Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 25 September 2015

SITI RAHAYU ; SOSOK GIGIH DI BALIK DESAIN SULAM USUS TERBAIK.

 
ibu Siti Rahayu dengan busana sulam usus rancangannya.


Terkadang, ada masanya sisi kreatif seseorang justru muncul pada kala ia merasa tidak berdaya. Begitu kiranya beberapa orang orang pernah berujar pada saya. Dan begitu pula pengakuan tante Rahayu.

Bernama lengkap Siti Rahayu - pemilik dari Rahayu Gallery Lampung - sebuah gallery yang tak hanya memiliki beragam kreasi Tapis dan tenun khas Lampung tetapi juga ragam Sulam Usus - sebuah seni sulam warisan nenek moyang suku Lampung Pepadun sejak dulu.

Siang itu, seperti biasa - tante Rahayu - begitu saya akrab menyapanya, sedang teliti memantau pekerjaan beberapa karyawannya. Bertempat di bagian belakang rumah - tak jauh dari Rahayu Gallery, sekitar 8 wanita usia dewasa tampak dengan cekatan dan teliti melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya masing masing. Sesekali tante Rahayu mengoreksi sulaman yang sedang dikerjakan karyawannya itu.
"Beginilah aktivitas harian tante sekarang." ujar pensiunan Pegawai Negeri Sipil itu ramah, setelah puluhantahun mengabdikan diri pada pemerintah daerah Lampung. 
"Semua bermula kala Suami tante wafat di tahun 1997..." ucap tante Rahayu mengenang perjalanannya menggeluti bidang kerajinan Sulam Usus. Meski sebelumnya tante Rahayu telah lebih dahulu berbisnis di bidang sulam Tapis. Sebagai seorang Ibu dengan 4 anak kala di tinggal pergi selama-lamanya oleh mendiang suaminya - Andi Supandi, yang membuat tante Rahayu serius menggeluti bidang sulam usus. Bagaimana tidak, tuntutan sebagai seorang single parent di tahun itu sungguh berat. Terlebih serangan Krisis Ekonomi melanda negeri di tahun 1998.
"Itu masa berat bagi tante..." kenang tante Rahayu. Terlihat ada genangan kecil di sudut matanya. "Tapi Tuhan tidak pernah tidur untuk Umat-Nya." ucap tante Rahayu optimis. Ada upaya menghilangkan moment sedih dalam fase kisah yang ia tuturkan. 


Tante Rahayu dan beberapa karyawannya


Masa krismon yang melanda Indonesia di masa 1998 justru membuat semangat seorang tante Rahayu bangkit. Jika sebagian masyarakat mengeluh krisis bahkan media cetak dan Televisi menyebarluaskan krisis ekonomi yang mendera Indonesia hingga terjadinya demonstrasi, penjarahan dan hal hal negatif lainnya, tidak demikian dengan seorang Siti Rahayu. Ia seolah mencari celah bangkit dari keterpurukan yang melanda nusantara. Berbekal semangat dari sang Kakak yang juga Designer Lampung yang telah berkiprah nasional - Aan Ibrahim lah tante Rahayu mengerahkan segala kemampuannya untuk menekuni bidang sulam usus. Perlahan tapi pasti tante Rahayu justru memberdayakan banyak Ibu ibu muda dan para remaja wanita putus sekolah sekitar lingkungan dimana ia tinggal untuk bersama sama mengerjakan kerajinan sulam usus di bawah binaannya. Semakin lama, kelompok binaan tante Rahayu justru menjadikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang yang pada tahun itu terkena PHK. "Kelompok kelompok binaan itu tetap saya miliki hingga kini." jelas tante Rahayu sembari menjelaskan tahapan demi tahapan pembuatan sulam usus pada saya.

Gerai RAHAYU GALLERY - Lampung dengan ragam kreasi Sulam Usus.

Bagi seorang tante Rahayu, pembuatan sulam usus itu haruslah dengan ketekunan dan kesabaran. Karena setiap detailnya harus dikerjakan dengan cermat. "Tidak bisa seseorang menyulam dengan emosional." timpal tante Rahayu.
Ia menjelaskan, tahapan demi tahapan dalam proses pembuatan sulam usus memakan waktu yang tidak cepat. Terlebih segala proses pembuatannya tidak melibatkan mesin. Semua dengan tangan tangan terampil. 
Dengan proses ketekunan itulah, tante Rahayu berhasil dekat dengan banyak pihak yang selalu setia jadi pelanggannya. "Pelanggan setia dan loyal itu jadi salah satu kekuatan saya berkarya." ucap tante Rahayu yang cukup dekat dengan para keluarga pejabat dan kaum sosialita baik di Lampung maupun di Jakarta. Bagi pelanggan setia, pemesanan busana pun dapat di lakukan via ponsel.

Tante Rahayu  dalam gerai Rahayu Gallery miliknya.


Kini, selain merancang desian busana sulam usus dengan kualitas eksklusif - tante Rahayu terus berinovasi dan membagikan kemampuannya dalam bidang sulam usus pada banyak pihak. Menjadi pembicara pada beberapa pelatihan keterampilan kerap ia jalani. Selain itu pembinaan pada kelompok - kelompok kerja terus ia galakkan semakin luas. "Saya ingin setiap ibu ibu muda yang tidak berkerja atau remaja puteri yang putus sekolah dapat menghasilkan uang dengan membuat sulam usus ini." demikian harapan seorang Ibu dengan 4 puteri tersebut.


Upaya tekun tante Rahayu terus membuahkan hasil. Kini, masyarakat telah mengenal keindahan Sulam Usus dan mulai menyukai menggunakan Sulam Usus di beberapa kesempatan. Tak hanya itu, dalam Rahayu Gallery miliknya, tante Rahayu tak hanya berkutat mengolah Sulam Usus menjadi busana yang mempesona tetapi juga aneka kreasi menarik diantaranya sarung bantal kursi, taplak meja, aplikasi pada busana pria hingga alas bed cover. Ciri sulam yang halus dengan motif yang tak umum adalah keisitimewaan desin sulam usus tante Rahayu. Itulah sebabnya hasil karya tante Rahayu pun terbilang cukup tinggi. untuk busana  pendek atasan wanita dengan waktu pembuatan dua minggu bisa mencapai harga Rp.750.000 hingga 1 juta rupiah. Terlebih jika busana kebaya panjang atau gaun panjang dengan proses handmade  menelan waktu pembuatan bisa hingga tiga bulan dipatok dengan harga paling murah 2 juta hingga 8 juta rupiah bahkan bisa mencapai 10 juta jika berpayet lengkap plus taburan batu swarowski. 
"Ada rupa, ada harga." ujar tante Rahayu yang mengutamakan kualitas dengan desain eksklusif tersebut tersenyum manis.




Siti Rahayu dengan salah stau karya busana Sulam Usus dan beberapa sulam tapis eksklusifnya.





2 komentar :

  1. Wah ternyata udah ada Galerry Rahayu ya, aku mau pakai nama itu hahahah....

    BalasHapus

Scroll To Top