Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Sabtu, 09 Desember 2017

PESONA SUOH ; KERAMIKAN DAN NIRWANA - BUKTI KEKAYAAN ALAM LAMPUNG BARAT.




 Mendapati cuaca cerah selama perjalanan ke Suoh itu bagai sebuah do’a yang dikabulkan sang Pencipta. Sejak pagi hingga tengah siang gumpalan awan dan langit bagai sedang bersolek kemudian berpose dihadapan segenap umat seolah tahu bahwa ia sedang dinikmati jutaan pasang mata dan diabadikan melalui bidikan kamera. Saya dan rombongan segera bergegas melanjutkan perjalanan ke kawasan Pasir Kuning, Nirwana dan Keramikan setelah sang pengayuh perahu memberi tanda kesiapan pada kami


selamat datang dalam kawasan Danau Asam
PELAYARAN KE PASIR KUNING

Untuk menuju bentangan pasir kuning, kami harus melakukan pelayaran mengarungi Danau Asam dengan perahu kayu bermesin.  Sebesar Rp. 15.000/orang (PP) adalah ongkos naik kapal. Nah, mengapa disebut Danau Asam?, konon kandungan sulfur lah yang menjadikan air danau terasa asam. Mau coba?, kalau saya sih ogah! Hahahaha
Kami tiba di hamparan Pasir Kuning, setelah pelayaran selama 15 menit mengarungi Danau Asam yang merupakan danau terluas dalam kawasan Suoh termasuk menyaksikan hijaunya padang savanna dan indahnya lereng bukit gunung ratu yang sekilas seperti suasana dalam film Jurassic Park.

mari menikmati pelayaran dengan mengabadikan suasana sekitar danau - photo by bang Endang
 
                            ....Baca Juga Pengalaman Perjalanan Tiba di Suoh... Kondisi Jalan ke Suoh

Seorang pria paruh baya menanti kami di tepian danau yang merupakan tempat berlabuhnya perahu kayu yang kami tumpangi. Tak ada dermaga kayu yang dapat kami jadikan pijakan saat tiba di tepian danau. Beberapa rekan musti rela sepatunya basah terjerembab dalam kubangan tepi danau. Kemudian kami berjalan perlahan diantara lumpur bibir danau yang bersinggungan langsung dengan kawasan pasir kuning. Beruntung saya memakai sandal gunung, sehingga tak perlu membuka sandal untuk melalui kontur lumpur meski terasa berat ketika melangkah diantara genangan lumpur yang menggelayuti sandal.

kapal sandar tanpa dermaga - tarik bang .... photo by bang Endang

usai berlayar lanjut melewati hamparan Pasir Kuning - photo by bang Endang

pakai sendal gunung itu pilihan tepat kalau ke SUOH
bebatuan yang menguning diatas hamparan pasir kuning karena sulfur

photo by bang Endang - hamparan Pasir Kuning bersama bang Hendra
  
JELAJAH JALUR RIMBA

Warna kuning pada bentangan pasir merupakan wujud dari pecahan bebatuan yang telah terkena kandungan sulfur atau belerang sehingga memancarkan rona kuning pada seluruh permukaannya.  Beberapa saat kami mengabadikan hamparan kerikil kuning berbalut belerang tersebut sebelum akhirnya kami bergegas mengikuti bapak paruh baya – pemandu rombongan kami menuju bagian  dalam hutan belantara. “ini jalan pintas menuju Nirwana” ucap pak pemandu mengarahkan langkah kami kebagian dalam hutan setelah melalui sungai kecil.  

Saya tak banyak komentar soal rute jalan yang kami lalui saat itu. Selain kondisi hutan yang benar-benar masih alami, dibeberapa bagian terdengar suara burung-burung yang perlahan menghadirkan nuansa magis. “beberapa babi hutan sering lewat di hutan ini…” tutur si bapak kearah kami sembari menunjuk kondisi tanah disepanjang jalan setapak yang kami lalui.  gggrrrhhh!,  penuturan si bapak bikin bergidik!.

melalui rute perkebunan warga




MENYAKSIKAN ATRAKSI SURGAWI

Setelah menyeberangi dua sungai dan tracking  dalam padang ilalang hingga masuk ke dalam jalur rimba, akhirnya kami tiba di kawasan yang kami nantikan sejak pagi memulai perjalanan.  Saat mata menatap gumpalan uap dari kejauhan saja saya sudah takjub. Dan semakin takjub ketika melihatnya langsung. Gugusan bebatuan yang membentuk lekuk geotrek akibat panas bumi.  Tak heran bila masyarakat Suoh menyebutnya hamparan Nirwana. Sesuai namanya, tempat dimana saya dan rekan-rekan pijak kala itu sungguh pesona surgawi yang membentang nyata di bumi Lampung Barat. Saya memang belum pernah ke Surga,  tapi setidaknya keindahan alam dalam letupan uap dan kandungan panas bumi dikawasan Nirwana serupa kondisi gambaran surgawi di film fiksi, hehehe.

…”pemberian kata Nirwana bukan hanya berarti ‘surga’, tetapi karena di dalam kawasan geotrek tumbuh subur dua pohon Wana diantara kondisi uap dan kandungan sulfur…” jelas Mamak Oenchu pada saya. …“itulah mengapa masyarakat sekitar menyebutnya NIRWANA, karena ada dua pohon Wana ditengah kawasan itu” imbuh Mamak Oenchu. Saya pun mengamati dua pohon Wana yang tumbuh rimbun ditengah himpitan bebatuan dan semburan air dan uap panas.



Dengan keunikan kawasan berhias gumpalan uap dan letupan air dari lubang disekitar Nirwana menambah semangat kami mengabadikan diri dengan bentangan Nirwana yang sungguh memesona. Meski dibeberapa bagian pengunjung harus berhati-hati.  Bebatuan kecil yang diletakkan diatas permukaan kawasan merupakan tanda agar pengunjung tidak menginjak lebih dari batas yang ditandai wujud batu tersebut. “…beberapa bagian ada kandungan gas berbahaya jika diinjak atau dilalui..” himbau bang Eka ketika saya sedang mengabadikan diri dibeberapa sudut kawasan Nirwana.

apic capture by bang Eka - saat di Nirwana


MENJEJAKKAN KAKI DI KERAMIKAN

Ingin rasanya berlama-lama dalam kawasan Nirwana, namun kami menyadari masih ada satu kawasan yang juga wajib kami kunjungi saat itu.   Saat perjalanan meninggalkan Nirwana kami sempat berpapasan dengan 5 orang Polisi yang tampaknya ingin melihat langsung kawasan Nirwana, hhmm… Polisi aja tertarik tandang langsung lihat Nirwana, masak kamu nggak?!!. Katanya traveler, My Trip My Advanture Wannabe, kok diem di rumah aja??...hhmmm. Kemon Genks!!

Kami mempercepat langkah menyusuri kawasan hutan, perkebunan hingga kemudian menghubungkan kami pada bagian depan dari kawasan  Keramikan yang terdapat beberapa pondok penjaja makanan dan minuman khas olahan warga setempat. Kami sempat singgah disebuah warung untuk sekedar mengisi perut dengan es cincau dan beberapa panganan yang dijajakan. Lumayan buat energi lanjutan. 

Struktur Geologi yang berujung membentuk sebuah fitur circular. Struktur geologi ini menjadi jalan bagi gas dan air panas untuk keluar ke permukaan - Sumber Akang Sonny ahli Geologi yang ikutserta dalam perjalanan

Saya dan rombongan tiba di Keramikan saat cuaca mulai mendung. Tak ingin menunda waktu, kami pun bergegas mengabadikan beberapa sudut penting dari bentangan Keramikan yang pesona uniknya membelalakkan mata saya.

Keramikan itu tercipta dari lahar yang mengeras sehingga membentuk seperti semen yang berdekatan dengan sumber air panas bumi. Keramikan Suoh juga merupakan daratan yang berasal dari cairan dan panas sulfur dari sumber panas Suoh yang endapannya telah ada sejak ratusan tahun silam. Jadi, kepulan uap panas dari kawah panas bumi itulah yang membuatnya tak henti menebarkan aroma belerang meski dalam kondisi diguyur hujan sekalipun.

kontur tanah yang dipengaruhi oleh panas bumi

kawasan Keramikan

TRAGEDI KAPAL MOGOK!.

Mendung menggelayut saat hari beranjak petang. Saya dan rekan-rekan pun memutuskan bergegas meninggalkan kawasan Keramikan untuk kemudian berjalan menuju letak perahu kayu kami semula.  Meski kemudian rombongan Polisi yang berpapasan dengan kami sebelumnya itu lebih dulu menggunakan kapal kayu menuju kembali ke kawasan daratan Danau Asam.  Kamipun harus rela menunggu kapal kembali menjemput kami setelah si kapal mengantarkan Polisi kedaratan. Okelah, toh kami masih bisa bergurau di jembatan dan sepanjang hamparan Pasir Kuning.

wefie - cara mengalihkan ketakutan ketika kapal mogok

Kami bergegas menaiki kapal kayu yang tak lama tiba menjemput kami. Usai menyusun posisi duduk dalam kapal kayu kami pun berpuas diri karena segala rencana kunjungan sepanjang hari ini terwujud nyata tanpa kendala meski rintik hujan mulai menyapa disore hari.

Meski begitu, senyum bahagia kami sesaat terhenti ketika mendapati kondisi mesin kapal yang kami tumpangi tak dapat menyala. Diam-diam saya mulai berimajinasi ; Semoga tak ada buaya dalam kawasan Danau Asam yang mendekat kearah kapal. Terlebih posisi kapal telah cukup jauh meninggalkan bibir danau.  Apalagi saya sadar betul tak pandai berenang bila nantinya kapal kayu ini terbalik. Aarrgghhh…. Sungguh imajinasi buruk itu tak perlu bertengger lama dalam kepala. Sayapun mengusir prasangka negatif tersebut dengan menjagak rekan-rekan untuk photo bersama – sebagai upaya mengalihkan ketegangan akibat mesin kapal tak kunjung hidup.

…”businya bermasalah kali ?...”, sahut Adul pada sang pengemudi kapal. Si pengemudi pun menelepon rekannya yang ada di daratan seberang. Makin lah saya takut!!. Untung kemudian Adul dan rekan rekan serempak bernyanyi lagu Indonesia Raya lengkap dengan mengkibar-kibarkan bendera merah putih sebagai simbol semangat kami sebagai satu tim pejelajah alam, meski diakhir lagu saya masuk dengan irama lagu dangdut Rita Sugiarto … “la le la le la le la le la “……


SAMBAL JENGKOL PEREKAT MALAM

Untunglah mogoknya mesin kapal kayu dapat diatasi. Kami pun bergegas meninggalkan pelataran Danau Asam usai berpamitan pada pemilik warung dimana kami menitipkan kendaraan bermotor sejak siang.

Perjalanan pulang terasa cepat,  meski kenangan sepanjang siang ini akan selalu lekat dalam ingatan. Betapa saya menyadari bahwa keindahan photo kawasan Suoh yang saya nikmati selama ini, merupakan buah dari  ketekunan dan pengorbanan sang photographer dalam menangkap moment indah. Selayaknya kita mengapresiasi loyalitas sang juru gambar akan totalitas profesi yang mereka tekuni.  Terbayang pula upaya para photographer mengabadikan pesona Suoh saat dahulu kondisi jalan tak sebaik sekarang. Bravo Photographer!.

All people on Tim - sungguh saya kagum dan bangga mengenal mereka semua yang ada dalam photo ini

moment singgah di warung makan pinggir jalan hanya karena ada sambal Jengkol

Dalam perjalanan pulang, diam-diam saya tersenyum pada diri sendiri, semacam ritual yang saya berikan pada diri sendiri, saat berhasil menjalani trip yang tak biasa namun dengan pesona destinasi yang mengagumkan.  Sama dengan kagumnya saya pada segenap rekan rekan di Lampung Barat yang berkenan menjadi bagian seru perjalanan saya ke Suoh.  Terima kasih atas waktu dan kebersamaan yang seru dan akan selalu jadi kenangan terindah termasuk berbagi jatah sambal jengkol  pada warung sederhana di pinggir jalan dalam  perjalanan menuju pulang, hahaha. Semoga tak bosan menerima kehadiran saya yang kelak akan kembali mengeksplorasi pesona Lampung Barat. Amin.

2 komentar :

  1. Luar biasa pengalaman ke suoh, ya. Jalurnya mantap. Jadi makin penasaran deh, sama suoh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayooo mba ke Suoh.... seru lho...dan keren banged....soal tips ke sana bisa di baca di postingan terbaru aku...hehehe

      Hapus

Scroll To Top