Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2021

CAMPING GAYA DI VILLA BUKIT CENDANA PESAWARAN LAMPUNG

Berkemah dengan gaya di Villa Bukit Cendana, Pesawaran - Lampung.

  


Selain pesona wisata bahari, kabupaten Pesawaran di provinsi Lampung juga memiliki beragam pesona alam yang memukau. Salah satunya Bukit Cendana. Awal tahun 2010, Bumi Perkemahan Harapan Jaya banyak jadi sasaran komunitas atau organisasi melaksanakan kegiatan perkemahan.  Selain kemudian hamparan kebun serai nan hijau menjadi daya pikat kunjungan wisata ke Bukit Cendana yang letaknya begitu dekat dengan Bumi Perkemahan Harapan Jaya.

 

 

Apa ia tak tertarik tandang ke tempat asri seperti ini dan camping di hamparan rumpupt hijau?

 

Menuju ke desa Harapan Jaya tinggal mengakses jalan menuju Hanura, lalu tiba di pertigaan Padang Cermin berbelok ke kanan ke arah pasar Way Ratai. Jalan menuju desa Harapan Jaya tepat berada di samping pasar Way Ratai setelah SD Negeri 1 Way Ratai. Desa Harapan Jaya merupakan salah satu desa yang berada pada dataran tinggi dalam kecamatan Way Ratai. Dalam kawasan desa Harapan Jaya juga terdapat Air Terjun Sinar Tiga yang sangat mudah diakses. Selain Bumi Perkemahan yang dapat menampung ratusan orang peserta kemah. Suasana desa Harapan Jaya juga tergolong sejuk karena berada di lereng gunung Sukmailang dan dikelilingi pepohonan rindang serta hamparan kebun kopi dan pala.

 

Tampilan Villa Bukit Cendana dari depan. Sederhana namun Bersahaja.

  

Sebenarnya bukan kali pertama Saya tandang ke Villa Bukit Cendana. Sebuah Villa yang berada tepat sebelum lokasi Bumi Perkemahan Harapan Jaya. Bangunan rumah kayu sederhana bergaya arsitektur 80-an itu sudah memikat hati ketika kali pertama Saya melihatnya. Bagunan sederhana itu menjadi mewah karena bersanding dengan asrinya lingkungan sekitar. Barisan pohon cendana yang rimbun menambah keasrian lingkungan Villa selain beberapa pohon pinus dan cemara yang menambah estetika kawasan.

View dari letak Villa. Dari kejauhan terlihat pulau Legundi dan rimbunnya pohon cendana.

 

Yang membuat hati kepincut pada Villa Bukit Cendana adalah halaman rumput yang terbentang hijau dibagian belakang bangunan villa.  Saya bertemu ibu Budi, sosok yang mendiami bangunan villa lebih dari 20 tahun memberikan kesediaan pada Saya dan rekan-rekan untuk melakukan camping di halaman rumput hijau dibagian belakang bangunan villa yang memikat hati Saya dan teman-teman. “Siapapun yang mau ngecamp wajib mengabari dulu. Telepon ibu biar nbanti disiapkan pekarangannya” ujar ibu Budi menjelaskan pada kunjungan Saya sebelumnya.

 

Suasananya benar-benar asri. Sungguh menyenangkan camping di Lokasi ini.

 

 Maka tak heran bila Saya, Marzha, Fateh, Uno, Naufal dan sepasang Muli Mekhanai Bandar Lampung - Nuke dan Rizal begitu antusias ketika menggelar camping di villa Bukit Cendana dengan tenda dan perlengkapan camping dari Rangrang Outdoor. Meski menggelar tenda di pekarangan Villa tetap merasa istimewa. Semua karena suasana yang asri. Lingkungan Villa yang bersih dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan bikin suasana jadi makin nyaman. Udara sepanjang hari pun tergolong sejuk. Dan yang juga istimewa adalah bentangan pesona alam dari kejauhan dapat terlihat jelas dari letak Villa Bukit Cendana.


 

Camping superb gaya bareng Rangrang Outdoor dan Muli Mekhanai Bandar Lampung @IMKOBAL

 

BERMALAM MEWAH  CUACA CERAH.

 

Lepas tengah siang Saya dan kawan-kawan tiba di Villa Bukit Cendana. Cuaca terbilang bersahabat siang itu meski sisa hujan masih terasa lekat. Kendaraan roda empat yang kami bawa terparkir pada rumah pak Azis yang berada di bagian bawah Villa. Keputusan tersebut kami lakukan berdasarkan pengalaman kunjungan sebelumnya. Mobil sempat sulit menanjak dan terjerembab di jalan tanah basah bercampur bebatuan kecil. Sama sulitnya ketika rute kembali. Maka supaya tidak mengalami kekhawatiran kembali Saya memutuskan menitipkan kendaraan setelah meminta izin pada pak Azis sebelumnya.

Serius gak tertarik Foto berlatar bangunan Instagenic begini ?

 

Halaman rumput hijau dibagian belakang Villa tersaji rapih dan telah siap kami tempati. Itulah untungnya bila mengabari ibu Budi terlebih dahulu sebelum melakukan camping. Terlebih saat ini beberapa tanggal mudah terisi oleh pemesanan beberapa pihak yang ingin melakukan camping baik keluarga, rombongan komunitas/organisasi hingga instansi.  Secara hitungan tenda, halaman rumput belakang Villa dapat menampung lebih kurang 15 tenda muatan 3-4 orang pertenda. Maka ketika kami mendirikan 3 tenda, kami masih punya ruang yang cukup luas untuk kami eksplorasi dan tempat berswafoto.

 

the genks

 

KLIK VLOG dibawah ini untuk melihat visual Villa Bukit Cendana dan serunya Camping Superb Gaya.



 

 Tampilan Milky Way di langit Villa Cendana karya jepret-nya  Fatih

 

Saat malam datang, suasana halaman belakang yang jadi lokasi kami camping semakin nyaman. Terlebih tak ada tamu lain selain kami. Jikapun ada pendatang yang tertarik menggelar tenda maka oleh ibu Budi dialihkan ke lokasi lain. Jadi jangan lupa hubungi ibu Budi untuk reservasi sebelum niat camping super gaya di pekarangan belakang Villa Bukit Cendana. Dijamin suasana camping makin nyaman dan bisa menggelar acara dengan privasi lebih terjaga. Buat api unggun, barbeque, hidupkan musik dan bergoyang suka suka karena saat camping akan ada aliran listrik dari Villa yang bisa buat charger ponsel. Bila cuaca bersahabat, milk way akan menghias hamparan langit dan menambah suasana malam semakin syahdu.

Pokoke Unforgettable moment dan Superb Gaya deh!.

Noted, untuk Reservasi ; Ibu Budi – 082177466095

Jumat, 06 Desember 2019

MENGENAL FESTIVAL SANTA LUCIA


photo by KBRI Mexico City.


Tak pernah saya tahu apa itu Festival Santa Lucia. Bahkan tak pernah membayangkan seperti apa wujudnya. Hingga kemudian mendapat kabar bahwa saya menjadi bagian dalam tim misi seni budaya Bandar Lampung di Festival Santa Lucia, Monterrey, Mexico.

Senin, 07 Agustus 2017

MERIAHNYA KARNAVAL KEMILAU BUMI SEKALA BRAK - FESTIVAL SEKALA BRAK IV 2017




Selayaknya sebuah peringatan hari jadi sebuah kawasan, tak lengkap rasanya bila tidak melihat sajian karnaval budaya dari kawasan tersebut.  Begitupula ketika saya dan rekan rekan blogger diberi kesempatan menyaksikan secara langsung karnaval Kemilau Bumi Sekala Brak  yang merupakan rangkaian dari Festival Sekala Brak IV tahun 2017 dalam rangka peringatan hari jadi Lampung Barat yang ke 26 tahun.

Kamis, 23 Maret 2017

KERALA BLOG EXPRESS SEASON 4 - TRIP OF A LIFETIME



Sekumpulan pria pembawa kertas nama berbaris dibagian pintu kedatangan – Kochi International Airport. Pukul 11.20 malam kala itu. Sekuat tenaga saya menahan kantuk. Sejak penerbangan di pagi buta dari Lampung lalu ke Bandung dan singgah lama di Singapura, sebelum akhirnya mendarat selamat di tanah Hindustan. Bagai berada di tanah air. Cuaca malam di sekitar bandara Kochi tidaklah beda dengan sebagian besar kawasan Indonesia. Meski memang saya menyadari bahwa aroma khas India langsung menyeruak penciuman kala keluar dari pintu Bandara. Saya tak sendiri malam itu. Ada delegasi Singapura, Malaysia dan Philipina bergabung dengan saya sejak dari Changi Airport. Silk Air mempertemukan kami. Semacam Asian Squad lah kami malam itu – minus satu delegasi dari tuan rumah – India.

the event
 
Sosok wanita membawa microphone  tersenyum hangat dengan tatapan bersahabat dan begitu antusias menyambut kedatangan saya dan teman teman. Rambut keriting mengambangnya langsung membuat saya bersemangat menyegarkan wajah. Ikhlas hatilah saya menebar senyum ketika menyadari ada sebuah kamera dengan beberapa kru bertubuh tambun disekitar sang wanita memesona itu. Terlebih ketika sebuah papan nama bertuliskan nama akun Facebook saya dan seikat bunga beraroma khas India diberikan pada saya. – well, agak lupa siapa yang beri saya bunga. Sepertinya, ia seorang pria. Okelah, lupakan, tak masalah siapa yang beri, setidaknya sesaat merasa bagai penyambutan atlet yang memenagkan pertandingan membela tanah air. WEW!!!.

interview  kala kedatangan di Kochi Airport

berasa penyambutan Atlet yaaa

room to stay at Bolgatty Palace


“My name Natasha, we from Kerala Blog Express  team – what do you fell right now?” ujar sang wanita bersuara renyah dengan senyum tak pernah lepas.
Aaahh… manalah jelas perasaan ini. Senang sudah pasti.  Sejenak saya tinggalkan sedikit rasa lelah selama penerbangan. Berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan sang reporter murah senyum itu sebelum akhirnya dicecar banyak pertanyaan lanjutan. Oke, baiklah, tetiba merasa artis yang sedang di konfirmasi banyak pertanyaan oleh media. Hhhmm…. SOK CANTIK!!!.

my roomate - from India

 
Sebenarnya, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk menulis semua kisah dalam Kerala Blog Express Season 4  ketika saya kembali ke tanah air.  Dengan alasan, saya ingin menikmati semua yang saya hadapi dalam hari hari sepanjang dua pekan kedepan di Kerala – India. Tapi entah mengapa ada rasa ingin menulis sesuatu untuk blog yang sayang rasanya jika  terjadi jarak posting lebih dari seminggu. Terlebih ada beragam untaian rasa yang ingin saya sampaikan pada beberapa orang baik yang telah membuat keberhasilan saya menjadi bagian dari program Trip of  a Life Time ini.

Baiklah, ini postingan perdana selama mengikuti Kerala Blog Express musik ke empat yang saya rangkai disela sela padatnya jadwal yang saya ikuti.

yeeeyy...ada tulisan INDONESIA di bis


Saat mengalami langsung gelaran kerala Blog Express Season 4, sungguh pelaksanaan sebuah gelaran yang luar biasa. Sebagai blogger pemula, saya beruntung ada dalam kesempatan ini. Tentu ada banyak pihak yang terlibat dalam mewujudkan semua ini menjadi nyata. Mba Donna Imelda dan Haryadi Yansyah adalah pemenang di dua season sebelumnya yang selalu menjadi pihak terbaik melalui arahan dan pecutan semangat hingga ini terwujud. 


KIKET LAMPUNG DAN SPOT PHOTO

Belumlah tunai pegal pegal dibadan. Tapi rasa semangat menjadi bagian dari Kerala Blog Express Season 4 seolah menyeret saya untuk bersiap menghadapi hari pertama di Kerala. Ada pelaksanaan pembukaan gelaran Kerala Blog Express.  “Sedikit resmi karena dihadiri oleh Menteri Pariwisata India” ucap salah satu panitia yang saya jumpai semalam di bandara.  WOW!! (Iyess Banged). 

Kiket Lampung, Kaos resmi KBE Season 4 dan Tas Jinjing endorse an dari taps in Lampung dan camera by Metro Camera
  
Oke, soal prosesi pembukaan gelaran ini saya pribadi sudah bersiap sedemikian rupa dari Indonesia. Dipanshu Goyal – blogger dari India jadi roommate saya selama di gelaran ini. Sejak semalam ia telah dengan baik menyambut saya. Sebagai orang asli India tentu ‘D’ begitu panggilannya menjadi narasumber terpercaya saya soal banyak hal di India. Beruntung kesan pertama bersama ‘D’ begitu baik.  Sebagai blogger tuan rumah, ia pun banyak memberi arahan pada saya. Termasuk menjadi penerjemah saya ketika saya menanyakan bahasa India padanya. 

saya, D - my roomate -  dan Daniel  dari Kanada peraih Vote tertinggi dalam KBE season 4


Usai sarapan dan bertemu beberapa rekan blogger yang bermalam di Bolgatty Palace. Acara pembukaan digelar pada ballroom dalam area hotel Bolgatty Palace. Kaos resmi Kerala Blog Express Season 4 pun telah kami kenakan sebelum memasuki ruangan acara.  Tak perlu lama membaur. Sesama blogger tentu banyak hal yang bisa dijadikan bahan pembicaraan pembuka. Saya, yang telah banyak dapat arahan dari mba Donna dan Yayan tentu lebih tahu bagaimana membuka percakapan pada Blogger luar negeri. Terlebih  mba Donna dan Yayan banyak memberi masukan pada saya soal apa yang harus dan tidak saya lakukan selama dalam pelaksanaan Kerala Blog Express. 

mengalungkan Tapis Lampung pada pak Menteri Pariwisata India

Selain Tapis Lampung dari Taps in Lampung, Kopi Lampung terbaik  - Els Coffee dan Batik Gabovira juga saya persembahkan untuk bapak...


Sejak dari tanah air, saya telah merencanakan mengenakan Kiket Lampung dalam beberapa kesempatan penting. Termasuk dihari pertama tentunya. Untuk menancapkan kesan sekaligus membentuk identitas saya sebagai orang Lampung – orang Indonesia.  Benar saja. Ketika memasuki area gedung pertemuan, seisi ruangan melihat kearah saya. "Yess!! Kalian benar!, lihat kearah saya saja". teriak saya pada diri sendiri. Berawal dari Kiket Lampung dikepala saya tersebutlah segala percakapan bermula.
“Where’s Lampung, Indra?”
“What is Lampung, Indra?” – lebih kurang begitu pertanyaan banyak blogger ketika saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia dan tinggal di provinsi Lampung.
“Lampung is the Southern of Sumatera Island. Do You Know  the Historical Storiy about KRAKATAO MOUNTAIN?”. Begitulah saya memulai penjelasan soal LAMPUNG.  Yang kemudian mendatangnya banyak pertanyaan lanjutan yang akhirnya membuat saya sedikit terbata menjelaskannya karena pembendaharaan kata bahasa inggris saya tidak begitu banyak. Yess, kemampuan bahasa inggris saya memang tidak sempurna. Beruntung gelaran ini bukan soal pandai pandai berbahasa inggris kan?, hehehehehe.

jadi pemandu sorak pun saya mau kok .......

my Favorite!! my Beyonce. Love the way her smile
 
Acara pembukaan secara resmi gelaran Kerala Blog Express berlangsung lancar tanpa hambatan. Berkesan karena sang Menteri begitu baik menyapa kami semua dengan kesederhanaan yang bersahaja. Tak ada ajudan dan sistem protokoler yang super ketat layaknya pejabat ditanah air. Tak ada tampilan glamour dengan cincin batu permata ratusan juta di tangannya. Juga tak ada kata kata diplomatis super basa basi, bla bla bla… Semua berlangsung sederhana tapi bermakna. Bahasa Inggris pak pejabat pun begitu baik.
tentu mudah mengenali saya diantara para teman temen blogger

Usai pak Menteri membuka acara, kami kemudian diarahkan untuk photo bersama dengan pak Menteri tetapi di depan bis resmi yang akan jadi kendaraan kami selama beraktivitas di Kerala. Selain Kiket Lampung yang menjadi identitas saya, saya pun telah menyiapkan beberapa cinderamata yang memang ingin saya berikan pada acara pembukaan.  Dan itu langsung saya serahkan pada Pak Menteri dan juga Direktur Silk Air yang hadir. Kopi Lampung terbaik persembahan dari Els Coffee Lampung dan batik khas Lampung dari Gabovira juga selendang Tapis Taps in Lampung yang sempat saya kalungkan pada pak Menteri. Oh, akhirnya, buah tangan khas Indonesia dapat saya berikan langsung tanpa perlu sikut sikutan dengan ajudan atau protokoler. Catet !!. Yang bikin saya senang, pak Menteri mengajak para blogger untuk wefie bareng, dan meminta,  saya – yang memakai Kiket Lampung untuk berada didekatnya. Hhhmm… sungguh berhasil cara saya memikat mata orang asing. Meski tubuh saya tak setambun para bule, tapi Kiket Lampung jadi tanda pengenal yang mudah diingat. See, tak perlu kebarat-baratan kalo ke luar negeri yaaa…. Banggalah dengan indentitas dari tanah kelahiran. 

"kamu ayoo photo dekat saya sini"... Yaaa gak mungkin nolak Pak...hehehehhe

yeeyyy....masuk koran....
 


Well, rasanya terlalu panjang jika saya bertutur langsung aktivitas hari pertama dalam satu judul tulisan. Kelak akan saya tuturkan kembali. Mohon kesabarannya. Bersiap dengan postingan selanjutnya yaaa.  hehehe… Saya sungguh menikmati setiap hal yang saya hadapi dalam gelaran ini.  30 Blogger dari 29 Negara (Spanyol diwakili oleh dua orang).  Saya mulai dengan senang karena wujud saya memakai Kiket Lampung tayang media cetak di India. Yeeyyy…. Masuk koran!!! Hehehehe.  Bila ada yang ingin tahu aktivitas saya silakan check akun medsos saya atau langsung simak akun Kerala Tourism. 


A post shared by Kerala (@keralatourism) on
Sampai bertemu di penuturan kisah selanjutnya ya ….

Selasa, 02 Februari 2016

BLOGGER TANPA KAMERA



3 Rekan Travel Blogger yang sedang membidik object. Bidikan mereka sungguh mengagumkan.



Pernahkah mendengar ada seorang blogger tanpa kamera?.  Nyaris mustahil. Tapi tentu akan tahu bahwa hal tersebut nyata  jika kemudian saya mengatakan bahwa blogger tanpa kamera itu adalah saya!. Ya, Saya. Indra Pradya dengan blognya www.duniaindra.com heheh.

Seingat saya, kegemaran menulis telah terjadi ketika saya duduk di kelas 2 SMP.
Kala itu, saya tinggal bersama Uak – sebutan kakak dari Mama dalam bahasa Palembang, selama menempuh pendidikan SMP. Jauh dari pendampingan orang tua kandung  menjadikan saya sebagai pribadi yang enggan terbuka. Sehingga menulis adalah salah satu cara bagi saya untuk bertutur banyak hal tentang rasa yang saya alami. Teman teman sebaya yang menyukai aktivitas menulis dan trend buku diary khas remaja SMP kala itu pun menjadi salah satu pemicu kegemaran menulis saya.

Hingga kini aktivitas menulis tetap berlangsung. Tak begitu yakin apakah tulisan yang saya buat benar benar menarik dan bermanfaat. Tapi berdasarkan reaksi keluarga dan rekan rekan terdekat cukuplah memberi semangat buat saya untuk menulis dan terus menulis dengan mengelola blog yang masih seumur jagung.

Mba Evi - seorang travel Blogger, Writer dan juga Photographer wanita yang handal. Photo by Mba Donna

 
Yang menarik – dan hampir sebagian pihak terhenyak dan nyaris tak percaya jika saya tuturkan kegemaran saya menulis dan kemudian mem-posting di blog lengkap dengan photo photo peristiwa tersebut justru tanpa dukungan kamera yang memadai. Layaknya rekan rekan saya para travel blogger yang melengkapi aktivitas traveling mereka dengan kamera professional. Setidaknya mereka menggunakan kamera yang memudahkan mereka menangkap moment indah. Saya?, hanya menggunakan Kamera Ponsel.!!. hahahah.
Mba Donna - Blogger  kece nan tangguh dengnan kamera andalannya
Pernah saya merasa canggung saat kumpul mengabadikan gambar bersama rekan rekan  travel blogger  yang menggunakan kamera canggih. Pernah juga saya terdiam ketika rekan traveling bicara seputar onderdil kamera milik mereka masing masing. Tentu saya diam. Karena saya tidak punya kamera hingga tak mengerti bagian mana dari kamera yang harus saya bicarakan. Hahahaha. Tapi beruntung juga ketika ada rekan traveling yang berkenan hasil photonya saya gunakan. Meski  saya sadar, tak setiap saat saya bisa berbuat demikian. Malu juga jika sering minta photo. Hahahahhah.


“Tak ada rotan akar pun jadi.” 

Kiranya pribahasa popular tersebut pantas menggambarkan posisi saya sebagai travel blogger.
Penulis blog tanpa kamera yang memadai. Hanya mengandalkan kamera ponsel.  
Karena pada dasarnya saya suka menulis. Meski tanpa dilengkapi kamera yang memadai seperti rekan rekan travel blogger lainnya bukanlah penghalang buat saya untuk menulis dan kemudian mempostingnya di blog dengan photo photo penunjang yang berasal dari kamera ponsel. Toh, penuturan dan photo penunjang yang memadai dari sebuah perjalanan cukup memberikan daya tarik pembaca tanpa perlu pembaca tahu dari jenis kamera apa photo di blog itu berasal.

3 travel Blogger Emak Emak Tangguh dengan kamera canggih dan pribadi mereka yang membumi. Love u all.


Bukan sebuah pembelaan atas keterbatasan. Karena saya juga berharap bagi siapa pun yang ingin melakukan sesuatu janganlah membatasi diri hanya karena tidak tersedianya alat atau fasilitas yang memadai. Cukuplah berupaya memaksimalkan apa yang kita punya.  Meski diam diam saya juga tengah menabung untuk bisa beli jenis kamera yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas pemahaman saya. Suatu hari kelak,  saya tentu akan menenteng kamera dalam aktivitas traveling. Kapan?, ya suatu saat nanti. (tenggat waktu sudah ditentukan dan jadi rahasia personal, heheheh). Atau saya juga berhayal seperti para penulis hebat yang di endorse kamera oleh sebuah merek. Hihihi…(siapalah diri ini). Menulis blog kini menjadi salah satu aktivitias saya diantara banyaknya impian yang saya bangun perlahan dan berharap suatu saat akan jadi kenyataan. Karena hanya impian impian yang tertata tersebutlah yang selalu menyemangati diri ini. Termasuk harapan suatu masa akan ada sebuah karya tulis saya yang terbit menjadi sebuah cetakan buku. Amin.


Scroll To Top