Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Selasa, 05 September 2017

MENENGOK TUNGKU KUALITAS EKSPOR DARI BRAJA LUHUR - LAMPUNG TIMUR



Awalnya, saya hanya bermaksud mengisi waktu luang dengan melihat-lihat bagian belakang rumah pak Lurah – kali aja ada durian runtuh, atau hal hal unik yang menarik, hehehe.  Tapi justru, saya melihat hamparan tungku tungku yang ternyata di proses secara masal  dengan kualitas ekspor!.


tampilan tungku setelah melalui proses pembakaran sempurna

Siang itu, saya dan rekan-rekan blogger dari Bandar Lampung yang di undang dalam gelaran Village Carnival Lampung Timur di bawa singgah ke rumah pak Lurah yang jaraknya tak terpaut jauh dari lokasi pelaksanaan acara Village Carnival.   Beberapa kendaraan terparkir di pekarangan rumah pak Lurah. Rekan-rekan pihak media cetak dan elektronik telah lebih dulu hadir. Maklum, acara Village Carnival siang itu merupakan hajatan akbar desa Braja Luhur kecamatan Braja Selebah kabupaten Lampung Timur. Sebagai sebuah hajatan tahunan, sudah barang tentu pihak desa mengundang beragam pihak untuk bersama-sama meramaikan, termasuk kehadiran media untuk peliputan.


Setelah berkenalan dengan pak Lurah termasuk rekan rekan media cetak dan elektronik yang hadir, plus menikmati kopi hitam suguhan empunya rumah, saya meminta izin ke bagian luar rumah. Mulanya, saya melihat lihat bagian pekarangan sembari berniat mengisi waktu kosong sebelum gelaran Village Carnival dimulai. Langkah kaki saya bergerak kebagian belakang rumah, melihat kolam ikan yang cukup luas. Dua pria dewasa terlihat sedang memancing ikan di pinggiran kolam tersebut. Saya sempat berbincang sejenak menanyakan kondisi kolam dan bentuk ikan patin kecil hasil tangkapan mereka.

Tak jauh dari posisi saya berbincang dengan dua pria yang sedang memancing ikan di bibir kolam, saya melihat tenda-tenda membentang di sisi lain dari pekarangan belakang rumah pak Lurah. Saya pun beranjak menuju tenda-tenda tersebut setelah mendapat informasi dari pria yang sedang memancing  tadi seputar aktivitas pembuatan tungku dibawah tenda-tenda tersebut.

wujud tungku setelah pembentukan dan pembakaran

Benar saja, bentuk tungku tanah berwarna cerah langsung terlihat di antara bentukan tungku yang sedang dalam proses pembuatan. Bagai menemukan cahaya dalam gelap, saya jadi bersemangat mendekati seorang pria yang sedang menata beberapa tungku yang terlihat telah siap jual. “Tungku-tungkunya bagus, mas…” basa basi saya membuka pertemuan usai mengenalkan diri. Sang pria bernama Pujianto yang merupakan pekerja di kawasan pembuatan tungku itu pun ramah menerima kehadiran saya. Meski terlihat sedang tekun melaksanakan tugasnya.

Yang menarik, tungku-tungku yang ada di hadapan saya siang itu justru berbahan dasar abu sekam dari proses pembakaran batu bata!. Menurut mas Pujianto, bahan membuat tungku merupakan sisa pembakaran dari tobong batu bata. “Dua manfaat sekaligus dari proses pembakaran batu bata.’ ucap mas Pujianto pada saya. “Batu bata nya matang, sisa pembakaran berupa abu sekam nya dimanfaatkan menjadi  bahan campuran membuat tungku.” jelas mas Pujianto pada saya.  

abu sekam

pencampuran adonan pembuatan tungku

Sebelumnya, menurut penuturan mas Pujianto,  abu sekam didapat dari penggilingan padi dengan harga Rp.8.000/karung. Setiap karung abu sekam yang  setelah melalui proses, dapat menghasilkan 3 buah tungku .

PROSES PEMBUATAN TUNGKU

Mas Pujianto mengakui bahwa pembuatan tungku berbahan dasar abu sekam tidaklah terlampau sulit. “dalam proses pembuatannya, butuh sabar dan telaten aja, mas..” sahut mas Pujianto saat saya tanyai kendala ia bekerja.

Dalam penjelasannya, mas Pujianto menuturkan runutan pembuatan tungku dibawah PT. Sinar Abadi tersebut dimulai dari  pencampuran abu sekam dan tanah liat menjadi adonan dasar. Kemudian adonan tadi diproses cetak menggunakan bentuk pot yang telah di buat melalui anyaman bambu sehingga menghasilkan wujud kasar dari sebuah tungku. Setelah itu, bentuk bahan yang telah melalui proses cetak kasar dan masih kondisi setengah kering tadi di haluskan (diprofil) bentuknya termasuk memberi lubang tungku dengan menggunakan  alat pembentuk sehingga terlihat wujud tungku yang diharapkan.   Bentuk tungku yang telah jadi, wajib melalui proses pengeringan selama 5 hari sebelum akhirnya masuk dalam proses pembakaran. Dibutuhkan waktu dua hari dua malam untuk proses pembakaran agar matang sempurna dalam kawasan pembakaran yang dilindungi khusus agar tidak terkena tetesan hujan. Pada musim panas, menurut mas Pujianto dapat memproduksi hampir 300 buah tungku setiap bulan. Dan hanya 100 hingga 150 buah tungku bila di musim hujan. 

wujud adonan yang di cetak

di cetak dengan bentuk pot anyaman

TUNGKU KEBANGGAN KUALITAS EKSPOR

Menurut penuturan mas Pujianto, pembuatan tungku di desa Braja Luhur telah menjadi penghasilan sebagain besar masyarakat desa. Bahkan usaha tungku yang mulanya bersifat industri rumahan itu berkembang menjadi usaha besar yang dikelola dengan baik hingga menjadi penghasilan bagi masyarakat desa. Yang mengagumkan, tungku tungku berkualitas prima yang di patok harga Rp.25.000 / buah itu telah menjadi produk ekspor yang menjanjikan. “karena kualitasnya bagus, tungku-tungku itu sekarang tak hanya di jual pada pasar nasional saja, tetapi juga jadi komoditi ekspor yang menjanjikan”. jelas pak Lurah ketika saya tanyai terpisah seputar  pembuatan tungku di bagian belakang dekat kediamannya tersebut.

setelah di cetak, dibentuk (diprofil) dengan alat hingga berwujud tampilan lebih rapih

tungku kualitas ekspor




Pak Lurah pun menjelaskan beberapa warga di desa Braja Luhur kini aktif mengembangkan usaha pembuatan tungku dengan kualitas terbaik. Terlebih adanya dukungan nyata dari Ibu Bupati Lampung Timur dan segenap jajaran pemerintah kabupaten Lampung Timur dalam pengembangan produksi tungku di desa Braja Luhur.
Kini, usaha pembuatan tungku di desa Braja Luhur telah menjadi kebanggaan masyarakat selain upaya bercocok-tanam. Meski beberapa kawasan lain di kabupaten Lampung Timur juga telah melakukan produksi tungku lebih dulu.

Sebagai suatu kebanggan masyarakat, bentuk tungku dijadikan icon desa dalam wujud menara tungku yang letaknya dekat dengan lapangan desa Braja Luhur.

25 komentar :

  1. Tungkunya miri[ yang digunakan para penjual nasi angkringan, hanya beda kualitas hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketebalan tungku yang aku lihat bagus ...wajar kalau jadi komoditas ekspor andalan

      Hapus
  2. Satu lagi kebanggaan ya Mas Indra, next ajak ke sana lagi ya buat explore hehehe... Kangen lampung jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. datanglah ke mari...backpack aja kabari aku insyaAllah aku temani ke tempat tempat kece lainnya...

      Hapus
  3. Baru tau kalau Tungku ternyata dieksport juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitu penuturan mereka di lokasi kejadian :)

      Hapus
  4. Serius cuma 25ribu? Jirrrr murah banget! Ekspornya ke mana, Mas? Euh klo deket bandung mah mau da beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia... aku juga beli 4 ..buat kasih ke mertua

      Hapus
  5. dibentuk aja butuh waktu 5 hari pengeringan dan lanjut dua malam.. itu untuk satu tungku.. kebayang kalau 300 .. usaha kayak gini udah mulai langkah orang cari ya bang. pengennya yang praktis2 gitu.

    jadi kebayang adegan film Ghost yang lagi asik bikin tembikar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahhaha film Ghost emang legend!!!.... mereka sekali buat masal bisa 50 buah dalam 3 hari pembuatan

      Hapus
  6. Siapa yg sangka ternyata tungku yg berbahan abu sekam ini menjadi salah satu produk ekspor kebanggaan Indonesia terutama masyarakat lampung ya.

    BalasHapus
  7. wah keren ini tungkunya. bentuknya mirip kompor gitu ya, bayangin masak pake itu, pasti lbh sedap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. beberapa warga masih menanak nasi pakai tungku itu...

      Hapus
  8. jadi pengen ke lampung euyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. datang lah..kabari aku nanti aku dampingi.

      Hapus
  9. Tungku, Tungku apa yang ada di lampung? Tungku Braja Luhur hehehe ....

    Menariknya ngulik pembuatan tungku

    BalasHapus
    Balasan
    1. lucu banged sih kakak ini..gemeeesss deeeccchhhh

      Hapus
  10. Keren yaa usaha tungku bisa mengangkat perekonomian suatu daerah..sukaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia mbaaa.... senang aja kalo product lokal bisa juga me-nasional bahkan internasional...

      Hapus
  11. Aku pikir itu pot tanaman. :) Ternyata tungku. Aku ngeri kalo datang ke sana, tungkunya pecah satu. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayunan yang tergantung aja bisa putus yaa..apalagi tungku yang terbuat dari tanah liat pasti pecah berkeping-keping yaaa hahahhahahaha..Oopss!!!

      Hapus
  12. Bagus programnya, Village Carnival. Jadi bisa tahu dan ikut promo perekonomian lokal. Good!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lampung Timur sedang giat giatnya buat banyak event event kece mbaaaa

      Hapus
  13. Nah, kapan lagi neh kita ke lamtim kak

    BalasHapus

Scroll To Top