Dunia Inspirasi Penuh Warna by Indra Pradya

Tampilkan postingan dengan label jalan jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

PETUALANGAN KE AIR TERJUN KEMBAR RINDU ALAM



photo by Intan


…”bersukacitalah engkau usai keras bekerja...”
Demikianlah kiranya untaian kata yang selalu saya teriakkan pada diri sendiri. Dan ternyata begitupula yang terjadi ketika usai melaksanakan segala proses kegiatan dalam kunjungan bersama teman teman dalam komunitas Ruang Jingga Lampung di Madrasah Ibtidaiyah Islamiah Pahmungan.

Senin, 30 Januari 2017

PESONA KALIANDA - MENIKMATI PANTAI PANTAI CANTIK DI GARIS PESISIR RAJABASA




Bentangan pasir putih nan halus berpadu dengan pepohonan kelapa menghias sepanjang pantai.  Ditambah udara yang cerah dengan suasana pantai yang lengang.
Yakin tak ada yang menolak berada di pantai dengan suasana  seperti.
Begitulah kiranya yang saya dan keluarga  dapat rasakan ketika berada dibeberapa pantai dalam kawasan Kalianda – Lampung Selatan saat akhir pekan lalu.

Sabtu, 01 Oktober 2016

SEPENGGAL KISAH DAN SOSOK PEMBERI WARNA INDAH PERJALANAN



Selain mengikuti briefing  bersama Soul Stories jelang keberangkatan ke Thailand, kedatangan saya ke Jakarta  pada 11 – 12 September 2016 silam juga mempertemukan saya dengan beberapa pihak baik sekaligus menjalin silaturahmi kembali.
Sosok pertama yang saya temui adalah  Agung – sahabat baik saya yang dahulu menyelesaikan gelar Sarjana Tehnik nya di Universitas Lampung. Agung  berkenan menjemput saya pada pagi buta di terminal induk Bekasi hingga jamuan makan pagi dan perkenan istirahat sepanjang siang dikamarnya. Tak hanya itu,  disore hari, Agung pun berkenan mengantarkan saya mencari alamat Kafe D’Broer – lokasi pertemuan Soul Stories.

Malam itu, seusai pertemuan Soul Stories, tentu terlalu larut bagi saya untuk langsung kembali ke Lampung. Terlebih angkutan bis Damri sudah tidak ada lagi.  Pukul 22.30 kala itu. Setelah  menaiki GoCar dari Bekasi bersama mba Sari dan mba Ruth, jadwal saya selanjutnya adalah  bertemu dengan Arie – rekan jelajah Gunung Anak Krakatau beberapa bulan silam yang telah menunggu saya di Pejaten Village.  Tujuan saya menemui Arie tak lain adalah  merepotkan Arie, dengan menumpang bermalam di kost-an nya. Jadilah malam itu, dalam kondisi flu berat, Arie menemui saya di Pejaten Village sebelum saya diajak menuju kamar kost nya yang letaknya tak jauh dari Pejaten Village.  Obrolan malam di kost-an Arie seputar kisah percintaannya bersama alunan musik dari program Spotify  seolah menjadi  ajang perbincangan hangat diantara kumandang takbir jelang hari raya kurban keesokan hari.  Ya, esok – 12 September 2016, perayaan Idul Adha.
 Soal hari raya di luar kota, ini bukan yang pertama.  Saya pernah merayakan moment  Idul Adha jauh dari keluarga. Tak apalah, asal kala Idul Fitri  kumpul keluarga kembali.

SAJIAN AROMA SEDAP HINGGA JELAJAH MALL

Pengingat digital  yang kami setting sejak malam membangunkan kami dengan sempurna dipagi hari.  Sebagai pengingat  kami melaksanakan shalat ied Idul Adha. Dengan segera kami bersiap menuju  masjid yang letakknya tak jauh dari rumah kost Arie.
Tampak bagian dalam dan pekarangan masjid telah padat jamaah. Kami kurang pagi. Alhasil, saya dan Arie memutuskan menggelar kertas bekas famplet iklan di bagian badan gang sempit yang terletak di samping masjid. Tak hanya kami, beberapa pria muda dan bapak bapak juga ikut serta menggelar koran dan sajadah di sekitar kami.
Runutan Shalat Ied idul Adha pun berjalan lancar. Kemudian khotbah berlangsung seusai shalat. Diawal khotbah berlangsung,  beberapa pemuda di samping Arie tertawa. Cukup mengganggu. Terlebih bujang bujang tanggung itu sudah mulai terkekeh sejak akhir rakaat shalat. Penasaran apa yang ditertawakan oleh para bujang di samping Arie, saya menoleh kearah bujang bujang tersebut. Belum sempat saya melempar pertanyaan, para bujang bujang itu menunjuk ke tanah didepan Arie yang duduk tepat di bagian kanan saya. Pantas saja bujang bujang itu tertawa, selama aktivitas shalat berlangsug, rupanya ada seonggok kotoran kucing menumpuk di depan bentangan kertas tepat di depan Arie. Aromanya sungguh semerbak!!. Bau tai kucing!!. Sayang  Arie tak menyadari jika di depannya terdapat tai kucing!!. Sungguh serangan flu yang  Arie alami menyumbat aroma kotoran kucing yang menyengat!!.

Ngopi Pagi

Balada Shalat Ied Idul Adha di gang senggol!. Sudahlah lupakan, anggap saja setumpuk kotoran kucing tadi sebagai bonus dari kejadian alam. Hahahah.
Untuk menghilangkan bau kotoran kucing dari ingatan, mari kita jelajah Jakarta.
Jelajah Jakarta akan diawali dengan kunjungan ke Stasiun Gambir guna membeli tiket bis Damri ke Lampung. Karena hari raya, tentu jalanan di ibukota tidaklah sepadat sebagaimana biasanya. Warga Jakarta memang butuh lebaran setiap hari, sebagai solusi menghilangkan kemacetan setiap hari, hehehehe.  Berbekal sarapan di warteg dekat kost-an Arie cukuplah memberi kekuatan kami jelajah pesona Jakarta ; Mall to Mall.

Video JAKARTA lengang... via Ponsel


Sebenarnya saya tidak terlalu gemar bertandang ke Mall. Karena pada hakikatnya bentuk Mall dimana mana sama saja.  Tapi ya sudahlah, mumpung lagi di Ibukota. Nikmati saja. hehehehe. Kunjungan pertama kami pagi itu adalah Mall Senayan City. Kurang rajin apa saya dan Arie. Pukul 9 pagi sudah nangkring  di depan gedung Senayan City. Agar kelakukan terlalu pagi kami tidak terlalu mencolok. Kami bersantai sejenak di gerai Mcdonalds yang persis berada di seberang kawasan mall Senayan City, - pura pura jadi warga setempat!.

Belumlah terlihat ada aktivitas kunjungan di Senayan City. Hanya beberapa pekerja dan pegawai yang lalu lalang mempersiapkan gerai mereka. Selama menunggu gedung Senayan City buka, saya menikmati segelas Kopi Mcdonalds yang tidak terlalu istimewa sembari menyimak kisah kisah percintaan seorang Arie.

pertemuan singkat yang seru


Usai jelajah Mall Senayan City, saya dan Arie melanjutkan jelajah gedung Grand Indonesia. Menjajaki  lantai demi lantai Grand Indonesia layaknya anak anak metropolitan. Tak belanja apa apa, hanya sekedar melihat lihat barang yang lebel harganya tak sesuai dengan isi dompet bahkan ATM saya, hahahahah. Sudahlah, lupakan barang bermerek internasional yang menyilaukan mata itu. Mengisi perut dengan makanan yang sesuai selera adalah aktivitas kami selanjutnya, sebelum akhirnya saya dan Arie bertemu dengan Bli Adi Pratama – Ketua Umum ADWINDO dan Yudha – Duta Wisata Kota Padang  yang telah berkarier di Jakarta. Pertemuan yang baru terrencana pada pagi hari itu kemudian jadi moment perbincangan hangat sekaligus merumuskan banyak hal diantara guyonan yang terjadi.  Dalam pertemuan yang bertempat di gerai kopi itu pun  dihadiri oleh Timothy – blogger hits sejagad hiburan kota Jakarta – meski saya tak begitu mengenal Timothy sebelumnya. Sayang perbincangan  tak  berlangsung lama. Bli Adi dan Yudha memiliki agenda lain, sedangkan Arie dan Timothy pun undur diri untuk keperluan mereka masing masing. Nah, saya yang  tinggal sendirian tentu menghabiskan waktu dengan mengitari lantai demi lantai Grand Indonesia yang luas itu  sebelumnya akhirnya jam 9  malam menaiki bis Damri menuju Lampung tercinta.


Setiap perjalanan menyertakan  ragam personal didalamnya. Sosok baik harus diingat sebagai bagian  pemberi warna dari perjalanan tersebut.  Bisa jadi, sepenggal kisah ke Jakarta akan menjadi biasa bagi meraka yang tak mampu memaknai waktu bersama orang orang baik. Beruntung saya bertemu orang orang baik.  Semoga keberkahan tercurah pada mereka – jiwa jiwa baik yang saya temui dan berkenan menjadi bagian dari kisah perjalanan saya.

Senin, 08 Februari 2016

WEDDING TRIP ; PENGALAMAN JELAJAH PENUH KISAH (Part 2)



Tugu Kayu Aro - Landscape menarik di tengah pasar Liwa - Lampung Barat



Rencana yang telah disusun untuk siap jam 6 pagi hanyalah sebuah wacana.
Nyatanya, saya dan semua rombongan baru meninggalkan hotel pada pukul 7.30 pagi. Itupun sudah bercampur komando ligat dari mba Dewi. Saya termasuk yang bangun kesiangan. Hahahah.  Sungguh saya mengalami tidur pulas sepanjang malam.

Pagi ini, giliran bang Decky yang mengendalikan kendaraan menuju lokasi perayaan pernikahan Ryan. Selama perjalanan kami mencari kue Serabi khas Krui yang pada akhirnya tidak juga kami dapatkan. Untunglah beberapa dari kami mengganjal perut dengan seduhan pop mie. Tidak dengan saya. Karena saya tidak suka mie instan dipagi hari.

Lokasi tujuan kami pagi itu adalah pekon (desa) Bandar Pugung kecamatan Lemong kabupaten Pesisir Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan pedesaan yang khas, asri dan bersinggungan dengan garis pantai tampak indah di pelupuk mata. Sesekali kami melihat aktivitas masyarakat yang juga begitu khas. Meski hari Sabtu, beberapa masyarakat tampak menjalankan aktivitas berkebun mereka. Panjang lebar kami membahas ragam topik pembicaraan bukan hanya bertujuan mengisi suasana kebersamaan kala pagi tetapi lebih pada menghibur diri, mengingat tujuan yang hendak kami capai tak juga kunjung tiba. Setiap personal di dalam kendaraan mulai cemas,  apakah rute yang kami tempuh salah. Meski terkadang ada keyakinan bahwa jalan yang kami lalui adalah rute yang benar. Pekon atau desa Bandar Pugung merupakan desa yang cukup ujung dalam kecamatan Lemong – Pesisir Barat – Lampung. Dengan kondisi jalan berliku dan bersinggungan dengan kawasan hutan dan hamparan perkebunan selain desa desa yang berdekatan.
Sempat bertanya pada beberapa warga, bahkan sempat bertemu dengan suasana perayaan pernikahan pihak lain. Termasuk menduga jemuran selimut bermotif bunga merupakan papan bunga layaknya papan ucapan  pernikahan. Hah!!! Maklum efek mata masih ngantuk.
Akhirnya kami tiba di lokasi perayaan pernikahan Ryan.  Kami merasakan sambutan hangat dari segenap keluarga Ryan. Sebuah penyambutan masyarakat Lampung yang khas. Sesaat saya dibuat takjub dengan hiasan acara pernikahan yang begitu tradisional. Setelah mengabadikan bentuk bentuk dekorasi yang unik dan khas Lampung pesisir. Bertindak sebagai pembawa acara, saya kemudian bergegas berkoordinasi dengan beberapa pihak keluarga Ryan untuk susunan acara pernikahan yang sesaat lagi akan berlangsung.

Narsis Sesaat di belakang rumah Ryan - Pekon Pugung - Lemong - Pesisir Barat.



***
Suasana pernikahan yang berkesan. Khas Lampung Saibatin. Bercampur suasana meriah dan kehadiran tetamu yang tak bisa dibilang sedikit. Bahkan rekan rekan kampus UTB dimana Ryan berkuliah dan berkarier turut hadir dalam kebahagiaan Ryan dan Diar – istrinya. Bahkan jajaran mahasiswa Ryan pun turut hadir merayakan kebahagiaan sepanjang siang tersebut – wajarlah, jika mahasiswa bimbingan tidak hadir di moment berharga sang dosen jangan harap bisa dapat nilai memuaskan. Hahahahahhaa

Bersiap memandu resepsi pernikahan Ryan dan Diar.

Pelaminan khas dengan pengantin berbusana pengantin Lampung Pesisir.


Tugas saya memandu acara resepsi pernikahan Ryan dan Diar tuntas terlaksana. Berkenalan dengan biduan berbusana hijau nan aduhai  lengkap dengan ‘sumpalan’ seolah menggenapi kumpulan kisah seru sepanjang perjalanan. Sungguh sebuah perhelatan yang khas dan meriah.
Selesai santap siang dan photo photo, kami bergegas pamit pada sang pemilik acara. Beberapa pihak harus segera kembali ke Bandar Lampung – begitupun saya yang telah terikat pada jadwal pada minggu pagi esok.

Selama perjalanan pulang, kami sempat singgah di beberapa spot wisata menarik. Salah satunya kawasan pekon (desa) Kota Karang – sebuah desa yang bersinggungan langsung dengan garis pantai. Pesona Batu Tihang yang menjulang menjadi incaran pengambilan photo dan video kami siang itu.

Pemotretan sedang berlangsung di Batu Tihang - pekon Kota Karang - Lemong - Pesisir Barat.


Ide mba Dewi lah yang kemudian mengubah laju kendaraan tidak melalui rute perjalanan pulang seperti rencana semula, tetapi malah melaju melalui rute kabupaten Lampung Barat.
Liwa adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya.
Kondisi tempuh berkelok dari Krui ke Liwa di tambah kontur jalan yang bersinggungan langsung dengan jurang dan rimbunnya pepohonan tak menyurutkan semangat jiwa petualang kami, meski sepanjang perjalanan isi pembicaraan seputar berita artis artis ibukota merebak. Sosok mendesah gatal haus belaian – masuk setengah, hingga lantunan merdu nan khas dari sosok Patin yang menggemaskan. Semua adalah kelakar saya dan rekan rekan dalam kendaraan – membunuh sepi dalam perjalanan.

Pukul 15.30 WIB kami tiba di pasar Liwa dengan mendung menggulung tebal. Suasana lengang saat itu. Beberapa bangunan dan Tugu kayu Aro menghipnotis kami untuk berphoto.
Puas bernarsis diri di tengah pasar Liwa termasuk menunaikan Azhar di masjid depan Tugu Kayu Aro kami melanjutkan perjalanan ke Fajar Bulan. Kediaman bang Edward – sohib mba Dewi adalah tujuan persinggahan kami selanjutnya. Lumayan, bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan sambil ngopi dan makan gratis. Hahahah.
Benar saja, sesampainya kami di kediaman bang Edward telah tersaji hidangan makan berat lengkap dengan lauk pauk lezat. Hhhmmm…. Tanpa banyak basa basi kami langsung menyerbu apa yang tersaji. Mba Dewi pun tampak lahap menyantap hidangan persembahan bang Edward. Makanan datang tepat disaat lapar melanda. Klop.!!!.

Bahagianya wajah kami di jamu oleh bang Edward. Terima kasih banyak bang Edward.


Seusai menyeruput kopi hangat persembahan bang Edward dan tak lupa menunaikan maghrib bersama, kami pun melanjutkan perjalanan. Jarak dari Fajar Bulan – Lampung Baret menuju Bandar Lampung masih lebih kurang 5 jam. Sungguh baik bang Edward. Mengerti betul ia akan para musafir yang lapar dan haus seperti kami, hahahha. Thanks Bang Edward.

Kondisi jalan yang berkelok sepanjang keluar wilayah Lampung Barat, disertai hujan lebat mengiringi rute kembali kami. Beberapa ruas jalan berlubang mengganggu perjalanan malam kami.  Bang Imron memegang kendali kendaraan malam itu. Beberapa kali mba Dewi kesal dengan kondisi jalan termasuk si pengatur laju kendaraan ketika mobil menghantam lubang lubang yang terasa rapat selepas kawasan Bukit Kemuning menuju Kota Bumi.  
Kami sempat singgah di Kota Bumi untuk menjajal kenikmatan bakso setelah mendatangi beberapa kedai bakso yang tutup. Hangat kuah bakso menyemarakkan perayaan malam minggu kami dalam perjalanan.

Suasana mobil dalam perjalana pulang.


Sungguh suatu perjalanan yang berkesan. Bertujuan menghadiri perayaan pernikahan Ryan dengan suasana pelesiran yang dominan. Maklum, rombongan satu mobil hobi jalan jalan semua. Tidaklah lelah dirasa, karena sepanjang perjalanan selalu ada saja yang bercerita dan kemudian memancing gelak tawa. Rute memutar khas petualang telah kami lakukan. Bermula dari Bandar Lampung melalui kabupaten Pesawaran – Pringsewu – Tanggamus – Pesisir Barat – Lampung Barat – Lampung Utara – Lampung Tengah – Lampung Selatan dan tiba dengan selamat kembali di Bandar Lampung. Alhamdulilah.

Terima kasih semua team satu mobil yang super kece – mba Dewi, mba Rara, bang Imron, bang Decky, Ilham dan Lucky. Salam Chebok, Cucuk, Mendesah-desah tanpa Kampak yaa.

WEDDING TRIP ; PENGALAMAN JELAJAH PENUH KISAH (Part 1)




pemandangan belakang rumah Ryan - kecamatan Lemong - Pesisir Barat - Lampung

 


Saya langsung setuju kala mba Dewi mengajak saya ikut serta dalam perjalanan ke Pesisir Barat.
Terlebih, kunjungan ke Pesisir Barat kali ini dalam rangka gelaran pernikahan rekan kami – Ryan, selain menengok keindahan Pesisir Barat yang memesona.
Tak berlebihan kiranya, jika saya menyebut Pesisir Barat sebagai salah satu kabupaten di provinsi Lampung yang menawan hati saya dan selalu ada rasa rindu untuk kembali lagi dan lagi. Meski rute perjalanan menuju ke Pesisir Barat tidaklah singkat. Butuh waktu 6 jam dari kota Bandar Lampung. Tapi saya tetap bersemangat jika diajak serta menuju kawasan Pesisir Barat.

Mba Dewi dan Ryan adalah dua sosok yang pertama kali saya kenal dalam sebuah perjalanan menapaki Gunung Anak Krakatau bersama rombongan trip kala media 2014 silam. Sejak pertemuan perdana, kami langsung klik dan kemudian beberapa kali melakukan kopi darat hingga akhirnya merasa ada keseruan antara pertemanan yang terjalin. 

***
 
Narsis di gardu Ronda seusai makan di Warung Sederhana. photo by Ilham.


Jadilah pada Jum’at siang,, rencana keberangkatan menuju Pesisir Barat terwujud nyata. Pada lokasi yang telah disepakati, saya di jemput oleh mba Dewi. Tak hanya mbak Dewi, telah ada beberapa rekan mba Dewi yang juga turut serta dalam perjalanan tersebut yang merupakan rekan rekan mba Dewi dan Ryan di Kampus UTB. Seiring perjalanan  saya pun mengenal mereka – mba Rara (sosok periang yang telah saya kenal sebelumnya), Lucky, Ilham, bang Imron dan bang Decky,. Mengapa saya sebut mereka ‘Bang’ ? – selain sapaan baru kenal , secara tampilan mereka tampak lebih dewasa daripada saya....hahahah…. Ooopss.!!! (kampak saya!!). 

Ilham mengendalikan kemudi siang itu. Melaju dengan kecepatan cukup baik diantara cuaca cerah dan rute perjalanan yang lancar. Meski sempat berhenti dibeberapa titik perjalanan. Biasalah, ada yang kurang rasanya jika melakukan perjalanan tanpa berhenti di beberapa tempat – warung waralaba – belanja camilan hingga minuman penambah gairah dan semangat, berhenti di pom bensin – isi bensin dan  pipis, dan sebagainya.  Selama perjalanan terjadi ragam perbincangan diantara lantunan music yang berpendar apik sebagai pelengkap suasana. Tak perlu waktu lama untuk saya dapat akrab dengan beberapa personal yang belum pernah saya temui sebelumnya tersebut. Well. Untuk sebuah permulaan perjalanan, segalanya berlangsung  menyenangkan.

Jelang sore, kendaraan memasuki kabupaten Tanggamus. Sempat berputar cukup lama dalam upaya mencari mesin ATM yang rata rata mengalami error. Beruntung kami telah menyempatkan makan siang (yang kesorean) dengan hidangan lezat dan khas di rumah makan sederhana beberapa saat sebelumnya. Setidaknya kekesalan pencarian mesin ATM yang berfungsi tidaklah begitu membawa emosi karena perut telah terisi.
Sore terus beranjak. Kendaraan  melaju gagah menuju Pesisir Barat. Memasuki kawasan Taman Bukit Barisan Selatan selepas kabupaten Tanggamus jadi moment tersendiri. Mulai dari kisah kisah seru, lucu, pengalaman personal hingga cerita mistis yang konon pernah dialami sendiri, orang lain maupun fiksi agar gelak tawa tercipta. Aahhh… tidaklah asik jika suatu perjalanan terlalu dibawa serius. Beruntung saya dan seisi mobil tidak ada yang begitu serius. Hahaha.

karena Selpik adalah sebuah keharusan dalam perjalanan

Sore semakin beranjak ke peraduan. Kami beruntung dapat menikmati matahari terbenam di areal pantai Mandiri – kawasan pantai yang dekat dengan area Surfing Tanjung Setia – Pesisir Barat. Tak ada pengunjung lain, selain kami sore itu. Matahari boleh terbenam, tapi semangat kami tak pernah padam. Malah semakin menyala dan super lincah kala mengabadikan diri di sepanjang bibir pantai yang lengang dengan ombak besar.
Aktivitas photo photo narsis dan mencoba aplikasi video slow motion harus segera di sudahi mengingat malam segera datang. Kemudi bergegas menuju Hotel Janitra – hotel yang telah di booking sebelumnya oleh mba Dewi untuk melepas lelah kami serombongan malam ini.

Hotel janitra - recomended buat para pelancong bermalam di kawasan Krui Pesisir Barat


Bersantai malam di Food Court khas pasar Krui.


Setelah  aktivitas berbenah diri , mandi dan meluruskan tubuh di kamar hotel kami sepakat keluar hotel untuk mencari menu makan malam sebelum tidur pulas nantinya. Saya langsung menyarankan rekan rekan menuju area pasar Krui yang saat malam menjadi arena berkumpul muda mudi dan keluarga menghabiskan waktu malam sembari menikmati aneka pilihan hidangan. Nyaris setiap ke Krui, saya selalu menyempatkan bertandang makan malam di area Pasar kota Krui ini. Suasana ramai dengan interaksi masyarakat yang khas sungguh menarik minat pengamatan saya. Begitupun malam itu. Makan malam, menuturkan banyak kisah sembari menyusun rencana rencana esok hari.
Sebelum tidur, malam itu kami sepakat untuk siap pukul 06.00 WIB. Karena butuh 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Krui menuju kediaman Ryan – sang pengantin yang berbahagia.


…. Berlanjut ke Part 2 …..


Selasa, 02 Februari 2016

BLOGGER TANPA KAMERA



3 Rekan Travel Blogger yang sedang membidik object. Bidikan mereka sungguh mengagumkan.



Pernahkah mendengar ada seorang blogger tanpa kamera?.  Nyaris mustahil. Tapi tentu akan tahu bahwa hal tersebut nyata  jika kemudian saya mengatakan bahwa blogger tanpa kamera itu adalah saya!. Ya, Saya. Indra Pradya dengan blognya www.duniaindra.com heheh.

Seingat saya, kegemaran menulis telah terjadi ketika saya duduk di kelas 2 SMP.
Kala itu, saya tinggal bersama Uak – sebutan kakak dari Mama dalam bahasa Palembang, selama menempuh pendidikan SMP. Jauh dari pendampingan orang tua kandung  menjadikan saya sebagai pribadi yang enggan terbuka. Sehingga menulis adalah salah satu cara bagi saya untuk bertutur banyak hal tentang rasa yang saya alami. Teman teman sebaya yang menyukai aktivitas menulis dan trend buku diary khas remaja SMP kala itu pun menjadi salah satu pemicu kegemaran menulis saya.

Hingga kini aktivitas menulis tetap berlangsung. Tak begitu yakin apakah tulisan yang saya buat benar benar menarik dan bermanfaat. Tapi berdasarkan reaksi keluarga dan rekan rekan terdekat cukuplah memberi semangat buat saya untuk menulis dan terus menulis dengan mengelola blog yang masih seumur jagung.

Mba Evi - seorang travel Blogger, Writer dan juga Photographer wanita yang handal. Photo by Mba Donna

 
Yang menarik – dan hampir sebagian pihak terhenyak dan nyaris tak percaya jika saya tuturkan kegemaran saya menulis dan kemudian mem-posting di blog lengkap dengan photo photo peristiwa tersebut justru tanpa dukungan kamera yang memadai. Layaknya rekan rekan saya para travel blogger yang melengkapi aktivitas traveling mereka dengan kamera professional. Setidaknya mereka menggunakan kamera yang memudahkan mereka menangkap moment indah. Saya?, hanya menggunakan Kamera Ponsel.!!. hahahah.
Mba Donna - Blogger  kece nan tangguh dengnan kamera andalannya
Pernah saya merasa canggung saat kumpul mengabadikan gambar bersama rekan rekan  travel blogger  yang menggunakan kamera canggih. Pernah juga saya terdiam ketika rekan traveling bicara seputar onderdil kamera milik mereka masing masing. Tentu saya diam. Karena saya tidak punya kamera hingga tak mengerti bagian mana dari kamera yang harus saya bicarakan. Hahahaha. Tapi beruntung juga ketika ada rekan traveling yang berkenan hasil photonya saya gunakan. Meski  saya sadar, tak setiap saat saya bisa berbuat demikian. Malu juga jika sering minta photo. Hahahahhah.


“Tak ada rotan akar pun jadi.” 

Kiranya pribahasa popular tersebut pantas menggambarkan posisi saya sebagai travel blogger.
Penulis blog tanpa kamera yang memadai. Hanya mengandalkan kamera ponsel.  
Karena pada dasarnya saya suka menulis. Meski tanpa dilengkapi kamera yang memadai seperti rekan rekan travel blogger lainnya bukanlah penghalang buat saya untuk menulis dan kemudian mempostingnya di blog dengan photo photo penunjang yang berasal dari kamera ponsel. Toh, penuturan dan photo penunjang yang memadai dari sebuah perjalanan cukup memberikan daya tarik pembaca tanpa perlu pembaca tahu dari jenis kamera apa photo di blog itu berasal.

3 travel Blogger Emak Emak Tangguh dengan kamera canggih dan pribadi mereka yang membumi. Love u all.


Bukan sebuah pembelaan atas keterbatasan. Karena saya juga berharap bagi siapa pun yang ingin melakukan sesuatu janganlah membatasi diri hanya karena tidak tersedianya alat atau fasilitas yang memadai. Cukuplah berupaya memaksimalkan apa yang kita punya.  Meski diam diam saya juga tengah menabung untuk bisa beli jenis kamera yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas pemahaman saya. Suatu hari kelak,  saya tentu akan menenteng kamera dalam aktivitas traveling. Kapan?, ya suatu saat nanti. (tenggat waktu sudah ditentukan dan jadi rahasia personal, heheheh). Atau saya juga berhayal seperti para penulis hebat yang di endorse kamera oleh sebuah merek. Hihihi…(siapalah diri ini). Menulis blog kini menjadi salah satu aktivitias saya diantara banyaknya impian yang saya bangun perlahan dan berharap suatu saat akan jadi kenyataan. Karena hanya impian impian yang tertata tersebutlah yang selalu menyemangati diri ini. Termasuk harapan suatu masa akan ada sebuah karya tulis saya yang terbit menjadi sebuah cetakan buku. Amin.


Scroll To Top