Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Jumat, 08 Desember 2017

PERJALANAN KE SUOH - PETUALANGAN MENAKLUKKAN KONDISI JALAN




Rencana bangun pagi tinggallah rencana.  Alarm yang di setting memang berbunyi, tapi saya dan Adul memilih melanjutkan tidur. Alarm bertugas, saya dan Adul pun menuntaskan hasrat tidur!, hehehe. Buat kamu yang belum pernah ke Liwa – Lampung Barat, kelak akan merasakan bagaimana udara di Lampung Barat itu menjamin kenyamanan tidur dan kenikmatan makan kamu!. Yes, di Liwa kamu akan enak makan, enak tidur.  Buktikan Sendiri.!
 
Kawasan Sekuting Terpadu - Liwa - Lampung Barat


Meski terbilang telat 2 jam dari rencana semula, Bang Eka sempat memberi waktu pada saya dan Adul mengabadikan Kawasan Sekuting Terpadu – lahan luas yang didalamnya terdapat Islamic center, pusat olah raga dan tentu saja acara-acara akbar kerap digelar dalam Kawasan Sekuting Terpadu tersebut. Dan yang menarik adalah tugu Sekura lengkap dengan atraksi panjat pinang layaknya acara dalam agustusan. Itulah enaknya jalan dengan orang-orang yang selera photonya bagus, setiap ada objek menarik pasti berhenti sejenak. Cekrek, Posting!!.
 
tugu Sekura panjat pinang

Kami sempat singgah sesaat dikediaman bang Endang, termasuk juga rehat sesaat di desa Sukabumi - rumah orang tua dari Mamak Oenchu,  sebelum kemudian konvoi menuju kawasan Suoh.  Jadi team yang berangkat pagi itu adalah ; Bang Eka sebagai ketua regu, bang Endang bintang endorse Herbalife, bang Hendra sebagai kuncen kawasan Suoh, Mamak Oenchu sebagai penunjuk jalan, Kang Sony – kuncen LIPI Lampung Barat, Anja dan Rizal – dua anak muda pencari cinta, bang Goen – yang konon telah 18 tahun tiggal di Liwa tapi belum pernah ke Suoh, lalu Saya dan Adul – dua onggok traveler yang merepotkan.   Dalam perjalanan, tak lupa saya berdo’a agar diberi keselamatan dan cuaca yang cerah.
 
Rumah Panggung Khas Lampung Barat di pekon Sukabumi

KONDISI TEMPUH MENUJU SUOH

Saya pribadi terbilang telat tandang ke Suoh setelah puluhan pejalan lainnya mengabadikan diri mereka di Suoh. Tapi kan yang namanya jalan-jalan tak ada kata terlambat. Toh kisah perjalanan setiap orang beda beda kan?. Apalagi kalau beneran jalan ya, bukan cuma repost berdasarkan kisah orang lain.
 
kondisi jalan menuju Suoh - 6 Desember 2017


Butuh waktu  1,5 jam berkendara sepeda motor menuju Suoh. Saya digonceng Anja sesekali mengabadikan beragam hal menarik sepanjang jalan. Melalui jalan yang bersinggungan dalam kawasan desa dan tentu saja view menarik sepanjang perjalanan. Mulai dari rumah-rumah panggung dalam kawasan desa khas Lampung Saibatin, perkebunan dengan beragam jenis tumbuhan, sungai yang bersih hingga bentangan alam yang mengagumkan mata.  Suoh adalah sebuah kecamatan dalam kabupaten Lampung Barat selain kecamatan Bandar Negeri Suoh sebagai hasil pemekaran. Dalam kawasan Suoh sendiri terdiri dari 4 Danau yang memiliki pesona masing-masing, yakni Danau Asam, Danau Belibis, Danau Lebar dan Danau Minyak.
 
Jalan beton bagus dan view yang kece Mampus!

Kontur jalan berkerikil


Akses menuju Suoh saat ini jauh lebih baik. “… dulu sebelum ada jembatan, kalau mau ke Suoh ya nyeberang lewat sungai itu..” ucap bang Eka mengisahkan pengalamannya. Kami berada di jembatan yang membentang diatas sungai Semaka kala itu – sungai yang menghubungkan kabupaten Lampung Barat dengan kabupaten Tanggamus. Istirahat sejenak setelah melalui beberapa desa dengan kontur jalan yang beragam. Mulai dari jenis jalan yang sedang dalam tahap pembangunan, jalan berkerikil, jalan aspal biasa hingga jalan aspal beton yang sedang digenjot pengerjaannya oleh pemerintah provinsi Lampung. Belum lagi kondisi jalan menanjak atau turunan yang curam berhias tebing dikiri dan kanan. Amazing road dah!! Suka tantangan?, ini cocok. Anak Mama?, dirumah aja.
 
Jalan Desa yang telah Jauh lebih baik

Bila melihat kondisi jalan saat ini dan kisah nyata masa lampau, terbayang betapa lamanya waktu tempuh menuju Suoh serta terbayang betapa butuh waktu yang lama hingga kemudian akses ke Suoh ini tersentuh oleh pembangunan seperti saat ini.  Akses jalan menuju Suoh yang juga bersinggungan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ini dapat juga dilalui dengan kendaraan roda empat, meski dibeberapa bagian kondisi jalan masih dalam proses perbangunan. Menggunakan sepada motor adalah solusi yang efektif dan efisien bagi kamu yang ingin tandang ke Suoh. Tapi bisa jadi beberapa bulan mendatang seluruh permukaan jalan rampung dalam pengerjaan. Buat kamu yang berminat tandang ke Suoh tapi bingung soal rute perjalanan, ada baiknya konsultasi ke Ojek&Homestay Piknik Liwa – HP/WA ; 082186409723

menunggu kedatangan rakit

BERAKIT-RAKIT KE TEPI SUNGAI

Kami sempat beristirahat sejenak pada sebuah gardu di bagian depan pekon Bandar Negeri Suoh  sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Sebenarnya, dari posisi gardu dimana kami beristirahat  tadi itu hanya tinggal belok kebagian kanan untuk tiba di tujuan utama kami dalam kawasan Suoh. Tetapi bang Eka dan rekan-rekan lainnya sepakat membawa serta saya pada sebuah sungai yang menghubungkan dua desa. Di sungai Semaka atau kerap disebut sungai Melebei tersebut telah bersiap getek atau rakit bambu berukuran panjang  yang kemudian akan mengantarkan kami beserta sepeda motor yang kami tumpangi menuju desa seberang sungai. Cadas!!!.  Emang beruntung kalau ngetrip sama yang doyan jalan. Sensasi petualangannya dapet banged!.  Jadi kalo mau dapet moment seru ke Suoh jangan Ngeluh yaaa
 
Menunggu Rakit menepi sebelum motor motor dan penumpang naik rakit

Proses sepeda motor naik ke Rakit

Mari menyeberang ke  ujung tepian

Dua pria pengemudi rakit turut membantu menata motor diatas rakit sebelum kemudian membawa serta kami dalam dua bagian. Bagian pertama ; Saya, bang Goen, kang Sony, bang Hendra, Mamak Oenchu, Anja dan satu warga setempat beserta sepeda motornya. Sedangkan bang Endang menyusul bang Eka dan Adul yang tertinggal iringan dibelakang plus terjadi insiden Rizal yang melaju jauh ke lain arah bersama motor bang Goen. Hhhmm… meski mulanya sempat sulit dihubungi, akhirnya kami mendapat kepastian akan keberadaan Rizal. Untunglah ia tidak masuk sarang penyamun, kan?!,  kasian sama yang punya motor lho, Hahahaha!!.
 
Usai merasakan sensasi menyeberangi sungai dengan rakit, kami pun kembali berjibaku dengan kontur jalan yang  belum tersentuh perbaikan. Tepatnya jalan areal persawahan dan perkebunan warga. Sebelum kemudian masuk dalam kawasan desa yang menghubungkan kami dengan kawasan wisata dalam kecamatan Suoh.

berputar arah menuju Danau Minyak

Mengalami sedikit kendala saat melintasi jalan tanah licin

DANAU MINYAK, MENARA PANDANG DAN PADANG SAVANA

Sempat melalui jalan tanah yang licin akibat hujan termasuk jalan yang rusak dan tak dapat ditempuh, membuat bang Eka dkk memutuskan untuk merubah rute kunjungan. Bila semula tujuan pertama kami ke kawasan Keramikan Suoh, maka kemudian berubah menuju kawasan Danau Minyak. Secara pribadi, saya dan Adul sih ikut aja. Lha emang gak tau apa-apa soal kawasan Suoh.

Setelah berjibaku dengan jalan tanah lembab, akhirnya kami tiba dihamparan nan indah yang disebut Danau Minyak. Secara kasat mata, permukaan air pada bagian danau terlihat lekat seperti air bercampur minyak. Di salah satu tepi danau terdapat kubangan air mendidih dengan aroma belerang yang menusuk penciuman.
 
Berlatar Danau Minyak

sumber air panas mengandung belerang di tepi Danau Minyak


Usai mengabadikan diri di kawasan Danau Minyak, kami beranjak menuju menara yang terpasang tak jauh dari kawasan Danau Minyak. Kawasan wisata Jagat Endah Lestari – begitu nama kawasan yang dikelola oleh masyarakat pekon Sukamaju kecamatan Suoh. Melihat kondisi menara sederhana yang terangkai dari kayu-kayu tersebut tampak penataan kawasan wisata yang sudah cukup lama.  Termasuk pondokan kayu yang sebagian kondisnya tergerus waktu. “Kawasan ini memang diperuntukkan sebagai tujuan wisata oleh masyarakat setempat ..” tutur Mamak Oenchu ketika saya tanya soal menara dan penataan kawasan sekitar menara.
Selain kami, siang itu kawasan menara pantau juga kedatangan dedek-dedek emesh pulang sekolah yang bermain-main disekitar kawasan menara. Mayan, ada bahan candaan, hehehe…
  
Menara Pandang dan dedek emesh yang baru pulang sekolah datang

Lokasi Kece Bana Bana !!! Instagramable !!!


Bilah-bilah kayu diatur sedemikian rupa membentuk pijakan hingga beragam ornament penunjang dari siapapun yang datang untuk mengabadikan diri dengan view sekitar termasuk latar kawasan Danau Minyak. Dari posisi menara juga terlihat gumpalan asap kawasan Keramikan dan Nirwana dibalik pepohonan hutan hingga bentangan Pasir Kuning, yang semuanya merupakan spot yang kelak akan kami kunjungi. Tapi yang paling mengagumkan adalah hamparan padang ilalang nan hijau bak savana dalam kawasan Suoh yang sangat instagramable!!.
 
SUMBA?, BUKAN, Ini SUOH - Liwa - Lampung Barat

pesona padang savana - Suoh - Lampung Barat

DUA TEMPAT MAKAN  DAN TIDUR SIANG COLONGAN

Kesepakatan untuk makan siang adalah hal yang menggerakkan kami untuk meninggalkan kawasan menara pandang dan padang savana setelah puas mengabadikan moment dengan photo suka-suka di segala sudut menarik. Urusan Perut memang tak dapat di tunda. Jadilah kami singgah disebuah warung makan dalam kawasan Danau Lebar – bentuk danau yang lebar dan letaknya tak jauh dari Danau Minyak dan Menara Pandang.
 
Wefie bareng di kawasan wisata - menara pandang berlatar Danau Minyak

Lega rasanya menuntaskan lapar dan dahaga di sebuah warung sederhana, dengan makanan dan suasana yang juga sederhana meski sempat terjadi obrolan yang tidak sederhana dengan penjaga parkir setempat.  Oh ya, buat kamu yang mau masuk kedalam kawasan Danau Lebar harus membayar Rp.5.000,- per orang.  Kami tidak masuk mendekat ke kawasan Danau Lebar. Meski saya sempat mengambil beberapa sudut gambar sebelum akhirnya kami menuju Danau Asam, yang letaknya pun tak jauh dari kawasan Danau Lebar.
 
warung warung di depan kawasan Danau Lebar


Di kawasan Danau Asam kami berteduh disebuah warung sembari menunggu kesiapan kapal kecil yang nantinya akan membawa kami melakukan penyeberangan kebantangan Pasir Kuning, Nirwana dan Keramikan – sebagai jalur tempuh alternatif karena rute jalan yang biasanya ditempuh sedang dalam kondisi rusak dan mustahil untuk dilalui oleh kendaraan roda dua.  Dan selama menunggu kesiapan kapal beberapa rekan memesan makanan. Bang Endang dan bang Hendra yang belum makan di warung dekat Danau Lebar tadi memesan ikan pada pemilik warung. Sembari menunggu Ikan ditangkap dan diolah menjadi hidangan makan, beberapa rekan memesan kopi dan menikmati jajanan warung. Termasuk Adul yang makan ronde kedua!,hahaha. Tapi yang menyenangkan, selama yang lain makan dan bersantai saya sempat tidur sesaat!. Lumayan lho, merebahkan badan di amben warung dengan angin sepoi-sepoi. Hhmmm….

 …. Oh ya, sembari sajian makan siang matang dan oleh karena saya sangat menikmati tidur siang, maka kisah ini bersambung  pada paruh kedua ya …. Hehehe
Harap Bersabar. Perjuangan tandang ke Suoh belum usai lho.

7 komentar :

  1. Wadooh Wonderful namun sayang ya akses nya masih kurang untuk kesananya butuh perjuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. soal akses sudah jauh lebih baik dibanding puluhan tahun silam... hanya jalan masuk kebagian dalam saja yang memang belum selesai pengerjaan.

      Hapus
  2. Akhirnya ke Suoh juga ya bang! Mantep bana bana, jalannya udah beton halus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes..aku Senangnya pun Bana Bana...secara ditemenin abang abang traveller kece di Liwa itu...

      Hapus
  3. Wonderfull bangetttt, sumpah keren bangetttt

    BalasHapus
  4. ajak kesana mas. keren banget deh lampung

    BalasHapus

Scroll To Top