Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label banjarmasin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjarmasin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

LEBIH DEKAT DENGAN MONYET DI PULAU KEMBANG.



Beberapa Monyet di Pulau Kembang


Pulau Kembang.
 Jangan terburu menafsirkan kata Pulau Kembang dengan sebuah hamparan bunga aneka warna dan aroma di sebuah pulau.  Pulau Kembang ; Pulau dengan aneka Kembang ?, Anda salah. Justru Pulau Kembang mayoritas isinya adalah monyet dan bekantan.

Plang Pulau Kembang di depan Pintu Masuk

Pulau Kembang atau juga kerap di sebut warga setempat sebagai Pulau Kaget – karena suara monyet yang kerap membuat kaget warga, merupakan sebuah gugusan delta yang terletak di tengah Sungai Barito yang termasuk dalam wilayah administratif kecamatan Alalak, kabupaten Barito Kuala provinsi Kalimantan Selatan.  Pulau Kembang yang terletak di sebelah Barat kota Banjarmasin ini telah di tetapkan sebagai hutan wisata oleh Menteri Pertanian sejak tahun 1976 yang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Selain itu juga ada jenus Bekantan yang jika beruntung bisa di jumpai di Pulau Kembang.

Kondisi bagain dalam Pulau Kembang dengan bertebaran Monyet

Monyet di bagian depan menyambut kehadiran pengunjung


Siang itu, Saya – untuk bertama kali bersama mba Evi, mba Donna dan Halim mengunjungi Pulau Kembang. Setelah menaiki Klotok bermesin dari Dermaga Kuin dan mengarungi sungai Barito selama 25 menit, kami tiba di Pulau Kembang yang sudah sejak lama buat saya penasaran.

Menjajakkan kaki di Pulau Kembang akan bertemu loket masuk pada bagian dermaga depan. Rp.5.000 per orang jika Weekday dan Rp. 10.000 per orang jika Weekend. Setelah melalui pintu masuk utama dan plang Pulau Kembang, pengunjung akan melihat sebuah Altar.  Altar tersebut di peruntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi ‘penjaga’ Pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (hanoman). Karena kami datang siang, Bekantan yang buat saya penasaran tidak muncul.  “munculnya pas sore mas..” ucap ibu di loket tiket. Tapi yang menarik sejak masuk kebagian dalam dari Pulau Kembang yang di tumbuhi banyak jenis pohon rambai itu, pengunjung langsung di datangi oleh sekawanan monyet. Mulai dari yang berukuran kecil hingga ukuran besar. Monyet monyet kemudian bergerak lincah mendekati kami ketika kami sodori kacang kulit yang telah kami beli dari seberang pulau. Sayang selama penelusuran kebagian dalam Pulau Kembang  dengan jalan setapak yang di tata rapih tak satupun jenis Bekantan dapat kami lihat. Padahal yang buat saya penasaran untuk datang ke Pulau Kembang adalah wujud Bekantan yang kerap saya lihat sebagai mascot ketika datang ke Ancol – Dufan Jakarta. Saking terkenalnya Pulau Kembang dengan Bekantan, pemerintah Kota Banjarmasin menjadikannya Bekantan sebagai icon pada taman maskot di pusat kota Banjarmasin.

pengunjung bisa lebih dekat dengan monyet di Pulau Kembang


Meski tidak bertemu dengan jenis Bekantan, setidaknya di kelilingi puluhan monyet yang menghampiri dari ratusan habitat monyet di Pulau Kembang jadi hiburan tersendiri dan mengobati rasa penarasan saya yang telah sejak dua bulan sebelumnya mendengar kabar akan keindahan Pulau Kembang. Sayang serunya kunjungan saya dan teman teman siang itu cukup terganggu oleh sekumpulan ibu ibu dan bapak bapak yang secara berkelompok mengikuti kami yang kami fikir adalah pengunjung atau karyawan setempat ternyata meminta upah menemani kami. Padahal kami tidak meminta mereka secara keseluruhan untuk ikut serta menemani kami masuk ke areal dalam Pulau Kembang. Sangat mengganggu. Jika saja mereka lebih kreatif seperti menjual pernak pernik souvenir atau jajanan pasar di area depan pintu kedatangan Pulau Kembang tentulah akan jadi daya tarik pengunjung dan pemasukan buat mereka, tidak dengan mengintil pengunjung dan berakhir dengan meminta upah. Sesuatu yang mengangetkan pengunjung di akhir kunjungan sekaligus buat efek jera.

Meski telah di tetapkan sebagai Hutam Wisata oleh Kementerian Pertanian. Pemda kabupaten Barito Kuala dan Pemda Kalimantan Selatan tetap perlu memelihara Pulau Kembang sebagai objek wisata menarik untuk di kunjungi wisatawan, mengingat populasi monyet dan keunikan pulau Kembang, Pemda perlu meningkatkan kebersihan Pulau Kembang dari sampah sampah yang berserakan di sekitar Pulau Kembang. Bahkan sejak masuk ke dalam Pulau Kembang sampah sampah telah terlihat menumpuk di plang pintu masuk. Selain itu pemberdayaan masyarakat sekitar termasuk warga seberang dari Pulau Kembang harus juga di tingkatkan. Keterlibatan masyarakat dalam upaya usaha penunjang dari sektor pariwisata dengan berdagang lebih bermanfaat dan meninggalkan kesan yang baik bagi pengunjung daripada hanya sekedar meminta tips.


Bagian depan dengan hiasan sampah



Beberapa hal yang  Pengunjung harus ketahui jika ingin ke Pulau Kembang :

  • Harga Klotok (perahu) dari dermaga Kuin ke Pulau Kembang 150.000 – 175.000 sesuai weekday or weekend. Lakukan penawaran jika pemilik Klotok menaikkan harga. Terkadang para pemilik Klotok mematok harga sampai 250.000 hingga 300.000.

  • Bawa Kacang kulit untuk diberikan pada monyet monyet sejak dari dermaga Kuin. Di Pulau Kembang ada penjaja Kacang kulit tapi dengan harga 3 kali lipat dari harga sebenarnya.

  • Harga tiket masuk di Pulau Kembang,  Weekday : Rp.5.000/orang (WNI) dan Rp.100.000/orang (WNA) dan Weekend : Rp. 10.000/orang (WNI) dan Rp. 150.000/orang (WNA).  Perbedaan harga yang fantastis antara WNI dan WNA.

  • Jika butuh pemandu selama menyusuri bagian dalam Pulau Kembang. Pastikan dengan tegas Pemandu yang kamu butuhkan hanya satu atau dua. Karena biasanya seluruh ibu ibu dan bapak bapak yang memang berprofesi sebagai pemandu (tak resmi dan tak informatif) akan ikut serta dan berakhir dengan meminta tips atau uang bayaran. Berapa yang harus di bayar pengunjung jika harus memberi uang bayaran pada pengintil lebih dari 15 orang ?. Tekor!.

  • Jangan memakai perhiasan selama berkunjung ke Pulau Kembang. Termasuk jaga dengan baik barang bawaan seperti Ransel, Topi, Kacamata, tas jinjing, dsb… karena monyet monyet di Pulau Kembang sangat agresif terutama yang berukuran besar.

  • Jangan panik jika monyet monyet menghampiri kamu. Cobalah tetap tenang. Karena pada dasarnya monyet monyet Pulau Kembang bertingkah atraktif pada pengunjung.

  • Tetap jaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sudah terlalu banyak sampah plastik menumpuk di sekitar dan bagian dalam Pulau Kembang. Cintai lingkungan dan cintai diri kita sebagai manusia yang menjaga lingkungan. 

Jumat, 05 Desember 2014

BINUANG ; DAYA TARIK SEBUAH KECAMATAN


Gapura Selamat Datang - menyambut Anda memasuki kabupaten TAPIN dengan kecamatan pertama yang dilalui ; BINUANG


Pernah dengar kata ‘Binuang’?, jika belum, jangan terburu mengartikan Binuang sebagai nama tumbuhan, makanan, minuman atau jenis barang bermerek. Bukan itu.  Binuang adalah salah satu kecamatan di kabupaten Tapin – Kalimantan Selatan.  Meski bergelar Kecamatan, tetapi wilayah Binuang tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di kabupaten Tapin.  Binuang juga adalah kecamatan pertama yang akan di lalui jika hendak ke kabupaten tapin. Memasuki  Binuang kita akan di sambut oleh Gapura selamat dating yang khas dan nuansa islami yang kuat. Seperti nuansa Binuang yang juga masih memegang teguh tradisi muslim. Di Kecamatan inilah saya menemukan banyak keunggulan Binuang meski hanya sebuah kecamatan. Di sekitar Binuang – tepatnya di wilayah kabupaten bajar terdapat banyak objek wisata menarik yang semuanya bernuansa alam.  Di Binuang sendiri ada banyak perbukitan yang sangat menarik, beberapa di antaranya terdapat danau yang terjadi akibat penambangan batubara yang kemudian dijadikan lokasi bersantai para warga setempat. Selain itu suasana ramai Binuang tak kalah dengan Rantau – Ibukota kabupaten Tapin. Jarak tempuh dari Binuang ke pusat kota Banjarmasin 3 jam dan  cukup 30 menit saja ke  pusat kabupaten – Tapin. Di Binuang juga banyak juga pengusaha batu bara. Jika melewati jalan utama akan terlihat rumah rumah megah yang tak biasa dengan gaya bangunan romawi modern lengkap dengan pohon kurma sebagai tanaman dipekarangan nan luas. Itu adalah rumah rumah para pengusaha batu bara. Nama mereka sangat tersohor bukan hanya di dalam kecamatan Binuang tetapi se-antero Kalimantan Selatan.

Binuang pula memiliki pasar tradisional yang menarik, karena sebagai kecamatan yang dekat ke bagian kecamatan lain dalam kabupaten Tapin, Binuang menjadi central banyak panganan khas Banjar. Sebut saja ketupat Kandangan yang asli Kandangan pun ada di jual di warung warung makan di Binuang. Belum lagi beragam wadai (kue) khas Banjar mudah sekali dijumpai di penjaja kue kue tradisional.


gelaran skala International yang di gelar di Sirkuit BALIPAT  photo by. https://otomaxonline.wordpress.com/2011/11/21/indoprix-2011-sirkuit-balipat-binuang-kalsel/

Yang membanggakan, di Binuang terdapat sirkuit berskala International – Sirkuit Balipat namanya. Beragam perhelatan balapan tingkat provinsi, nasional maupun internasional kerap di gelar di sirkuit yang panjang  lintasan sirkuit mencapai 1,85 km menjadikan sirkuit Balipat  sebagai sirkuit terbaik nomor 2 se-indonesia setelah sirkuit Sentul.  Kegemaran warga Binuang pada olah raga emang terlihat jelas. Banyaknya sarana dan prasarana penunjang olah raga mulai dari lapangan tenis yang memadai. Gelanggang Olah Raga yang sangat baik dan selalu di penuhi ragam kegiatan olah raga. Bahkan pembinaan atlet pun ada di Binuang. 

Potensi Wisata Alam yang menarik di Binuang.


Karena kelebihan kelebihan tersebutlah  saya sangat merasa nyaman tinggal di Binuang. Meski kecamatan tetapi ragam fasilitas olah raga sangat menunjang disini. Terlebih saya merasakan suasana kekeluargaan, aman dan makanan yang menyenangkan – penting.!

Senin, 01 Desember 2014

GOA BATU HAPU ; LEGENDA MALIN KUNDANG DAN PENGALAMAN ISTIMEWA SAYA.


undakan tangga menuju bagian Mulut Goa


Pada media Oktober lalu, secara tak sengaja saya mendatangi sebuah Goa bernama Goa Batu Hapu. Kenapa saya bilang secara tak sengaja?, semua bermula  saat menyimak obrolan sekumpulan anak muda di hadapan saya pada sebuah warung bakso. Sekumpulan anak muda yang duduk tepat diseberang saya kala  bicara tentang Goa. Goa Batu Hapu namanya. Asik juga sambil santap bakso ada sederet  cerita tentang seru nya anak muda itu bermain ke Goa. 
"Kasih tau saya cara ke Goa itu mas..." Pinta saya mendekat pada salah satu anak muda. 
Tak ingin saya  cuma jadi pendengar setia saja.
Saya juga berharap dapat kisah menarik dari kunjungan ke Goa itu nanti nya.

Mulut GOA BATU HAPU
Setelah menikmati semangkuk bakso dan berterima kasih atas petunjuk arah yang di jelaskan dengan detail oleh anak muda tadi, saya melajukan Scoopy menuju tempat yang di maksud.

Dengan kondisi jalan yang relatif baik. Suasana pedesaan terasa sepanjang perjalanan yang memasuki perkebunan karet dan beberapa perasawahan khas warga. Cuaca cukup cerah saat itu. Tak ada satupun angkutan umum melintas. Beberapa anak anak sekolah berpapasan dengan saya sepanjang perjalanan. Hari Rabu kala itu. 


Plang GOA Batu Hapu
Tampak Depan Goa

Menuju Bagian Dalam menyerupai Dek Kapal yang terbelah



Goa Batu Hapu. Tak pernah saya dengar sebelumnya. Asing di telinga terlebih tak bisa cari banyak informasi di dunia maya. Selain kala itu HP tak dapat akses signal dengan sempurna.  Mendekati lokasi  yang di maksud, tak sulit bagi saya menemukannya. Selain petunjuk anak muda di warung bakso tadi  sangat jelas,  beberapa warga yang saya mintai tanya pun dapat menjelaskan keberadaan Goa Batu Hapu dengan gamblang. 
Terletak di desa Tarungin, Kecamatan Hatungun Kabupaten Tapin - Kalimantan Selatan.  Sekitar 20 menit dari kecamatan Binuang - letak saya homestay yang bersebelahan dengan kecamatan Hantungun.

Sebuah gerbang sederhana -  layaknya gerbang selamat datang di sebuah desa, menyambut kedatangan saya dan motor Scoopy kala itu. Mentari kian terik membuat saya kian penasaran membuktikan hal hal seru seperti yang tadi saya dengar dari kisah para anak muda di Warung bakso. 
Setelah memparkir Scoopy di posisi semestinya dengan aman saya segera memasuki pintu utama menuju Goa. Di bagian halaman tampak lengang. Hanya Scoopy saya yang paling keren di areal parkir. Tak ada satu pun kendaraan lain. Mungkin jam kerja dan sekolah kala itu. Upaya menghibur diri sendiri.  
Ada plang ucapan selamat datang pada Pintu masuk dan kondisi loket tiket yang bertulis "tempat Karcis" sepi. Saya segera menyapu pandangan kesegala arah. Tak ada seorang pun. Kemudian saya coba untuk beranikan diri melangkah sedikit masuk di bagian ruangan persis di samping letak loket tiket tadi. 
"Permisi... mba, mas...?"  Saya coba memanggil siapapun petugas yang kiranya ada di bagian dalam ruangan yang cukup luas itu. 
Tak ada jawaban dari siapapun.!
Sepi. Hanya bunyi kicauan burung jenis burung walet beterbangan cukup jelas di bagian luar ruangan dimana saya berada.
"Pada kemana yaa...? Kok gak ada siapa siapa..." Gumam saya kala itu, sembari celingukan kesemua arah. Berharap mata ini melihat sosok manusia yang bisa di tanya tanyai.
Tetap tak ada satu orang pun. 
Saya memutuskan kembali ke area parkir. Kasihan Scoopy saya berdiam tanpa rekan lain disana.
"Ya mas..."  Tiba tiba ada suara jawaban dari arah luar.
Saya mencari asal suara itu. 
Aaahh ternyata ada yang mendengar suara saya sedari tadi.
"Ada apa mas...? Mas mau masuk ke Goa.?..."
Sosok ibu muda berkuncir, berbaju hijau tua dengan wajah yang tidak terlalu tua menyapa saya dari balik kaca tiket yang berlubang.
"Mas mau masuk kedalam...?" Tanya si ibu lagi.
Baru saya temui penjaga loket tiket menawarkan ke pengunjung untuk masuk dari balik loket tiketnya. Biasanya petugas tiket diam saja, pengunjung yang mendekati. 
Okelah, mungkin ini bagian istimewanya di Goa Batu Hapu. Atau mungkin karena tak ada pengunjung lain?.  Entahlah. Kesimpulan terlalu awal. Tak terlalu bijak.
"Ia bu..." Jawab saya mendekat ke loket 
" 2.500, mas... Kalo gak ada 500 rupiahnya 2.000 ajart gak papa..." Ucap si ibu tiket.
Oh ibu ini baik menurut saya. Meski cukup unik jika harga ketetapan tiket masuk bisa sangat fleksibel hanya karena jika tidak ada 500 rupiah cukup bayar 2.000 saja. Semacam bukan potongan harga resmi. Diskon yang tak biasa. Sudahlah lupakan. Anggap saja si ibu berbaik hati.
"Sepi ya bu..?" Saya basa basi bertanya.
"Kalau Sabtu Minggu atau hari libur rame mas... Mas datang pas bukan hari libur, sih..." Jelas si Ibu Tiket.
Aaahh cukup rumpi cara si ibu tiket menjelaskan ke saya. Padahal tak ada salahnya juga kan saya berkunjung hari Rabu?.
"Mas sendirian...?" Tanya si ibu Tiket setelah ia merobek selembar tiket tak lama setelah saya menyodorkan 2.000 rupiah pada nya.
"Ia Bu, saya  kebetulan kesini setelah di kasih tau arah tempat ini dari beberapa anak muda." Ucap saya berterus terang pada si ibu yang mulai senyum senyum tak wajar pada saya.
"Mas, Pasti bukan orang Banjar.?" Si ibu bukan hanya senyum senyum tak wajar tapi sudah memperhatikan diri saya dari kepala hingga kaki. 
"Ia Bu, saya dari Lampung..." 
"Ooohhh.... Sumatera rupanya. Cocok sekali datang kesini.." Renyah sekali kalimat si Ibu Tiket. Nampak kini senyum sumringahnya berbeda dengan sebelumnya yang tampak menyelidiki sekujur tubuh.
"Apa nya yang cocok, Bu..?" Tanya saya ingin tahu.
"Tempat ini, ada hubungannya dengan Sumatera, tepatnya Sumatera Barat."  Seolah si Ibu tiket hendak memberi informasi penting.
Ia pun duduk di banku kayu dekat ruang kosong di bagian dalam areal taman.
Saya pun mendekati posisi duduk si Ibu.
Duduk berjarak tak jauh di bangku kayu yang sama.
"Jadi Mas, pernah tau Malin Kundang kini dalam wujud Batu di Sumatera Barat?, nah Goa Batu Hapu ini adalah pecahan dari Kapal Malin Kundang yang terlempar ke pulau Kalimantan." Mimik ibu Tiket bagai sedang berkisah sebuah legenda nan agung. Saya pun takjub.
"tapi mas, ada pula masyarakat sekitar sini yang menduga, Goa Batu Hapu ini adalah perwujudan  dari Istana makhluk gaib."  Lanjut si Ibu.
Untuk kisah ke dua saya merinding mendengarnya.
"Jika nanti mas masuk ke bagian dalam Goa, mas akan lihat bentuk dek kapal yang terbelah. Tapi ada pula beberapa benda bagai perkakas kerajaan jaman dulu." Kisah si Ibu selanjutnya.
Lagi lagi saya takjub.
Jika memang Goa ini adalah pecahan kapal Malin Kundang yang terpental ke pulau Kalimantan sungguh sebuah keajaiban yang unik. Jika pun ini adalah bentuk istana raja yang di kutuk, sungguh sebuah bagian cerita rakyat yang layak di rawat.
"Tapi menurut Pemerintah kecamatan meyakini ini puing puing pecahan kapal Malin Kundang, mas. Setelah sebelumnya ada Penelitian di sini. Beberapa Benda yang arti bagian dalam Goa itu adalah barang barang isi Kapal Malin Kundang mas.. Jika Mas ramean, mas bisa panjat Tebing dari Tengah Goa kebagian atas. Di bagian atas - menurut para pendaki, pemandangannya bagus, mas. Selain mas bisa lihat Makam keramat dengan panjang makam sampai 2 meter lebih  ." Lanjut Ibu berkisah. 
"Mas, kalau mau lihat kedalam, silakan..." 
Penuturan si Ibu Penjaga tiket dan satu satu nya pertugas di kawasan Goa Batu Hapu cukuplah jadi panduan saya. Meski saya sendiri belum begitu menemukan pemahaman yang valid akan Goa Batu Hapu. Setidaknya saya Ingin tahu sebuah Goa setelah mendengar Kisah seru para anak muda yang saya simak di Warung Bakso secara tak sengaja.

Perlahan saya naiki Anak tangga yang cukup curam kebagian mulut Goa. Tak ada satu pun pengunjung selain saya. Pukul 2 siang kala itu. Cuaca masih terik. Bebatuan sekitar Goa nampak mesra dalam dekapan lumut parasit dan tumbuhan khas di batu tropis. Keunikan yang terbukti dari kisah Anak muda di warung bakso - menyaksikan banyaknya pohon pohon yang tumbuh dengan subur di atas bebatuan di sekitar mulut Goa.  Saya menghela nafas panjang ketika berhasil menjajakkan kaki di puncak Anak tangga. Saya berada Tepat ada di mulut Goa. Sejenak Saya nikmati view dari ketinggian setelah berhasil menapaki Anak tangga. Tak lagi terlihat Ibu Tiket yang tadi sempat menghantar saya ke bagian tangga.
Dari mulut Goa nampak bebatuan granit yang sangat Dramatic. Ada pula bentuk bebatuan bagai gumpalan Besar di bagian dalam  sudut Goa. Saya Mulai melangkah perlahan ke bagian dalam. Sedikit demi sedikit saya merasakan suasana mistis. Tapi beragam batu batu yang ada dalam bagian dalam memyerupai bentuk kendi, bagai herabah buatan adalah hal yang menarik bagi saya. Perlahan saya dekati benda benda itu sambil sesekali melihat sekitar Goa yang semakin saya masuk semakin redup karena Cahaya dari mulut Goa ber kurang akibat banyak nya bebatuan di bagian dalam. Tak jauh dari benda benda bak alat Rumah tangga berwujud batu itu ada sebuah jalan masuk ke bagian dalam dengan di lengkapi tangga untuk pegangan ke bagian dasar Goa yang nampaknya cukup dalam. Perlahan saya hampiri tapi nyali makin Menciut. Ada keraguan bercampur rasa Takut yang cukup besar. Mata saya kemudian melihat bahwa bagian dalam Goa masih lah cukup jauh melalui sedikit jalan curam ke bawah lalu ada undakan ke bagian atas dan entah kemana selanjutnya karena saya pun tak berniat kebagian dalam itu. Sedang Serius Menyimak rute bagian dalam saya di kejutkan oleh sekumpulan burung walet yang terbang cukup rendah. Terasa makin mencekat. Semakin saya takut. Tapi ingin lihat bagian lainnya yang masih terhalang bongkahan batu besar. 
Perlahan nampak jelas oleh mata ada banyak bentuk batu baru di bagian sudut Goa yang jika di simak seksama bagai Perlengkapan Kapal. Mungkin itu yang di maksud dengan bagian dek Kapal yang tadi di kisah kan Ibu Penjaga loket tiket. Saya sempat merekam keberatan saya dalam video singkat di bagian permukaan Goa. Tak Berani saya masuk kebagian dalam karena seorang diri. Jika saja ada banyak teman yang ikut Serta tentulah saya bersedia kebagian paling Tinggi di atas Goa. Belum lagi Suara Suara unik yang cukup membuat saya merinding ngeri. Makin takut. 
Setelah cukup tahu bagian permukaan Goa dan mengabadikan moment di sana dalam foto dan video. Saya memutuskan untuk kembali ke hamparan tanah lapang di mulut Goa bagian bawah dengan Kembali meniti Anak tangga. Tampak sepasang muda mudi sedang asik bercengkrama di sebuah bangku kayu di sudut tanah lapang. Aahhh nampak gambaran remaja pacaran dengan mesranya . "Ngapain pacaran di tempat beginian.!" Saya bergumam sembari menuruni  anak tangga.


Itu kisah saya saat mendatangi Goa Batu Hapu pada pertengahan Oktober lalu. Tak Langsung sempat saya tutur kan menjadi kisah karena waktu tercurah pada deadline pekerjaan.

Dan pada hari Minggu kemarin, ketika tak ada kegiatan. Saya terfikir untuk mendatangi kembali Goa Batu Hapu. Sebulan sejak kedatangan pertama berlalu. Siapa tahu kondisi kini jauh lebih ramai. Terlebih hari Minggu.
Hujan yang datang sejak pagi menggeser waktu kunjungan ke Goa Batu Hapu yang telah saya tetapkan.  Jalan kerikil berlumpur akibat hujan pun tak buat niat saya lantas pudar.
Jarak yang relative dekat dari Posisi home stay saya di Binuang ke Lokasi Goa cukup menyenangkan bagi saya.
Masih dengan Scoopy andalan, setelah melalui beragam hal menarik di sepanjang jalan yang masih basah Sisa hujan. Saya Tiba di lokasi Goa Batu Hapu. Pukul 3 sore kala itu. Tak banyak berbeda. Suasana masih sepi. Kali ini hanya 2 sepeda motor ter parkir di halaman. Lumayan Scoopy ku tak diam sendiri.
Berbeda dari kunjungan pertama. Kedatangan kali ini terlihat ada yang jaga loket tiket. Bukan Ibu waktu itu. Lebih muda. Meski termasuk Ibu Ibu pula.
Kali ini saya bayar dengan uang pas 2.500.  Tak ada istilah diskon bagi Ibu Penjaga tiket minggu ini. 
"Minggu sepi ya, mba ?" Tanya saya pada mba tiket setelah saya celingukan lihat sekitar.
"Di dalam ada 2 orang mas." Jawab si mba tiket singkat.
Oh, benar. Kan di parkiran saya lihat ada 2 motor Jenis Bebek parkir disana. 
Mungkin menurut si mba, kehadiran 2 orang yang Ia maksud sudah termasuk ramai.
Okelah. Melihat si mba tiket yang nampak sungkan di ajak berbasa basi saya memutuskan untuk segera masuk ke dalam setelah menerima tiket masuk dan tak juga ada pemeriksaan.
Sebelum naik Anak Tangga Menuju mulut Goa. Tak ada pengunjung lain yang saya lihat seperti yang di sampaikan oleh mba di loket tiket tadi.
Mungkin mereka ada di dalam goa. 
Saya mempercepat langkah saya naik ke bagian mulut Goa. Berharap bertemu pengunjung lain hingga rasa takut saat dalam Goa berkurang. 
Benar saja. Saya melihat 2 wanita ada di bagian dalam tepat berada di posisi dulu saya mengabadikan diri. Mereka melihat saya dengan menganggukkan  kepala seolah menyapa lengkap dengan senyum ramah nya. Tapi saya sungkan bicara. Sapaan melalui lambaian tangan tadi cukuplah tanda bahwa saya menyapa mereka sebagai sesama pengunjung. 
"Mba, pada mau masuk kedalam ?" Tanya saya memberani kan diri membuka percakapan.
" tidak mas, cukup photo di batu ini saja."
Ucap salah sari dari Dua mba manis yang menurut saya usia nya Tak Beda jauh dengan saya. Hanya saja mereka Bukan tipe gadis Kota besar. Mungkin warga sekitar. Atau warga kecamatan Binuang - lokasi home stay saya tinggal.
Fix lagi lagi saya tak mungkin kebagian dalam Goa karena tak ada partner. Dan tak mungkin pula saya memaksa 2 wanita itu ikut keinginan saya. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke bawah Goa karena merasa tak bisa masuk ke bagian dalam. 
"Mas mau kemana?, tak minat kebagian dalam?" Ujar salah seorang wanita pada saya.
"Duluan mba ... Maaf lain waktu saja." Saya bergegas menuruni Anak Tangga setelah melambaikan tangan perpisahan pada Dua wanita yang sedang melihat lihat batu batu Goa.

Gagal lagi keinginan saya untuk bisa tau bagian dalam dan sampai di bagian puncak Goa. Tak Ada partner adalah Alasan saya. Manalah saya berani menapaki dalam Goa Sendirian. Cukup tahu sedikit bagian dalam saja. Itu pun sudah cukup buat gentar.
Tiba di undakan Tangga bagian bawah Goa saya beristirahat Sejenak. Ada rasa Kesal karena gagal memasuki bagian dalam Goa. Termasuk menyesal menolak ajakan 2 wanita tadi. Aaah sudahlah, mungkin belum nasib. Mungkin suatu saat saya harus bawa teman teman serombongan buat menelusuri seluruh bagian Goa.  Saat saya sedang beristirahat di undakan  tangga paling bawah dari Goa, saya melihat ada sepasang muda mudi yang duduk di bangku kayu di bagian halaman dalam dari area Goa Batu Hapu. Setelah mata saya melihat dengan seksama ternyata sepasang remaja itu adalah sepasang kekasih yang sama yang pernah saya lihat pada kunjungan pertama saya sebulan yang lalu disini. Astaga!!!. "Apa mereka gak ada lokasi mojok lain selain di halaman depan Goa ini.!!!" Saya bergumam sambil menahan kesal dalam hati. Semakin di perhatikan sepasang muda mudi semakin mesra. Sepertinya ada kebanggaan jika Kemesraan mereka di lihat orang lain. 
Agar tak semakin kesal dan terus bergumam. Akhirnya saya putuskan untuk ke halaman depan saja dekat dengan lokasi parkir. Sekalian melihat motor Scoopy saya. Atau siapa tau ada jajanan buat pengganjal perut sore itu. 
"Sudah mas..? Cepat banget...? Yang pacaran aja masih asik tuh.?!" Si mba Penjaga tiket menyapa ketika saya melintasinya. 
"Eh, Ia mba.... Heehheeh mereka enak mba pacaran. Saya kan sendirian." 
"Mereka itu pacaran nya selalu di sini mas..." Ucap si Mba yang mulai memperlihatkan gelagat hobi rumpi. 
Tak ingin menyudahi gelagat ramah si mba, saya mendekatkan badan saya di balik lubang loket.
"Mereka pengunjung setia sini yaaa mba.?" Tanya saya memulai Urusan Kepo.
"Saya selalu lihat mereka bertemu disini mas. Selalu duduk di bangku itu. Mereka dari kampung sebelah mas. Si cowok dateng sendiri dan si cewek juga dateng dengan motor sendiri. Bertemulah mereka disini." Si Mba menjelaskan semuanya dengan gamblang.
"Oh, pacaran murah ya mba..." timpal saya selanjutnya yang di jawab dengan anggukan setuju oleh si Mba. 
"Mas kenapa sebentar banget? Gak kebagian dalam Goa kayak anak anak Pecinta alam ?." Tanya si mba pada saya yang tangah menyimak remaja pacaran itu dari kejauhan.
"Nggak mba...? Nanti aja pas ada temen temen. Walau tadi sih ada 2 mba mba di dalem yang ngajakin masuk ke bagian dalam Goa." Saya coba berkilah menutupi rasa yang sebenarnya di depan mba penjaga tiket.
"Apa mas?, Dua Mba Mba ,?..." Mba penjaga loket kaget.
"Ia tadi saya ketemu 2 mba mba di bagian dalam Goa." Ucap saya meyakinkan.
"Setau saya yang berkunjung melewati loket seharian ini cuma sepasang yang pacaran itu aja mas, 2 motor di parkiran itu juga motor mereka berdua." si Mba tiket meyakinkan sedang saya semakin bingung.
Otak sehat saya kemudian menganalisa. Apa yang dilakukan 2 wanita di dalam Goa bersama saya tadi. Mereka tidak foto foto seperti yang saya lakukan. Mereka tidak pegang kamera. mereka  juga tidak banyak saling bincang antar mereka. 
"Oh, mungkin mas bertemu penunggu Goa! Karena mas tidak Ucap salam ketika masuk Goa." Si Mba Penjaga Loket Tiket makin buat saya terdiam. Mulai ada gentar seluruh badan.
Saya kemudian teringat percakapan para remaja di Warung Bakso dahulu bahwa salah satu dari mereka melihat dengan 2 wanita muda dalam kelompok mereka sedangkan sejak awal anggota kelompok hanya Lelaki semua.!
Kemudian saya jadi ingat ucapan Ibu Penjaga tiket yang saya ajak bincang Sebulan lalu, jika di bagian paling atas Goa ada Makam Sepanjang 2 meter Lebih yang konon isi nya 2 gadis yang di makam secara paksa sebagai tumbal jaman dahulu. Dan seketika segala ucapan ucapan Ibu penjaga tiket sebulan lalu  dan perbincangan sekumpulan remaja yang saya simak di warung bakso itu, kini begitu terbukti nyata. Tak hanya dengar kisah dari sekumpulan anak muda saja tapi kemudian saya mengalaminya. Beruntung saya tak ikuti ajakan 2 wanita tadi. 
Saya tak begitu suka hal mistis. Termasuk orang yang juga penakut. Sore itu saya mengalaminya. Meski belum bisa di akui  kebenarannya. Sepanjang perjalanan pulang dari Goa Batu Hapu tubuh mengalami guncangan kuat. Bukan karena jalan kerikil berlubang tapi karena mengingat kejadian yang baru saja di alami dengan beragam kisah yang di tutur kan oleh mereka yang sempat hadapi. Dan kini saya mengalaminya .

Kamis, 27 November 2014

LABIRIN ; POTENSI ICON WISATA BARU BANJARMASIN.



sebagain view Labirin
 Ada banyak jenis destinasi wisata di Indonesia. mulai dari Desa Wisata hingga wisata bahari yang tersebar dari Sabang hingga Marauke. 

Jika berkunjung ke Banjarmasin jangan lewatkan untuk berwisata di alam terbuka dengan konsep berwawasan agro wisata  plus ada unsur edukasi di dalamnya. Termasuk menguji kemampuan diri melewati arena Labirin yang menghibur.


Nama lokasinya adalah Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) yang merupakan Badan Penelitian Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. 
Jika kita berkunjung ke lokasi tersebut sekilas tampak luar tak ada yang istimewa. Hanya sebuah lokasi perkantoran dengan banyaknya kegiatan penelitian pertanian dan perikanan. Pengunjung bisa dengan mudah meng-akses lokasi BP3T tersebut. Letaknya di jalan Jendral Ahmad Yani KM.51 Tambang Ulang - Tanah Laut. Jika naik kendaraan umum – Taksi Kol khas Banjarmasin naik yang ke arah Pelaihari dan nanti berhenti di pinggir jalan utama  persis di depan kantor BP3T. Masyarakat sekitar pun sudah sangat familiar dengan tempat tersebut.

Sebenarnya, BP3T bukanlah tempat rekreasi yang dibuka untuk umum. Melainkan untuk kebutuhan kelompok/instansi daerah dengan beragam kegiatan yang berhubungan dengan pertanian, perikanan  dan sektor agro wisata. Pada perjalanannya, BP3T melakukan beragam pengembangan seperti lahan out bound, beragam jenis pelatihan mulai dari pertanian hingga perikanan.  Sesuai dengan harapan  pertama di canangkan  kawasan ini ialah untuk menyediakan lokasi atau tempat berlatihnya para petani dan nelayan yang berada di Kalimantan Selatan. Keberadaan lokasi BP3T di harapkan dapat menjadi wadah untuk memfasilitasi peningkatan kualitas SDM petani dan nelayan dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas usahanya, dengan berbasis pengembangan produk unggulan daerah yang dibarengi dengan penguasaan teknologi maju di bidang pertanian.


Gerbang Utama masuk kebagian dalam Labirin 



DAYA PIKAT LABIRIN BANJARMASIN 

Sore itu, keinginan untuk  mendatangi langsung hamparan Labirin membawa saya memasuki area BP3T. Berjalan kaki dari gerbang depan memasuki bagian dalam saya di sambut dengan ragam pepohonan dan tumbuhan hijau yang menyejukkan mata mulai  dari pohon jambu batu, hingga beragam jenis pohon mangga. Pada bagian selanjutnya terlihat hamparan danau cukup luas dengan beberapa pondokan dan area bermain flying fox. Sebuah tatanan untuk outbound nan khas. 
Saya langsung membaur bersama ramainya pengunjung sore itu. 
"Meski tidak untuk umum, tapi antusias masyarakat untuk datang kesini cukup tinggi mas... " ucap seorang petugas yang saya ajak ngobrol banyak tentang BP3T sore itu.

Sebagian besar pengunjung memang menyukai wahana Labirin yang pembuatannya sejak 3 tahun lalu dengan system tanam semai yang di lakukan oleh pihak BP3T memakai tumbuhan jenis daun teh. Tak mau kalah, saya turut mencoba masuk arena Labirin sendiri, dan berhasil tersesat  berkali kali dan kemudian mengulangi lagi dari awal. Beberapa pengunjung ada yang kesal karena gagal menemukan jalan keluar tapi ada yang terpingkal karena merasa sulitnya menaklukkan lekuk Labirin yang mengecoh. Pandainya sang pembuat Labirin. Di tengah lokasi Labirin terdapat menara yang tingginya sekitar 3,5 meter. Dari menara itulah pengunjung – termasuk saya, bisa mengabadikan diri dan juga mem-photo labirin dari beragam sudut.

Sore itu pun saya bersama salah satu pertugas di BP3T - mas Jun di ajak melihat langsung isi dari kawasan BP3T yang luasnya mencapai 105 hektare. Selain arena out bound yang luas, camping area yang memadai, juga ada lokasi penyemaian bibit tumbuhan, beragam jenis tumbuhan obat obatan tradisional hingga ragam tumbuhan langka yang saya pun tak pernah lihat langsung sebelumnya. Di bagian lain juga ada asrama yang sangat cocok untuk kegiatan kelompok besar dengan harga terjangkau, 20.000/orang/hari.
“biasanya sekolah, kampus atau lembaga lembaga dalam jumlah ramai bermalam di sini mas.’ Ucap mas Jun. Tak jauh dari jajaran asrama ada pula vila yang memiliki view langsung menghadap perbukitan di belakang kawasan labirin. Sebuah view yang menentramkan pandangan mata.  



areal yang kerap di jadikan Lokasi Kemah/camping ground dekat dengan perbukitan


Ikut merasakan sensasi tersesat dalam Labirin 




Daya Tarik di dalam kawasan BP3T tak hanya Labirin saja tapi ragam kekayaan tumbuhan juga dapat dilihat langsung bahkan ada pula pusat pengembang-biakan ternak dan pembenihan ikan serta areal cocok tanam yang dapat di manfaatkan oleh pelajar maupun mahasiswa untuk lembaga. Memang antusias warga untuk masuk ke bagian dalam area BP3T tidaklah cukup tanpa ada nya kepedulian dari Pemerintah Provinsi yang menaungi BP3T untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana termasuk memasukkan BP3T dalam ketetapan peraturan daerah sebagai salah satu object wisata yang layak di kunjungi. Biaya masuk 3.000/orang memang bukan tarif resmi dari pemerintah daerah karena hal itu di lakukan oleh pengurus sebagai upaya untuk mendapat biaya pemeliharaan, kebersihan dan biaya pakan ternak di BP3T. Labirin di areal BP3T tak hanya berpotensi jadi object wisata menarik semata tetapi juga dapat menjadi icon baru yang wajib di kunjungi jika berkunjung ke Banjarmasin dan ini potensi daerah yang harus terus menerus di kembangkan dan segera di promosikan  karena tak semua daerah di Nusantara memiliki Labirin dengan luas 70x80 meter persegi lengkap dengan panorama alam yang memukau.
Scroll To Top