Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label way kanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label way kanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

PETUALANGAN SERU KE AIR TERJUN PUTRI MALU

Puteri Malu berselimut bebatuan eksotik - photo by Mba Dian @adventurose


Sarapan pagi buatan istri pak Ali di kampung wisata Gedung Batin jadi bekal energi tubuh  kami pagi itu. Setelah  sempat singgah di pasar Baradatu untuk membeli beberapa makanan dan minuman ringan dalam perjalanan, kami – masih dengan formasi ; Oom Yopie, Mba Katerin, Mba Dian, Mba Rian,  Mba Ross dan saya,  siap melanjutkan eksplorasi Way Kanan dengan menyambangi Air Terjun Putri Malu.

Tim Ekspedisi - Keluarga Ibu Ibu Ceria.

Perjalanan menuju Air Terjun Putri Malu akan kami tempuh lebih kurang 1 jam dari pasar Baradatu atau berjarak 46 km dari Blambangan Umpu - Way Kanan. Papan penunjuk arah ke objek wisata Putri Malu terletak jelas dipinggir jalan lintas. Jalan utama Baradatu memang merupakan salah satu akses yang lancar bagi mereka yang hendak bepergian hingga ke Sumatera Selatan dan provinsi lain di luar Lampung.  Rumah rumah penduduk dengan aktivitas yang harian mereka menjadi pemandangan dari balik kendaraan yang dikemudikan Oom Yopie.  Sesekali senda gurau mewarnai kebersamaan kami.  Kurang seru rasanya jika jalan jalan tanpa canda tawa. Dalam perjalanan beberapa kali Oom Yopie dan Mbak Katerin menghubungi bang Yazed. Berharap bang Yazed dan kawan kawan di Gedung Batin kemarin ikutserta dengan kami. Laju kemudi terus mengikuti rute jalan meski ponsel bang Yazed sulit dihubungi.

Rute jalan menuju Banjit

beberapa pematang sawah di sepanjang perjalanan

Suasana pedesaan di bagian kecamatan Banjit

Secara khusus, Oom Yopie pernah bertandang ke Putri Malu, itulah mengapa tidak terlampau sulit mengikuti rute jalan menuju lokasi tujuan.  – meskipun beberapa kali Oom Yopie berlagak tidak tau arah jalan. Sepanjang jalan, kami melihat aktivitas warga dengan rumah rumah berbaris rapi khas pedesaan. Ketika berlalu dari pasar Banjit, saya merasakan Dejavu ketika memasuki perkampungan dengan rumah rumah panggung tertata rapih. Seolah kembali pada masa kecil dahulu. Tumbuhan kopi, coklat dan jenis tanaman kebun menghiasi sepanjang jalan. Sesekali kami melalui area persawahan dan rumah rumah pondok.

Area Desa Jukuhbatu -  kecamatan Banjit - kabupaten Way Kanan.


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kami tiba di Desa Jukuh Batu dan singgah disebuah rumah yang menurut oom Yopie – rumah tersebut adalah rumah pak Lurah yang juga sekaligus rekan Oom Yopie dalam kunjungan sebelumnya. Sayang, si pemilik tidak ada dirumah. Kami sempat bersantai sejenak dibagian belakang rumah nan asri dan saya sempat memetik jeruk purut yang berbuah lebat. Sempat juga niat memetik papaya matang di pohon – namun dilarang Oom Yopie. Karena tak ada pemilik rumah, kami bergegas menyiapkan diri  menuju Putri Malu yang merupakan tujuan utama kami.  Pengendara sepeda motor telah siap berkumpul mengantarkan kami kearah tujuan. “Butuh 40 menit berkendaraa melalu medan jalan yang tak selamanya mulus”.- ujar salah satu dari  6 pengendara motor yang akan kami tumpangi.

Mba Rossana dengan driver andalannya

kontur jalan yang kami lalui

Kondisi medan terjal menuju Putri Malu


Kami pun sigap bersiap dengan kondisi hujan mulai rintik.  Karena rute tujuan yang terjal,  kami pun menyiapkan bekal seperlunya agar tidak terlalu merepotkan selama perjalanan.  Motor motor modifikasi khusus pun kemudian beriringan mengantarkan kami. Jiwa jiwa pengendara yang mahir mengendalikan kemudi. Jalan terjal, berbatu, tanah merah basah dan berlumpur menjadi tantangan tersendiri selama perjalanan menuju Putri Malu. Hamparan ladang kopi menjadi akrab dimata kami. Aroma kembang kopi pun seolah menghantarkan perjalanan kami ke air terjun Putri Malu siang itu. Cuaca cukup bersahabat. Pasalnya, rintik hujan yang semula datang kini berubah mendung dengan sedikit bias cahaya matahari dari balik awan.

Photo dulu di titik istirahat untuk penyegaran

Beberapa rumah panggung warga dibagian areal perkebunan kopi


MENCUMBUI PUTRI MALU.

Saya sempat mengabadikan beberapa moment perjalanan dari atas  motor yang saya tumpangi., meski sesekali merasa ngeri dengan kondisi jalan yang dilalui. Bang Sultan – si juru kemudi motor modifikasi yang membawa saya sesekali menjelaskan beberapa spot yang kami lalui. Mulai dari perkampungan warga, jalanan mendaki, turunan terjal, jalan berkelok tajam mengikuti kontur perbukitan. Sesekali saya jumpai pengendara motor pembawa karung kopi  berpapasan dengan kami. Terlihat pula aktivitas beberapa petani dan warga yang rumahnya berjarak dalam garis kebun kopi dan coklat. Buat saya pribadi, rute jalan yang dilalui justru terasa indah dengan hamparan kebun, perbukitan dan pepohonan rimbun khas lahan tropis. Meski sesekali dibuat takjub dengan  badan jalan yang sempit dan kontur medan terjal berbatu. Wajar kiranya jika pengemudi motor motor modifikasi tersebut mematok harga Rp.100.000,- /orang untuk mengantar dan menunggu pengunjung di air terjun Putri Malu sebelum akhirnya mengembalikan pengunjung degan selamat ke tepat semula.

Hamparan Kebun Kopi sepanjang rute jalan menuju Putri Malu

bahagia karena tiba di tempat tujuan

Photo bersama para pengendara yang telah selamat menghantarkan kami ke Putri Malu

Kondisi jalan menuju Puteri Malu setelah area parkir kendaraan


Setelah rute menanjak, kini giliran rute turunan bertanah basah.


Setelah menjalani konvoi dan sempat berhenti dibeberapa titik untuk penyegaran, kami tiba di pelataran bagian dalam hutan  dengan rimbun pepohonan.  Lega rasanya tiba di lokasi tujuan. Suara gemericik air sungai yang terlihat mengalir deras dibagian bawah jurang seolah penghibur bahwa kami telah tiba di lokasi air terjun Putri Malu. Meski ternyata perjuangan belum berakhir. Saya dan rekan rekan masih harus berjalan mengikuti jejak setapak dengan kondisi licin.  Yang menjadi perjuangan selanjutnya adalah jalan menurun kebagian bawah air terjun dengan kondisi tanah liat dan  bebatuan dibeberapa bagian.  Kami berpegangan dengan sebilah ranting yang memang dipasang untuk penyangga bagi pengunjung. Kondisi Sungai yang  lengang dengan air terjun yang tinggi seolah menjadi obat bagi sukarnya perjuangan menuju ke lokasi. Terbayar tuntas ketika melihat gelegar air menukik tajam dari ketinggian 70 meter tergolek indah dibalik bukit Punggur.   Selain tingginya curahan air dengan debit air yang cukup besar, dinding dinding bebatuan yang terletak melengkung seolah mendekap jatuhnya air terjun lah yang menjadi daya tarik saya dan rekan rekan. – Tetiba saya teringat dinding bebatuan di film Jurassic park, hahahaha.  Bisa jadi lengkungan bebatuan yang indah itu seolah menjadikan air terjun bak seorang Putri berselimut permadani. Atau – bisa jadi pula karena jarak tempuh untuk melihat air terjun yang tidak mudah dan terbilang pelosoklah yang menjadikan namanya Putri Malu. Demikianlah kiranya beberapa pemikiran saya tentang asal muasal mengapa sebutan air terjun yang kami datangi tersebut bernama Putri Malu, Hehehehe.


Penampilan Air Terjun Putri Malu

Sungguh Anggun rupa Puteri Malu

selain sebagai photographer handal, kini Oom Yopie pun merambah jadi model endorse.

senda gurau di genangan air terjun putri malu. photo by Oom Yopie

...Endorse..... We'll always Love You ...uuu.....  photo by oom Yopie.


Ajang photo mengabadikan moment di sekitar air terjun dalam beragam sudut photo menjadi aktivitas kami selanjutnya. Selain bahagianya kami mandi bersama dalam kubangan air terjun yang dinginnya bagai es batu. – maklumlah, sejak pagi kami hanya gosok gigi saja, belum mandi karena niat mandinya di genangan air terjun. Hahahahaha.

Setelah mengabadikan diri di air terjun Putri Malu, - termasuk photo barang barang Endorse – “Endorse…..we’ll always Love You ….” … (nyanyikan seperti Whitney Houston dalam bagian chorus lagu : I Will Always Love You), …. Bahkan Oom Yopie pun mulai pose dengan barang barang pesen sponsor, hahahaha, ….. beberapa pengendara yang mengantar dan menunggu kami di lokasi air terjun mengajak kami untuk ke lokasi air terjun lainnya yang jaraknya tak jauh dari lokasi Air Tejun Putri Malu.  Wujud air terjun tersebut telah terlihat dari posisi air terjun Putri Malu berada. Hanya saja jatuhan air yang tidak sederas air terjun Putri Malu.   Air Terjun Batu Duduk – namanya. Dua pengendara motor membantu kami menemukan jalan setapak  menuju air terjun Batu Duduk yang talah lama pudar akibat jarang dilalui.  Tak banyak orang berkunjung ke air terjun Batu Duduk. Mungkin karena daya pikat Putri Malu lebih memesona daripada Batu Duduk. Tapi terlanjur telah berada dilokasi dan saying untuk dilewatkan, hanya Saya, Oom Yopie, Mba Katerin dan mba Ross saja yang menyambangi air terjun Batu Duduk. Setidaknya saya tahu secara langsung kondisinya. Meski tidak se-anggun tampilan Putri Malu paling tidak air terjun Batu Duduk memiliki keindahan tersendiri. Salah satunya pepohonan yang tegak  luruh menjulang dikiri dan kanan air terjun selain bebatuan yang bersahabat untuk di tempati. Berphoto tentu jadi tujuan saya. Selain  menyaksikan kegemaran mba Ross mengabadikan beberapa merek produk  di sekitar lokasi air terjun.  – Sungguh kagum saya pada pribadi visioner mba Ross. Maju terus mba Heli. Jangan ragu,  apalagi  Horni pagi pagi.!!!.Oops.!!

Membuka Rute menuju Air Terjun Batu Duduk

Menuju Air terjun Batu Duduk

Tampilan Air Terjun Batu Duduk

Photo untuk cover majalah Flora dan Fauna - photo by Oom Yopie


Bagi kamu yang tidak  berkenan berpanas-panasan, tergores gesekan rerumputan ketika melalui jalan terjal bebatuan, atau bahkan tipikal anak mama, saya sarankan untuk tidak perlu bertandang ke Putri Malu.  Karena objek weisata air terjun Putri Malu hanya untuk mereka yang gemar berpetualang dengan jenis wisata minat khusus.  Saya tidak berharap ada pembangunan modern dikawasan air terjun Putri Malu. Justru kesederhanaan menjadi daya tarik tersendiri. Hanya jika dapat, akses jalan diperbaiki lebih rapih saja. sehingga tidak terlalu beresiko menimbulkan kejadian fatal kala berkendara.  Selebihnya, saya menyukai semua yang ada di kawasan air terjun Putri Malu termasuk hamparan ladang yang menyenangkan untuk dipandang, selain air terjun Putri Malu  yang mengagumkan.

Selasa, 02 Agustus 2016

MENENGOK RUMAH PANGGUNG KHAS LAMPUNG DI GEDUNG BATIN.



Dua rumah panggung milik pak Rajamin yang usianya telah lebih dari 300 tahun.

Pagi itu, ketika rekan rekan sedang antri mandi, berkemas untuk persiapan melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata dibagian lain kabupaten Way Kanan, saya tergerak untuk jalan pagi mengitari bagian lengkap dari kampung wisata Gedung Batin.

Sekedar menyegarkan mata dan menganggapnya jadi bagian dari olah raga pagi, saya mulai berjalan memperhatikan detail tiap rumah panggung yang saya jumpai di kawasan Gedung Batin. Tak hanya rumah panggung, terdapat pula beberapa rumah  dengan gaya bangunan yang lebih modern tetapi tetap menggunakan kayu sebagai bahan baku utamanya.

Suasana Lengang dijalan utama pada bagian dalam dari kawasan Kampung Wisata Gedung Batin

Bagian lain di dalam kampung wisata Gedung Batin dengan rumah rumah sederhana


Satu persatu saya abadikan rumah rumah yang ada dalam segaris jalan utama pada bagian dalam kampung wisata Gedung Batin melalui kamera ponsel saya – maklum, - sampai saat ini,  saya kan travel blogger yang murni mengandalkan kamera ponsel, heheheh .
 Imajinasi saya sesekali  tertuju pada masa kecil saya yang dulu sempat merasakan tinggal dirumah panggung milik nenek di kampung halaman di pertengahan tahun 80-an. 

Suasana Lengang dipagi hari dijalan utama Kampung Wisata Gedung Batin.


Nampak detail detail lawas dari setiap bangunan yang menggambarkan masa kejayaan setiap detail tersebut. Ukiran pada kaca jendela, bentuk engsel jendela dan pintu,  lalu potongan kayu kayu tembesu yang nampak kasar tanpa sentuhan pernis atau cat warna. Aktivitas pagi beberapa warga juga menambah keindahan mata memandang.  Senyum tulus ibu ibu dan tingkah polos anak anak bermain diberanda rumah menjadi keindahan tersendiri.


Rumah panggung di belakang rumah Pak Ali

Salah satu bentuk Engsel jendela yang menarik minat saya.



salah satu Rumah Panggung

Rumah Panggung dengan tangga semen


Rumah Panggung tetangga depan Pak ALi.

Salah satu rumah panggung yang kesemuanya berbahan utama kayu kualitas prima


Rumah Panggung yang Stylish

Bagi kamu yang senang dengan waisata bernuansa budaya dan kekayaan heritage lengkap dengan kearifan lokal dan kesahajaan masyarakatnya, tak ada salahnya berkunjung ke Kampung Wisata Gedung Batin yang merupakan kawasan dalam kecamatan Baradatu – Blambangan Umpu – Way Kanan. Sensasi bermalam di rumah warga – rumah Pak Ali – salah satunya dapat menjadi kenikmatan tersendiri. Terlebih kamu yang menyukai ketenangan suasana. Melepas penat dari aktivitas padat  perkotaan di perkampungan tentu memberi nuansa tersendiri.

pak Ali di beranda rumah miliknya.
 
Saya dan rombongan adalah tamu pertama yang bermalam di rumah pak Ali. Untuk menghargai keramahan penyambutan, lengkap dengan sajian hidangan makan malam dan sarapan pagi yang istimewa termasuk biaya bermalam, kami berenam masing masing mengeluarkan biaya Rp.70.000,- .  Dana patungan tersebut selanjutnya kami berikan pada pemilik rumah. Pak Ali dan istri tidak  mengucap atau memberi patokan khusus bagi  siapa saja yang ingin bermalam. Hanya saja, tak elok rasanya jika keramahtamahan dan kebaikan pak Ali dan Istri tidak diapresiasi. Tidaklah mereka mengharap sejumlah tarif besar atas kedatangan tamu bagai dihotel perkotaan, tapi setidaknya para tamu yang berkunjung menghargai kebaikan mereka tanpa pernah  mereka meminta dihargai berlebih.

Pak Rajamin di depan rumahnya yang berusia lebih dari 300 tahun.


Hingga waktu beranjak, saya masih berat meninggalkan rumah panggung pak Ali. Sungguh rasa nyaman tinggal di rumah panggung bagai mengembalikan saya pada masa kecil di rumah nenek dahulu. Terlebih kesediaan pak Ali diganggu dengan suara berisik kami kala bersenda gurau. Begitupula dengan wajah manis istri pak Ali yang cantiknya alami. Tanpa make up tebal dan  tanpa tatanan rambut gelombang. Cantik natural dengan senyum yang memesona.

Dalam hati,  saya berharap  dapat kembali berkunjung ke Kampung Wisata Gedung Batin suatu saat  nanti.
Semoga.

MENIKMATI KESAHAJAAN KAMPUNG WISATA GEDUNG BATIN - WAY KANAN



Menikmati suasana Kampung Wisata Gedung Batin - Photo by +yopie franz 



Rintik hujan menyambut kehadiran kami di Kampung Wisata Gedung Batin. Sebuah kawasan yang ditengarai telah terbentuk sejak tahun 1800-an. Bahkan jauh sebelum itu.

Kedatangan saya bersama Oom Yopie, Mba Katherin, Rian, Mba Dian dan Mba Rosana ke Gedung Batin dalam rangka mengeksplorasi hal hal menarik di kabupaten Way Kanan. Salah satunya Kampung Wisata Gedung Batin. Tak hanya kami, bang Yazed, Desva dan Heri turut serta menemani kunjungan kami ke Gedung Batin sore itu. Berkisar 22 km dari pusat kota Blambangan Umpu – Way Kanan, pengunjung dapat mengakses kawasan Gedung Batin. Meski rute jalan yang dilalui tidaklah mulus seperti di pusat kota, tetapi letaknya cukup mudah dijangkau baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Kontur jalan berkerikil dengan hamparan perkebunan keret dan rumput belukar sepanjang jalan menghias tujuan kami kala itu.

 
Penunjuk Arah menuju  Gedung Batin

Kondisi jalan menuju Gedung Batin



Tugu sederhana yang dibangun pada tahun 2007 silam seolah menjadi penanda yang menjelaskan keberadaan pengunjung di Kampung Wisata Gedung Batin. Lengkap dengan prasasti tugu yang merupakan bagian dari peresmian Gedung Batin menjadi Kampung Wisata oleh bapak Sapta Nirwandar. 

Tugu Penanda Pengunjung berada di Kawasan Kampung Wisata Gedung Batin


Bang Yazed  bergegas mengajak kami pada dua buah rumah panggung yang letaknya di bagian kanan dari tugu yang kami jumpai tadi. Dengan melalui jalan setapak, lebih kurang 40 meter kami melihat dua buah rumah panggung dengan atap berbentuk segitiga yang seluruh bagain rumah terbentuk dari kayu kayu tembesu berkualitas prima.  Penghuni rumah pun penyambut dengan ramah kehadiran kami sore itu. Beberapa anak anak belia berlarian dan mendekat ketika kami datang. Bagai kehadiran tamu jauh, pemilik rumah dan anggota keluarga mendekati kami. Saya langsung membuyarkan  pandangan pada dua rumah panggung yang gagah menjulang. Sungguh saya mengagumi akan konstruksi bangunan dan gaya khas bangunan masyarakat Lampung yang masih terpelihara hingga kini. Bahkan sang pemilik – yang merupakan pewaris dari silsilah keluarga di Gedung Batin – pak Rajamin menjelaskan bahwa dua rumah  kayu berbentuk panggung yang ada dihadapan kami kala itu berusia lebih dari 300 tahun!!!. Kekaguman saya semakin bertambah ketika mendapat  penjelasan panjang akan kisah dibalik 2 rumah panggung nan kokoh yang kami lihat sore itu. Suasana hujan tiba tiba turun deras. Aktivitas photo photo – mengabadikan moment dan narsis bersama berpindah dibagian dalam rumah. 

Suasana Rumah Panggung yang keduanya berusia lebih dari 300 tahun

Wefie bareng dibawah rumah panggung disela hujan - photo by Bang Yandes


Setelah cukup puas mengabadikan diri berphoto bersama – meski sebenarnya masih ingin berlama-lama, kami melanjutkan kegiatan sore itu di Kampung Wisata Gedung Batin.  Bang Yazed mengajak kami ke sebuah rumah panggung yang terletak pada bagian ujung kampung. Pak Ali – sang pemilik rumah panggung yang kami datangi  dan Istrinya menyambut kedatangan kami. Suasana hujan semakin bertambah deras. Kopi dan teh hangat disuguhkan oleh istri pak Ali dengan beragam camilan yang telah disiapkan bang Yazed. Sesaat saya menatap lekat lekat wajah pak Ali dan istrinya yang begitu bersahaja. Menerima kehadiran kami dengan penuh antusias dan bertutur banyak hal seputar kehidupan kampung Gedung Batin lengkap dengan aktivitas warganya.  Guyuran hujan justru menambah hangat percakapan akrab kami dengan pak Ali. Termasuk penjelasannya tentang barang barang tua peninggalan orang tua yang diwariskan dan dijaga secara turun temurun yang masih tertata apik dibagian dalam rumah panggungnya. Selain itu, pak Ali juga memperlihatkan lada hasil kebun  pribadi yang ia simpan di rumah. Jadilah ajang photo photo semakin bergairah!. 

Anak anak bermain dibawah rumah panggung

Mba Rian dengan Lada hasil kebun pak Ali

Sore di beranda rumah


 
Menikmati Kopi di rumah panggung - dengan Kursi yang usianya lebih tua dari usia saya. Vintage!!

Setelah hujan reda, bang Yazed mengajak kami melakukan aktivitas jalan sore kearah sungai. Suasana desa yang lengang dengan aktivitas  anak anak bermain di bagian bawah rumah panggung diakhir guyuran hujan.  Sungai Way Besai menjadi pemandangan sore yang indah di antara perkebunan karet yang rindang. Ajang photo photo tentu tak terelakkan. Terlebih letak jembatan yang sangat sayang jika tidak diabadikan.

Hamparan Sungai Way Besai

Hamparan Perkebunan Karet disebarang sungai Way Besai

Jembatan penyeberangan akses warga Gedung Batin.

Wajib.! Pose .


Senja beranjak keperaduan.
Malam seketika datang. Kami bergegas menuju rumah pak Ali, setelah menghabiskan sepanjang sore di sungai Way Besai.
Tawaran Oom Yopie untuk bermalam di rumah pak Ali pun kami setujui tanpa ragu. Meski kami tahu bahwa kami akan menghadapi suasana yang benar benar pedesaan. Tapi justru itu yang membuat kami senang.

Hidangan Sederhana dengan citarasa Istimewa.

Suasana Makan Bersama sembari bertutur banyak kisah.


Suasana malam semakin menarik. Lampu lampu rumah mulai benderang diantara gelapnya suasana jalan tanpa lampu penerangan bagai dipusat kota. Aktivitas mandi bergantian menjadi kegiatan kami selanjutnya. Kami harus sabar mengantri, berbagi kamar mandi yang hanya satu dan letaknya dibelakang rumah panggung dengan tanpa cahaya penerangan menuju kamar mandi tersebut.
Seusai mandi, kami melanjutkan santap malam bersama dengan menu masakan rumahan yang khas nan lezat persembahan istri pak Ali. Lagi lagi kami bahagia bukan kepalang ketika menyantap sajian makan malam yang bercitarasa lezat dengan suasana rumah panggung. Terbayang berada dalam kehidupan sederhana namun penuh kesahajaan.

Suasana malam Gedung Batin dari Beranda rumah Pak Ali.

Suasana tidur kami - diabadikan oleh Mba Katerin +Katerina. S 


Beberapa dari kami masih menikmati malam dengan bersantai di beranda rumah panggung dan menikmati malam di kampung yang tak begitu banyak orang lalu lalang.  Hingga kemudian ajang bertutur banyak kisah hingga hal hal konyol pun terjadi diantara kami. Tanpa ada sekat seolah kami begitu dekat. Bagai sebuah keluarga baru.
Suasana malam semakin sepi sebelum akhirnya kami tertidur dengan kasur empuk pemberian istri pak Ali.


KAMPUNG TUA PENUH CERITA.

Sesungguhnya, Gedung Batin merupakan kawasan pemukiman yang awalnya merupakan contoh pemukiman warga yang dibangun oleh penjajah Belanda.
Penjajah berharap, bentuk dan contoh bangunan yang mereka prakarsai  tersebut dapat diteruskan oleh para masyarakat yang bermukim dikawasan Gedung Batin bahkan hingga beberapa desa yang berdekatan dengan Gedung Batin. Demikian penuturan pak Ali dan pak Rajamin yang saya tangkap pada pagi hari disela persiapan kami meninggalkan  Gedung Batin untuk kegiatan kunjungan berikutnya.

Obrolan pagi hari


Pagi itu, seusai beristirahat  cukup, kami mendengarkan penuturan pak Ali dan pak Rajamin yang telah bergabung bersama kami. Saya pribadi telah jauh lebih awal menyimak pemaparan kisah pak Ali – sang pemilik rumah ketika rekan rekan yang lain masih mandi dan berkemas. Sarapan pagi semakin berarti dengan kisah kisah inspiratif yang dituturkan pak Ali dan pak Rajamin sembari seruput Kopi.

Obrolan serius mba Rian dengan pak Ali - pemilik Rumah yang kami tumpangi bermalam.


 
 (dari Atas) pak Rajamin, Istri pak Ali dan pak Ali.

Follow Instagram saya ; duniaindra

Keberadaan sungai Way Besai yang mengelilingi kawasan Gedung Batin menjadi oase kehidupan dan menambah ke-khas-an Kampung Wisata Gedung Batin. 
Perhatian pemerintah daerah kabupaten Way Kanan pun semakin serius dengan Kampung Wisata ini.  Beberapa  rencana yang tertuang dalan master plan berupa penataan Kampung Wisata Gedung Batin menjadi kawasan wisata berbasis alam dengan komponen pendukung dan infrastrukur yang memadai kelak akan diwujudkan  Potensi Desa Wisata dengan kearifan lokal dan kekayaan budaya Lampung nan agung sungguh merupakan daya tarik Gedung Batin yang tidak akan didapat di kawasan lain.
Khasanah kehidupan bermasyarakat dengan ritme yang alamiah adalah kekuatan yang dapat disinergikan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana penuturan pak Rajamin, bahwa dengan adanya kunjungan wisatawan ataupun warga dari luar Kampung Gedung Batin diharap dapat memberikan keuntungan secara langsung pada seluruh masyarakat yang tinggal di Gedung Batin dengan keterlibatan dan peran aktif seluruh komponen masyarakat yang bertempat-tinggal di Kampung Wisata Gedung Batin. Semoga.

… Simak pula kekaguman saya akan bentuk bentuk rumah yang ada di dalam kawasan Kampung Wisata Gedung batin di tulisan selanjutnya.
Scroll To Top