.
Jadilah photo photo narsis plus beberapa kali pengambilan video mannequin callenge yang tak pernah
berhasil akibat kehadiran bebunyian yang tak hanya mengganggu tapi juga
berbau!!. Brooott!!!. Bubaaarrr!!!!
A photo posted by travelecturer (@donnaimelda) on
Hari
semakin petang, kami pun di boyong menuju
home stay setelah sepanjang siang bertandang kebeberapa pulau lengkap
dengan hal hal seru dan menyenangkan. Pulau Untung Jawa memang layak dikunjungi
bukan hanya sekedar pesona bahari semata tetapi juga aktivitas warga yang
menarik lengkap dengan pilihan kuliner lezat. Tak salah bila kemudian pulau
Untung Jawa menjadi desa wisata nelayan dan destiasi wisata dengan fasilitas
permainan pantai yang memadai.
MENIKMATI MALAM PULAU HARAPAN
Sore yang tenang menyambut kedatangan
kami di pulau Harapan. Meski gelombang laut cukup kencang menghadang selama
pelayaran dari pulau Untung Jawa menuju Pulau Harapan. Sebagai pulau yang didiami masyarakat
nelayan, pulau Harapan terbilang hunian ramai
dengan karakter masyarakat pulau yang ramah dan terbuka pada kehadiran
pendatang. Hal ini terlihat sejak kami
tiba di gerbang utama pulau hingga lorong jalan yang kami lalui menuju home stay.
| gerbang utama memasuki pemukiman warga Pulau Harapan |
Rumah warga yang saya dan teman teman
blogger tempati sebagai home stay
terletak persis di bibir pulau hingga bagian belakang rumah berhadapan langsung
dengan hamparan pulau. Beranda yang
menghadap bentangan pantai seolah jadi tempat kumpul santai dan bercerita banyak
hal antar personal hingga ragam kelakar.
A photo posted by Indra Pradya (@duniaindra) on
Malam datang terasa cepat. Secepat
persiapan saya dan teman teman yang diarahkan oleh panitia untuk mengikuti
makan malam yang telah terhidang disalah satu rumah warga. Ternyata malam itu
panitia menyiapkan hidangan prasmanan di halaman terbuka. Suasana kebersamaan
segera tercipta. Terlebih orgen tunggal dan perangkap musik penunjang lainnya
telah disiapkan. – kebayang joged bareng
akan jadi sarana seseruan, nih!
Seusai makan, ibu Neneng mengambil alih
suasana dengan menyampaikan perkenalan Pulau Harapan lengkap dengan peta
administratif Kepulauan Seribu. Sungguh pandai Ibu Neneng menghidupkan suasana.
Saya pun terhibur dengan penjelasan Ibu Neneng.
Sama terhiburnya ketika penyanyi
dangdut tampil dengan kata kata tambahan yang tak beraturan. –sontak saya teringat dengan ulah biduan yang
mengucap kata ‘Shebookk’ atau ‘Chebboooxxx’, hahahhahaha.
Tidaklah kehadiran penyanyi dangdut
pulau Harapan menjadi soal, hingga sajian ikan bakar terhidang menjadi sesi barbeque menambah akrab suasana.
Jelajah pulau sepanjang siang sangat
menyenangkan. Dan saya menikmatinya, tanpa perlu saya pertanyakan ‘buat
apa acara ini digelar?’, karena sudah jelas, sebagai penyuka wisata
bahari atau pun sebagai pihak yang (katanya)
peduli terhadap kelestarian dan kebersihan lingkungan, mendatangi pulau pulau
dalam wilayah Kepulauan Seribu adalah wujud memahami lingkungan secara
langsung. Siapapun kita, apapun jabatan kita, orang biasa seperti saya, artis ternama atau road manager artis idola, bukanlah
pekara, tapi sejauh apa tindakan langsung untuk mendukung upaya promosi wisata
bahari dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu.
Dipenghujung malam, saya berdo’a agar
keesokan harinya saya diberi kesehatan dengan jadwal kunjungan ke pulau pulau
yang tentu akan lebih menyenangkan dengan kegiatan snorkeling. Aaahh….perut kenyang dengan makan ikan
bakar bersama di home stay. Mari tidur dulu tanpa perlu mengajukan
pertanyaan “Jadi acara ini buat apa, ya
bu?”. Hah!!.
BERSAMBUNG
… biar penasaran sama lanjutannya.




















