Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Kamis, 15 Februari 2018

MENYESAP UDARA SEGAR DI BUKIT MANTAR - SUMBAWA




Saat ini, bersantai di puncak bukit dengan landskap pemandangan indah adalah pesona wisata tersendiri. Meski letak perbukitan terbilang jauh dari pusat kota, tetap saja ada keinginan untuk mendatanginya. Bahkan tak sedikit dari puncak perbukitan yang menawarkan pemandangan indah tersebut memerlukan pengorbanan untuk mencapainya. Salah satunya Bukit Mantar – Sumbawa – Nusat Tenggara Barat.
***


 
Akses menuju puncak bukit Mantar - mulanya seperti ini ...

Semangat kami masih menggebu sore itu. Semangat yang telah saya, mba Donna, Bambang dan Pandu pupuk sejak awal keberangkatan kami dari pusat kota Sumbawa hingga ke Sumbawa Barat. Setelah perjalanan yang penuh gelak tawa, menikmati jagung Rhe yang ternyata tak cukup 1!!!. Hingga tandang ke pulau cantik tak berpenghuni – pulau Kenawa plus nyanyi-nyanyi tak jelas selama pelayaran!. Lengkaplah kisah sejak pagi hingga sore ala kami, Kuartet Jaya!!. 

RUTE MEMIKAT MENUJU PUNCAK

“Pak Syamsul sudah menunggu kita” ucap Bambang saat kami meninggalkan Pelabuhan Poto Tano menuju desa Seteluk. Saya pun mengangguk.  Pasrah saja soal rute kunjungan. Manalah saya tahu soal Sumbawa apalagi lokasi bukit Mantar. Tapi yang saya tahu bukit Mantar pernah jadi lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang. Film produksi tahun 2011 arahan sutradara Arie Sihasale tersebut menyuguhkan sinematografi yang apik selain alur cerita dan kekuatan tokoh didalamnya. Saya pun semakin penasaran untuk mendatangi kawasan desa dan bukit Mantar yang pernah saya saksikan di film Serdadu Kumbang tersebut.
Kendaraan yang kami tumpangi harus parkir di rumah pak Syamsul, di desa Seteluk. Bisa saja membawa sepeda motor kebagian puncak bukit, selagi kemampuan mengemudikan sepeda motor terbilang piawai. “bawa mobil sampai ke puncak saja saya tak sanggup, apalagi bawa sepeda motor.” sahut Pandu ketika saya tanyakan kemampuannya bawa kendaraan ke puncak Bukit Mantar.

Mantar adalah nama salah satu desa yang berada dalam kecamatan Poto Tano kabupaten Sumbawa Barat. Terletak di ketinggian 660 mdpl,  menjadikan desa Mantar merupakan kawasan desa yang cukup sulit diakses karena berada di puncak perbukitan.
Untuk mengakses puncak bukit Mantar, kami menaruh kendaraan di kediaman pak Syamsul di desa Seteluk. Kemudian kami naik kendaraan pick up yang disebut warga ‘Renjer’, dengan membayar 40 ribu rupiah perorang. Tapi karena petang beranjak gelap, kami membayar 50 ribu perorang – kasihan lho nganter ke puncak gelap gelap, hehehe. Lagi pula kedatangan kami ditunggui. Bukan cuma diantar terus ditinggal pulang. “ayo, kita segera berangkat sebelum sore semakin gelap” ajak pak Syamsul. 

kabut datang kala menuju puncak Mantar


Saya, Bambang dan Pandu berada di bak belakang. Mba Donna duduk bersama sang pengemudi dibagian depan. Perjalanan pun dimulai dengan melalui beberapa hunian warga desa. Sebelum kemudian Renjer yang kami tumpangi menembus kawasan hutan dan belukar dengan rute jalan menanjak. Yang mengagumkan, adalah kondisi jalan yang sungguh tak biasa. Pantas saja Pandu bilang tak sanggup bawa kendaraan ke puncak bukit Mantar. Kontur jalan tanah basah dengan pecahan batu dibeberapa bagian, ditambah beberapa lubang membuat perjalanan benar-benar menantang. Saya sempat mengabadikan kondisi jalan di awal perjalanan. Meski kemudian saya putuskan menyimpan kamera dan ponsel baik baik ketika kondisi jalan tak lagi bersahabat. “ada yang berani bawa motor dengan jalan begini?” tanya saya pada Bambang dan Pandu yang posisi duduk mereka telah bergeser akibat guncangan kendaraan. “banyak.” jawab Bambang singkat. Tentu Bambang malas menanggapi pertanyaan saya. Badan kami bertiga berpuntal-puntal dalam bak terbuka Renjer.  Sekuat tenaga kami menjaga kondisi badan. Meski berkali-kali kami menghadapi guncangan kuat akibat badan jalan yang berlubang. Wajarlah bila berkali-kali pula saya kentut dengan volume besar dan aroma super sedap mengudara!!. Maafkan saya.

Semakin menanjak, kontur jalan semakin tak beraturan. “masih lama?” tanya saya pada Pandu. “masih!!” sahut Bambang ketus. Terlihat wajah Bambang yang tak berminat menanggapi rentetan pertanyaan saya. “nikmati pemandangan diujung sana!, jangan nikmati kondisi jalannya!!” teriak Pandu pada saya.   Memang, semakin menanjak rute jalan, semakin jelas terlihat bentangan alam yang indah lengkap dengan kabut kabut petang yang menutupi sebagian kawasan di kaki bukit. Tapi sungguh, pesona alam yang nampak dikejauhan sangat kontras dengan kondisi jalan yang kami lalui. Buat kamu yang ingin ke Mantar, janganlah bawa sepeda motor kecuali kamu penakluk medan berat layaknya para jawara off road gitu!.

kondisi sebagian besar jalan menuju puncak bukit Mantar
 
salah satu warga dengan kendaraan roda dua. kamu berani ?

PANCARAN PESONA DESA MANTAR

Setelah berjuang menguatkan diri selama 40 menit dengan kontur jalan yang aduhai, kami tiba di pemukiman warga dibagian puncak bukit. “Selamat datang di desa Mantar!” ucap Pandu pada saya. Dari bak terbuka mobil pick up, saya melihat jelas aktivitas sore warga kala itu. Wajah wajah ramah menyambut kedatangan kami. Mobil yang kami tumpangi jadi satu satunya kendaraan roda empat yang melalui areal pemukiman warga. “tuh, rumah yang dipakai shooting Serdadu Kumbang!” ucap Pandu pada saya menunjukkan sebuah rumah panggung kayu bercat biru yang letaknya di sudut jalan. Saya pun terkagum melihat barisan rumah panggung terbuat kayu yang tertata rapih dalam kawasan desa Mantar. “kita sampai?” tanya saya menoleh ke Pandu dan Bambang. “Belum!” sahut Bambang menyambar sangar.

kondisi jalan dalam kawasan desa Mantar

barisan rumah dalam desa Mantar

suasana desa Mantar
 
Saya pun menikmati suasana desa dan areal kebun dari bak terbuka si Renjer yang kami tumpangi.  Terlihat warga lalu lalang di sepanjang jalan yang kami lalui. Beberapa diantaranya nampak kembali dari kebun. Beberapa remaja nampak sedang bersendagurau di beranda rumah panggung. Sajian menyenangkan mata dalam kesederhanaan sebuah desa.
“kita sampai!” teriak Pandu yang bergegas turun dari bak Renjer.
Saya pun ikut bergegas. Mengembalikan kondisi normal bokong seusai puluhan kali berpindah posisi duduk selama dalam perjalanan.
Pesona landskap dari puncak bukit Mantar nyata terlihat. Sama dengan gambaran yang tersaji dalam layar perak Serdadu Kumbang.  Nampaklah seluruh kabupaten Sumbawa Barat dari puncak bukit Mantar. Termasuk sebagian pulau Lombok yang dikelilingi Lautan. Bahkan dari puncak Mantar kita dapat melihat gugusan pulau pulau kecil seperti ; Gili Balu, pulau Paserang, pulau Belang, pulau Kalong hingga pulau Kenawa. Bahkan wujud dari gunug Rinjani pun terlihat jelas dari puncak bukit Mantar.
 
Salam dari Mantar, bukan Mantan !!

view yang menenangkan jiwa


Titik pandang dari puncak bukit Mantar terbilang rapih. Ada bagian yang telah di papping block yang biasanya dijadikan areal Camping Ground.  Jika kamu datang dengan membawa peralatan kemah, dapat mendirikan tenda di pelataran yang telah tertata rapih. Di area titik pandang juga ada beberapa makam selain sebuah rumah ukuran cukup besar yang dapat juga dijadikan tempat bermalam bagi para pengunjung yang tak kuat berkemah. Puncak bukit Mantar juga kerap dijadikan arena paralayang.

Kami datang terlalu sore kala itu. Meski gugusan pulau dan petak sawah dikejauhan terlihat jelas diantara gumpalan awan tebal di sekitar bukit Mantar.  Hanya ada beberapa pengunjung lain bersama kami. Tak begitu ramai, jadi bisa mengabadikan landskap tanpa bocor, hehehe.  Photo beragam gaya dan cara tentu jadi ulah kami selanjutnya.  Ingin rasanya bermalam di bukit Mantar tapi kami tidak membawa perlengkapan apapun selain baju dibadan. Lagi pula, bila kami bermalam, tak ada aktivitas yang dapat kami lakukan. Sebenarnya, ingin juga melihat kabut berarak ketika pagi beranjak esok. Tapi apa daya jadwal kegiatan kami begitu padat. Sombong!!.

 
Salam dari Mantan, eh salah Mantar

gaya suka suka.


Sejujurnya, ingin eksplorasi banyak hal di desa Mantar. Pingin juga bermalam dirumah warga desa Mantar lalu menyimak kehidupan keseharian mereka. Merasakan apa yang ada dalam scene Serdadu Kumbang. Tapi apa daya. Waktu saya dan rekan rekan tak banyak.   Bisa jadi lain waktu tandang kembali ke puncak bukit Mantar.
Malam pun beranjak. Kerlip lampu rumah warga mulai bermunculan. Perlahan aktivitas warga hilang diantara kabut senja dan gelap malam. Kami pun kembali menyusuri rute pulang. Bukit Mantar punya pesona dan juga sejarah yang menarik untuk ditandangi dan saksikan langsung. Meski akses jalan harus diperhatikan.  Kiranya pemerintah daerah berkenan mempercantik akses ke puncak bukit Mantar. Tak hanya berguna untuk kunjungan wisatawan, tetapi juga menunjang perekonomian masyarakat desa Mantar.  Meski akses jalan terbilang jelek, apakah saya kapok ke puncak bukiat Mantar?. Tentu tidak!. Tapi akan lebih keren jika jalannya dipercantik.

Noted ;
Untuk informasi seputar akses ke puncak Bukit Mantar, dapat hubungi pak Syamsul  – 081935943889

6 komentar :

  1. Yang pertama, ngaku aja lah loe ngabisin 7 jagung Rhe sekali makan, gak usah bilang lebih dari satu

    Kedua, loe tuh ya, emang urusan kentut gak ada tandingan, lagi offroad tetep aja kentut.

    Ketiga, dalam tulisan ini emang nyata banget ya loe sama bembeib tom n jerry beneran. Ngakak gue ngebayangin ekspresi jahil loe disamber muka sangar bembeib

    Keempat, hayuklah kita jalan lagi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWWKKWKWKWKW....Yesssss!!! aku abis jagung Rhe 7!!! dalam waktu cepat secepat kilat!!!... trus kalo Kentut yaa gitu deeehhh apalagi kalo suhu dingin abis makan banyak yaaa bawaanya buang angin mulu ...trus ama Bembem yaaa emang suka cela celaan..suka bebodoran...termasuk suka perah perah Susu!!!. SUSU!!!!

      yoklaaahhh Trip lagi.

      Hapus
  2. liat jalanannya seru juga mas.. kalau nyoba nginep di rumah warga mungkin bakal seru lagi ya.. sayang waktu ke sumbawa kemarin saya gak mampir ke mantar...

    BalasHapus
  3. duh kerennn bang indraaaa.. mau ke sumbawa...

    BalasHapus
  4. Sing sabar ya Mas Bambang hahaha :P
    Perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya terbayar dengan melihat keindahan pemandangan dr atas bukit Mantar ya :D

    BalasHapus
  5. Aku juga pernh ke sini bang, medannya emang agak berat ya terutama kalu musim hujan. Penduduknya ramah banget. ketemu yg albino ngak bang?

    BalasHapus

Scroll To Top