Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label gedung batin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gedung batin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2016

MENENGOK RUMAH PANGGUNG KHAS LAMPUNG DI GEDUNG BATIN.



Dua rumah panggung milik pak Rajamin yang usianya telah lebih dari 300 tahun.

Pagi itu, ketika rekan rekan sedang antri mandi, berkemas untuk persiapan melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata dibagian lain kabupaten Way Kanan, saya tergerak untuk jalan pagi mengitari bagian lengkap dari kampung wisata Gedung Batin.

Sekedar menyegarkan mata dan menganggapnya jadi bagian dari olah raga pagi, saya mulai berjalan memperhatikan detail tiap rumah panggung yang saya jumpai di kawasan Gedung Batin. Tak hanya rumah panggung, terdapat pula beberapa rumah  dengan gaya bangunan yang lebih modern tetapi tetap menggunakan kayu sebagai bahan baku utamanya.

Suasana Lengang dijalan utama pada bagian dalam dari kawasan Kampung Wisata Gedung Batin

Bagian lain di dalam kampung wisata Gedung Batin dengan rumah rumah sederhana


Satu persatu saya abadikan rumah rumah yang ada dalam segaris jalan utama pada bagian dalam kampung wisata Gedung Batin melalui kamera ponsel saya – maklum, - sampai saat ini,  saya kan travel blogger yang murni mengandalkan kamera ponsel, heheheh .
 Imajinasi saya sesekali  tertuju pada masa kecil saya yang dulu sempat merasakan tinggal dirumah panggung milik nenek di kampung halaman di pertengahan tahun 80-an. 

Suasana Lengang dipagi hari dijalan utama Kampung Wisata Gedung Batin.


Nampak detail detail lawas dari setiap bangunan yang menggambarkan masa kejayaan setiap detail tersebut. Ukiran pada kaca jendela, bentuk engsel jendela dan pintu,  lalu potongan kayu kayu tembesu yang nampak kasar tanpa sentuhan pernis atau cat warna. Aktivitas pagi beberapa warga juga menambah keindahan mata memandang.  Senyum tulus ibu ibu dan tingkah polos anak anak bermain diberanda rumah menjadi keindahan tersendiri.


Rumah panggung di belakang rumah Pak Ali

Salah satu bentuk Engsel jendela yang menarik minat saya.



salah satu Rumah Panggung

Rumah Panggung dengan tangga semen


Rumah Panggung tetangga depan Pak ALi.

Salah satu rumah panggung yang kesemuanya berbahan utama kayu kualitas prima


Rumah Panggung yang Stylish

Bagi kamu yang senang dengan waisata bernuansa budaya dan kekayaan heritage lengkap dengan kearifan lokal dan kesahajaan masyarakatnya, tak ada salahnya berkunjung ke Kampung Wisata Gedung Batin yang merupakan kawasan dalam kecamatan Baradatu – Blambangan Umpu – Way Kanan. Sensasi bermalam di rumah warga – rumah Pak Ali – salah satunya dapat menjadi kenikmatan tersendiri. Terlebih kamu yang menyukai ketenangan suasana. Melepas penat dari aktivitas padat  perkotaan di perkampungan tentu memberi nuansa tersendiri.

pak Ali di beranda rumah miliknya.
 
Saya dan rombongan adalah tamu pertama yang bermalam di rumah pak Ali. Untuk menghargai keramahan penyambutan, lengkap dengan sajian hidangan makan malam dan sarapan pagi yang istimewa termasuk biaya bermalam, kami berenam masing masing mengeluarkan biaya Rp.70.000,- .  Dana patungan tersebut selanjutnya kami berikan pada pemilik rumah. Pak Ali dan istri tidak  mengucap atau memberi patokan khusus bagi  siapa saja yang ingin bermalam. Hanya saja, tak elok rasanya jika keramahtamahan dan kebaikan pak Ali dan Istri tidak diapresiasi. Tidaklah mereka mengharap sejumlah tarif besar atas kedatangan tamu bagai dihotel perkotaan, tapi setidaknya para tamu yang berkunjung menghargai kebaikan mereka tanpa pernah  mereka meminta dihargai berlebih.

Pak Rajamin di depan rumahnya yang berusia lebih dari 300 tahun.


Hingga waktu beranjak, saya masih berat meninggalkan rumah panggung pak Ali. Sungguh rasa nyaman tinggal di rumah panggung bagai mengembalikan saya pada masa kecil di rumah nenek dahulu. Terlebih kesediaan pak Ali diganggu dengan suara berisik kami kala bersenda gurau. Begitupula dengan wajah manis istri pak Ali yang cantiknya alami. Tanpa make up tebal dan  tanpa tatanan rambut gelombang. Cantik natural dengan senyum yang memesona.

Dalam hati,  saya berharap  dapat kembali berkunjung ke Kampung Wisata Gedung Batin suatu saat  nanti.
Semoga.

MENIKMATI KESAHAJAAN KAMPUNG WISATA GEDUNG BATIN - WAY KANAN



Menikmati suasana Kampung Wisata Gedung Batin - Photo by +yopie franz 



Rintik hujan menyambut kehadiran kami di Kampung Wisata Gedung Batin. Sebuah kawasan yang ditengarai telah terbentuk sejak tahun 1800-an. Bahkan jauh sebelum itu.

Kedatangan saya bersama Oom Yopie, Mba Katherin, Rian, Mba Dian dan Mba Rosana ke Gedung Batin dalam rangka mengeksplorasi hal hal menarik di kabupaten Way Kanan. Salah satunya Kampung Wisata Gedung Batin. Tak hanya kami, bang Yazed, Desva dan Heri turut serta menemani kunjungan kami ke Gedung Batin sore itu. Berkisar 22 km dari pusat kota Blambangan Umpu – Way Kanan, pengunjung dapat mengakses kawasan Gedung Batin. Meski rute jalan yang dilalui tidaklah mulus seperti di pusat kota, tetapi letaknya cukup mudah dijangkau baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Kontur jalan berkerikil dengan hamparan perkebunan keret dan rumput belukar sepanjang jalan menghias tujuan kami kala itu.

 
Penunjuk Arah menuju  Gedung Batin

Kondisi jalan menuju Gedung Batin



Tugu sederhana yang dibangun pada tahun 2007 silam seolah menjadi penanda yang menjelaskan keberadaan pengunjung di Kampung Wisata Gedung Batin. Lengkap dengan prasasti tugu yang merupakan bagian dari peresmian Gedung Batin menjadi Kampung Wisata oleh bapak Sapta Nirwandar. 

Tugu Penanda Pengunjung berada di Kawasan Kampung Wisata Gedung Batin


Bang Yazed  bergegas mengajak kami pada dua buah rumah panggung yang letaknya di bagian kanan dari tugu yang kami jumpai tadi. Dengan melalui jalan setapak, lebih kurang 40 meter kami melihat dua buah rumah panggung dengan atap berbentuk segitiga yang seluruh bagain rumah terbentuk dari kayu kayu tembesu berkualitas prima.  Penghuni rumah pun penyambut dengan ramah kehadiran kami sore itu. Beberapa anak anak belia berlarian dan mendekat ketika kami datang. Bagai kehadiran tamu jauh, pemilik rumah dan anggota keluarga mendekati kami. Saya langsung membuyarkan  pandangan pada dua rumah panggung yang gagah menjulang. Sungguh saya mengagumi akan konstruksi bangunan dan gaya khas bangunan masyarakat Lampung yang masih terpelihara hingga kini. Bahkan sang pemilik – yang merupakan pewaris dari silsilah keluarga di Gedung Batin – pak Rajamin menjelaskan bahwa dua rumah  kayu berbentuk panggung yang ada dihadapan kami kala itu berusia lebih dari 300 tahun!!!. Kekaguman saya semakin bertambah ketika mendapat  penjelasan panjang akan kisah dibalik 2 rumah panggung nan kokoh yang kami lihat sore itu. Suasana hujan tiba tiba turun deras. Aktivitas photo photo – mengabadikan moment dan narsis bersama berpindah dibagian dalam rumah. 

Suasana Rumah Panggung yang keduanya berusia lebih dari 300 tahun

Wefie bareng dibawah rumah panggung disela hujan - photo by Bang Yandes


Setelah cukup puas mengabadikan diri berphoto bersama – meski sebenarnya masih ingin berlama-lama, kami melanjutkan kegiatan sore itu di Kampung Wisata Gedung Batin.  Bang Yazed mengajak kami ke sebuah rumah panggung yang terletak pada bagian ujung kampung. Pak Ali – sang pemilik rumah panggung yang kami datangi  dan Istrinya menyambut kedatangan kami. Suasana hujan semakin bertambah deras. Kopi dan teh hangat disuguhkan oleh istri pak Ali dengan beragam camilan yang telah disiapkan bang Yazed. Sesaat saya menatap lekat lekat wajah pak Ali dan istrinya yang begitu bersahaja. Menerima kehadiran kami dengan penuh antusias dan bertutur banyak hal seputar kehidupan kampung Gedung Batin lengkap dengan aktivitas warganya.  Guyuran hujan justru menambah hangat percakapan akrab kami dengan pak Ali. Termasuk penjelasannya tentang barang barang tua peninggalan orang tua yang diwariskan dan dijaga secara turun temurun yang masih tertata apik dibagian dalam rumah panggungnya. Selain itu, pak Ali juga memperlihatkan lada hasil kebun  pribadi yang ia simpan di rumah. Jadilah ajang photo photo semakin bergairah!. 

Anak anak bermain dibawah rumah panggung

Mba Rian dengan Lada hasil kebun pak Ali

Sore di beranda rumah


 
Menikmati Kopi di rumah panggung - dengan Kursi yang usianya lebih tua dari usia saya. Vintage!!

Setelah hujan reda, bang Yazed mengajak kami melakukan aktivitas jalan sore kearah sungai. Suasana desa yang lengang dengan aktivitas  anak anak bermain di bagian bawah rumah panggung diakhir guyuran hujan.  Sungai Way Besai menjadi pemandangan sore yang indah di antara perkebunan karet yang rindang. Ajang photo photo tentu tak terelakkan. Terlebih letak jembatan yang sangat sayang jika tidak diabadikan.

Hamparan Sungai Way Besai

Hamparan Perkebunan Karet disebarang sungai Way Besai

Jembatan penyeberangan akses warga Gedung Batin.

Wajib.! Pose .


Senja beranjak keperaduan.
Malam seketika datang. Kami bergegas menuju rumah pak Ali, setelah menghabiskan sepanjang sore di sungai Way Besai.
Tawaran Oom Yopie untuk bermalam di rumah pak Ali pun kami setujui tanpa ragu. Meski kami tahu bahwa kami akan menghadapi suasana yang benar benar pedesaan. Tapi justru itu yang membuat kami senang.

Hidangan Sederhana dengan citarasa Istimewa.

Suasana Makan Bersama sembari bertutur banyak kisah.


Suasana malam semakin menarik. Lampu lampu rumah mulai benderang diantara gelapnya suasana jalan tanpa lampu penerangan bagai dipusat kota. Aktivitas mandi bergantian menjadi kegiatan kami selanjutnya. Kami harus sabar mengantri, berbagi kamar mandi yang hanya satu dan letaknya dibelakang rumah panggung dengan tanpa cahaya penerangan menuju kamar mandi tersebut.
Seusai mandi, kami melanjutkan santap malam bersama dengan menu masakan rumahan yang khas nan lezat persembahan istri pak Ali. Lagi lagi kami bahagia bukan kepalang ketika menyantap sajian makan malam yang bercitarasa lezat dengan suasana rumah panggung. Terbayang berada dalam kehidupan sederhana namun penuh kesahajaan.

Suasana malam Gedung Batin dari Beranda rumah Pak Ali.

Suasana tidur kami - diabadikan oleh Mba Katerin +Katerina. S 


Beberapa dari kami masih menikmati malam dengan bersantai di beranda rumah panggung dan menikmati malam di kampung yang tak begitu banyak orang lalu lalang.  Hingga kemudian ajang bertutur banyak kisah hingga hal hal konyol pun terjadi diantara kami. Tanpa ada sekat seolah kami begitu dekat. Bagai sebuah keluarga baru.
Suasana malam semakin sepi sebelum akhirnya kami tertidur dengan kasur empuk pemberian istri pak Ali.


KAMPUNG TUA PENUH CERITA.

Sesungguhnya, Gedung Batin merupakan kawasan pemukiman yang awalnya merupakan contoh pemukiman warga yang dibangun oleh penjajah Belanda.
Penjajah berharap, bentuk dan contoh bangunan yang mereka prakarsai  tersebut dapat diteruskan oleh para masyarakat yang bermukim dikawasan Gedung Batin bahkan hingga beberapa desa yang berdekatan dengan Gedung Batin. Demikian penuturan pak Ali dan pak Rajamin yang saya tangkap pada pagi hari disela persiapan kami meninggalkan  Gedung Batin untuk kegiatan kunjungan berikutnya.

Obrolan pagi hari


Pagi itu, seusai beristirahat  cukup, kami mendengarkan penuturan pak Ali dan pak Rajamin yang telah bergabung bersama kami. Saya pribadi telah jauh lebih awal menyimak pemaparan kisah pak Ali – sang pemilik rumah ketika rekan rekan yang lain masih mandi dan berkemas. Sarapan pagi semakin berarti dengan kisah kisah inspiratif yang dituturkan pak Ali dan pak Rajamin sembari seruput Kopi.

Obrolan serius mba Rian dengan pak Ali - pemilik Rumah yang kami tumpangi bermalam.


 
 (dari Atas) pak Rajamin, Istri pak Ali dan pak Ali.

Follow Instagram saya ; duniaindra

Keberadaan sungai Way Besai yang mengelilingi kawasan Gedung Batin menjadi oase kehidupan dan menambah ke-khas-an Kampung Wisata Gedung Batin. 
Perhatian pemerintah daerah kabupaten Way Kanan pun semakin serius dengan Kampung Wisata ini.  Beberapa  rencana yang tertuang dalan master plan berupa penataan Kampung Wisata Gedung Batin menjadi kawasan wisata berbasis alam dengan komponen pendukung dan infrastrukur yang memadai kelak akan diwujudkan  Potensi Desa Wisata dengan kearifan lokal dan kekayaan budaya Lampung nan agung sungguh merupakan daya tarik Gedung Batin yang tidak akan didapat di kawasan lain.
Khasanah kehidupan bermasyarakat dengan ritme yang alamiah adalah kekuatan yang dapat disinergikan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana penuturan pak Rajamin, bahwa dengan adanya kunjungan wisatawan ataupun warga dari luar Kampung Gedung Batin diharap dapat memberikan keuntungan secara langsung pada seluruh masyarakat yang tinggal di Gedung Batin dengan keterlibatan dan peran aktif seluruh komponen masyarakat yang bertempat-tinggal di Kampung Wisata Gedung Batin. Semoga.

… Simak pula kekaguman saya akan bentuk bentuk rumah yang ada di dalam kawasan Kampung Wisata Gedung batin di tulisan selanjutnya.

Minggu, 31 Juli 2016

KISAH PERJALANAN WISATA 4 HARI ; DARI WAY KANAN HINGGA KILUAN

Salah Satu Rumah Panggung yang ada dalam Desa Wisata Gedung Batin - Way Kanan


Berawal dari ajakan Oom Yopie – Admin Akun @KelilingLampung_  dalam pertemuan disela tugas saya memandu acara di kampus ITERA-lah yang membuat saya akhirnya ikutserta dalam perjalanan wisata ke kabupaten Way Kanan dan Teluk Kiluan – Tanggamus – Lampung.  Ajakan berwisata tentu selalu menggiurkan. Rugi jika di tolak. Terlebih bersama sosok yang menyenangkan.  Tergambarlah suasana perjalanan seru meski  perjalanannya sendiri belum dimulai.

Sarapan pagi sekaligus moment perkenalan personal - Group menuju Way Kanan


Selepas waktu subuh. Oom Yopie menghampiri saya setelah 4 personil lainnya dijemput di hotel. Mereka adalah Mba Katerin – yang sudah saya kenal sebelumnya dalam beberapa perjalanan. Lalu ada mba Rosana dari Balikpapan – Kalimantan, Mba Rian dari Yogyakarta, dan Mba Dian dari Batam. Keempat wanita tersebut telah tiba di Lampung dan sempat bermalam sebelum akhirnya hari ini akan menjelajak ke Way Kanan bersama Oom Yopie dan saya.
Sebagai Informasi – melakukan perjalanan bersama Ibu Ibu itu menyenangkan bagi saya. Karena saya merasa jadi anak lelaki yang akan dilindungi oleh sosok ibu – ibu hahahha. Kecuali mba Rian yang belum jadi Ibu Ibu – alias single berlabel.!!.

Kondisi jalan menuju Way Kanan yang relatif baik dengan lalu lintas lancar.


Jadilah pagi itu kami semua men-tasbihkan diri sebagai group yang akan melancong ke kabupaten Way Kanan – salah satu kabupaten di provinsi Lampung yang letaknya bersebalahan langsung dengan kawasan Sumatera Selatan. Mengingat waktu tempuh yang cukup jauh, kami memutuskan untuk sarapan pagi terlebih dahulu di warung nasi uduk depan bandara Radin Inten II.  Ritual sarapan berlangsung lancar lengkap dengan photo makanan –  yang seolah telah jadi hal wajib bagi pejalan. Lumayan nambahin photo dalam bertutur di blog kelak, hehehehehe.

Iconic Tower di Blambangan Umpu - Way Kanan.


Setelah sarapan, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Jarak Bandar Lampung – Way Kanan yang lebih kurang 167,7 km tersebut tidaklah terlewat begitu saja. Tidaklah mungkin seorang pejalan apalagi ber-label travel blogger hanya berdiam diri selama perjalanan. Pembicaraan akrab dan seru mewarnai perjalanan. Topik obrolan hangat diselingi canda tawa pelepas penat tentu jadi keseruan tersendiri dalam perjalanan.


MENIKMATI WISATA WAY KANAN

Sekolah yang pernah saya rasakan ketika kecil dulu di Baradatu


Pukul 10.30 WIB kami tiba di Way Kanan.  Melihat keramaian Baradatu – salah satu kecamatan di Way Kanan seolah membangkitkan kenangan masa kecil saya.
Saya pernah mengenyam pendidikan selama kelas 4 di Sekolah Dasar Negeri Tiuh Balak Pasar – Baradatu, sebelum akhirnya berpindah pindah sekolah kala itu. Saya sempat meminta pada Oom Yopie – sang pengendali kemudi untuk berhenti sejenak di sekolah SD yang menjadi bagian sejarah hidup saya tersebut untuk sekedar mengabadikan beberapa sudut sekolah. Dejavu pun melanda.

Makan Siang lezat di Way Kanan. Sambalnya Nendang.!!


Ketika masuk kawasan Blambangan Umpu – Ibukota kabupaten Way Kanan, Oom Yopie mengajak kami bertemu rekannya yang kemudian membawa kami menikmati makan siang yang sungguh lezat dicecap. Seusai makan siang, kami pun sempat beristirahat sejenak di rumah rekan Oom Yopie – yang memiliki akun facebook Rinto Macho.
Sebenarnya, Oom Yopie dan bahkan kami semua memiliki agenda untuk dapat beraudiensi dengan Bupati Way Kanan berkenaan dengan misi kami mendatangi spot wisata menarik di Way Kanan. Meski  rencana audiensi harus dibatalkan karena jadwal Bupati yang sedang padat hari itu.

Ketika Stasiun Kereta Api jadi spot menarik untuk di kunjungi --- photo narsis jangan lupa.!!


Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Wisata Gedung Batin yang letaknya berada dalam kecamatan Baradatu setelah beberapa menit  kami diajak “Blambangan Umpu City Tour “  mengabadikan spot photo menarik.  Memasuki kawasan Desa Gedung Batin, saya seolah melihat peradaban asli suku Lampung masa lampau dengan tata kehidupan dan cara fikir masyarakat yang sudah cukup modern.

….Pengalaman saya berada di Desa Wisata di Gedung Batin akan saya tulis tersendiri. Karena kesan saya yang begitu dalam terhadap Desa Wisata ini. Termasuk sensasi bermalam di rumah panggung berusia tua yang ingin rasanya diulang lagi jika suatu hari kelak kembali ke Way Kanan.


Suasana Sore di 2 rumah yang usianya lebih dari 300 tahun yang ada dalam kawasan Desa Wisata Gedung Batin


Setelah menikmati bermalam di Desa Wisata Gedung Batin,  kami bergegas menuju salah satu objek wisata ternama di kabupaten Way Kanan yang akhir akhir ini tengah mahsyur dikalangan pecinta wisata, yakni Air Terjun Putri Malu.  Sudah tak asing lagi bahwa Way Kanan adalah kabupaten dengan sebutan 1000 Air Terjun. Bahkan ada sebuah air terjun yang suasananya mirip dengan air terjun ternama kelas dunia ; Niagara – tetapi dalam versi Way Kanan.

Bersama 3 ibu ibu muda kece bingit dan 1 single berlebel paling depan

Perjalanan ke Air Terjun Putri Malu harus kami tempuh lebih kurang 1 jam dari pusat keramaian Baradatu kearah Banjit. Tidak terlampau sulit menuju kawasan Air Terjun Putri Malu meski harus juga dengan perjuangan yang tidak mudah. Tapi bukankah yang sukar itu selalu berbuah keindahan. Karena sesuatu yang indah itu justru muncul diakhir dari perjuangan kan?.

… Kisah kunjungan saya dan rombongan menuju Air Terjun Putri Malu akan saya tulis terpisah. Mengingat banyak hal hal menarik yang harus di jabarkan secara khusus.

Hidangan Lezat, Suasana memikat - persembahan Selebriti Cafe - Bandar Lampung.


JELAJAH  KEINDAHAN TELUK KILUAN

Seusai  menikmati Air Terjun Putri Malu, saya dan rombongan bergegas kembali ke Bandar Lampung. Perjalanan pulangpun lancar, sebelum akhirnya sajian lezat di Selebriti Café menjadi sajian makan malam sekaligus menjadi penghilang lelah setelah menempuh 5 jam perjalanan dari kabupaten Way Kanan  ke Ibukota provinsi Lampung – Bandar Lampung. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah dulu mengingat berganti perlengkapan jelang jelajah Teluk Kiluan.

Group semakin ramai - bersiap menuju Teluk Kiluan


Seolah tak ada lelah untuk berwisata, Perjalanan mengandung wisata bagai menjadi  hasrat dan kegembiraan tersendiri.
Benar saja. keesokan paginya saya beserta rombongan yang sebelumnya ke Way Kanan menjemput rekan rekan trip ke Teluk Kiluan di Bandara. Sebelum akhirnya kami yang telah berjumlah 17 orang dengan 3 mobil melajukan semangat menuju Teluk Kiluan. Suasana kebersamaan seketika tercipta.
Sebelum menuju Teluk Kiluan aktivitas diawali dengan kunjungan ke Taman Kupu Kupu Gita Persada dan makan siang bersama di Pindang IKA sebelum akhirnya jelajah Gigi Hiu – Kelumbayan  dan dilanjutkan dengan bermalam di cottage dalam area Teluk Kiluan.

bersama mereka - sosok yang baru saya kenal tetapi selalu menghadirkan kebahagiaan.


Dua hari bersama sosok sosok pejalan sejati sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Yang paling utama, saya mendapat kenalan baru, pribadi pribadi menarik dengan beragam latar belakang profesi yang mereka geluti hingga saya mendapat inspirasi akan ketekunan dan ketangguhan mereka sebagai jiwa pejalan wisata  dan penulis blog yang aktif.  Meski tidak semua dari 17 orang yang terlibat – yang terdiri dari ragam usia tersebut saya kenal akrab, mengingat waktu pertemuan yang cukup singkat ditambah ada beberapa pribadi yang cenderung diam dan tertutup sehingga sulit untuk cepat melebur dalam group selain ada yang sedang  jaga image. Oops.!.

Selalu ada keindahan dibalik upaya terjal. -  menuju Gigi Hiu.


Bagi saya, apapun bentuk dari Traveling itu adalah sebuah perayaan.
Perayaan diri sendiri dari waktu luang yang memang harus dinikmati. Menikmati waktu dan lingkungan yang dijajaki dalam perjalanan. Menikmati menjadi diri sendiri yang belum tentu dapat terjadi dalam aktivitas rutin atau kala bertugas jadi pekerja. Menikmati kondisi yang didapati, apapun kondisinya.  Termasuk soal signal  yang tak leluasa dijangkau hingga berdampak pada terhambat mem-posting photo di media sosial.
Selain itu, Traveling – dalam perspektif saya adalah pembelajaran. Karena setiap perjalanan harus memiliki nilai yang dapat menambah kematangan personal. Tidaklah  indah sebuah nilai perjalanan jika sebagian besar waktu hanya dihabiskan bersama gedged tanpa ada interaksi dengan rekan pejalan lainnya yang tergabung dalam team trip. Karena pembelajaran hanya diperoleh dari bentuk interaksi. Dan interaski yang laping mudah adalah dengan setiap macam pribadi. Karena sesungguhnya, setiap pribadi itu unik dan memiliki keunggulan. Tentu seorang pejalan sejati  mampu  menghargai kondisi dan rekan pejalan lainnya dalam group kecuali jika jalan sendiri.


Mari berwisata. Nikmati hidup dengan mendatangi langsung karya Tuhan  berupa keindahan alam yang memamg harus dinikmati.
Scroll To Top